Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Latihan Menembak
"Hadehhh... Tadi kan sudah aku katakan, cepat... Kau ini, lihat siapa instruktur nya..." Ucap Axel dengan cerewet sambil menyeret Bintang menuju lapangan pelatihan, lalu bergabung dalam barisan.
"Mengapa Kak Axel tidak memberi tahu jika pelatihnya Tuan muda Xavier?" Bisik Bintang sambil memegang tangan Axel dan menatap Xavier takut-takut.
"Karena pelatihnya Kakak, makanya tadi aku menyuruhmu cepat, dan jangan sampai terlambat." Sahut Axel.
"Hai... Little star..." Sapa Narendra dengan wajah yang berbinar dan melambaikan tangannya.
Lalu menepuk teman yang berada dibarisan sampingnya untuk bertukar tempat.
Sementara Han dan Axel langsung memasang wajah masam, mereka masih ingat betapa arogannya Narendra saat memamerkan foto berdua bersama Bintang, serta saat bercerita betapa gagahnya Dia saat melindungi Bintang dari saudara laknatnya.
"Hei... Pindah..." Ucap Han datar pada teman yang berdiri didepannya untuk ikut bertukar tempat juga, hingga dirinya bisa satu barisan dengan Bintang.
Xavier yang melihat keributan yang dibuat oleh trio jomblo itu menjadi geram, apa lagi mereka yang berebut perhatian Bintang membuatnya tanpa sadar merasa panas.
"Siswi dibarisan ke 4 no 9 maju, dan kamu mundur ke belakang!" Ucap Xavier membuat Axel, Han dan Narendra yang tampak masih ribut langsung terdiam kaku, dan Bintang yang masih tampak meringis malu.
"Hallo... Siswi tang dimaksud, silahkan maju ke depan, temanmu yang lain sudah menunggu," Xavier kembali memanggil Bintang.
"Little star, yang dimaksud oleh kak Xavier itu bukankah kau," Ucap Narendra sambil menunjuk barisan mereka.
"Maaf coach... Apakah Dia yang Anda maksud?" Tanya Han sambil menunjuk Bintang yang berdiri tepat didepannya.
Bintang meringis ngeri menatap Xavier sekilas, dan tampak sedang menahan emosi melihat ketiga trio jomblo itu juga ikut pindah mengikuti Bintang.
"Hai Bintang... Gue denger Lo tinggal dikediaman Alexander," Tanya Clara gadis yang berdiri disampingnya.
"Iya... Lo pasti seneng banget setiap hari bisa menatap wajah tampan sang jendral muda." Timpal Jeni sambil memegang pipinya dengan kedua tangannya dengan ekspresi yang malu-malu.
"Belum tentu... Kalian tahukan jika Tuan Xavier itu terkenal dengan sikap dinginnya..." Sanggah Aurora yang ternyata berdiri disamping Bintang dengan gaya seolah sedang membelanya.
"Oh ya Bintang... Lo pasti bisa ngirim foto coach tampan kan... Tenang kalo Lo bisa kasih kita fotonya, Lo gue traktir makan di kantin selama satu Minggu penuh," Renata sang most wanted sekolah itu angkat bicara dengan gaya arogannya.
"Bener... Lo beruntung banget tauk... Bisa tinggal dibawah atap yang sama dengan Tuan Xavier..." Sindy tampak berucap dengan rasa irit pada Bintang.
"Kalian ini... Sudah jangan membebani Bintang, kalian tahu, jangankan untuk berfoto atau mengobrol bareng, sekadar berbicara dan menyapa saja Bintang nyaris tidak pernah, iya kan Bintang?" Aurora kembali berbicara lembut dengan maksud menghapus semua pujian untuk Bintang.
"Akh... Benarkah? Tidak ada bedanya dengan kita... Sudahlah, lupakan saja," Renata kembali berkata dengan sinis.
Sedangkan Bintang hanya bisa meringis ngeri mendengar ucapan para gadis-gadis itu. Entah apa yang mereka pikirkan membuat Bintang seketika merinding.
'Andai kalian tahu...' Ucap Bintang dalam hatinya dengan ekspresi ngeri dengan menatap para gadis yang berebut ingin mendapatkan foto Xavier.
"Hei... Apa maksud ucapan Lo itu..."?!" Ucap Han keras pada Renata dengan sangar.
"Lo! Jangankan Kak Xavier, gue saja ogah lihat Lo..." Sambung Narendra sinis.
"Adek gue ini gadis yang paling disayang dirumah, jangankan mengobrol bareng, adal lo tahu bahkan Kak Xavier pernah menggendong Bintang dalam pelukannya..." Axel berkata dengan kesal bercampur pamer untuk membela Bintang.
Renata, Sindy, Clara dan para gadis yang mendengar ucapan Axel langsung terkejut dan menatap Bintang dengan tatapan yang berbeda-beda, terutama Aurora menatap penuh kilat kebencian.
'Akh... Tidak mungkin, hanya seorang jalang Kumal dan dekil, tidak mempunyai kemampuan apa-apa, bisa berada dalam pelukan Xavier? Mustahil... Gue saja gadis multi talenta saja diabaikan apalagi jalang murahan ini, apa istimewanya Dia,' Geram Aurora dalam hatinya dengan tangan yang meremas celana olah raga yang dikenakannya.