NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pagi itu Nara terbangun dengan rasa mual yang lebih berat dari biasanya. Bukan hanya perutnya yang bergejolak, tapi juga kepalanya yang terasa ringan seperti melayang. Ia duduk di tepi ranjang, mencoba menarik napas perlahan.

Belum sempat ia berdiri, suara langkah terdengar dari luar kamar.

“Ra,” panggil Albi pelan, tidak mengetuk, seolah tahu ia sudah terjaga.

“Aku taruh wedang jahe di meja.”

Nara menoleh. “Aku belum apa-apa.”

“Iya,” sahut Albi ringan. “Minum aja dulu.”

Tidak ada nada memerintah. Tidak juga nada khawatir berlebihan. Tapi justru itu yang membuat Nara menuruti. Ia bangkit perlahan, berjalan ke meja kecil, lalu menyesap wedang hangat itu sedikit demi sedikit.

Hangatnya turun ke perut, menenangkan.

“Kamu nggak ke ladang?” tanya Nara.

“Siang aja,” jawab Albi. “Pagi masih dingin.”

Padahal biasanya Albi berangkat sebelum matahari naik. Nara tahu itu. Tapi ia tidak bertanya lebih jauh.

Beberapa hari terakhir, Albi memang berubah tidak drastis, tapi terasa. Ia tidak lagi membiarkan Nara mengangkat ember air. Tidak lagi menyuruhnya menyapu halaman terlalu lama. Bahkan saat Nara hendak mencuci pakaian, Albi hanya berkata singkat,

“Tak tinggal nanti sore.”

Nara sempat merasa tidak enak. Merasa seperti tamu yang terlalu dimanja.

Namun Albi tidak pernah membuatnya merasa lemah. Tidak pernah berkata, kamu sedang hamil. Ia hanya mengatur segalanya agar tubuh itu tidak perlu dipaksa.

Menjelang siang, Bu Sarti datang membawa pisang rebus, dan itu membuat Nara sedikit terkejut.

“Ndoro, kulo nggih nitip sethithik,” katanya sambil tersenyum.

Nara menerimanya dengan kikuk. “Matur nuwun, Bu.”

Bu Sarti melirik perut Nara sekilas—hanya sekilas, lalu tersenyum lebih lebar.

“Sing penting sehat. Wong wadon ngandhut kuwi kudu dijaga.”

Kalimat itu melayang di udara, ringan tapi penuh arti, Nara hanya mengangguk, tanpa sedikit pun rasa tersinggung, karena ia tahu, dirinya seperti ini bukan karena bergaul terlalu bebas, melainkan hasil dari hubungan yang sah, hanya saja ia sendiri yang memilih menyembunyikan.

Albi yang sedang mengikat karung padi langsung menoleh.

“Nggeh, Bu. Sampun kula gatekake.” Nada suaranya sopan, tapi tegas. Seolah berkata: cukup sampai di sini.

Bu Sarti mengangguk, tidak bertanya apa-apa lagi.

Setelah perempuan itu pergi, Nara duduk di bangku kayu depan rumah. Dadanya terasa hangat, bukan karena matahari, tapi karena satu hal sederhana: Albi tidak membiarkan siapa pun menekan batasnya, dan hal itu sudah cukup berarti bagi dirinya.

“Kamu nggak keberatan?” tanya Nara akhirnya.

“Keberatan apa?” Albi balik bertanya.

“Orang-orang mulai… memperhatikan.”

Albi menyandarkan karung, lalu duduk tidak jauh dari Nara.

“Selama mereka nggak bertanya, nggak masalah.”

“Kalau mereka bertanya?”

“Biar aku yang jawab.”

Nara menatap Albi. “Jawab apa?”

Albi tersenyum kecil. “Jawaban sing nggawe kowe tenang.”

Untuk sesaat, Nara kehabisan kata. Ia baru sadar: selama ini hidupnya selalu penuh penjelasan. Kepada Ardan. Kepada orang lain. Kepada dirinya sendiri.

Dan saat berada di tempat ini, ia tidak diminta keterangan apa-apa.

  ☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Sore hari, tubuh Nara terasa lebih lemah. Ia duduk di dapur saat mual kembali menyerang. Kali ini lebih kuat. Albi yang sedang memotong sayur langsung menghentikan pekerjaannya.

“Ra.”

Belum sempat Nara menjawab, Albi sudah berada di sampingnya, menyodorkan air hangat.

“Pelan,” katanya lagi. Selalu itu. Pelan.

Nara meminum air itu. Nafasnya masih tersengal, dan untuk selanjutnya ia sudah merasakan tenang kembali.

“Maaf,” ucapnya refleks.

Albi mengernyit kecil. “Kok minta maaf?”

“Aku… jadi bikin kamu repot.”

Albi menatap Nara cukup lama. Tidak marah. Tidak tersenyum. “Repot itu kalau dipaksa. Ini tidak.”

Kalimat itu menancap di dada Nara. Ia menunduk, menahan sesuatu yang ingin keluar, bukan mual, tapi rasa haru yang belum siap ia terima.

Jika dulu ia hanya memperhatikan, dan memikirkan, namun sekarang justru kebalikannya, dari gestur Albi tahu, Nara hamil, tapi tidak pernah tanya, namun selalu memastikan dengan tindakan.

Dan hal itu benar-benar membuat air mata haru itu menetes pelan, tanpa perintah.

"Loh kok nangis?" tanya Albi.

Nara segera menghapus air mata itu. "Aku hanya terharu," ucap Nara pelan. "Di saat aku merasa semua orang tidak peduli dengan keadaanku, tapi Tuhan malah mengirim aku ke tempat ini," ujarnya sekali lagi.

Albi segera memotong ucapan Nara. "Sudah jangan diingat lagi, fokus kan dulu sama dirimu sendiri, jika masalalu mu, memilih jalan lain untuk bahagia, begitu juga dengan kamu, jangan mau kalah diinjak keadaan," ucap Albi seolah memberi semangat tersendiri.

Nara tertegun, dadanya yang terasa penuh kini merasa hangat, hanya karena mendengar ucapan Albi yang tak pernah menghakimi.

"Makasih banyak, dari jaman SMA sampai kuliah, kau selalu saja ngertiin aku," kata Nara pelan.

"Kita kan sahabat," sahut Albi, ringan namun terasa hangat.

Nara mengangguk pelan. sejenak ia teringat akan masakannya barusan. "Ya sudah ayo kita lanjut masak lagi," ujar Nara.

"Inggih Ndoro," sahut Albi kekeh. "Aku tak masak, kuwe duduk manis wae ya," lanjutnya.

Nara hanya terkekeh, mendengar panggilan baru dari Albi, begitu pun sebaliknya, dan di dapur sederhana ini, bahagia mengalir, meskipun tidak dengan kata-kata romantis, ataupun tempat mewah. Mereka tertawa lepas hanya dengan satu kata saja, yang menurut mereka lucu.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam datang lebih cepat, dari biasanya.

Nara berbaring lebih awal, tubuhnya lelah. Dari luar kamar, ia mendengar Albi berbicara pelan dengan neneknya.

“Ngandhute kados pundi?” tanya sang nenek.

“Alhamdulillah,” jawab Albi. “Mung mboten saged kecapekan.”

“Sampeyan sing ngati-ati,” pesan sang nenek. “Wong lanang sing kuat kuwi sing iso njaga, dudu mung sing iso njanjeni.”

Ada jeda hening.

“Nggeh,” sahut Albi. Singkat. Penuh makna.

Nara memejamkan mata. Tangannya refleks meraba perutnya yang mulai sedikit terasa berbeda. Belum tampak, tapi nyata.

“Tenang ya,” bisiknya pelan. “Kita dijaga.”

Kata-kata itu keluar begitu saja, terasa haru? Itu jelas, karena baginya Albi dan neneknya tidak ada hubungan darah apapun dengan anak yang ia kandung, namun mereka terlihat menjaga dan tidak menghakimi.

Nara mungkin tidak tahu siapa yang akan membersamai masa depannya. Tidak tahu ke mana arus akan membawanya. Tapi malam itu, di rumah kecil yang dikelilingi bunga-bunga, untuk pertama kalinya sejak lama.

Nara tidur tanpa rasa takut, tanpa rasa was-was menunggu kedatangan seseorang yang tak menginginkan kepeduliannya sama sekali.

☘️☘️☘️

Dan di ruang lain, tanpa Nara sadari. Albi duduk sendiri, memandangi malam, memikul satu rahasia besar dalam diam, ia tahu waktu tidak akan berpihak padanya. Namun selama ia masih ada, ia memilih menjaga meski hatinya mulai ikut terlibat.

Bersambung ....

Selamat siang semoga suka ya

1
Ummee
menyesal selalu datang di belakang ya Ardan...
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
Sugiharti Rusli
meski usianya masih kanak", cintanya sebagai anak sangat tulus kepada ayahnya yang dia tahu sangat menyayanginya sejak bayi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!