Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~28
"Marni, tunggu!"
Malam itu selepas tadarus qur'an, Marni segera meninggalkan mushola tanpa bertegur sapa dengan Firman meskipun ia tahu sejak selesai sholat taraweh pria itu masih berada di sana bersama adiknya dan juga Kania.
"Marni, tunggu sebentar kenapa kamu menghindari mas?" Firman nampak mengejar wanita itu yang terlihat melangkah terburu-buru meninggalkan pelataran mushola.
Marni yang tangannya dicekal oleh Firman segera menariknya dengan sedikit kasar hingga mau tak mau pria itu melepaskannya meskipun dengan raut wajah kecewa karena reaksi wanita itu.
Sebenarnya apa yang terjadi?
"Maaf mas, ini sudah malam tidak enak dilihat orang lagipula aku sudah mengantuk." ujar wanita itu memberikan alasannya.
"Kenapa kamu menghindariku Marni? bahkan pesanku jarang kamu balas, apa mas ada salah? kalau ada mas benar-benar minta maaf." Firman menatap penuh tanya karena ia merasa sikap wanita itu berubah akhir-akhir ini dan setiap kali ia meminta izin untuk mengajaknya pergi pun dengan berbagai alasan wanita tersebut menolaknya, ia merasa hubungan mereka semakin menjauh namun itu justru membuatnya merasa sakit.
Marni menatapnya sejenak lantas mengalihkan pandangannya. "Kata adiknya mas setelah lebaran kalian akan bertunangan jadi tolong jangan pernah ganggu aku lagi begitu juga aku takkan mengganggu hubungan kalian," ucapnya pada akhirnya.
"Bertunangan? siapa?" Firman nampak tak mengerti, bahkan hingga hari ini ia tetap menginginkan wanita itu yang akan bersanding dengannya nanti.
"Siapa lagi? tentu saja mas dan Kania, ku rasa kalian memang pasangan yang serasi, kalian sama-sama sederajat, lulusan pondokan dan juga bergelar sarjana." sahut wanita itu dengan mengulas senyumnya meskipun terlihat sedikit getir.
"Kamu cemburu?" ucap Firman tiba-tiba dan tentu saja itu membuat Marni langsung salah tingkah lalu mencoba bersikap sebiasa mungkin.
"Tidak, aku cukup sadar diri kok mas lagipula ...."
"Lagipula apa? perasaan kita belum berkembang terlalu jauh? sepertinya selama ini hanya aku sendiri yang terlalu jauh menyukaimu Marni sedangkan kamu tidak," potong Firman namun Marni hanya menatapnya datar.
"Aku juga menyukaimu mas, sangat menyukaimu tapi menikah denganku hanya akan membuat malu keluargamu jadi lebih baik biarlah ku pendam rasa ini seorang diri." gumam wanita itu dalam hati.
"Aku tidak punya hubungan apapun dengan Kania, masalah pertunangan sepertinya itu hanya asal bicara Farah saja kalau pun aku akan bertunangan dan menikah itu hanya denganmu tidak dengan Kania atau pun yang lain, aku juga tak perduli dengan perbedaan kita karena di mata Allah kita sama-sama makhluknya yang sangat berharga jadi tolong selalu percaya padaku ya." mohon pria itu dengan segenap perasaannya, entah ia harus bagaimana membuktikannya bahkan ia rela menikahinya meskipun kedua orang tuanya tidak setuju tapi wanita itu tidak ingin menikah tanpa restu mereka dan saat ini ia sedang berusaha meyakinkan ummi dan abinya untuk merestui.
Marni nampak berkaca-kaca menatapnya, apakah ini waktunya ia berbicara jujur pada pria itu tentang siapa ia sebenarnya?
"Mas, boleh aku bicara jujur?" ucapnya setelah memantabkan hatinya, bicara sekarang atau nanti bukankah sama saja sakitnya?
Firman pun mengangguk. "Tentu saja, aku mendengarkannya." ucapnya kemudian.
Marni nampak menghela napasnya sejenak. "Sebenarnya ini perihal pekerjaanku di kota," ucapnya.
"Hm, ada apa dengan pekerjaanmu?" Firman mendengarkan dengan serius.
"Sebenarnya aku bukan bekerja di cafe tapi di ka ..."
"Mas Firman!" tiba-tiba Farah yang baru keluar dari mushola langsung memanggil kakaknya tersebut hingga ucapan Marni terjeda, gadis itu langsung melangkah mendekat bersama Kania.
"Mas katanya mau temani kita cari bekal untuk sahur, ayo berangkat nanti keburu tutup warungnya." rengek Farah seraya melirik ke arah Marni berada.
Firman pun mengangguk kecil lantas beralih menatap Marni. "Aku lupa jika Ummi tadi titip beli makanan, apa mau ikut juga? kebetulan di rumah tidak ada bahan makanan jadi kami mau membeli makanan matang di warung untuk sahur nanti." ajak Firman kemudian namun Marni langsung menggeleng kecil.
"Ini sudah malam mas, kalau begitu sampai jumpa lagi." tolaknya kemudian.
Firman nampak kecewa namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh sang adik dan dibawanya pergi dari sana jadi mau tak mau pria itu pun terpaksa ikut.
"Karaoke, ya aku bekerja sebagai LC di tempat karaoke mas." ucap Marni seraya menatap kepergian mereka kemudian ia pun juga segera pergi dengan arah berlawanan, entah kenapa selalu saja ada halangan saat ia ingin mengatakan yang sebenarnya.
Apa ia katakan lewat pesan singkat saja saat di rumah nanti? sepertinya itu jauh lebih baik paling tidak ia takkan melihat wajah kecewa pria itu yang pasti akan membuatnya merasa sakit.
Sesampainya di rumahnya, Marni pun segera masuk dalam kamarnya. Diambilnya ponselnya diatas meja samping kasurnya namun rupanya batrainya habis jadi terpaksa ia isi daya dahulu lalu saat ia hendak keluar tiba-tiba mendengar suara sesuatu di banting dari rumah tetangganya itu.
"Apa yang terjadi? apa mas Joko sudah pulang?" gumamnya lantas ia pun membuka sedikit jendela kamarnya yang memang berhadapan dengan jendela kamar Astuti mengingat rumah mereka bersebelahan dan hanya di batasi oleh pagar tanaman pendek.
"Bagaimana bisa kamu meminjamkan sertifikat rumah ini kepada mas Paijo? bagaimana jika dia tak bisa membayarnya dek?" ucap Joko lirih namun penuh penekanan hingga masih terdengar di telinga Marni.
"A-apa, jadi mas Paijo menggadaikan rumah mbak Astuti?" gumamnya tak percaya, jangan-jangan uang 50 juta yang ditawarkan oleh pria itu padanya beberapa hari yang lalu adalah hasil menggadaikan rumah wanita itu.
"Mas Paijo pasti bisa menggantinya mas, buktinya sertifikat kebun kita aman-aman saja sampai sekarang lagipula mas Paijo dan mbak Lastri itu sangat baik padaku setiap datang kesini selalu membawa makanan kesukaanku." Astuti langsung membela diri, sebelumnya sertifikat kebunnya juga di pinjam oleh Paijo namun selalu keluar masuk bank karena setelah ditebus jarak beberapa hari kembali digadaikan oleh pria itu.
"Iya tapi ini sertifikat rumah dek kalau disita bank kita mau tinggal dimana?" Joko masih terdengar syok, ia tahu rumah dan tanah yang mereka tinggali adalah milik istrinya tapi ia juga tak sedikit mengeluarkan uang pribadinya untuk merenovasinya seperti untuk keramik lantai, cat ataupun mengganti gentengnya dengan yang baru belum lagi seluruh isi rumah ini juga menggunakan uangnya mulai dari kulkas, kasur, beberapa lemari, kitchen set dan juga mesin cuci.
"Halah mas, tidak usah pelit-pelit sama saudara." Astuti nampak tak begitu perduli dengan kekhawatiran suaminya tersebut.
Kini Joko yang di tinggal sendiri di kamarnya nampak memukul kasurnya. "Yang ada dipikiranmu hanya makanan dan makanan saja, awas saja kalau rumah ini disita bank aku benar-benar akan pergi meninggalkan mu." gerutunya dengan kesal.
Marni yang sejak tadi menguping pun segera menutup jendelanya kembali saat ia tak sengaja mendengar Joko juga sedang membuka jendela kamarnya.
Marimar : kuping bisa bintitan juga kh Jum keq mata klo ngintip....??
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
cepat katakan Marimar.....
Ngereog mulu 🤦...