Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Hampir Saja
Di balik pintu kamar yang kedap suara itu, kesunyian terasa begitu pekat. Jennie yang masih terduduk di lantai mengusap dengan kasar air matanya yang hampir jatuh.
"Aku tidak boleh menangis, menulis novel dewasa bukan berarti aku tidak memiliki martabat, dasar ular pirang!" umpatnya.
Rasa panas di dadanya membuatnya tidak bisa berdiam diri saja, karena dia tidak bisa keluar akhirnya dia memutuskan untuk mengeksplorasi walk in closet tempat bersembunyinya tadi.
Jennie mulai menelusuri satu persatu dari bagian jas, kemeja, hingga deretan sepatu yang mengkilap. Namun langkahnya terhenti di sudut paling belakang lemari, di bawah rak yang menyimpan koleksi jam tangan mewah.
Di sana, ada sebuah kotak kayu jati tua yang diletakkan agak tersembunyi, seolah pemiliknya ingin menyimpannya atau tidak tega untuk membuangnya.
"Maaf ya, Mas. Kamu sendiri yang menyuruhku bersembunyi di sini, dan aku tidak sengaja melihatnya" gumam Jennie dan menarik kotak itu dengan tangan gemetar.
Kotaknya cukup berat dan tidak terkunci. Saat tutupnya di buka, aroma kertas yang disimpan lama dan bunga kering menyeruak keluar.
Jennie terpaku sejenak saat melihat isi kotak tersebut.
Lagi-lagi dia menemukan sebuah foto, dan orang yang berada di dalam foto itu sama dengan foto yang dia temukan di rak yang ada di ruang tamu Johan.
Di bawah foto itu, ada sebuah kotak beludru merah kecil. Saat Jennie membukanya, isinya adalah cincin berlian dengan desain klasik tapi terlihat sangat elegan.
"Jadi mereka sepasang kekasih? Dan hampir menikah?" bisik Jennie.
Rasa penasaran yang tadi menggebu mendadak berubah menjadi rasa nyeri yang aneh. Selama ini dia mengenal Johan sebagai pria yang dingin dan tidak peduli dengan sekitar, tapi ternyata pria itu pernah memberikan seluruh dunianya pada seseorang.
"Tapi kenapa Mas Johan berkata wanita ini yang menjadi alasan dia membenci melihat wanita mencoba masuk terlalu dalam ke hidupnya?" monolog Johan.
"Dia di khianati atau bagaimana?"
Mari tinggalkan sejenak Jennie dan pikirannya, kita kembali ke ruang tamu di mana Johan dan tamunya sedang berbincang.
"Ngomong-ngomong di mana Jennie? Ini kan hari minggu, apa kalian tidak menghabiskan waktu bersama?" tanya Ibu Johan dengan wajah penasaran.
Johan yang mendapatkan pertanyaan dadakan itu menahan napas sejenak. "Dia sedang ada janji dengan ilmuwan dan penulis lain, Ma," balasnya dengan asal, tapi raut wajahnya tetap tenang.
"Owalah, rajin sekali calon menantumu itu ya, Pa," sahut Ibu Johan dengan wajah bangga.
Tapi, Ajeng si ular pirang dan suka cari muka itu tidak membiarkan momen tersebut berlalu begitu saja. "Benarkah? Hari minggu harusnya kan dihabiskan dengan orang terkasih, bukannya malah keluyuran di luar. Atau jangan-jangan dia sedang sibuk dengan proyek lain yang tidak ingin kita ketahui."
Mendengar itu Johan mengeraskan rahangnya. "Dia tidak keluyuran, dia memiliki pekerjaan. Tidak sepertimu yang hobinya keluyuran dan menghamburkan uang," balasnya dengan nada datar.
Ya, sekali lagi dia membela Jennie di depan kedua orang tuanya.
"Ehem."
Pak Hardi berdehem, mencoba mencairkan suasana yang mendadak berubah tegang.
"Bagaimana pekerjaanmu, Nak?" tanyanya mencoba mengalihkan perhatian.
"Pekerjaanku baik-baik saja, dan aku tidak sedang setres seperti yang diucapkan seseorang," jawabnya dengan diakhiri sindiran.
Pak Hardi mengangguk, "Baguslah kalau begitu, kapan-kapan bawa Jennie ke rumah untuk makan malam jika dia tidak sibuk."
Johan hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, sedangkan Ajeng yang mendengar Ayah Johan mengundang wanita lain merasa dongkol.
"Baiklah, istirahatlah setelah ini, kami akan pulang," ucap Ibu Ratna yang merasa suasana hati putranya sedang tidak baik.
"Tapi---"
"Tidak ada tapi-tapian Ajeng, kamu juga pulang. Biarkan Johan istirahat dengan tenang," sela Pak Hardi sebelum Ajeng melanjutkan ucapannya.
Wanita itu menarik bibirnya ke bawah, "Kalau begitu aku pinjam kamar mandimu sebentar," ucapnya pada Johan.
Johan kembali mengangguk, "Pakai yang di luar saja."
Ajeng berdiri dan melangkah menuju kamar mandi, tapi bukan kamar mandi yang dekat dengan dapur yang dia tuju, melainkan kamar mandi di kamar Johan.
Sejak Johan pindah, dia sama sekali belum pernah masuk ke dalam kamar pria itu, jadi sekarang adalah kesempatannya.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka setengah, Johan yang melihat itu langsung berdiri. "Ajeng! Aku bilang kamar mandi luar," serunya.
Sedangkan Jennie yang masih jongkok di depan lemari Johan terkejut saat mendengar pintu terbuka.
Dengan cepat dia menutup kotak itu dan membawanya masuk ke dalam lemari untuk bersembunyi lagi.
"Memangnya kenapa jika aku memakai kamar mandi kamarmu? Aku hanya ingin buang air sebentar," balas Ajeng dan langsung masuk ke dalam kamar tak mengindahkan ucapan Johan.
Johan langsung menyusul Ajeng, hal itu membuat kedua orang tuanya saling bertatapan dengan bingung.
Di dalam kamar, bukannya langsung masuk ke dalam kamar mandi, Ajeng malah mengelilingi kamar yang didominasi dengan warna gelap tersebut.
"Keluar Ajeng, aku tidak suka sembarang orang memasuki kamarku," ucap Johan dengan tegas.
Ajeng lagi-lagi tidak mengindahkan ucapan Johan, telingannya mendadak tuli. Kedua matanya menatap semua yang ada di kamar itu dengan raut bahagia.
"Ajeng!"
"Hatchiiiiii!"
Johan maupun Ajeng terkejut mendegar suara bersin, apalagi Ajeng yang tidak tahu jika ada satu orang lagi yang berada di dalam kamar dan tengah bersembunyi di dalam kegelapan.
"Itu suara orang bersin, kan?" tanya Ajeng. "Johan, apa kau menyembunyikan sesuatu di dalam kamarmu? Apa itu alasanmu aku tidak boleh masuk ke dalam sini?" sambung Ajeng dengan raut curiga.
Johan yang mendapatkan serangan mendadak itu segera memutar otaknya. "Itu suara kucing!"
Ajeng mengerutkan keningnya, "Kucing? Sejak kapan kamu menyukai makhluk berbulu itu? Bukankah kamu alergi terhadap bulu?"
Jennie yang berada di dalam lemari menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia sudah tidak bisa menahan gatal di hidungnya hingga akhirnya dia bersin begitu saja.
"Sudahlah tidak perlu banyak bertanya, jika kau masih ingin ke kamar mandi langsung masuk saja, jika tidak cepat keluar!" kata Johan dengan nada tajam.
Ajeng menghentakkan kakinya dan langsung menuju kamar mandi, dan Johan menunggu wanita itu. Untung saja Ajeng belum sampai walk in closet, sangat berbahaya jika wanita itu mendegar dengan jelas suara bersin tadi.
Bersambung