Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya
Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .
Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan target misi
"Ya ampun! Elea kenapa?" tanya Esmeralda panik. Ia, Devina, dan Freya baru saja keluar dari ruang makan ketika melihat pemandangan mengkhawatirkan itu.
Dominic menghentikan langkahnya. Devina dengan cepat menghampiri mereka, tangannya mengusap lembut wajah Eleanor yang pucat pasi dan basah kuyup dalam gendongan Dominic.
"Elea didorong pacar Dominic ke kolam, Tante," ucap Vallerie tiba-tiba. Ia muncul dari balik pintu dengan nada bicara yang dibuat seolah-olah sangat syok. Aleta mengikuti di belakangnya dengan wajah tegang.
Devina menatap Aleta sekilas, lalu beralih menatap putranya dengan tatapan tajam. "Dominic? Seperti ini wanita yang kamu bawa?" tanya Devina tak habis pikir. Ia merasa harga dirinya jatuh di depan teman-temannya. Dominic hanya diam, rahangnya mengeras, tidak tahu harus merespons seperti apa di tengah kepungan tatapan tajam.
"Nic? Tante tidak masalah kalau kamu tidak suka Elea, tapi Tante tidak bisa membiarkan Elea diperlakukan seperti ini," timpal Esmeralda.
Vallerie mempertahankan senyum miringnya yang tipis. Melihat orang tua Dominic dan ibu Eleanor mulai memojokkan Dominic adalah kemenangan kecil baginya. Dominic yang biasanya protektif, kini tampak ragu.
Senyum Vallerie memudar saat Aleta berjalan mendekat, mencoba membela diri. "Nic, semuanya... aku cuma mau mengatakan yang sejujurnya. Aku tidak mendorong Eleanor. Dia sendiri yang menceburkan dirinya," jelas Aleta, suaranya sedikit gemetar namun tetap berusaha tegar.
Vallerie menaikkan sebelah alisnya. "Jadi maksudmu, Eleanor sengaja menyiksa dirinya sampai menggigil seperti itu hanya demi menarik perhatian Dominic?"
"Kenapa tidak? Selama ini dia memang seperti itu kan?" jawab Aleta. Vallerie sedikit terkejut. Aleta mulai berani melawan? Nada bicaranya juga berbeda.
"Dia memang nekat, tapi nekat menyakitimu, bukan dirinya sendiri!" balas Vallerie sengit. Ia menatap Dominic yang tampak goyah. "Nic, ini pertama kalinya Eleanor sampai seperti ini. Apa kamu masih mau menyalahkannya?"
"Nic, kamu harus percaya aku!" seru Aleta.
"Cukup Aleta! Tidak perlu mengelak lagi, aku melihatnya sendiri!" suara Dominic meninggi, memutus perdebatan. Dia tentu lebih percaya apa yang dia lihat sendiri. Tanpa sepatah kata lagi, ia membawa Eleanor yang ada dalam gendongannya menuju kamar khusus yang memang disiapkan Devina untuk gadis itu sejak kecil.
Vallerie menatap Aleta dengan senyum mengejek yang tak lagi disembunyikan. "Makanya, jadi orang harus sadar diri, sadar posisi. Jangan malah ngelunjak," bisiknya pedas sebelum berlalu mendekati Devina.
"Tante, aku boleh menginap di sini kan? Aku ingin menemani Elea," tanya Vallerie dengan memperlihatkan wajahnya semanis mungkin.
"Boleh dong, Sayang... Kamu keliling saja dulu, nanti Tante minta pelayan siapkan kamarmu," ucap Devina hangat. Sebelum pergi, Vallerie melirik Aleta seolah menegaskan siapa yang sebenarnya berkuasa.
★★★
Vallerie berjalan mengitari lorong rumah Dominic yang mewah. Tiba-tiba ia tersadar, sedari tadi ia tidak mendengar suara Sistem yang biasanya berisik di kepalanya.
"Sistem! Kamu di mana?" ucap Vallerie setengah berbisik namun penuh penekanan.
[Ding! Aku di sini! Ada yang bisa dibantu, Tuan Putri?]
"Ke mana saja kamu? Tumben tidak muncul? Kamu tau, tadi ada pertunjukan yang sangat menarik."
[Aku harus mengisi daya. Tentu saja aku tau apa yang kamu lakukan, aku memantau mu dua puluh empat jam.]
Vallerie mendengus geli mendengar jawaban Sistem yang terdengar terlalu santai. Ia menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin.
"Mengisi daya? Kupikir kamu makhluk abadi yang tidak butuh istirahat," sindir Vallerie. "Tapi lupakan. Kamu lihat wajah Aleta tadi? Dia mulai berani menjawab. Sepertinya topeng menyedihkan nya itu sudah mulai retak."
[Tuan Putri benar-benar licik. Tapi ingat, semakin tinggi tekanan yang kamu berikan pada protagonis wanita, biasanya semesta akan memberikan dia keberuntungan yang tak terduga. Kamu harus tetap waspada.]
"Waspada terhadap apa? Semuanya dalam kendali-"
"Vallerie, aku kagum dengan trik mu."
Suara bariton yang berat dan tenang itu memotong ucapan Vallerie, membuatnya tersentak hingga hampir menjatuhkan ponsel yang ia genggam. Vallerie segera menoleh dan mendapati Victor berdiri hanya beberapa langkah darinya. Pria itu masih memegang gelas kristalnya, menatap Vallerie dengan intensitas yang seolah bisa menelanjangi semua niat busuknya.
"Kak Victor? Sejak kapan kamu di sana?" tanya Vallerie, berusaha mengembalikan raut wajahnya menjadi sedatar mungkin.
Victor tidak menjawab dengan segera. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak hingga bayangannya yang tinggi menutupi tubuh Vallerie. "Cukup lama untuk melihat bagaimana kamu memanipulasi situasi."
Vallerie terdiam. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena ia tidak menyangka ada orang yang menyadari gerak-geriknya sejelas itu. "Aku tidak tau apa yang kamu bicarakan."
Victor terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat berbahaya namun memikat. "Jangan berpura-pura di depanku. Aku tidak menyukai wanita yang membosankan seperti pacar Dominic, tapi aku sangat menyukai wanita yang tau cara bermain kotor dengan tangan yang tetap terlihat bersih."
Victor mencondongkan tubuhnya ke telinga Vallerie, membisikkan kata-kata yang membuat Vallerie membeku. "Vallerie? Kamu licik sekali."
Setelah mengatakan itu, Victor meneguk habis minumannya dan berlalu pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang tajam dan perasaan aneh yang menggelitik saraf Vallerie.
Tepat saat sosok Victor menghilang di balik belokan lorong, suara Sistem kembali berbunyi dengan nada yang jauh lebih panik dan berisik dari sebelumnya.
[Ding! ALARM! ALARM! Kesalahan database terdeteksi!]
"Sistem, ada apa?! Kamu membuat kepalaku sakit!" bentak Vallerie pelan.
[Tuan Putri, maafkan aku! Aku baru saja memproses data terbaru setelah melakukan sinkronisasi dengan kehadiran Victor tadi. Aku baru teringat satu detail penting yang terlewat!]
"Cepat katakan!"
[Target Misi Harianmu yang pernah aku katakan. Victor orang yang harus kamu dekati tuan putri.]
Vallerie memijat pelipisnya. "Apa? Jadi benar dia?"
[Benar, Tuan Putri. Dan sepertinya... dia sudah mulai tertarik pada mu. Ini adalah kesempatan emas. Jadi, apakah kamu ingin mengejarnya sekarang?]
Vallerie menggeleng, "Jangan sekarang, aku sedang tidak ingin. Lain kali saja."ujar Vallerie dan berlalu pergi.
Kalau benar Victor yang harus dia dekati, dia harus mempersiapkan diri agar bisa menaklukkan pria yang seperti es itu.