Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh —Pertemuan Jay dan Orang tuanya
Selamat membaca ceritaku, semoga kalian suka ya...
Arsya melangkah lebih dulu.
Jay otomatis berdiri di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menariknya kapan saja jika keadaan berubah. Di belakang mereka, Niki berjalan dengan dagu terangkat, seolah baru saja merebut kembali tahta yang di rampas.
Vano tetap tenang seperti biasa, meski sesekali melirik Niki dengan ekspresi datar yang seakan berkata jangan terlalu percaya diri dulu.
Tiga raksasa itu bergerak mengitari mereka. Bukan mengepung melainkan melindungi.
Langkah kaki besar mereka menggema di lorong baja Sublevel 3. Setiap penjaga yang berpapasan memilih mundur. Tidak ada yang berani mendekat ketika melihat tiga “produk berhasil” berjalan berdampingan dengan empat manusia bebas.
Lorong menuju sektor penahanan terasa lebih panjang dari sebelumnya, lampu darurat berkedip. Sirine peringatan mulai terdengar samar di kejauhan, tanda sistem utama mulai menyadari kerusakan yang terjadi.
“Lockdown akan aktif lima menit lagi,” gumam Niki sambil mengecek panel kecil di tangannya. Di ujung lorong, mereka berhenti. Pintu logam besar berdiri kokoh dengan tulisan tebal:
RUANGAN STERIL
Jay langsung menarik pergelangan tangan Arsya dan mundur setengah langkah. “Beri mereka ruang,” ucapnya rendah. Arsya pun mengerti, ia memberi jalan. Salah satu raksasa maju, yang paling tinggi dan yang tadi pertama kali menunduk padanya.
Ia menatap pintu itu beberapa detik, lalu mengangkat tangannya yang besar. Dalam satu hantaman besar—
BRAK!
Logam penyok, hantaman kedua, engsel nya terlepas. Hantaman ketiga, pintu itu terlempar ke dalam ruangan. Udara dingin bercampur bau antiseptik menyergap keluar. Di dalamnya– deretan kerangka besi. Manusia-manusia yang kelelahan. Wajah-wajah yang kehilangan harapan, beberapa menutup mata karena cahaya lorong yang tiba-tiba masuk.
Beberapa lainnya membeku saat melihat tiga raksasa berdiri di ambang pintu, ketakutan menyebar seketika. Arsya melangkah masuk perlahan, mengangkat kedua tangannya sebagai tanda damai. “Tenang… kami bukan musuh,” ucapnya lantang namun lembut. “Kalian akan bebas.”
Suara rantai besi mulai terdengar ketika Niki mengakses panel kunci manual yang sudah terbuka sistemnya. Satu per satu pintu sel terbuka. Dan di sudut ruangan—sepasang suami istri yang saling menggenggam tangan perlahan berdiri. Tatapan mereka mencari sesuatu.
Arsya membeku saat mata mereka bertemu. Jay merasakan tangan gadis itu sedikit menegang di genggamannya. Waktu seolah berhenti.
Jay mengikuti arah tatapan Arsya.
Waktu seakan melambat ketika ia melihat sepasang suami istri itu berdiri di antara para tahanan yang baru saja bebas. “Ibu…” suara Jay pecah pelan.
Wanita itu menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Pria di sampingnya, ayah Jay menarik nafas panjang, berusaha tetap tegar meski matanya memerah.
“Mengapa kamu datang, Nak…” lirih sang ibu, suaranya antara lega dan takut. Jay tersenyum kecil. Senyum yang sudah lama tidak ia tunjukan. “Karena ibu dan ayah ada disini.” ia memeluk mereka cepat–singkat, tapi cukup untuk memastikan mereka nyata. Namun momen itu terpotong.
“Ayo, kita segera keluar!” seru Niki dari sisi ruangan. “Para masalah yang bikin kalian terkurung ini sebentar lagi turun ke bawah!”
Sirine kini terdengar lebih jelas. Lampu merah darurat mulai berputar pelan di langit-langit. Ini bukan waktunya tenggelam dalam haru. Jay melepaskan pelukannya. “Kita bergerak sekarang.”
Di depan pintu, Max sudah berdiri dengan empat pistol berperedam terselip dan di genggamannya. Tatapannya tajam, siap mengawal jalur keluar. Ia sempat berhenti, menatap salah satu dari tiga raksasa itu. Jay menangkap arah pandangannya.
“Kau ikut,” ujar Jay singkat.
Max mengangguk pelan. “Ya, aku bantu kalian keluar.” namun matanya tak benar-benar lepas dari raksasa yang mengenakan sebuah kalung logam tipis di lehernya. Kalung tua dan sederhana, tapi jelas bukan bagian dari eksperimen.
Arsya memperhatikan itu, tatapan Max berbeda, bukan seperti melihat makhluk percobaan melainkan seseorang. “Lalu bagaimana dengan kakakmu, pak?” tanya Niki cepat sambil membantu para tahanan berdiri.
Max terdiam, rahangnya mengeras sedikit. Tatapannya tetap pada raksasa berkalung itu. “Jika ia masih hidup,” ucapnya pelan, “dia akan menemuiku.”
Sunyi sejenak.
“Dan jika dia tidak selamat… dia pasti ingin aku tetap hidup.”
Jawaban singkat itu terdengar tegar. Tapi ada retakan di dalamnya. Raksasa berkalun itu menatap Max, lama. Matanya yang redup bergetar tipis, lalu suaranya keluar bukan kata maupun raungan. Tapi getaran kasar yang tertahan di tenggorokannya seperti seseorang yang lupa cara berbicara namun berusaha mengingatnya.
Max membeku.
Tangannya yang memegang pistol perlahan turun, raksasa itu mengangkat tangannya sedikit. Gerakan berat dan canggung. Jarinya menyentuh kalung di lehernya. Lalu menunjuk ke arah Max.
Sekali.
Pelan.
Mata Max membesar, nafasnya tercekat. “Ka..” bisiknya tak sadar.
Raksasa itu mencoba lagi bersuara, huruf-huruf patah keluar seperti serpihan ingatan. “M…ax..”
Semua orang terdiam.
Arsya menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa suara.
Sosok raksasa itu… ternyata bukan sekedar penjaga.
Ia adalah sosok kakak Max yang selalu Max cari dan di tunggu kehadirannya. Max ternyata adalah pria yang dulu pernah berdiri paling depan ketika Lyno dirundung teman-temannya. Pria yang tanpa ragu melawan anak-anak yang lebih besar hanya untuk melindungi seorang anak kecil yang gemetar.
Max.
Nama itu dulu terdengar seperti pahlawan kecil di telinga Lyno.
Lyno selalu berkata ingin tumbuh menjadi seperti dia.
Berani. Tegas. Melindungi.
Dan kini, pahlawan itu berdiri dalam tubuh yang di renggut kemanusiaannya. Max melangkah maju perlahan, tangannya gemetar ketika menyentuh kalung di leher raksasa itu. Kalung yang sama yang dulu ia berikan saat ulang tahun kakaknya.
“Kau masih menyimpannya…” suaranya pecah.
Raksasa itu tidak bisa tersenyum, tidak bisa memeluk. Tapi matanya, yang redup dan berat—menyimpan kesadaran yang utuh. Ia mencoba berbicara lagi, suara seraknya terdengar menyakitkan.
“Pergi…”
Hanya satu kata, namun cukup jelas. Max menahan tangisnya, “kita pergi bersama.” raksasa itu menggeleng pelan.
Gerakannya berat, seolah setiap sendi menjerit. Ia menunjuk ke arah lorong luar lalu ke arah Max. kemudian menepuk dadanya sendiri.
Mengerti.
Ia akan menahan mereka. Jay menggertakkan rahangnya. “Kita tidak punya waktu.”
Benar.
Sirine makin keras, langkah pasukan terdengar dari kejauhan, lift darurat mulai aktif kembali. Raksasa berkalung itu melangkah ke depan pintu, berdiri menghadang lorong. Dua raksasa lainnya ikut mengambil posisi di sisi kanan dan kiri.
Tiga penjaga, bukan lagi sebagai budak sistem, tapi sebagai pelindung. Max menatap punggung kakaknya untuk terakhir kalinya. “Terima kasih…. Karena selalu jadi kakak yang hebat.”
Raksasa itu tidak menoleh, namun tangannya terangkat sedikit. Isyarat kecil. Perpisahan menyakitkan. Jay menarik Max mundur. “Kita bawa semua orang keluar, sekarang.” Arsya menyeka air matanya cepat. Ia menatap tiga sosok besar itu dengan penuh hormat. “Kami tidak akan menyia-nyiakan ini,” ucapnya lirih.
Dan saat mereka mulai bergerak menyusuri lorong evakuasi, terdengar dentuman pertama. Benturan dahsyat antara pasukan bersenjata dan tiga raksasa yang memilih untuk melawan. Sirine tetap meraung. Lampu merah tetap berputar.
Namun di tengah kekacauan itu, seseorang yang dianggap hilang memilih sendiri bagaimana kisahnya akan berakhir.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa kasih support untukku like dan votenya..