NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Sistem / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
​Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
​Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
​Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
​Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Senjata Legendaris yang Mematikan

Wuuu... wuuu... sreeeekk... sreeekk... Cahaya oranye kemerahan menyelinap di antara celah daun, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas tanah lembap seperti jemari monster yang berusaha menggapai kaki mereka.

Sha... sha... sha... Rasa sakit dari memar di tubuh Aruna mulai berubah menjadi denyutan tumpul yang melelahkan. "Zzzz Zzzz nya... Zzzz Zzzz" Kucing oranye gembul itu tertidur dipelukannya, seolah berat tubuhnya yang seperti karung beras bukanlah masalah bagi Aruna yang sedang sekarat. Asher berjalan di depannya, setiap langkahnya memancarkan otoritas seorang Ksatria Agung yang tidak mengenal kata lelah.

​Thud! Asher berhenti mendadak. Sepatu zirahnya beradu dengan tanah menciptakan suara dentum yang pelan namun tegas.

​"Hei! Kenapa berhenti tiba-tiba?! Kau mau aku menabrak punggung besimu ini?" protes Aruna. Hidungnya nyaris menabrak baju zirah Asher yang keras.

Shet​. Asher hanya mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar Aruna diam. Matanya yang biru tajam menyisir semak belukar yang mulai gelap. Detik berikutnya, suara tawa serak yang melengking dan berdecit terdengar dari balik rimbunnya tanaman liar.

​"Grrr-ka! Ka! Ka!"

​Sekelompok makhluk bertubuh kecil hijau dengan mata kuning yang rakus merangkak keluar dari celah-celah akar pohon besar. Kulit mereka yang keriput dan berminyak berkilau terkena sisa cahaya sore yang meredup. Mereka masing-masing membawa gada kayu penuh paku dan belati berkarat yang tampak beracun.

​"Goblin?" Aruna bergumam, matanya membelalak. 'Developer!! Grafiknya kenapa harus seburuk ini sich?! Ugh... mataku perlu dicuci!'

​Sriing... Asher menarik Solis-Aeterna dari sarungnya. Bilah pedang yang ramping itu berpendar keemasan, seolah membelah kegelapan hutan. Swuush... Slash! Slash! Asher menerjang maju. Setiap tebasannya begitu tenang namun mematikan, menciptakan kilatan cahaya dingin yang menyapu para goblin sebelum mereka sempat menyadari apa yang menyerang.

​Di tengah kekacauan itu, seekor goblin yang bertubuh lebih kecil berhasil lolos dari jangkauan Asher. Makhluk itu menyelinap melalui rimbunnya tanaman pakis dan tiba-tiba melompat ke arah Aruna dengan taring yang membusuk.

​"Aduh! Hei, Ksatria Es! Ada yang lolos!" jerit Aruna panik. Ia mencoba mundur, namun kakinya tersangkut akar pohon yang menonjol.

​Ding!

​[Terdeteksi ancaman pada Host!

​Mengaktifkan Skill Utama: Memory Materialization! Memanggil Item!]

​Puff! tangan kanan Aruna merasakan sebuah benda keras, berat, dan dingin tepat di genggamannya. Ia tidak sempat melihat benda apa itu. Dalam keadaan terdesak, insting bertahan hidupnya mengambil alih. Ia mencengkeram gagang silinder dari benda tersebut dan mengayunkan benda logam itu dengan kekuatan penuh ke arah kepala goblin yang sudah menganga di depannya.

​TENGGGG!

​Goblin itu terpental jauh, menabrak pohon hingga pingsan dengan mata berputar. Aruna tertegun, tangannya masih bergetar. Ia perlahan mengangkat benda di tangannya untuk melihat "senjata" apa yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

​'Wajan?! Yang benar saja?!' batin Aruna berteriak. Ia menatap benda hitam bulat dengan gagang panjang itu dengan wajah syok. Namun, melihat seekor goblin lain mencoba mendekat, Aruna secara refleks mengayunkan benda itu lagi.

​TANG! TENG! TUNG!

​"Rasakan ini! Makan ini, kau monster jelek!" teriak Aruna. Setiap kali benda itu menghantam kepala monster, suara dentingan logam itu terasa sangat memuaskan di telinganya. Aruna yang awalnya ingin protes kepada Sistem, kini malah terlihat asyik memberikan "servis" hantaman keras kepada para goblin. Ternyata, menabok monster dengan benda ini jauh lebih efektif daripada yang ia duga.

​Asher yang baru saja menghabisi sisa gerombolan, menoleh dengan cepat ke arah Aruna. "?!" Solis-Aeterna masih bersinar di tangannya, matanya menatap tidak percaya ke arah benda hitam yang digenggam Aruna.

​"Kau... menggunakan itu?" suara Asher terdengar sedikit bergetar. Ia memperhatikan benda itu; bentuknya agak familiar, mirip dengan alat yang biasa digunakan koki di dapur istana. "Itu... bukankah itu alat untuk mas—"

​"Apa?! Kau mau bilang ini alat masak?" potong Aruna cepat dengan nada galak, menutupi gengsinya yang setinggi langit. Ia mengangkat wajan itu dengan anggun seolah memegang pedang suci. "Jangan sembarangan! Ini adalah Senjata Legendaris! Namanya 'Black-Void Obliterator'! Hanya orang terpilih yang bisa mengayunkannya!"

​Asher terdiam sejenak. Ia kembali menatap "Black-Void Obliterator" itu dengan kening berkerut. 'Bentuknya benar-benar mirip alat memasak,' batinnya heran. Namun, melihat kekuatan hantamannya yang bisa membuat goblin pingsan seketika, Asher memutuskan untuk tidak berdebat. "Begitu... Senjata yang sangat... unik."

​Sekitar jam tujuh malam, mereka akhirnya sampai di sebuah desa kecil di perbatasan Kerajaan Vance. Cahaya lampu minyak dari jendela rumah penduduk memberikan kesan hangat, berbeda dengan kegelapan hutan tadi. Asher membawa Aruna ke satu-satunya penginapan yang layak, The Dusty Pillow.

​"Satu kamar," ucap Asher kepada pemilik penginapan dengan nada mutlak.

Bam! ​"Hah?! Apa?!" Aruna langsung berteriak, menggebrak meja resepsionis. "Kau sudah tidak sehat ya?! Kita ini belum menikah, dan aku ini seorang gadis! Mana bisa aku tidur sekamar dengan orang sepertimu!"

​Asher menatap Aruna datar. "Desa ini dalam status waspada monster. Tugasku adalah menjagamu tetap hidup. Jika ada serangan di tengah malam dan kau berada di kamar yang berbeda, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu."

​Ia memberikan jawaban skakmat: "Atau kau lebih suka tidur di luar bersama gerombolan goblin tadi?"

​Aruna terdiam. Bibirnya mengerucut kesal, namun ia tidak punya pilihan lain. Di dalam kamar sempit di penginapan, Aruna menguasai kasur tunggal, sementara Asher berdiri tegak di dekat jendela, menyisir kegelapan malam dengan tatapan waspada.

​Kruyuuukk...

​Perut Aruna berbunyi lagi tepat di jam makan malam ini.

​Ding!

​[Terdeteksi Host membutuhkan asupan energi...

​Mengakses Skill Utama: Memory Materialization! Mengaktifkan sub-skill Magi Catering!

​Memanggil Item: Nasi Goreng Spesial dengan Telur Mata Sapi!]

​Puff!

​Sepiring nasi goreng yang harum muncul di pangkuan Aruna. Saat itu juga, hidung Asher berkedut. Ia yang tadinya fokus menatap ke luar jendela, mendadak menoleh dengan cepat. Dahinya berkerut dalam saat mencium aroma gurih yang sangat asing.

​Ia berjalan mendekat, menatap piring di pangkuan Aruna dengan penuh selidik. "Tunggu. Jangan makan benda mencurigakan itu," ucap Asher dengan nada curiga. "Aroma ini... tidak wajar. Itu bisa saja mengandung racun atau sihir gelap."

​"Racun?!" Aruna melotot. "Ini masakan terbaik! Nih! Coba sendiri kalau kau pikir ini racun!"

​Aruna menyodorkan sesuap nasi goreng secara paksa ke arah mulut Asher. Asher sempat ragu, namun aromanya terlalu menggoda. Saat nasi itu menyentuh lidahnya, mata biru Asher sedikit melebar. Rasa gurih dan lezat itu benar-benar melumpuhkan argumennya.

​"Enak, kan? Tuh, apa kataku?" Aruna menyeringai kemenangan.

​Tap. Tap. Tap. Asher tidak lagi melarang Aruna makan. Ia hanya kembali ke posisinya di dekat jendela, mencoba menutupi fakta bahwa ia baru saja menyukai makanan ajaib tersebut.

​Ding!

​[Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: +5%.

​Total Kedekatan: 7%.

​Bonus/Catatan: "Target menganggap Anda misteri yang mulai menarik (dan berbahaya bagi logikanya)."]

​Aruna akhirnya tertidur lelap. Namun, di luar jendela, sebuah bayangan hitam bergerak lincah di atas atap, menatap mereka dengan mata merah yang menyala dingin.

1
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!