NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 - Love Me Like That

Cahaya matahari pagi menembus celah tirai, membentuk garis lembut di dinding kamar.

Suara alarm dari meja nakas membuatku perlahan membuka mata.

Di sebelahku, Henry mengulurkan tangan dan mematikan bunyi itu.

Seperti waktu itu, kami berada di ranjang yang sama — dalam pelukan yang hangat dan tenang.

“Hai, good morning.” sapa Henry pelan, suaranya serak khas orang baru bangun.

“Morning…” jawabku lirih, masih berusaha mengumpulkan kesadaran.

“Tidurmu nyenyak?” tanyanya sambil menatapku dengan senyum tipis.

“Ya.” jawabku singkat.

“Syukurlah.” ucapnya.

Aku mengangkat tangan, menempelkan punggung telapak ke dahinya.

“Demamnya udah hilang. Kakak mau berangkat kerja hari ini?” tanyaku.

“Ya. Bosen di rumah terus. Lagian kalau aku di rumah, aku nggak bisa lihat kamu.” jawabnya santai.

Aku menahan senyum. “Di kantor juga kita jarang ketemu. Kamu di lantai atas, aku di bawah.”

Henry tertawa kecil. “Jarang bukan berarti nggak, kan? Kalau nggak ketemu pas rapat, aku bisa datang ke divisi kamu.”

“Ngapain?”

“Lihat kamu kerja.”

“Lihat aku kerja? Cuma itu?”

“Ya. Dan ingat, aku ini CEO-nya. Aku harus tahu bagaimana karyawanku bekerja.”

Aku mengangkat alis. “Baiklah, Pak CEO.”

Henry tersenyum, dan aku ikut tersenyum.

Beberapa detik kami saling menatap.

Entah kenapa, hatiku berdebar.

Aku tiba-tiba ingin mencium bibirnya lagi.

Dengan perlahan, aku mendekatkan wajahku ke arahnya lalu mencium bibirnya lembut.

Henry sempat terkejut, tapi kemudian membalas ciumanku.

Hangat. Lembut. Dan begitu nyata.

Saat kami berdua melepaskan diri, Henry menatapku dengan ekspresi setengah bingung.

“Lili, apa yang kamu lakukan?”

“Mengulang apa yang kamu lakukan kemarin.” jawabku santai.

“Ha? Kemarin itu… aku terlalu senang, jadi—”

“Nggak apa-apa, Kak. Aku suka,” potongku cepat. “Itu ciuman pertamaku, tahu.”

Henry terdiam. “Ciuman pertama?”

“Iya. Kemarin juga ciuman pertama Kakak, kan?”

“Ehm… itu…” Henry terlihat gelisah.

Aku memicingkan mata. “Eh? Kakak udah pernah ciuman sebelumnya?”

Henry mengangguk pelan.

“Kapan? Bukannya waktu SMA Kakak nggak pernah pacaran?”

“Bukan SMA. Saat kuliah.” jawabnya.

“Pacaran?”

“Nggak. Waktu itu temenku mabuk dan tiba-tiba cium aku duluan.”

Aku mengerutkan dahi. “Terus… habis itu?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Bohong!” seruku, kesal, lalu bangkit dari ranjang.

Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu, Henry menarikku dari belakang, memelukku erat.

“Percaya sama aku, Lili,” suaranya rendah di telingaku. “Aku nggak ngapa-ngapain sama dia. Aku nggak mau melakukan hal itu sama orang yang nggak aku cintai.”

Pelukannya begitu hangat, membuatku berhenti melawan.

Henry melanjutkan, pelan tapi tegas, “Aku maunya… ngelakuin itu sama kamu.”

Aku menoleh, menatap wajahnya yang hanya berjarak sejengkal.

“Apa maksud Kakak?”

“Ya, maksudku… aku cuma akan melangkah sejauh itu sama kamu. Tapi bukan sekarang,” katanya lembut. “Saat kita menikah nanti, kalau memang kita berjodoh.”

Aku terdiam.

Aku tahu Henry bukan pria sembarangan, tapi mendengar kata-kata itu langsung darinya… membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar yakin — Henry bukan hanya pria yang kucintai, tapi juga pria yang layak kucintai.

Aku dan Henry pun berangkat bekerja. Aku keluar apartemen lebih dulu, sementara Henry menyusul di belakangku. Sepanjang perjalanan, obrolan kami tadi terus berputar di kepala. Aku masih sedikit kesal karena ternyata kemarin itu bukan ciuman pertama Henry. Dan meski aku mencoba percaya pada kata-katanya, aku tahu aku tak punya cara untuk membuktikan apa pun. Tentang pernikahan kami, aku juga masih ragu. Apakah semua itu bisa benar-benar terwujud? Bagaimana kalau kami memang tidak ditakdirkan bersama? Bagaimana kalau takdir Henry sebenarnya adalah Ana?

Pikiran-pikiran itu menumpuk hingga tanpa sadar aku sudah tiba di gedung Natura Foods. Aku langsung menuju basement untuk memarkir motorku.

Sementara itu, mobil Henry terus melaju menuruni ramp, menuju basement yang lebih bawah—area parkir mobil.

Begitu aku masuk basement, lagi-lagi aku tidak melihat Caca, hanya motornya saja. Tapi kali ini ada Arvin di sana. Aku memarkirkan motorku di sampingnya.

“좋은 아침 누나. (Selamat pagi, Kak)” sapanya dengan senyum lebar.

Aku menoleh, agak terkejut. “누나? (Kakak?) Kenapa tiba-tiba kamu manggil aku kayak gitu?”

“Biar lebih akrab aja. Kita kan sama-sama suka Korea. Boleh kan?” katanya santai.

Aku mendengus kecil. “마음대로 해. (Terserah kamulah)” ucapku lalu berjalan menuju lift.

“가지 가, 누나! (Tunggu, Kak!)” panggil Arvin sambil mengejar.

Begitu pintu lift terbuka, Henry sudah berdiri di dalam.

“Pagi, Pak.” ucapku cepat.

“Pagi.”

“Vin, ini Pak Henry, CEO perusahaan kita.”

“Selamat pagi, Pak. Saya Arvin, anak baru di R&D.” ucap Arvin sopan.

“Pagi,” jawab Henry datar. Pandangannya lalu beralih padaku. “Lili, kamu punya teman baru sekarang?”

“Eh? Tidak, Pak. Kami cuma kebetulan bertemu di parkiran dan sama-sama suka Korea.” jelasku buru-buru. Aku takut Henry salah paham.

“누나… (Kak…) jahat banget sih? Masa bukan teman?” protes Arvin.

“Iya, teman beda divisi-ku cuma Caca.” balasku.

“나쁜 년. (Wanita jahat)” gumamnya pelan.

“뭐라고?! 다시 말해 봐! (Apa kamu bilang?! Coba ulangi!)” seruku kesal.

“미안, 농담이야. (Maaf, bercanda.)” katanya cepat sambil tersenyum.

“농담? 아 진짜… (Bercanda? Dasar kamu…)” gumamku kesal.

“Kalian mau masuk atau tidak?” suara Henry memecah suasana.

Aku dan Arvin langsung menoleh. Wajah Henry tampak tegang.

“Iya, Pak.” ucapku cepat sambil melangkah masuk. Arvin mengikutiku dan menekan tombol tutup.

Aku sempat melirik Henry. Raut wajahnya masih sulit ditebak. “Kenapa kamu menatap saya seperti itu?” tanyanya.

“Ah, tidak apa-apa, Pak. Maaf.” ucapku gugup lalu menatap ke depan.

Lift terus naik sampai ke lantai satu.

Ting!

Pintu terbuka, dan seketika suasana ramai. Di depan sudah berdiri beberapa karyawan yang menunggu giliran. Aku melihat Merry dan Dina di antara mereka.

“Selamat pagi, Pak Henry,” sapa mereka sopan sambil masuk. Henry membalas dengan anggukan singkat.

Lift kembali tertutup dan bergerak naik lagi. Saat tiba di lantai dua, Merry, Dina, dan beberapa orang lainnya keluar. Aku sebenarnya juga harusnya keluar di lantai itu, tapi entah kenapa kakiku enggan melangkah.

Aku ingin bicara dengan Henry.

“Mbak Lia, kok kamu nggak keluar?” tanya Merry dari luar lift.

“Aku mau ke ruangan Pak Henry dulu, ada yang mau aku bicarakan.” jawabku cepat.

“Bicarain apa?” tanya Merry penasaran.

“Adalah.” sahutku singkat sambil tersenyum kecil.

Pintu lift pun kembali tertutup.

“Kamu mau bicara apa sama Pak Henry?” tanya Arvin sambil menatapku penasaran.

“Sesuatu.” jawabku pendek.

“Ih, sok rahasia banget.” ucap Arvin.

Lift terus naik menuju lantai divisi R&D. Begitu pintu terbuka, Arvin dan beberapa orang lainnya keluar.

Pintu lift menutup lagi, naik-terbuka hingga hanya aku dan Henry yang tersisa di dalam.

Suasana mendadak hening. Aku bisa mendengar jelas suara napasku sendiri, juga hembusan napas Henry di sebelahku.

“Kamu mau bicara apa sama aku?” tanya Henry tanpa menoleh.

“Nanti aja di ruangan kamu.” jawabku pelan.

Begitu sampai di lantai ruangan Henry, kami keluar. Di meja luar, Dimas sudah duduk dengan setumpuk berkas.

“Selamat pagi, Pak.” sapanya.

“Pagi.” jawab Henry.

“Pagi, Mas Dimas.” ucapku.

“Pagi, Mbak Lia.”

Aku mengikuti Henry masuk ke ruangannya dan menutup pintu. Saat aku berbalik, Henry sudah berdiri bersandar di meja, menatapku tenang tapi dingin.

“Lili, kamu mau ngomong apa?”

Aku melangkah mendekat. “Apa… tadi kamu marah?”

“Tadi kapan?”

“Di basement.”

“Nggak.” jawabnya singkat.

“Oh… kirain kamu marah. Kirain kamu cemburu,” ujarku, pura-pura santai. “Sayang banget. Ya sudah, aku cuma mau nanya itu doang.”

Aku berbalik hendak keluar, tapi tiba-tiba tanganku ditariknya. Tubuhku terhentak dan kini berdiri sangat dekat dengannya.

“Kak…” suaraku nyaris bergetar.

“Iya, aku marah,” ucapnya pelan tapi tegas. “Aku cemburu lihat kamu akrab sama Arvin.”

Aku terdiam, menatap matanya.

“Kita memang udah akrab dari dulu, tapi akrabnya beda,” lanjutnya. “Aku nggak suka lihat kamu kayak gitu ke orang lain.”

Aku menarik napas, lalu melingkarkan kedua tanganku di lehernya.

“Keakraban aku sama Arvin nggak kayak yang kamu pikir,” ucapku lembut. “Kami cuma kebetulan suka hal yang sama. Jadi jangan cemburu, ya? Cowok yang aku suka itu cuma kamu.”

Henry menatapku lama sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Oh iya,” katanya pelan, “soal yang tadi pagi… kamu percaya kan sama aku?”

Aku terdiam, menatap lantai.

Henry menggenggam kedua tanganku. “Lili, percayalah. Aku sama temenku nggak ngelakuin apa-apa. Dia yang cium aku, dan aku nggak balas. Aku diam.”

Aku masih diam, menimbang-nimbang kata-katanya.

“Percaya sama aku, Lili. Aku mohon.”

Aku akhirnya menghela napas panjang. “Iya, aku percaya.”

Henry tersenyum lega dan menunduk mencium punggung tanganku.

Aku menarik tanganku pelan. “Kak… jangan cium tanganku.”

Henry menatapku bingung. “Lho, kenapa?”

“Cium bibirku aja.”

Henry tertegun. “Apa?”

“Cium bibirku, Kak. Kayak yang kamu lakuin kemarin.”

“Lili, ini kantor.”

“Emang di ruanganmu ada CCTV?” tanyaku dengan nada menantang.

Henry tersenyum tipis. “Nggak sih, tapi—”

“Ayo, Kak. Sekali aja.”

Untuk beberapa detik, kami hanya saling menatap. Lalu Henry perlahan mengangkat tangannya, menyentuh daguku dengan lembut, sebelum akhirnya menempelkan bibirnya ke bibirku.

Aku melingkarkan tanganku di lehernya, membalas ciuman itu dalam. Rasanya hangat—dan berbahaya di saat yang sama. Seolah seluruh dunia berhenti berputar, menyisakan hanya kami berdua dalam ruang kecil yang sunyi.

Di luar sana, Dimas mungkin tengah sibuk mengetik, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu tertutup ini. Dan mungkin, inilah kali pertama kami berdua benar-benar kehilangan kendali—terbawa oleh perasaan yang tak lagi bisa kami bendung.

Sejak hari kami saling mengakui perasaan itu, tak pernah terpikir sedikit pun bahwa kegilaan pertama kami justru akan terjadi di tempat ini… di kantor, di ruangan Henry, tempat seharusnya kami bersikap profesional.

Tapi mungkin, cinta memang tak mengenal tempat—bahkan di balik pintu kantor sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!