Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~35
"Ini semua gara-gara mbak Marni,"
Marwan langsung emosi menatap kakaknya tersebut dan tentu saja itu membuat Marni nampak tak mengerti, seharian ini ia berada di kamarnya jadi tak tahu apa yang terjadi.
"Kalau bukan karena mbak Marni menolak mas Sapri dan mas Isanul mereka takkan memukuliku dan merusak motorku, pokoknya semua gara-gara mbak." hardik Marwan menatap kakaknya tersebut dengan kesal.
Tadi pagi ia yang malas pergi sekolah akhirnya memutuskan tidur di tempat tongkrongannya masih dengan seragam sekolahnya, saat ia baru bangun tiba-tiba beberapa orang memukulinya dan dilihatnya kerangka motornya sudah banyak yang hilang.
"Itu balasan karena kamu telah membohongi kami Marwan, mbakmu menolakku dan tak mau mengganti apa yang sudah kuberikan padanya jadi kamu yang harus bertanggung jawab." tegas Isanul dengan kesal dan penuh amarah.
"Karena mbakmu menolakku jadi aku ambil semua kerangka motormu, enak saja mau modif motor kok minta gratis." kali ini Sapri ikut menimpali yang nampak membawa beberapa kerangka motor miliknya itu.
Marwan yang tak berdaya tak bisa melawan dan hanya merutuki kakaknya karena wanita itu ia jadi seperti ini bahkan uangnya yang berjumlah dua ratus ribu di dompetnya juga telah raib mereka ambil.
Marni kini mulai mengerti apa yang terjadi dengan adiknya tersebut, rupanya ini semua gara-gara cinta kedua pria itu yang ia tolak. Tidak mungkin juga ia menerima keduanya sekaligus karena salah satunya juga pasti tak terima lagipula mereka bukan tipe pria yang pantas untuk dijadikan imam karena yang satunya tukang kawin dan satunya pria kasar.
"Kalau kamu tak menjual mbak demi keuntungan pribadimu semua ini takkan terjadi dek, jadi daripada menyalahkan orang lain lebih baik introspeksi dirilah." ujarnya menasehati adiknya tersebut lalu kembali menatap motor di teras rumahnya itu.
Apa karena uang haram yang digunakan untuk membelinya jadi tidak berkah?
"Mbak yang harus introspeksi diri, kerja tidak benar saja sok-sokan alim sok menolak mas Isanul dan mas Sapri." potong Marwan tak mau kalah yang sepertinya masih belum terima dengan keadaannya saat ini.
Mendengar ucapan sang adik tentu saja Marni tak percaya itu, berani sekali adiknya itu mengejeknya tidak sadarkah selama setahun ini hidup enak karena hasil keringatnya dari kerja tidak benar itu? Sepertinya semua orang sudah mulai curiga dengan pekerjaannya di kota bahkan adiknya sendiri gara-gara celetukan Joko waktu itu tapi ia tak perduli.
"Sudah-sudah jangan ribut malu di dengar oleh orang," ibunya Marni pun langsung menengahi mereka lantas segera mengobati luka anaknya tersebut.
"Kalau ga suka dan mau menolak mereka ya secara baik-baik toh nduk biar mereka ga marah dan melampiaskan semuanya kepada adikmu, lagipula kamu itu harus bersyukur disukai oleh mereka karena kita ini orang tidak punya, apa salahnya mencoba menerima nak Isanul atau nak Sapri." gerutu wanita paruh baya itu lagi ditengah mengobati Marwan, dari segi ekonomi Sapri dan Isanul memang jauh diatas mereka keduanya mempunyai usaha dari keluarganya sebuah toko buah dan juga bengkel.
Marni nampak menghela napasnya, sepertinya ia jelaskan juga takkan diterima oleh ibunya itu karena dari dulu wanita itu seakan buta dengan kesalahan anak lelaki kesayangannya. Di kampungnya budaya patriarki memang masih melekat, anak laki-laki diperlakukan bak raja sedangkan anak perempuan wajib mengalah dan berada di dapur.
"Terserah kalian saja, aku capek." Marni pun kembali masuk ke dalam kamarnya tak perduli ibunya masih menggerutu kesal melihat keadaan adiknya itu.
Semakin lama Marni merasa semakin tak betah di rumah, jika bukan karena ayahnya dan juga Mahesa adik bungsunya mungkin ia takkan pulang. Selama ini jerih payahnya tak pernah ibu dan adiknya itu hargai dan setiap ada masalah selalu ia yang disalahkan tanpa mau introspeksi diri.
Tiba-tiba terdengar suara deringan telepon di gawainya, rupanya Firman. Haruskah ia mengangkat panggilan telepon pria itu?
"Assalamu'alaikum mas," ucapnya pada akhirnya jujur ia memang butuh teman bicara saat ini agar merasa tidak sendiri.
"Wa'alaikumsalam, kamu baik-baik saja dek Marni? kenapa pesan mas tidak kamu balas?" ucap Firman dari ujung telepon dengan suara terdengar khawatir.
Marni kembali menatap pesan pria itu yang rupanya ada beberapa pesan yang belum sempat ia baca sebelumnya. "Maaf ya mas, Marni belum sempat balas karena Marwan baru saja dapat musibah." sahutnya memberikan alasannya.
"Musibah apa dek?"
Terdengar suara Firman makin khawatir, lalu Marni terpaksa menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutup-tutupi baik tentang ia menolak perasaan Sapri maupun Isanul yang mengakibatkan mereka dendam kepada adiknya tersebut.
"Astagfirullahaladzim, apa mas pulang saja sekarang?"
Firman semakin khawatir setelah mendengarnya karena disaat wanita itu mengalami hal berat ia tak ada bersamanya.
"Tidak apa-apa mas, mas selesaikan saja urusan mas disana lagipula aku baik-baik saja kok dan semuanya memang kesalahan Marwan jadi biar dia introspeksi diri untuk ke depannya." Marni mencoba untuk terlihat baik-baik saja karena jujur jika pria itu pulang sekarang pasti akan mendengar berita miring tentangnya dan ia belum sanggup untuk menjelaskan.
"Baiklah dua hari lagi mas sudah pulang jika ada apa-apa jangan sungkan untuk kabari mas ya Marni," mohon pria itu memberikannya pesan walaupun ia jauh tetap bisa diandalkan.
Setelah berbincang sejenak keduanya pun memutuskan untuk mengakhiri panggilan teleponnya dan bersamaan itu ibunya berteriak dari luar.
"Mar jaga rumah ya, ibu mau bawa adikmu ke bidan Mawar!" ucapnya dan Marni pun segera berlalu keluar melihat lbu maupun adiknya pergi.
Marni hanya menggeleng kecil lantas segera menutup pintunya namun tiba-tiba seseorang nampak menahannya dari luar.
"Mas Paijo?" ucapnya tak percaya ketika melihat pria itu sudah berdiri di depan rumahnya.
"Apa yang kamu lakukan disini mas?" Marni nampak ketakutan apalagi ketika melihat senyum mesum pria itu.
Saat siang hari seperti ini keadaan sekitar rumahnya memang lumayan sepi karena selain ada yang masih berada di kebun, ibu-ibu yang lain memilih tidur siang apalagi keadaan sedang puasa yang membuat mereka lebih sering merasa lelah.
"Dek Maria, ayolah mumpung sedang sepi ini aku bawa uang banyak buatmu." Paijo berusaha merayunya dengan menunjukkan tasnya yang terlihat tebal itu.
"Jaga bicaramu mas," Marni segera masuk ke dalam rumahnya namun pria itu langsung menarik pintunya hingga diantara mereka terlihat adegan tarik menarik sampai tiba-tiba Astuti datang.
"A-apa yang kalian lakukan?" ucap wanita itu dengan wajah terkejut menatap keduanya bergantian.
baru bahagia Dateng Kutu hadeh
skrg marni bisa fokus dengan rumah tangga nya