Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipermalukan
Keesokan paginya, suasana di ruang rapat utama tampak sangat formal. Liztha datang lebih awal dengan penampilan yang sangat memukau. Ia mengenakan kemeja sutra yang pas di badan dan rok span yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Riasan wajahnya pun dibuat sangat sempurna, namun tetap terlihat profesional. Ia sengaja memilih kursi yang posisinya paling pas untuk bisa menatap langsung ke arah kursi CEO.
Tepat jam delapan, pintu terbuka. Zavian masuk dengan langkah tegap, didampingi asistennya. Auranya begitu mendominasi hingga ruangan yang tadinya berisik mendadak sunyi senyap.
Zavian langsung duduk dan membuka berkasnya tanpa basa-basi.
"Kita mulai," ucapnya dingin, suaranya berat dan berwibawa.
Liztha mencoba mencari celah. Saat tiba gilirannya memberikan laporan singkat dari departemen keuangan, ia sengaja berdiri dengan anggun dan memberikan senyuman paling manis yang ia miliki.
"Selamat pagi, Pak Zavian. Saya Liztha, perwakilan dari departemen keuangan. Untuk laporan kuartal ini..."
"Langsung ke intinya saja, jangan bertele-tele. Saya tidak punya banyak waktu untuk pembukaan yang terlalu lama," potong Zavian tanpa sedikit pun mengangkat wajahnya dari berkas di depan meja.
Senyum Liztha membeku seketika. Wajahnya terasa panas karena merasa malu di depan manajer lainnya. Alih-alih mendapatkan tatapan kagum, ia justru hanya dianggap seperti angin lalu oleh bos barunya itu. Zavian benar-benar pria yang kaku dan hanya peduli pada efisiensi kerja.
Rapat baru berjalan lima belas menit, tapi Liztha merasa seakan satu abad lamanya. Ternyata pesonanya yang selama ini selalu berhasil meluluhkan hati banyak pria, sama sekali tidak mempan untuk seorang Zavian Zovano Adiwilaga.
Selang satu jam kemudian, rapat pun sudah selesai.
"Rapai selesai. Selamat bekerja kembali" ucap Zavian, lalu berdiri dari duduknya, diikuti sang asisten.
***
Sepanjang hari itu, suasana hati Liztha benar-benar buruk. Rasa kesal menyelimuti hatinya karena dipermalukan secara halus oleh Zavian di ruang rapat tadi pagi. Baginya, diabaikan seperti itu adalah penghinaan besar bagi harga dirinya. Semua pekerjaan terasa salah di matanya, dan siapapun yang berpapasan dengannya seolah menjadi sasaran kekesalannya.
Saat Liztha berjalan menuju pantry, ia tidak sengaja mendengar dua orang staf dari departemen lain sedang berbisik sambil melirik ke arahnya.
"Iya, tadi di ruang rapat katanya dia dicuekin habis-habisan sama Pak Zavian. Padahal dandanannya sudah niat banget," bisik salah satu dari mereka sambil menahan tawa.
Langkah Liztha terhenti. Matanya berkilat marah. Ia langsung berbalik dan menghampiri kedua wanita itu.
"Kalian nggak punya pekerjaan lain sampai harus mengurusi penampilan orang?" bentak Liztha ketus.
"Kalau mau gosip, sana ke pasar! Ini kantor, jangan sampai mulut kalian bikin saya lapor ke HRD!"
Kedua staf itu langsung terdiam dan mendelik pada Liztha.
"Nggak usah dok ngebos. Diantara kita nggak ada jabatannya yang lebih tinggi." Kata salah satu dari mereka.
"Lagian kege-eran banget. Kita tuh lagi ngomongin orang yang lagi coba cari perhatian ke Pak Zavian, tapi nggak ditanggapi sedikitpun. Kan kasihan..." Kedua orang itu terkekeh, lalu buru-buru pergi. Liztha mengembuskan napas kasar. Tangannya mengepal kuat menahan geram.
"Mereka sudah berani terang-terangan menyindirku. Hari ini semua orang sangat menyebalkan. Lihat saja, jangan panggil aku Liztha kalau tidak bisa menaklukan Zavian yang sok jual mahal itu." Sungutnya. Mata wanita itu menatap tajam punggun kedua temannya itu, seakan ingin melubanginya.
Tak lama setelah ia kembali ke meja kerjanya, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari Rayyan:
"Masuk ke ruangan saya sekarang!"
Liztha mendengus, namun ia tetap bangkit dan berjalan menuju ruangan Rayyan. Di depan staf lain, ia tampak seperti bawahan yang dipanggil atasannya. Begitu masuk, ia langsung menutup pintu rapat-rapat.
Rayyan berdiri di balik mejanya, menatap Liztha dengan pandangan menyelidik yang sangat tidak nyaman.
"Ada apa, Pak manajer? Ada pekerjaan tambahan?" tanya Liztha dengan nada menyindir.
"Ada apa denganmu hari ini, Liztha?" tanya Rayyan dengan suara rendah yang ditekan agar tidak terdengar ke luar ruangan. "Penampilanmu berlebihan. Lebih rapi, dandanannya jauh lebih cantik, bahkan parfummu sangat menyengat. Kamu sedang berusaha memikat Pak Zavian sepeeti cewek-cewek lain di luaran sana? Ingat, kamu itu punya aku!"
Liztha melipat tangannya di dada.
"Aku hanya ingin tampil profesional di depan CEO baru. Memangnya salah?"
"Jangan bohong. Aku melihat cara kamu menatapnya di rapat tadi, Liz," bisik Rayyan dengan nada cemburu yang kental.
"Jangan sampai kamu mempermalukan diri sendiri dengan mengejar laki-laki seperti dia. Ingat, dia itu bos besar."
Liztha maju selangkah, menatap Rayyan dengan berani.
"Dan jangan lupa, Ray, statusmu itu masih suami wanita lain. Jadi jangan bersikap seolah-olah kamu punya hak untuk mengatur hidupku atau kepada siapa aku harus menaruh hati. Aku bukan milikmu!"
Rayyan terdiam, wajahnya mengeras menahan amarah sekaligus malu. Kata-kata Liztha benar-benar memukul egonya sebagai seorang pria dan sebagai atasan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Liztha berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah angkuh, meninggalkan Rayyan yang hanya bisa mengepalkan tangan di balik mejanya.
***
"Pak, jadi kapan Rayyan dan Ayra bercerai? Ibu rasanya udah gak sabar pengen punya menantu baru yang lebih cantik, lebih pintar, dan kaya. Biar gak usah jadi beban keluarga seperti si Ayra itu," ujar Elly setengah mengumpat menantunya. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan kasar ke atas meja.
"Bu! Punya rasa empati sedikit, tidak? Bapak itu sangat merasa berdosa sama dia. Tidak bisa memenuhi amanat terakhir ibunya. Apalagi Ayra itu anak yatim piatu dan Rayyan malah sudah menyakitinya lahir batin!" sahut Hendra dengan suara berat dan bergetar, menatap istrinya dengan sorot mata penuh kekecewaan.
"Amanat apa, Pak? Menjaga anak yang cuma bisa menyusahkan?" Elly mencibir, matanya menyipit.
"Sejak awal si Ayra masuk ke keluarga ini, apa yang dia bawa? Tidak ada! Malah Rayyan yang harus banting tulang sendiri. Sekarang mumpung mereka sudah pisah rumah, ini waktu yang pas buat Rayyan cari yang sepadan. Yang bisa bantu kariernya, bukan yang cuma bisa diam di rumah nunggu gaji bulanan suami!"
Hendra hanya bisa menarik napas kasar dan menghembuskannya sekaligus. Sebenarnya dia pun tengah merasa gundah. Tadi pagi di kantor, dia mendapat teror dari orang tak dikenal yang mengiriminya foto saat ia dan Ayra tengah berpelukan di pertemuan terakhir mereka di Jakarta. Saat Ayra meminta izin untuk melepaskan Rayyan. Padahal itu murni pelukan seorang ayah pada putrinya. Entah siapa orang itu dan dari mana dia mendapatkan foto tersebut.
Hendra berdiri dari kursinya, napasnya memburu.
"Uang dan jabatan hanya bersifat sementara, Bu. Jika Allah berkehendak, dalam sekejap semua itu bisa diambil-Nya kembali dengan mudah. Sementara Ayra itu menantu yang berbakti! Selalu sopan dan perhatian sama kita. Dia juga sudah kehilangan bayinya, dan sekarang harus kehilangan suaminya karena tingkah bajingan putramu itu. Apa Ibu tidak takut kena kualat?"
"Kualat itu kalau kita membiarkan anak kita hidup susah, Pak!" balas Elly tidak mau kalah, ia ikut berdiri dan menantang tatapan suaminya.
"Pokoknya Ibu akan terus desak Rayyan. untuk secepatnya bawa surat cerai itu ke hadapan Ayra!"
Hendra hanya bisa mengelus dada, tidak sanggup lagi berkata-kata menghadapi kerasnya hati sang istri. Ia memalingkan wajah, menatap ke arah luar jendela dengan perasaan bersalah yang semakin menghimpit. Ditambah teror fitnah yang akan menjadi masalah baru sebelum masalah yang satu terselesaikan.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"