NovelToon NovelToon
Surga Yang Tak Diinginkan

Surga Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Perjodohan / Poligami / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Romansa Love

"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.

"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."

Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.

Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.

Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23 (Persaingan)

Devan masih berhadapan dengan Raditya. Kedua pria itu saling mengunggulkan kelebihan masing-masing. Sikap sombong itu membuat Raditya tertawa remeh. Dia menantang balik pria yang sudah menjadi saingannya itu.

"Mau menjebloskan saya ke penjara? Apa Anda mampu? Jangan karena status Anda sebagai pengacara, lalu bisa berbuat seenaknya. Saya bukan orang yang bodoh, jadi jangan remehkan kemampuan saya." Raditya menantang balik saat Devan mencoba untuk mengancamnya. Dia tidak takut sedikitpun.

"Oh ya, Fania akan tetap jadi istriku. Jangan coba untuk merebutnya dariku. Niatmu itu tidak akan pernah terlaksana. Jadi, jangan banyak bermimpi, karena aku tidak akan pernah melepaskannya," ucap Raditya dengan penuh kesombongan.

Kedua tangan Devan mengepal, dia sangat kesal saat Raditya menyombongkan apa yang dia punya. Salah satu dari mereka pun mengalah untuk menghindari pertikaian. Raditya pergi dari tempat itu, dia ingin merencanakan sesuatu untuk memertahankan rumah tangganya yang sudah kacau.

"Pengacara itu akan menghambat rencanaku. Ternyata dia sudah tergila-gila dengan istri orang lain. Baiklah, kita lihat saja. Siapa yang akan menang dalam drama inii," gumam Raditya dengan senyum menyeringai. Dia sudah siap untuk persaingan yang ketat.

Di depan ruangan ICU, Halimah terduduk lemas. Tenaganya benar-benar habis dengan perdebatan tadi. Devan tidak bisa melakukan apa-apa, dia mengerti rasa sakit yang dirasakan oleh orang tua Fania itu.

"Ibu istirahat dulu, biar saya saja yang berjaga di sini. Jangan sampai Ibu ikut sakit. Jika ada perubahan, saya akan mencari Ibu," ucap Devan pada Halimah yang melamun.

Halimah diam bergeming, dia tidak bisa berpikir jernih lagi. Dalam kepalanya hanya ada rasa sakit putrinya yang ditahan dan berpura-pura kuat. Bayangan itu yang membuatnya ikut hancur.

"Ibu tidak ingin jauh dari Fania. Dia pasti butuh Ibu sampingnya, Ibu takut jika orang itu datang lagi. Ibu tidak rela dia menyakiti Fania lagi," gumam Halimah dengan mata sembab.

Devan menarik napas dalam, dia ikut merasakan perasaan itu. Hingga dia memutuskan untuk ikut menunggu bersama dengan Halimah. Mereka duduk dalam keheningan, saling menunggu berharap Fania cepat sadar. Semua itu berlanjut sampai dengan esok hari.

Halimah berjaga sepanjang malam, dia bahkan tidak beristirahat sama sekali. Dalam hatinya terus berdoa agar putrinya segera sadar. Sepertinya harapan itu terkabul. Dokter yang memeriksa mengabarkan jika Fania sudah sadar. Tentu saja, berita itu membuat Halimah lega. Wanita separuh baya itu sangat bersemangat untuk menemui putrinya.

"Dok, apa saya boleh bertemu dengan putri saya? Bagaimana kondisinya saat ini?" tanya Halimah penuh harap.

Dokter menjawab pelan, cukup membuat Halimah khawatir. "Putri Anda sudah siuman. Sekarang sedang persiapan untuk pindah ruangan. Ibu tidak perlu khawatir lagi karena semuanya akan baik-baik saja."

"Syukurlah, terima kasih atas usaha dokter. Saya sangat lega mendengarnya," ucap Halimah dengan penuh rasa syukur. Dia menunggu putrinya di ruangan baru. Dalam setengah jam, Fania sudah ada di tempat baru.

Kedua mata Fania masih terpejam dan kekuatannya belum pulih sempurna. Halimah sudah masuk dalam ruangan itu. Langkahnya sangat pelan dan ragu-ragu. "Nak, ini Ibu. Ibu datang menjemputmu pulang. Kita akan pulang, Nak. Maaf sudah membuatmu menderita."

Halimah menggenggam tangan putrinya yang masih lemas. Dia menangis pilu saat melihat wajah Fania dari jarak dekat. Wajah yang penuh lebam. Luka di sudut bibir yang sudah mengering. Leher yang memerah dan pergelangan tangan yang membiru adalah bukti kekerasan yang dilakukan oleh Raditya.

"Nak, apa kamu mendengar suara Ibu? Fania sayang, bangun, Nak. Ibu ada di sini. Ibu datang menjemputmu." Halimah terys menggenggam tangan putrinya. Dia terus menangis meratapi nasib putrinya.

Fania yang sudah setengah sadar merasakan kehadiran Ibunya. Dia mencoba untuk membuka mata meski rasanya sangat berat. "Ibu, Ibu, Ibu ...."

"Nak, iya ini Ibu. Ibu ada di sini, bagaimana keadaanmu? Apa kamu kesakitan, Nak? Beritahu Ibu, bagian mana yang sakit? Beritahu Ibu, Nak." Halimah tidak kuasa lagi menahan kesedihannya.

"Semuanya sakit, Bu. Sakit sekali, aku ingin dirawat di rumah saja. Aku ingin pulang sam Ibu." Fania berkata dengan terbata-bata. Kondisinya sangat lemah sekali.

"Iya, nanti kita akan pulang.Kamu harus sembuh dulu, ya, Sayang. Setelah kamu sembuh, kita akan pergi dari sini," jawab Halimah penuh semangat. Sebisa mungkin dia akan melakukan hal yang terbaik.

Fania kembali memejamkan matanya, dia belum bisa mengobrol terlalu banyak. Sementara itu, berita Fania yang sadar sudah sampai pada Raditya. Pria itu tersenyum sinis merasa senang karena obsesinya belum berakhir.

"Fania, akhirnya kam sadar juga. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa kamu masih ingin kabur dariku? Sepertinya itu tidak akan terjadi, karena aku tidak akan membiarkan semua itu." Raditya membatin sembari mengendarai mobilnya yang sedang menuju ke rumah sakit. Dia tidak ingin melewatkan momen penting.

Namun, saat perjalanan itu, Raditya diganggu oleh panggilan yang masuk. Zelina menghubunginya di saat ingin melakukan hal yang penting. Situasi yang tidak tepat itu membuatnya kesal dan mengabaikan panggilan tanpa mengangkatnya.

"Zelin, kamu menghubungiku di waktu yang tidak tepat. Aku harus mengabaikanmu kali ini. Entah mengapa kamu tidak menarik lagi setelah aku merasakan Fania. Ternyata dia sangat sempurna dan aku sudah buta dengan kesenanganku padamu." Raditya berkata dengan tidak tahu malu Dia sudah tergila-gila dengan istri pertamanya.

Raditya sudah sampai di rumah sakit. Dia menemui administrasi untik memindakan istrinya di ruangan khusus. Dia tidak ingin orang lain bisa menemui istrinya tanpa izin. Hanya dengan memindahkan Raditya bisa melakukan apapun tanpa gangguan dari pihak luar.

Setelah menyelesaikan administrasi, dia langsung menuju ke ruangan baru untuk menyambut kedatangan istrinya. Dia tidak ingin melewatkan momen penting yang bisa menentukan nasibnya. Raditya sudah sampai di ruangan khusus. Dia duduk dengan tenang di sofa yang ada di dalam.

Tidak membutuhkan waktu lama, dokter datang bersama dengan Fania yang sedang dalam fase pemulihan. Saat masuk ke dalam ruangan, orang yang pertama terkejut adalah Halimah. Wanita itu shock saat melihat Raditya yang sedang duduk dengan sangat santai.

"Dokter, mengapa ada dia dalam ruangan ini? Saya tidak setuju, jika putri saya di pindahkan dalam ruangan ini!" seru Halimah dengan emosional. Dia masih belum melupakan sikap Raditya yang semena-mena pada putrinya.

Raditya berdiri dari tempatnya, dia menghampiri ibu mertuanya yang masih emosi. "Ibu, apa yang Anda maksud? Saya sudah memikirkan kesehatan Fania dengan memindahkannya ke ruangan yang lebih baik. Seharusnya, Anda berterima kasih karena tempat ini sangat efektif untuk pemulihan."

Dokter hanya bisa melakukan tugasnya, mereka tidak menghiraukan sikap Halimah yang menolak ruangan tersebut. Fania resmi dirawat dalam ruangan khusus, padahal ada modus lain dalam pemindahan itu. Raditya ingin menjauhkan Devan dari urusan rumah tangganya.

Setelah alat medis terpasang, para dokter keluar dari ruangan. Yang tersisa hanya Halimah dan menantunya. Kondisi Fania masih belum stabil, kedua matanya masih terpejam dengan kesadaran yang masih minim.

Raditya mendekati istrinya yang berwajah pucat itu. Dia tersenyum sambil membelai pipi yang memar bekas tamparan beberapa hari yang lalu. "Kasihan sekali pipi ini harus merasakan kekerasan dariku. Padahal hanya cukup patuh saja, tapi mengapa kamu tidak mau menurutinya? Ibu, seharusnya Anda mengajari Fania untuk berbakti pada suaminya. Sangat disayangkan sekali, dia menjadi keras kepala dan berakhir menjadi seperti ini."

Halimah menahan semua amarahnya, dia tidak ingin menganggu istirahat putrinya. Namun, sikap Raditya sungguh sangat menganggu keheningan itu. "Nak, kamu sangat percaya diri sekali dengan kondisi yang seperti ini? Jika kamu berharap semua kembali dari awal, sangat disayangkan karena hal itu tidak mungkin terjadi meski kamu berusaha sekalipun. Ingatlah apa yang kukatakan ini. Seumur hidupmu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Kamu akan menyesal sudah menyiakan ketulusan putriku."

Halimah terus berdoa agar Raditya mendapatkan balasannya. Akan tetapi doa itu tidak dihiraukan sama sekali. Justru dianggap remeh karena Raditya berpikir dia tidak akan pernah terjatuh.

"Ibu, doamu itu tidak akan mempan terhadapku. Jadi, tidak perlu repot-repot. Takdir Fania adalah hidup bersamaku selamanya .... "

1
Sanda Rindani
ya ,apa salahnya ibunya lapor polisi
nunik rahyuni
bagus jgn mau lkian.model kya itu .biar mmnya baik tp kmu hidup sama anaknya.lagian dia sdh tidur sm.wewe jd jgn mau dipake ma dia
nunik rahyuni
bangke kalian be2 ni.....pasangan yg cocok..kedua duanya g ada otak
nunik rahyuni
hadaw kok lemes to yuu yuuu ...biar dikata wanita itu lemah tp ya jgn lemah2 bgt gitu lho
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡
nunik rahyuni
knp mau maunya disuruh2 baik minggat j
nunik rahyuni
knp klo bikin kisah pasti seorg istri yg lemah...bru mulai baca sdh mo kluar golok aq
Romansa Love: Kak😭 Goloknya simpan dulu buat motong ayam nanti dibuat opor 😭🤭 Terima kasih sudah mampir di karyaku Kak😍
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
skip dulu terlalu gedek untuk d baca. dan untuk kesehatan mental d bln puasa 🙏
Romansa Love: Bacanya pas buka puasa Kak😭😅
total 1 replies
partini
ga mempan hemm kamu salah doa paling mustajab itu doa seorang ibu untuk anaknya
partini
fania agak bandel, mencintai lebih baik di cintai
partini
sedih sekali ini cerita nya,i hope happy dengan lelaki lain biar beda sama novel yg lain
Romansa Love: Halo, Kak Terima kasih sudah membaca ceritaku😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!