Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Sisa-sisa ketegangan dari makan malam di kediaman Roy masih terasa seperti racun yang mengalir di pembuluh darah Arga. Pagi itu, kantor Airborne Group terasa lebih mencekam dari biasanya.
Arga duduk di mejanya, menatap kosong ke arah deretan angka di layar monitor, namun pikirannya tertuju pada Nabila. Sejak semalam, istrinya itu lebih banyak diam, bukan karena marah, melainkan karena sedang menyusun benteng pertahanan yang lebih kokoh.
Belum sempat Arga menyesap kopi paginya, sebuah panggilan interkom memecah kesunyian.
"Pak Arga, Ibu Siska menunggu Anda di ruangannya sekarang. Beliau bilang ini mengenai penugasan kuartal mendatang," suara sekretaris Siska terdengar datar.
Arga menghela napas, merapikan jasnya yang terasa semakin berat, dan melangkah menuju ruangan yang kini ia anggap sebagai sarang singa.
Di dalam ruangan, Siska berdiri menghadap jendela besar, membelakangi pintu. Ia mengenakan setelan kerja berwarna biru navy yang sangat pas, memancarkan otoritas mutlak. Di atas mejanya, terdapat sebuah map merah yang terbuka.
"Duduk, Arga," ucapnya tanpa berbalik. Suaranya dingin, tidak ada lagi nada menggoda seperti semalam. Tamparan verbal Nabila di meja makan rupanya telah mengubah taktik Siska menjadi lebih brutal.
Arga duduk, punggungnya tegak. "Ada masalah dengan laporan Sudirman, Bu?"
Siska berbalik, matanya berkilat tajam. Ia melemparkan map merah itu ke hadapan Arga. "Laporan Sudirman sempurna. Tapi manajemen merasa kau butuh 'penyegaran' lapangan. Ada kendala serius di proyek pembangunan bendungan di pedalaman Papua. Lokasinya tujuh jam dari kota terdekat, tanpa sinyal ponsel yang stabil, dan medannya sangat berbahaya."
Arga membuka map itu. Matanya membelalak melihat surat keputusan mutasi yang sudah ditandatangani oleh bagian legal, tinggal menunggu tanda tangan Siska sebagai Direktur Eksekutif.
"Mutasi? Tapi posisi saya adalah Manajer Operasional Pusat, Siska. Mengirim saya ke sana sama saja dengan membuang saya!"
Siska berjalan mendekat, menyandarkan pinggulnya di tepi meja, tepat di depan Arga. "Bukan membuang, Arga. Tapi menguji. Masa tugasnya minimal dua tahun. Kau tahu apa artinya itu? Kau akan jauh dari kenyamanan apartemenmu, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, dan yang paling penting... jauh dari istrimu yang 'pintar' itu."
Arga mengepalkan tinju. Siska sedang mencoba memisahkannya dari Nabila secara fisik. Dua tahun di pedalaman tanpa komunikasi yang lancar akan menghancurkan pernikahan mana pun.
"Kau tidak bisa melakukan ini secara sepihak. Pak Roy tidak akan setuju," bantah Arga.
"Pak Roy sudah menyerahkan urusan sumber daya manusia sepenuhnya kepadaku, Sayang," Siska tersenyum sinis. "Aku bisa bilang pada Roy bahwa kau adalah orang paling kompeten untuk menyelamatkan proyek yang hampir mangkrak itu. Dia akan bangga padamu. Tapi kita berdua tahu, kau tidak akan bertahan sebulan di sana tanpa kehilangan akal sehatmu."
Siska kemudian mengambil sebuah brosur emas dari laci mejanya. Airborne International Gala di Singapura. Sebuah acara bergengsi yang dihadiri oleh para taipan Asia Tenggara.
"Namun," Siska menjeda kalimatnya, suaranya kembali melembut, berubah menjadi bisikan yang manipulatif. "Aku bisa saja merobek surat mutasi ini dan membiarkanmu tetap di Jakarta. Aku bahkan bisa mempercepat promosi jabatanmu menjadi Wakil Direktur Utama bulan depan."
Arga menatapnya dengan curiga. "Apa syaratnya?"
"Temani aku ke Singapura akhir pekan ini. Sebagai asisten pribadiku, tentu saja. Pak Roy tidak bisa hadir karena harus menjalani pemeriksaan medis rutin. Aku butuh seseorang yang mengerti aku, seseorang yang bisa berdiri di sampingku saat aku bernegosiasi dengan investor Singapura," Siska memainkan ujung dasi Arga dengan jemarinya.
"Hanya menemanimu?" Arga bertanya, suaranya penuh keraguan.
"Temani aku selama tiga hari dua malam. Kita akan menginap di Marina Bay Sands. Kau akan menemaniku di acara gala, di jamuan makan malam, dan... setelahnya, kita bisa membicarakan masa depan kita tanpa gangguan siapa pun. Jika kau setuju, map merah ini masuk ke mesin penghancur kertas. Jika tidak, pesawatmu berangkat Senin pagi menuju Papua."
Arga merasa mual. Ini adalah pelacuran profesional. Siska tidak hanya menginginkan tubuhnya, ia ingin menghancurkan harga diri Arga dengan memaksanya mengkhianati kepercayaan Nabila demi sebuah jabatan.
~
Malam harinya, apartemen terasa sangat sunyi. Nabila sedang berada di ruang kerjanya, masih berkutat dengan dokumen-dokumen Airborne. Arga berdiri di pintu, memandangi istrinya yang tampak sangat lelah namun gigih.
"Nabila..." panggilan Arga membuat Nabila menoleh.
"Hai, Mas. Ada apa? Wajahmu pucat sekali," Nabila berdiri, menghampiri suaminya dan menyentuh keningnya.
Arga tidak tahan lagi. Ia menceritakan tentang ancaman mutasi ke Papua dan syarat yang diajukan Siska tentang Singapura. Namun, Arga tidak menceritakan bagian tentang menginap bersama, ia hanya bilang Siska memintanya menjadi asisten di acara gala.
Nabila terdiam cukup lama. Ia berjalan menuju jendela, menatap lampu kota. "Dia benar-benar terpojok setelah semalam, Mas. Dia menggunakan kekuasaan terakhir yang dia miliki untuk memaksamu tunduk."
"Aku tidak ingin pergi, Nabila. Tapi kalau aku menolak, aku akan dikirim ke pedalaman. Karier yang kubangun bertahun-tahun akan hancur. Dan kita... kita akan terpisah jauh," suara Arga parau. "Tapi kalau aku pergi ke Singapura, aku merasa seperti mengkhianatimu."
Nabila berbalik, matanya berkaca-kaca namun suaranya tetap tegas. "Mas, jika kau pergi karena takut kehilangan jabatan, maka Siska sudah menang. Dia ingin membuktikan bahwa kau bisa dibeli. Tapi jika kau pergi ke Papua... dia juga menang karena dia berhasil menjauhkanmu dariku."
Nabila mendekati Arga, memegang kedua tangannya. "Jangan buat keputusan karena rasa takut. Jabatan bisa dicari lagi, Mas. Tapi martabat? Sekali kau memberikannya pada wanita itu, kau tidak akan pernah bisa mengambilnya kembali."
"Jadi aku harus menerima mutasi itu?" tanya Arga tak percaya.
"Tidak. Kita tidak akan menerima keduanya," jawab Nabila dengan senyum yang mengandung rencana. "Besok, aku akan menemui Pak Roy secara pribadi. Aku akan membawa bukti tentang manipulasi laporan yang dilakukan Siska. Jika Pak Roy tahu istrinya sedang menyabotase manajer terbaiknya demi obsesi pribadi, dia tidak akan tinggal diam."
Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan Arga, Nabila mendatangi kantor pusat Airborne. Ia tidak lewat pintu depan lobi tempat ia bertemu Siska sebelumnya, melainkan melalui akses parkir direksi yang ia dapatkan informasinya dari mantan kliennya yang bekerja di bagian keamanan.
Ia berhasil masuk ke lantai atas dan menunggu di depan ruangan Pak Roy. Namun, yang ia temukan bukan Pak Roy, melainkan Siska yang sedang keluar dari ruangan suaminya dengan wajah penuh kemenangan.
"Lagi-lagi kau, Nabila," Siska mencibir, menutup pintu ruangan Pak Roy rapat-rapat. "Suamiku sedang istirahat. Dia tidak ingin diganggu oleh pengacara kelas teri yang mencoba membuat drama."
"Aku tidak membuat drama, Siska. Aku membawa fakta," Nabila mengangkat map berisi bukti audit independen yang ia lakukan secara rahasia. "Mutasi Arga tidak berdasar. Dan jika kau memaksa, aku akan membawa kasus ini ke pengadilan hubungan industrial. Nama baik Airborne akan hancur karena skandal pelecehan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh istri pemiliknya."
Siska melangkah mendekat, auranya sangat mengintimidasi. "Silakan saja. Tapi kau lupa satu hal, Nabila. Arga sudah menandatangani kontrak kerja yang menyebutkan dia bersedia ditempatkan di mana saja. Secara hukum, aku berada di posisi yang benar. Dan soal Singapura? Itu adalah perjalanan dinas resmi."
Siska berbisik tepat di telinga Nabila. "Kau tahu apa yang paling menyedihkan? Arga sedang mempertimbangkan untuk ikut denganku ke Singapura. Dia tidak mengatakannya padamu, kan? Dia lebih takut kehilangan kursinya daripada kehilangan kepercayaanmu. Itulah pria yang kau bela mati-matian."
Nabila tertegun. Kebohongan kecil Arga - *yang tidak menceritakan keraguannya* - menjadi celah bagi Siska untuk menyuntikkan racun keraguan.
Arga menunggu di lobi kantor, hatinya gelisah. Ia melihat Nabila keluar dari lift dengan wajah yang sangat pucat. Ia segera menghampiri istrinya.
"Nabila? Kau melakukan apa di sini?"
Nabila menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mas... apa kau benar-benar ragu untuk menolak tawaran Singapura itu?"
Arga terdiam. Ia tidak bisa berbohong. "Aku... aku memikirkan cicilan apartemen kita, Nabila. Aku memikirkan masa depan kita. Jika aku dipecat atau dimutasi, semuanya akan hancur."
Nabila melepaskan pegangan tangan Arga. "Ternyata benar. Siska mengenalmu lebih baik daripada aku mengenalmu. Kau lebih takut miskin daripada takut kehilanganku."
"Bukan begitu, Nabila!"
"Cukup, Arga," Nabila mengangkat tangannya. "Pergilah ke Singapura jika itu yang kau mau. Temani dia. Selamatkan jabatanmu. Tapi jangan harap saat kau pulang, kau akan menemukan aku yang sama di rumah itu."
Nabila pergi meninggalkan Arga yang berdiri terpaku di tengah hiruk pikuk lobi. Di lantai atas, dari balik jendela kacanya, Siska Roy tersenyum puas. Ia baru saja berhasil melakukan apa yang paling sulit dilakukan, merusak kepercayaan Nabila pada integritas Arga.
Arga terjepit dalam posisi yang paling mustahil. Jika ia pergi, ia kehilangan Nabila. Jika ia tetap tinggal, ia kehilangan segalanya secara finansial. Siska telah berhasil membuat dunia Arga menyempit hingga hanya ada dua pilihan yang keduanya berujung pada kehancuran.
Arga berdiri di depan meja Siska, memegang pulpen di atas surat mutasi dan formulir perjalanan ke Singapura. Tangannya gemetar. Di layar ponselnya, ada pesan dari Nabila. "*Pilihlah dengan hatimu, bukan dengan ketakutanmu*."
Arga menutup matanya, dan saat ia membukanya kembali, ia membuat sebuah pilihan yang akan mengubah alur hidup mereka selamanya.
...----------------...
**Next Episode**....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰