Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
Raden menghentikan laju motor sportnya dan membawa Gista ke sebuah rumah pohon yang indah. Bunga-bunga bermekaran di sekelilingnya, ada ayunan yang bergantung di salah satu cabang, lampu-lampu yang menghiasi suasana, dan bangku panjang berwarna biru yang mengundang untuk duduk.
Gista menatap Raden yang turun dari atas motornya. "Raden.. L-lo gak m-mau m-macem-macemkan?" suara Gista terbata-bata, netralnya mengedar menatap sekeliling yang sepi.
"Gak macem-macem, cuma satu macam aja, boleh kan?" Raden menaik turunkan alisnya, menggoda Gista
Mata Gista melebar. "G-gue mau p-pulang." ucapnya yang hendak pergi dari sana namun dengan cepat Raden hentikan.
"Gue tadi cuma bercanda Gista," ucap Raden saat menyadari jika Gista benar-benar ketakutan padanya
"Beneran cuma bercanda?"
Raden mengangguk membuat Gista bernapas lega. "Jangan bercanda gitu ya den, gue takut."
Raden menatap lekat Gista, gadis itu terlihat seperti memiliki trauma yang masih membekas di dalam hatinya, "Lo pernah disakiti seseorang?"
Deg.
Gista terdiam mematung keringat bercucuran di pelipisnya saat kembali teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, Raden yang melihat hal itu dibuat tercengang.
"Gista?" Raden menepuk pundak Gista namun ia di buat terkejut dengan reaksi Gista yang langsung menepis tangannya
"Jangan sentuh gue!" pekik Gista histeris membuat Raden benar-benar terkejut
"Hei sta, ini gue Raden! Lo kenapa?" Raden berusaha menenangkan Gista namun bukannya tenang gadis itu malah menangis
"Sebenarnya ada apa sta? Jangan nangis kayak gini, maaf gue tadi salah bicara ya?"
Raden menarik Gista kedalam pelukannya, Gista tak memberontak. "Lo tunggu disini sebentar ya? Gue mau beli minum bentar."
"Jangan, gue takut sendiri." Gista menahan tangan Raden yang hendak pergi, suaranya terdengar lirih
Raden tak melihat jiwa pemberani Gista lagi, saat ini dia seperti orang yang berbeda. "Ya udah lo ikut gue, gue punya tempat yang sangat indah."
Raden menggandeng tangan gadis itu, "Sta, gue tutup ya mata lo, gak papa kan?"
"Kenapa di tutup?"
"Bentar aja, percaya sama gue ya?"
Gista pun mengangguk, Raden menutup mata Gista dengan tangannya dan menuntun gadis itu naik ke atas rumah pohon.
"Raden, kita sebenarnya mau kemana sih?"
"Kesuatu tempat yang pasti lo suka!"
Mereka berhenti tepat didepan pohon besar yang atasnya ada rumah pohon yang begitu indah, serta bunga-bunga yang bermekaran bak taman bunga.
Hitungan ketiga Raden membuka tangan yang menutup mata Gista.
"Lo boleh buka matanya sekarang!"
"Serius nih udah boleh?"
"Iya."
Mata Gista samar-samar sudah mulai terbuka, cahaya lembut menyapa wajahnya. Saat matanya sudah terbuka sepenuhnya, pemandangan indah menghiasi pandangannya. 'Masyaallah indahnya' kata-kata itu terucap pertama kali dari mulut Gista, spontanitas yang keluar dari hatinya yang penuh kekaguman.
Gista berjalan kearah bunga-bunga itu dengan menciumi aromanya, tak hanya itu Gista juga melihat ayunan yang talinya dililit dengan bunga-bunga cantik serta bangku panjang berwarna biru yang kebetulan itu adalah warna favoritnya.
"Lo suka?"
Gista mengangguk cepat. "Suka banget, ini tempat punya lo?"
Raden menggeleng. "Ini bukan tempat gue, tapi tempat kita."
Kening Gista mengerut karena tak paham.
"Liat ke atas," titah Raden membuat Gista menurut.
Mala tak membantah ia menurut untuk melihat keatas pohon itu. "Rumah pohon.."
Mata Gista berbinar saat melihat rumah pohon itu, tanpa Raden sadari dia adalah orang yang mengabulkan keingin Gista sejak kecil yang ingin memiliki rumah pohon.
"Raden itu ..."
"Rumah pohon buat lo."
Gista tak bisa berkata-kata lagi, air matanya tak bisa terbendung lagi seketika mengalir begitu saja. Ini tangisan kebahagiaan bukan tangis kesedihan.
Grep.
"Makasih Raden, g-gue udah lama pengen punya rumah pohon dan sekarang lo mengabulkan keinginan gue."
Raden menangkup wajah Gista, menghapus air matanya. "Jangan nangis lagi, rumah pohonnya gak mau di naiki? Lihat dalamnya."
Gista menurut, ia mengikuti Raden naik ke atas rumah pohon. Mata Gista berbinar saat melihat di dalam rumah pohonnya.
"Raden ini semua lo yang hias?"
Raden mengangguk. "Iya, lo suka gak?"
"Suka banget, kalo kayak gini gue betah tinggal di sini."
Raden terkekeh, keduanya duduk berhadapan di rumah pohon. Hening, keduanya sama-sama bungkam.
"Ehm.." Raden batuk kecil memecahkan keheningan. "Gista, gue pengen ditempat ini denger jawaban lo."
Alis Gista terangkat. "Jawaban apa?" tanya Gista yang pura-pura tak tau, sebenarnya ia tau maksud Raden itu apa.
"Soal perasaan lo sama gue, apa lo juga cinta sama gue?"
"Maaf, g-gue ga bisa Raden."
Deg.
"Kenapa?"
"Gue ga bisa mengkhianati saudara gue sendiri."
Raden menarik napas dalam-dalam. "Enggak sta, walaupun lo tolak gue, gue ga bisa sama Adara. Gue gak cinta sama Adara, gue anggap dia sebagai teman aja gak lebih. Gue tau lo juga cintakan sama gue?"
"Gue mau lo balas perasaan Adara, den."
Deg.
Mendengar ucapan Gista membuat Raden benar-benar terkejut, bibir Raden terkatup Rapat tak ada kata yang bisa muncul dari dalam mulutnya.
"Gue tau lo sekarang gak cinta sama dia tapi seiring dengan berjalannya waktu gue yakin lo bisa cinta sama Adara, den."
"Gue gak abis pikir sama lo, sta, bisa-bisanya lo ngomong kayak gitu. Kalo lo gak suka sama gue tinggal bilang jangan suruh gue buat balas perasaan orang lain, gue cintanya sama lo Gista." ucap Raden sebelum berlalu
Gista mengejar Raden yang sudah turun dari atas rumah pohon. "Raden tunggu!"
Hap.
Gista berhasil menahan tangan Raden membuat langkah sang empuh terhenti.
"Lepas Gista,"
"Enggak, lo dengerin dulu alasan gue Raden."
"Buat apa gue dengerin?"
"Raden!"
"Gue mau pulang, lo pakai aja motor gue. Sebelumnya maaf buang-buang waktu lo." ucap Raden sebelum kembali melangkah.
"Gue juga cinta sama lo, Raden."
Raden tersenyum penuh kemenangan, ia berhasil mengelabui Gista untuk mengetahui perasaan Gista padanya.
"Raden lo denger gue kan?" Gista menghampiri Raden yang memunggunginya
Saat tiba di dekat Raden, Gista langsung memeluk Raden.
"Jadi cinta gue diterima nih?"
Gista menganggukan kepalanya sebagai jawaban, Raden mengangkat tubuh Gista dan kembali ke atas rumah pohon.
"Raden lepas gue bisa jalan sendiri."
Raden menurunkan tubuh gadis itu tepat didepan tangga rumah pohon itu, dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya
"Aku-kamu jangan lo gue lagi, sekarang kita udah resmi berpacaran sayang."
Gista berbalik, memunggungi Raden. Mendengar ucapan Raden barusan membuat wajah Gista memanas.