"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Rumah Sakit Columbia Asia, Medan. Pukul 02.00 WIB.
Dunia di luar sana mungkin sedang terlelap dalam pelukan malam Medan yang lembab, namun di lantai VVIP rumah sakit ini, waktu seolah berhenti berputar. Aroma desinfektan yang tajam menusuk penciuman, bercampur dengan keheningan yang menyesakkan.
Sava duduk di kursi tunggu yang terbuat dari kulit premium, namun kenyamanan fasilitas mewah itu sama sekali tidak menyentuh kulitnya. Ia menundukkan kepala sedalam mungkin, membiarkan rambut brunette curly-nya jatuh menutupi wajahnya yang pucat. Jemarinya yang lentik terus memijat pangkal hidung dan keningnya yang terasa berdenyut-denyut. Sakit kepala itu bukan karena kurang tidur, melainkan karena beban rahasia dan luka yang terus menumpuk di dadanya.
"Sava..."
Sebuah suara lembut memanggil namanya. Sava tidak perlu mendongak untuk tahu siapa itu. Winata. Sahabat sekaligus tangan kanannya itu langsung datang begitu mendengar kabar kritisnya Garvi. Winata tidak datang sebagai asisten pribadinya, melainkan sebagai sandaran bagi jiwa Sava yang hampir retak.
Winata duduk di samping Sava, tanpa suara ia melingkarkan lengannya, memeluk Sava dari samping dan mengusap punggungnya perlahan. Ia tahu, di balik jabatan mentereng sebagai COO Skyline Group, di balik body goals yang selalu dipuji orang, dan di balik tatapan tegas itu, ada seorang istri yang baru saja dihantam badai pengkhianatan dan ketakutan kehilangan secara bersamaan.
"Dia pria yang kuat, Va. Garvi tidak akan menyerah semudah itu pada maut," bisik Winata, mencoba menyalurkan kekuatan.
Sava hanya diam. Ia ingin menangis, tapi air matanya seolah sudah kering oleh rasa lelah. Ia hanya bisa bersandar pada bahu Winata, merasakan detak jantungnya sendiri yang tidak beraturan.
Beberapa meter dari mereka, Roy berdiri mematung di samping pintu kaca ruang ICU. Ekspresi wajah pria itu tampak sangat kusam. Sebagai asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun mengikuti Garvi, Roy adalah saksi hidup bagaimana karisma dan keliaran bosnya itu. Namun melihat sang CEO yang biasanya tampak tak terkalahkan seperti dewa Yunani kini terbaring dengan berbagai selang, Roy hanya bisa merapal doa dalam diam. Ia berharap tuannya mampu melewati lubang jarum ini.
Keheningan itu pecah ketika pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter senior dengan raut wajah lelah namun tenang melangkah keluar. Ia melepas maskernya, menatap ketiga orang yang menunggu dengan penuh harap itu.
Sava seketika berdiri, diikuti oleh Winata dan Roy. Jantungnya berpacu, ia takut mendengar kata-kata yang tidak diinginkan.
"Dokter, bagaimana su... maksud saya, Mr. Garvi?" tanya Sava, hampir saja ia menyebut 'suami saya' jika tidak segera teringat bahwa identitas mereka harus tetap rahasia.
Dokter itu menghela napas pendek sebelum sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. "Tuan Garvi adalah pria yang luar biasa. Dia sudah melewati masa kritisnya. Pendarahan internalnya sudah berhasil kita tangani sepenuhnya. Sekarang, kita tinggal menunggu dia sadar dari pengaruh bius dan trauma fisiknya."
Sava merasakan lututnya lemas. Jika Winata tidak memegang lengannya, mungkin ia sudah luruh ke lantai granit yang dingin itu. Rasa lega yang luar biasa membanjiri hatinya, namun di sudut lain, rasa perih itu kembali menyengat. Garvi selamat, tapi masalah mereka... masalah mereka baru saja dimulai.
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak," ucap Sava dengan suara serak.
"Sama-sama, Miss Sava. Jika Anda ingin masuk, silakan. Tapi mohon, hanya satu atau dua orang saja dan jangan terlalu bising. Pasien membutuhkan ketenangan total," pesan dokter itu sebelum pamit pergi.
Winata mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti embusan syukur.
"Terima kasih Tuhan... dia selamat, Va."
Roy juga tampak menyeka sudut matanya yang basah. "Saya tahu Tuan Garvi akan bertahan."
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam ruangan. Di dalam sana, hawa dingin AC terasa lebih menggigit. Bunyi beep dari monitor jantung yang kini berdetak lebih teratur menjadi irama utama di ruangan itu.
Garvi terbaring di sana. Tanpa jas mahal seharga puluhan juta, tanpa tatapan mata manipulatif yang biasanya mengintimidasi, ia hanya tampak seperti pria biasa yang sedang tertidur pulas. Perban melilit di kepalanya, dan beberapa luka memar menghiasi wajah rupawannya yang pucat.
Winata berdiri di ujung kaki ranjang, menatap Garvi dengan rasa syukur. "Dia benar-benar beruntung memiliki nyawa cadangan."
Namun, Sava tidak berkata apa-apa. Ia melangkah perlahan menuju sisi ranjang, lalu duduk di kursi yang tersedia. Ia menatap Garvi dengan intens. Matanya menyusuri setiap garis wajah suaminya. Pria ini adalah pria yang sama yang memata-matainya, pria yang sama yang membuatnya muak dengan sikap posesifnya, dan pria yang sama yang mungkin saja telah mengkhianatinya dengan Shila.
Beban pikiran Sava bercampur aduk. Ada rasa syukur karena Garvi tidak mati, tapi ada juga rasa takut tentang apa yang akan terjadi saat mata elang itu terbuka nanti. Apakah Garvi akan tetap menjadi predator yang manipulatif? Ataukah kecelakaan ini akan mengubah segalanya?
"Win, Roy... kalian pulanglah," ucap Sava tiba-tiba, suaranya datar namun tak terbantahkan. "Istirahatlah. Besok pagi Skyline Group butuh kalian untuk menangani kericuhan para investor. Biar aku yang menjaganya di sini."
"Tapi Va, kamu juga butuh istirahat—"
"Aku tidak apa-apa, Win. Tolong," potong Sava.
Winata dan Roy saling berpandangan, lalu mengangguk. Mereka tahu jika Sava sudah bicara dengan nada seperti itu, tidak akan ada yang bisa membantahnya. Setelah memberikan pesan singkat, mereka berdua keluar dari ruangan, meninggalkan Sava sendirian dalam kesunyian kamar rumah sakit yang megah itu.
Sava kini hanya berdua dengan Garvi. Ia meraih tangan suaminya yang terpasang infus, merasakannya yang terasa begitu dingin.
"Mas Garvi..." bisiknya lirih. Panggilan itu hanya ia keluarkan saat mereka berada dalam privasi yang mutlak.
Sava menundukkan kepalanya di tepi ranjang, tangannya masih menggenggam tangan Garvi. Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba ponsel Garvi yang diletakkan Roy di atas nakas bergetar pelan. Sebuah pesan masuk.
Sava awalnya tidak ingin peduli, namun layar ponsel yang menyala itu menangkap sudut matanya. Ia mengambil ponsel itu. Ada sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal, namun isinya membuat darah Sava seolah berhenti mengalir.
Pesan: "Dia selamat? Sayang sekali. Tapi jangan khawatir, apa yang tidak diselesaikan oleh aspal jalanan, akan diselesaikan oleh kebenaran yang aku bawa besok pagi ke kantor. Bersiaplah untuk kehancuran Skyline, Mr. Garvi."
Sava mematung. Napasnya tercekat. Ini bukan sekadar pesan dari wanita simpanan atau mantan kekasih yang cemburu. Ini adalah ancaman bisnis yang nyata. Dan yang lebih mengerikan, pengirim pesan itu seolah tahu bahwa Garvi baru saja melewati masa kritisnya.
Sava menatap wajah Garvi yang masih terlelap. Sebuah firasat buruk menghantamnya. Kecelakaan ini... mungkinkah bukan sekadar kecelakaan karena frustrasi? Mungkinkah ada tangan-tangan gelap yang sengaja merancang ini semua untuk menjatuhkan Skyline Group saat posisi Garvi sedang goyah?
***