NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Alana

Satu minggu telah berlalu. Alana mulai terbiasa dengan kehidupannya di rumah Luciano. Perlahan, perasaan terkurung yang dulu menghantuinya menghilang. Ia tak lagi merasa seperti tahanan seorang pria penuh obsesi dan posesif.

Perubahan Luciano terlihat jelas di mata Alana. Pria itu tidak lagi mengekang langkahnya. Ia bahkan memberikan Alana sebuah ponsel, sesuatu yang dulu mustahil ia bayangkan.

Namun tetap ada satu larangan yang tidak bisa ditawar.

Alana tidak boleh kembali bekerja sebagai perawat di rumah sakit.

“Alana, kalau kau bosan, kita bisa berlibur ke villa atau ke pulau pribadiku. Di sana kau akan merasa aman dan nyaman,” ucap Luciano saat melihat Alana sarapan dengan tatapan kosong.

Alana mendengus pelan, lalu menoleh ke arah Luciano. “Luciano, aku merindukan teman-temanku. Apa aku salah?”

Nada suaranya terdengar berat, seolah ia sudah lama menahan perasaan itu.

Luciano meletakkan sendok dan garpunya perlahan. Tatapannya mengeras, meski suaranya tetap tenang. “Teman? Kau punya teman?”

Alana terbelalak. “Pertanyaan macam apa itu, Luciano? Tentu saja aku punya teman.”

Luciano bersandar di kursinya. “Mereka tidak pernah ada saat kau membutuhkan. Tidak satu pun dari mereka yang melindungimu seperti aku.”

Alana menggeleng pelan. “Mereka mungkin nggak sekuat kamu, tapi mereka nyata. Mereka tertawa denganku, bekerja denganku, dan buatku merasa normal.”

Kata terakhir itu menusuk Luciano lebih dalam dari yang ia perkirakan.

“Normal?” ulangnya pelan.

“Iya,” jawab Alana mantap. “Aku nggak mau hidup di dalam rumah besar ini saja. Aku ingin keluar, melihat dunia, berbicara dengan orang lain. Aku ingin merasa menjadi diriku sendiri, bukan hanya milik seseorang.”

Luciano menatap Alana lama. Ada pergolakan jelas di wajahnya. Tangannya mengepal di atas meja, lalu perlahan mengendur.

“Aku hanya takut,” ucapnya akhirnya. “Dunia di luar sana tidak ramah padamu, Alana. Aku sudah melihat terlalu banyak hal buruk.”

Alana berdiri dari kursinya, mendekat ke arah Luciano. Ia meletakkan tangannya di atas tangan pria itu.

“Aku tahu kamu melindungiku,” katanya lembut. “Tapi perlindungan tanpa kepercayaan hanya akan menjadi penjara.”

Luciano mengangkat wajahnya, menatap Alana dengan mata yang kini tidak lagi dingin, melainkan penuh kebimbangan.

“Kau minta kepercayaan dariku?” tanyanya pelan.

“Aku minta kesempatan,” jawab Alana jujur.

Hening menyelimuti ruang makan itu. Luciano menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil.

“Kita bicarakan ini pelan-pelan,” ucapnya. “Aku tidak akan memaksamu hari ini.”

Alana tersenyum tipis. Bukan kemenangan besar, tapi baginya itu adalah langkah pertama.

Setelah Alana meninggalkan ruang makan, Luciano tetap duduk di sana. Sendok dan garpu di depannya sudah dingin, sama dinginnya dengan perasaan yang perlahan merayap di dadanya.

Kata-kata Alana terus berputar di kepalanya.

Perlindungan tanpa kepercayaan hanya akan menjadi penjara.

Luciano mengangkat tangannya, mengusap wajahnya perlahan. Ia menutup mata, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan.

“Aku melindungimu,” gumamnya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.”

Namun semakin ia memikirkannya, semakin ia sadar, perlindungan yang ia banggakan itu memang berubah bentuk. Dari tameng, menjadi dinding. Dari cinta, menjadi kendali.

Ia teringat wajah Alana saat mengucapkan kata normal. Tidak marah, tidak menangis, hanya lelah. Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Luciano bangkit, berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman. Tangannya bertumpu pada kaca, matanya menatap kosong ke luar. Ia terbiasa mengendalikan segalanya: wilayah, musuh, nyawa orang lain. Tapi perasaan ini… ia tidak pernah belajar cara mengaturnya.

“Aku tidak tahu bagaimana mencintai tanpa mengikat,” akunya pelan.

Bayangan masa lalu muncul begitu saja. Dunia yang keras, pengkhianatan, darah, kehilangan. Semua itu membentuknya menjadi pria yang selalu bersiap kehilangan, sehingga memilih menggenggam terlalu erat.

Luciano menutup matanya kembali.

Jika ia melepas Alana sedikit saja, apakah itu berarti ia siap kehilangan? Atau justru itu satu-satunya cara agar Alana tetap tinggal dengan kehendaknya sendiri?

Dadanya terasa sesak.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Luciano menyadari satu hal yang membuatnya benar-benar takut.

Bukan musuh.

Bukan kematian.

Melainkan kemungkinan bahwa ia sedang mencintai dengan cara yang salah.

Ia membuka mata, tekad samar mulai terbentuk di balik kebimbangannya.

“Aku akan belajar,” ucapnya pelan, hampir seperti janji. “Meski aku tidak tahu caranya.”

Di kejauhan, terdengar suara langkah Alana di lantai atas. Luciano mendongak, mendengarnya seperti seseorang yang sedang menunggu jawaban dari takdir.

Altair duduk di hadapan Luciano dengan bahu sedikit merosot, raut wajahnya tampak lelah meski berusaha disembunyikan. Lingkar tipis di bawah matanya menjadi bukti bahwa malamnya tidak berjalan baik.

“Makanlah. Kau belum makan sejak semalam,” ujar Luciano tenang. Ia mendorong sepiring roti dan segelas air putih ke arah Altair.

“Terima kasih,” jawab Altair pelan. Ia mengambil gelas itu, meneguk beberapa kali, lalu meletakkannya kembali. “Tapi sepertinya aku belum lapar pagi ini.”

Luciano mengamati sahabatnya beberapa detik, lalu tersenyum samar. Senyum yang tidak sepenuhnya hangat.

“Kau banyak mengajariku tentang hubungan,” ucap Luciano akhirnya. “Tentang memberi ruang, tentang tidak mengekang. Tapi sekarang, kau sendiri justru terjebak di dalam hubungan yang bahkan belum sempat dimulai.”

Altair terdiam. Rahangnya mengeras, sorot matanya meredup. Ia mengalihkan pandangan ke jendela, seolah mencari jawaban di luar sana.

“Ada hubungan yang seharusnya tidak terjadi, Luciano,” katanya akhirnya. “Bukan karena tidak ada perasaan, tapi karena terlalu banyak konsekuensi.”

Luciano menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kau bicara tentang Ciara.”

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Altair mengangguk pelan. “Aku sudah mencoba menyangkalnya. Berkali-kali. Tapi semakin aku menjauh, semakin jelas aku menyadari satu hal.”

“Apa itu?” tanya Luciano.

“Aku bukan pria sekuat yang kupikirkan.” Altair tertawa pendek, getir. “Aku bisa menghadapi senjata, musuh, bahkan kematian. Tapi berhadapan dengan perasaan sendiri? Aku kalah telak.”

Luciano terdiam. Ia mengenali nada itu. Nada pria yang sedang berperang dengan dirinya sendiri.

“Kau tahu apa yang paling menyakitkan?” lanjut Altair lirih. “Bukan fakta bahwa aku harus menjauh. Tapi kenyataan bahwa aku setuju dengan ayahnya. Bahwa memang aku tidak pantas berdiri di hidup gadis itu.”

Luciano mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Altair, pantas atau tidak, itu bukan soal usia semata. Tapi soal pilihan.”

“Dan pilihanku adalah pergi,” sahut Altair cepat, seolah kalimat itu sudah dihafalnya sejak tadi malam. “Karena kalau aku bertahan, aku hanya akan menghancurkan hidupnya.”

Luciano menghela napas panjang. “Aku dulu berpikir seperti itu juga,” katanya pelan. “Bahwa mencintai berarti melindungi dengan cara apa pun. Bahkan jika harus menyakiti.”

Altair menoleh, menatap Luciano untuk pertama kalinya sejak duduk.

“Dan apa yang kau pelajari?” tanyanya.

Luciano tersenyum tipis, kali ini pahit. “Bahwa cinta bukan soal siapa yang paling kuat menahan, tapi siapa yang paling berani melepaskan tanpa kehilangan diri sendiri.”

Altair terdiam cukup lama. Dadanya terasa sesak, namun ada sesuatu yang perlahan mengendur di sana.

“Kau berubah, Luciano,” ucapnya akhirnya.

“Karena aku hampir kehilangan Alana,” jawab Luciano jujur. “Dan aku tidak mau kau kehilangan dirimu sendiri karena rasa takut.”

Altair berdiri perlahan. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu menatap sahabatnya dengan tatapan penuh terima kasih yang tak terucap.

“Aku belum tahu harus berbuat apa,” katanya. “Tapi setidaknya sekarang aku tahu, aku tidak sendirian.”

Luciano bangkit dan menepuk bahu Altair pelan. “Apa pun keputusanmu nanti, pastikan itu bukan karena ketakutan. Tapi karena tanggung jawab.”

Altair mengangguk. Kali ini lebih mantap.

Di antara dua pria itu, pagi terasa sunyi. Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang penuh pertarungan batin. Dan di dalam keheningan itu, masing-masing sedang belajar satu hal yang sama.

Mencintai bukan tentang memiliki.

Melainkan tentang keberanian menghadapi konsekuensinya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!