Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga sekawan—Langganan BK
"FIN! TOLONGIN GUE, FIN!"
Alfino refleks menghentikan langkah dan menghadap ke belakang saat mendengar teriakan seseorang yang sangat dia kenali. Kedua alisnya mengerut saat melihat Axel berlarian di koridor sekolah dengan wajah panik.
Saat sudah tiba di depannya, cowok itu membungkuk dengan posisi tangan yang bertumpu pada kedua lutut. Nafasnya terengah-engah. Bahkan, bulir keringat sudah membasahi kening cowok itu di pagi hari seperti ini. Yang paling mencuri perhatian Alfino adalah luka memar kebiruan di pipi kanan Axel. Alfino langsung memegang nya pelan untuk mengeceknya.
"Dipukul Niel," ucap Axel memberi tahu sebelum Alfino sempat menayangkan apa-apa.
"Ckkk, kenapa lo bisa babak belur gitu. Kenapa nggak lo lawan?!"
"Gue sendirian Fin, Niel bawa antek-anteknya gue mana bisa lawan sendirian."
Mendengar itu, tangan kiri Alfino mengepal erat. Giginya bergemelutuk menahan amarah. "Di mana Niel?!" Desisnya.
Belum sempat Axel menjawab, dari ujung koridor muncul seorang cowok bertubuh tinggi. Ekspresi wajahnya begitu garang, dengan kedua tangan mengepal erat. Dari wajahnya yang memerah dan mata yang menatap tajam ke arah Alfino, sepertinya cowok itu tengah murka pada Alfino.
Niel berdiri tepat di depan Alfino. Tatapan penuh kebencian dia layangkan ke arah cowok itu. Lagi dan lagi, Alfino membuatnya bertambah kesal karena selalu ikut campur dalam urusan nya.
Alfino menyunggingkan senyuman miring. "Lo banci?"
Niel melebarkan matanya. Amarah yang sejak tadi berkobar di dadanya itu kian memuncak. Dia paling benci ketika di ejek dengan sebutan itu.
"Di antara anak Black tigger lainnya, gue paling benci sama lo Fin. Sok jagoan, sok perhatian, dan paling suka bohongi diri sendiri."
Alfino yang mendengar ucapan dari Niel langsung menyunggingkan senyuman mengejek, "Lo lagi ngomongin diri lo sendiri El?"
"Maksud Lo?" Tanya Niel tidak terima.
"Ucapan lo barusan itu bukannya ada di diri lo ya? Sok jagoan, sok perhatian dan paling parahnya lagi lo bohongi diri lo sendiri kalau lo sudah Ha—"
BUGHHH....
Belum sempat Alfino menyelesaikan ucapannya, Niel langsung buru-buru menghantam keras wajah Alfino. Alfino yang belum bersiap-siap itu seketika langsung terhuyung membuat tubuhnya langsung jatuh ke tanah.
"Sial!"
Pukulan yang Niel layangkan barusan cukup kencang, dan berhasil membuat Alfino kesakitan.
Sementara itu, wajah Alfino tidak terlihat sesantai tadi. Mata cowok berpenampilan rapi itu terlihat memerah karena menahan amarah yang sudah memuncak. "Lo belum jagoan kalau belum ngerasain tendangan maut dari gue."
Axel tersenyum lebar dengan wajah tidak sabar ketika melihat perkataan Alfino. Pasti sahabatnya itu akan melayangkan tendangan keramat yang juga diajarkan kepadanya.
"MATI LO!" Dengan sekali gerakan, Alfino mengayunkan kakinya ke arah selangkangan Niel, kemudian memberikan tendangan tepat di bagian aset pribadi milik cowok itu.
"ARGHHH!" Niel mengerang. Dia membungkuk dengan tangan mencengkeram kuat miliknya.
“Sialan!!!!”
Tendangan dari Alfino berikan hampir membuat miliknya itu pecah. Kini rasa ngilu menjalar di bagian selangkangannya.
BUGHHH...
BUGHHH...
BUGHHH...
Kali ini pukulan nya lebih kuat dari sebelumnya Alfino terus menghantam tubuh Niel sampai membabi buta. Wajahnya memar di sudut bibirnya sedikit robek, kini Niel sudah lemas tak berdaya. Dia sendirian tanpa di temani oleh teman-teman nya.
"Sudah gue bilang, sebelum Lo apa-apa in gue, Lo yang bakal lebih dulu gue apa-apa in, Niel Sadikta."
Tanpa basa-basi Alfino langsung pergi di ikuti Axel. Sementara itu, Niel hanya bisa melihat kepergian mereka dengan sumpah serapah yang terus keluar dari mulutnya.
...----------------...
"HORMAT YANG BAIK!"
"DILARANG MENGGERUTU KETIKA DI HUKUM!"
"AERA! TIDAK USAH PURA-PURA SAKIT! SAYA TAHU KAMU MENCOBA UNTUK KABUR DARI HUKUMAN!"
"STELLA! PUNGGUNGNYA LEBIH TEGAP LAGI!"
Di bawah triknya sinar matahari, ketiga perempuan itu berniat untuk bolos pelajaran harus menjalani hukuman akibat perilaku mereka yang sangat tidak sesuai dengan aturan.
Ya walaupun mereka bertiga seorang perempuan tapi siapa sangka sifat dan perilaku nya lebih nakal melebihi laki-laki. Sudah menjadi kebiasaan sejak kelas sepuluh, mereka memang suka mencari momen di mana mereka harus di hukum. Setidaknya itu akan menjadi memori yang akan selalu mereka kenang setelah lulus dan menempuh kehidupan yang lebih sulit nantinya.
"SAYA TAHU KALIAN BOLOS HANYA UNTUK MENGOSONGKAN ABSENSI SETIDAKNYA SEBULAN SEKALI. APA SALAHNYA JIKA MENJADI MURID PATUH SEUTUHNYA? KALIAN INI PEREMPUAN."
Sheina yang sudah berkeringat banyak, akhirnya menurunkan tangannya yang terasa pegal. Wajahnya benar-benar memerah, sama seperti ke dua temannya yaitu—Aera dan Stella. Mereka sudah berdiri selama tiga puluh menit dan guru Bk belum juga memberikan komando untuk segera menyudahi hukuman mereka.
"Lapor, Bapak ganteng yang terhormat!" Seru Stella. "Hukuman yang kami jalani sudah berjalan tiga puluh menit. Lambat sepuluh menit dari biasanya. Mohon untuk segera menyudahi penyiksaan ini."
Pak Agung—selaku guru Bk merasa geram ia membulatkan matanya. "Berani sekali kamu Stella. Laporan di tolak! Waktu hukuman di tambah tiga puluh menit."
"Anjirrr... Stella Lo ya! Mulut lo nggak bisa diem, jadi nambah lagi kan hukumannya. Arghhh!" Gerutu sheina kesal.
"Kalau nggak mau di hukum ya jangan melakukan kesalahan." Celetuk Aera. "Lagian seru juga kalau nambah satu jam. Nambah catatan buku memori kita."
"AERAAA!!!"
"Bapak guru yang terhormat, nggak apa-apa kalau mau hukum kami. Nanti juga bapak kangen sendiri kalau lulus." Aera cekikikan di akhir kalimatnya. Membuat guru Bk kesal adalah hobinya. Guru paling galak itu pasti sangat lelah mengurus mereka ketika di sekolah.