Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Segel yang Berdarah**
kabut tidak mau pergi.
Ia menggantung rendah di desa seperti kain kafan yang lupa diangkat. Rumah-rumah terlihat samar, dan setiap orang yang melintas berjalan lebih cepat dari biasanya, menunduk, seolah takut tatapan mereka sendiri memanggil sesuatu dari balik kabut.
Defit berdiri di depan sumur lagi.
Airnya tenang, tapi di dasar sana ada warna gelap yang tidak pernah ia lihat sebelumnya seperti bayangan darah yang larut perlahan.
Ia mencuci wajahnya, namun dingin air itu tidak menembus rasa panas di dadanya. Semalaman ia tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, jeritan Herman kembali, bukan sebagai suara, melainkan sebagai getaran rasa bersalah yang mengguncang tulang-tulangnya.
“Aku membunuhnya…” bisik Defit.
Suara itu tidak menyangkal.
Kau membiarkan keadilan bekerja, jawabnya. Dunia ini tidak pernah adil padamu.
Defit mengepalkan tangan. “Keadilan tidak seharusnya memakan nyawa.”
Hening.
Lalu sesuatu berubah.
Segel tidak peduli pada niat, kata suara itu lebih berat dari sebelumnya. Ia hanya mengenal darah.
Di balai desa, orang-orang berkumpul.
Kepala desa berdiri di tengah, wajahnya tegang. “Herman hilang. Ini bukan pertama kalinya orang menghilang di wilayah ini, tapi caranya… berbeda.”
Bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.
“Ada yang dengar jeritan semalam.”
“Tanah di jalan barat retak sendiri.”
“Katanya… ada kutukan lama.”
Ratna duduk di bangku depan. Tangannya mencengkeram kain, kukunya memutih. Setiap kata yang ia dengar terasa seperti menampar ingatannya sendiri tentang penghinaan, tentang tawa, tentang Defit yang selalu ia anggap tak berarti.
Matanya tanpa sadar melirik ke arah Defit yang berdiri di sudut ruangan.
Untuk sepersekian detik…
mata mereka bertemu.
Ratna terhenyak.
Ia melihat sesuatu di mata Defit yang membuat tenggorokannya kering: kesedihan yang terlalu dalam untuk seorang pembunuh, dan ketenangan yang tidak seharusnya dimiliki orang biasa.
Maya menunggu di rumah dengan gelisah.
Setiap suara langkah di luar membuatnya tersentak. Ia menyiapkan teh, lalu lupa meminumnya. Tangannya gemetar tanpa alasan yang jelas.
Ia mencintai Defit.
Namun akhir-akhir ini, ia merasa sedang hidup bersama seseorang yang berjuang menahan sesuatu agar tidak keluar.
Saat Defit akhirnya pulang, Maya langsung berdiri.
“Kamu ke mana?” tanyanya pelan, berusaha tersenyum.
“Balai desa.”
“Dan?” Maya menelan ludah. “Mereka… membicarakan Herman?”
Defit mengangguk.
Sunyi jatuh di antara mereka.
Maya mendekat, memegang tangan Defit. Ia terkejut tangan itu dingin, seperti baru menyentuh batu nisan.
“Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” tanyanya lirih.
Defit ingin menjawab tidak.
Namun kebohongan itu terasa terlalu berat.
“Aku takut,” katanya jujur. “Takut kalau aku bicara… aku akan kehilanganmu.”
Air mata Maya menggenang.
“Aku lebih takut kehilanganmu karena kamu memendam semuanya sendiri.”
Defit menunduk. Dadanya sesak. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa lebih lemah dari sebelumnya.
Di dinding belakang Maya, bayangan bergerak pelan seperti retakan yang merayap di dalam bayangan itu sendiri.
Malam itu, Defit bermimpi.
Ia berdiri di tempat yang sama saat sumpah diucapkan. Tanah terbuka, tapi kali ini tidak hanya satu tangan yang muncul puluhan. Semuanya memegang pergelangan kakinya.
“Berhenti…” rintih Defit.
Namun satu tangan mencengkeram dadanya.
Dari dadanya, cahaya merah gelap merembes keluar bukan darah, melainkan sesuatu yang lebih tua dari darah.
Ia terbangun dengan teriakan tertahan.
Kemejanya basah oleh keringat, dan di dadanya tepat di atas jantung terdapat bekas seperti retakan kulit, tipis tapi nyata.
Segel itu…
mulai berdarah.
Cermin kembali berembun.
Bayangan itu muncul, wajahnya lebih jelas, lebih hidup.
“Rasa bersalahmu adalah celah,” katanya. “Dan celah adalah makanan.”
Defit menatap bayangan itu dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri.”
Bayangan itu menatapnya lama, lalu berkata pelan:
“Kalau begitu, kau harus memilih…
apakah kau ingin menutup segel atau menjadi gerbang sepenuhnya.”
Defit terdiam.
Di luar kamar, Maya terbangun dengan perasaan tercekik, seolah seseorang memanggil namanya dari dalam tanah.
Dan jauh di bawah desa, sesuatu menjawab.
terus menarik ceritanya 👍