Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. RIAN MEMPERTIMBANGKAN
Malam itu sangat sunyi. Hanya suara gemericik air dari kipas angin yang membunuh panas dan napas pelan anak-anak yang sedang tidur pulas yang terdengar di dalam kamar. Rian duduk di teras depan rumah dengan secangkir teh hangat di tangan, menatap jauh ke arah jalanan yang sepi, pikirannya penuh dengan keraguan dan kekhawatiran tentang masa depan keluarga kecilnya.
Dia mengulang-ulang setiap momen yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir – PHK yang diterimanya, kesulitan mencari pekerjaan, sakitnya Alea yang tidak mendapatkan perawatan tepat waktu, tuduhan yang saling menyilang dengan Novi, pertengkaran yang membuat anak-anak ketakutan, hingga tekanan dari keluarga Novi untuk mengakhiri hubungan mereka. Setiap kenangan itu seperti batu yang menekan hatinya semakin dalam.
Rian melihat ke arah kamar anak-anak, bisa melihat bayangan Hadian yang sedang berbaring erat dengan Alea di atas kasur. Kedua anak itu telah melalui begitu banyak hal di usia yang masih sangat muda – mereka telah melihat kesusahan ekonomi, pertengkaran orang tua, dan bahkan harus menghadapi ancaman akan kehilangan salah satu dari mereka.
Apakah benar-benar baik bagi mereka untuk terus tinggal bersama saya dan Novi jika kita terus bertengkar seperti ini? pikir Rian dengan rasa sakit hati yang mendalam. Dia menyadari bahwa meskipun dia dan Novi mencintai anak-anak dengan sepenuh hati, suasana rumah yang penuh dengan ketegangan dan pertengkaran hanya akan memberikan dampak buruk pada perkembangan mereka.
Dia mengingat bagaimana Hadian telah mulai menjadi lebih pendiam dan seringkali terlihat khawatir sejak pertengkaran besar beberapa hari yang lalu. Alea juga menjadi lebih pemalu dan sering menangis ketika mendengar suara keras atau melihat orang tua berbicara dengan nada yang sedikit tinggi. Rian tahu bahwa anak-anak sangat peka terhadap suasana di sekitar mereka, dan lingkungan yang tidak damai hanya akan membuat mereka tumbuh dengan rasa takut dan tidak aman.
Rian juga memikirkan apa yang dikatakan oleh Bu Minah dan Budi – bahwa keluarga mereka bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Novi dan anak-anak. Dia tahu bahwa keluarga Novi memiliki kondisi ekonomi yang lebih stabil dan mampu memberikan pendidikan yang lebih baik, rumah yang lebih nyaman, serta fasilitas yang tidak bisa dia berikan saat ini.
Mungkin itu adalah pilihan terbaik bagi anak-anak, pikirnya dengan hati yang sangat berat. Jika saya pergi, mereka tidak akan lagi melihat pertengkaran antara saya dan Novi. Mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan masa depan yang lebih cerah.
Namun setiap kali dia memikirkan untuk meninggalkan anak-anak, rasa sakit yang luar biasa menghantam dirinya. Hadian dan Alea adalah segalanya baginya – mereka adalah alasan dia bangun setiap pagi untuk mencari pekerjaan, alasan dia terus berjuang meskipun segala sesuatunya tampak tidak mungkin. Membayangkan hidup tanpa mereka adalah hal yang paling menyakitkan yang bisa dia bayangkan.
Rian melihat ke arah kamar tidur utama, di mana Novi sedang duduk di ambang jendela dengan wajah yang penuh pikiran. Dia tahu bahwa istri nya juga sedang memikirkan hal yang sama – masa depan anak-anak dan apakah mereka mampu memberikan lingkungan yang baik bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang.
Dia berdiri dan mendekat ke arah Novi dengan langkah yang pelan. Novi segera menoleh dan melihat suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. “Kamu juga tidak bisa tidur ya, Sayang?” tanya dia dengan suara yang lembut.
Rian mengangguk dan duduk bersebelahan dengan istri. “Aku sedang memikirkan anak-anak,” ujarnya dengan suara yang rendah dan penuh dengan kesedihan. “Aku tidak ingin mereka tumbuh di lingkungan yang penuh dengan pertengkaran dan ketegangan seperti sekarang. Mereka layak mendapatkan yang terbaik.”
Novi menangis pelan dan mengambil tangan suaminya dengan lembut. “Aku juga memikirkan hal yang sama,” jawabnya dengan suara yang bergetar. “Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, Rian, tapi aku juga tidak bisa melihat anak-anak kita menderita karena masalah kita.”
“Kamu tahu apa yang mereka katakan, kan?” ujar Rian dengan hati yang sangat berat. “Keluarga mu bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka. Pendidikan yang lebih baik, rumah yang lebih nyaman, tidak ada lagi kekhawatiran tentang keuangan sehari-hari.”
“Tapi kita adalah orang tua mereka, Rian!” teriak Novi dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Kita tidak bisa hanya menyerahkan mereka begitu saja! Kita adalah keluarga yang utuh, dan keluarga harus tetap bersama meskipun ada kesulitan!”
“Aku tahu itu, Sayang,” jawab Rian dengan suara yang penuh dengan cinta. “Tapi apa gunanya kita tetap bersama jika yang kita berikan hanya kesusahan dan ketakutan bagi mereka? Mungkin cinta terbaik yang bisa kita berikan adalah dengan melepaskan mereka agar mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”
Novi menangis lebih deras dan membungkus suaminya dengan pelukan yang erat. Rian juga menangis pelan, merasakan betapa sulitnya untuk membuat keputusan seperti ini. Mereka saling memeluk erat, mencari rasa aman satu sama lain di tengah kegelapan ketidakpastian yang menyelimuti mereka.
Di kamar anak-anak, Hadian sedang membuka mata dengan perlahan. Dia telah mendengar sebagian pembicaraan orang tuanya dan bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang sangat serius yang sedang mereka pikirkan. Dia duduk di atas kasurnya, melihat ke arah adik perempuannya yang masih tidur pulas, dan berdoa dengan tulus dalam hati agar keluarga mereka tidak akan pernah terpisah.
Rian dan Novi tetap saling memeluk hingga matahari mulai muncul di ufuk timur. Mereka tidak menemukan jawaban yang jelas untuk semua pertanyaan dan kekhawatiran yang ada di benak mereka. Namun mereka menyadari bahwa mereka harus membuat keputusan yang terbaik bagi anak-anak, bahkan jika keputusan itu sangat menyakitkan bagi mereka berdua.
“Kita akan memberikan diri kita waktu untuk memikirkan ini dengan matang,” ujar Rian dengan suara yang lembut namun jelas setelah beberapa saat. “Kita tidak akan membuat keputusan tergesa-gesa. Yang penting adalah kita harus memilih jalan yang terbaik bagi Hadian dan Alea, apa pun yang harus kita lakukan.”
Novi mengangguk dan menyandarkan wajahnya pada bahu suaminya. Mereka melihat matahari yang baru saja muncul, memberikan cahaya hangat pada dunia yang baru saja melewati malam yang panjang dan gelap. Meskipun mereka masih tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, mereka tahu bahwa cinta yang mereka miliki satu sama lain dan untuk anak-anak akan selalu menjadi panduan mereka dalam setiap keputusan yang mereka buat.
Mereka berjanji bahwa mereka akan selalu menjaga kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anak sebagai prioritas utama. Baik mereka tetap bersama atau harus terpisah, mereka akan memastikan bahwa Hadian dan Alea akan tumbuh menjadi orang yang baik, bahagia, dan merasa dicintai oleh kedua orang tua mereka.