NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan yang datang bergantian

Esok harinya, Minggu pun tiba hari yang sejak semalam sudah diniatkan Lala untuk bermalas-malasan. Ia terbangun saat subuh, sempatkan beribadah,, lalu kembali menarik selimut, berniat melanjutkan tidur yang tertunda.

Namun niat itu buyar.

“La...”

Tak ada jawaban.

“Lala...”

Lala mengerang pelan, wajahnya ditekan ke bantal.

“Huftt... iyaaaa,” sahutnya akhirnya, suaranya parau dan penuh keberatan.

Dengan langkah gontai, ia keluar kamar dan menuju dapur.

“Kenapa sih, maaah,” keluhnya begitu sampai.

“Kenapa-kenapa,” mamanya menyahut sambil sibuk di depan kompor. “Ini bantuin mama masak sama bikin kue.”

Lalu, tanpa menoleh, ia menambahkan, “Kamu itu perempuan, jangan males-malesan kalo di rumah.”

“Aku jarang-jarang loh,” bantah Lala sambil merengek kecil.

Ia melirik sekeliling dapur meja penuh bahan masakan, baskom, loyang, tepung, gula. “Lagi mau ada apaan sih, masak kok banyak banget? Ini sampe bikin kue segala.”

“Tamu,” jawab mamanya singkat.

Lala menghela napas panjang, lalu mengambil talenan dan pisau. Ia mulai memotong cabai dan bawang, matanya sedikit berair, entah karena pedas atau karena ngantuk yang belum tuntas.

“Nanti kalo tamu dateng, keluar ya kamu,” ujar mamanya lagi. “Jangan ngumpet di kamar mulu.”

Lala hanya mengangguk setengah hati. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan obrolan basa-basi yang melelahkan senyum sopan, pertanyaan klise, dan usaha pura-pura antusias. Itu semua bukan hal yang ia sukai.

Proses memasak dan membuat kue memakan waktu cukup lama. Dapur yang awalnya berantakan perlahan kembali rapi. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi saat semuanya akhirnya selesai.

Lala meregangkan bahunya yang pegal. Tubuhnya terasa lengket, rambutnya sedikit bau asap dan bumbu dapur.

“Aku mandi dulu ya, mah,” katanya sambil berjalan keluar dapur.

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah ke kamar mandi, berharap air dingin bisa menghapus sisa kantuk dan mungkin, rasa malas yang belum sepenuhnya pergi.

Selesai mandi, Lala keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah dan handuk kecil melingkar di leher. Tubuhnya terasa lebih segar, meski rasa malas belum sepenuhnya hilang. Ia kembali ke kamar, berniat sekadar rebahan sebentar sebelum benar-benar “keluar kamar” seperti yang diminta mamanya.

Belum sempat ia menjatuhkan tubuh ke kasur, terdengar suara salam dari luar rumah.

“Assalamu’alaikum...”

Lala berhenti bergerak.

“Wa’alaikumsalam,” sahut mamanya dari ruang tengah, suaranya terdengar ceria terlalu ceria, pikir Lala.

Langkah kaki terdengar, disusul suara obrolan yang samar tapi cukup jelas sampai ke kamarnya. Lala berdiri di balik pintu, mengintip sedikit ke arah ruang tengah.

Dan detik berikutnya, ia menghela napas panjang.

“Evaaa,” suara mamanya terdengar antusias.

“Iya, iya... masuk, masuk.”

Lala menutup mata sesaat.

Ya ampun...

Bukan hanya Tante Eva yang datang. Di belakang perempuan paruh baya itu berdiri seorang laki-laki tnggi, rapi, mengenakan kemeja kasual dan celana kain. Wajahnya bersih, senyumnya sopan. Terlalu sopan.

“Ini loh, anak aku,” ujar Tante Eva dengan nada bangga. “Yang kemarin aku ceritain.”

Lala masih berdiri di kamarnya, menatap cermin sebentar. Rambutnya sudah rapi, bajunya santai tapi pantas. Tidak ada alasan untuk bersembunyi. Mau tidak mau, ia melangkah keluar.

“Laa,” panggil mamanya begitu melihatnya. “Sini.”

Lala menghampiri ruang tengah dengan senyum tipis yang dipaksakan.

“Tante,” sapanya sopan.

“Eh, ini Lala ya?” Tante Eva berdiri, menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tersenyum lebar. “Cantik ya kamu, pantes mama kamu bangga.”

Lala hanya tersenyum kecil. “Terima kasih, Tante.”

“Kenalin,” lanjut Tante Eva sambil menepuk bahu laki-laki di sampingnya, “ini anak Tante, Arga.”

Arga berdiri, mengulurkan tangan. “Halo, Lala.”

“Oh... iya,” Lala menjabat tangannya singkat. “Hai.”

Mereka duduk bersama di ruang tengah. Mamanya dan Tante Eva langsung tenggelam dalam obrolan panjang tentang resep, tentang tetangga, tentang hal-hal yang bagi Lala terasa seperti latar suara belaka.

Sementara itu, Arga sesekali melirik ke arahnya.

“Kata mama aku, kamu kerja di kantor ya?”

“Iya,” jawab Lala singkat.

“Capek dong, tiap hari.”

“Lumayan.”

Hening kecil muncul di antara mereka. Lala menyesap minumannya, matanya sesekali melirik ke arah dapur, berharap ada alasan untuk kabur.

Di sudut ruang tengah itu, Lala tiba-tiba merasa seperti sedang duduk di sebuah skenario yang tidak pernah ia setujui diperkenalkan, dinilai, dipertemukan

Arga kembali membuka suara, kali ini dengan nada sedikit lebih santai, seolah mencoba mencairkan suasana.

“Eh, katanya kamu suka baca ya?” tanyanya.

Lala mengangkat alis tipis. “Hm? Oh... iya. Lumayan.”

“Mama aku bilang kamu sering beli buku.”

Lala melirik Tante Eva sekilas. Pantas saja.

“Iya sih,” jawabnya singkat.

Arga tersenyum. “Aku juga suka baca, tapi belakangan lebih sering kebeli buku yang nggak sempet dibaca.”

Lala terkekeh kecil, refleks. “Relate.”

Untuk pertama kalinya, obrolan mereka terasa sedikit lebih natural. Tapi tetap saja, ada jarak tak kasat mata yang membuat Lala tidak benar-benar bisa santai. Ia menjawab seperlunya, tanpa berniat membuka lebih banyak obrolan lain.

Di sisi lain, mamanya terlihat semakin sumringah. Setiap kali menoleh ke arah Lala dan Arga yang duduk berhadapan, senyum kecil selalu tersungging di wajahnya senyum yang terlalu mudah ditebak maknanya.

Tak lama, mamanya berdiri.

“La, ambilin kue di dapur ya. Yang tadi mama bikin.”

Lala langsung berdiri. “Iya, Ma.”

Begitu masuk dapur, Lala menghela napas panjang. Ia bersandar sebentar di meja, memejamkan mata.

Baru juga minggu pagi...

Ia mengambil piring kue, menatanya sekadarnya, lalu kembali ke ruang tengah. Saat meletakkan piring di meja, tanpa sengaja matanya bertemu dengan Arga. Laki-laki itu tersenyum lagi, kali ini lebih hangat.

“Makasih ya,” ujarnya.

Lala membalas dengan senyum kecil.

Berjam-jam waktu mereka habiskan untuk mengobrol, lebih tepatnya obrolan itu diisi oleh mamanya Lala dan Tante Eva saja.

Setelah beberapa saat, Tante Eva melihat jam tangannya.

“Eh, nggak kerasa ya ngobrolnya. Kita pamit dulu deh.”

Mamannya terlihat sedikit kecewa, tapi tetap tersenyum. “Iya, lain kali main lagi ya.”

Arga berdiri. “Makasih ya, Tante.”

Sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke arah Lala.

“Seneng bisa kenal kamu, La.”

Lala mengangguk kecil. “Iya.”

Setelah kepergian Tante Eva dan anaknya Lala kembali duduk di ruang tengah dengan mamanya.

Pintu tertutup. Rumah kembali terasa lebih sepi.

Mamannya langsung mendekat.

“Gimana?” tanyanya, nada suaranya dibuat santai tapi jelas penuh harap.

Lala menahan senyum kecut.

“Biasa aja, Ma.”

“Biasa aja gimana? Orangnya sopan, kerja jelas. Ganteng juga loh itu.”

“Iya... tapi ya biasa aja.”

Mamannya mendengus pelan. “Kamu itu susah ya dikasih kenal orang.”

Ia tidak menjawab. Lala memilih berjalan menuju kamar, menutup pintu pelan, lalu bersandar sebentar di baliknya. Kepalanya terasa penuh, seperti ada terlalu banyak suara yang saling bertabrakan di dalam pikirannya.

Sudah beberapa hari pertemuan itu berlalu. Namun sejak Tante Eva dan Arga datang ke rumah, satu hal berubah. mamanya jadi terlalu sering menyebut nama Arga. Dalam obrolan santai, di sela-sela makan, bahkan saat Lala hanya lewat dapur, nama itu selalu muncul. Seolah-olah Arga adalah jawaban dari semua kekhawatiran mamanya tentang masa depan Lala.

Mamanya terlihat begitu senang setiap kali membahasnya. Cara Arga bicara, pekerjaannya, sikapnya yang katanya sopan dan “kelihatan bertanggung jawab”. Semua itu diulang berkali-kali, dengan harapan yang sama Lala mau membuka hati, mau mencoba mengenal, atau setidaknya memberi kesempatan.

Sementara Lala? Ia tidak merasakan apa-apa.

Setiap kali topik itu muncul, ia memilih mengalihkan pembicaraan atau menjawab sekenanya. Nada malas-malasan yang sengaja ia pakai bukan tanpa alasan. Itu caranya menegaskan, tanpa harus berdebat panjang, bahwa ia tidak tertarik. Tapi semakin ia menghindar, mamanya justru semakin terlihat ingin meyakinkan.

Yang membuat Lala heran, semua ini terasa begitu mendadak. Entah apa yang membuat mamanya tiba-tiba ingin ia segera menikah. Saat Lala akhirnya bertanya, jawabannya sederhana tapi menyesakkan. umurnya sudah cukup. Sudah waktunya.

Padahal Lala baru akan menginjak 27 dua bulan lagi. Dan di kepalanya, menikah belum pernah masuk daftar rencana dekat.

Kalimat-kalimat mamanya terus terngiang. Bahwa mamanya tidak muda lagi. Bahwa ia ingin segera menimang cucu. Bahwa ia ingin melihat anaknya punya pendamping, ada yang menjaga, ada yang menemani. Kalimat-kalimat itu tidak diucapkan dengan marah, justru dengan nada penuh harap dan mungkin itulah yang membuatnya terasa lebih berat.

Semua itu bercampur dengan tekanan pekerjaan di kantor yang akhir-akhir ini terasa menumpuk. Target, revisi, rapat yang tidak ada habisnya. Kepalanya seperti tidak diberi ruang untuk benar-benar diam.

Karena terlalu pusing, Lala memutuskan keluar ruangan menuju pantry kantor. Ia membuat minuman dingin, berharap rasa dinginnya bisa sedikit meredakan panas di kepalanya. Setelah selesai, ia duduk di bangku pantry yang menghadap langsung ke jendela besar.

Dari sana, gedung-gedung tinggi menjulang, dan di bawahnya kendaraan berlalu-lalang tanpa henti. Ada sesuatu yang menenangkan melihat dunia terus bergerak, sementara ia hanya duduk diam, tidak dituntut apa-apa.

Lala sedang bengong ketika tiba-tiba sebuah kotak kecil diletakkan di depannya.

Ia menoleh.

Brian.

Di dalam kotak ttu, terdapat sepotong red velvet cake.

“Masih suka red velvet, kan?” ujar Brian santai, seolah itu hal paling biasa di dunia.

Lala terdiam, pandangannya bergantian antara kue dan Brian.

“Barusan ke coffee shop sebelah,” lanjut Brian tanpa diminta. “Tadi liat kamu duduk di sini bengong aja. Jadi kepikiran beliin.”

“Repot-repot, Mas,” ucap Lala pelan.

“Nggak kok,” jawab Brian ringan. “Sekalian tadi emang keluar.” Ia tersenyum kecil. “Dimakan ya.”

Lala membalas dengan senyum tipis. “Makasih ya.”

Ia tidak menyangka Brian masih ingat. Dulu, saat mereka masih bersama, setiap kali Lala sedih atau pikirannya kacau, Brian selalu datang dengan red velvet. Seolah-olah kue itu punya kemampuan aneh untuk membuat semuanya terasa lebih ringan. Dan entah sugesti atau kebiasaan, setiap gigitan selalu berhasil menenangkan.

Brian tidak berlama-lama. Ia hanya mengangguk kecil lalu pamit kembali ke ruangannya, tanpa banyak basa-basi, tanpa mencoba duduk atau memulai obrolan panjang.

Namun kehadiran singkat itu cukup meninggalkan jejak.

Lala menatap potongan kue di depannya beberapa detik sebelum akhirnya mengambil sendok. Di tengah segala keruwetan pikirannya, ada satu perasaan yang tidak bisa ia abaikan. Brian mungkin sudah tidak lagi berada di posisinya dulu, tapi kepeduliannya... ternyata belum sepenuhnya pergi.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
sunrise
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
sunrise
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!