Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menelan Gunung Emas
Di dalam Gua Kultivasi Nomor 9, waktu seolah berhenti. Formasi peredam suara dan pengumpul Qi bekerja maksimal, memisahkan Ren Zhaofeng dari dunia luar.
Di hadapan Zhaofeng, tumpukan Batu Roh menggunung seperti bukit kecil. Cahaya kebiruan dari batu-batu itu menerangi gua yang gelap, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.
"Lima puluh ribu batu roh..." gumam Zhaofeng. "Bagi murid biasa, ini adalah kekayaan seumur hidup. Bagi kultivator jenius, ini cukup untuk menembus satu ranah besar."
Tapi bagi Zhaofeng? Ini hanyalah bahan bakar.
Dia tidak memiliki bakat kultivasi yang tinggi. Meridiannya sempit, tulang-tulangnya (meski sudah diperkuat) masih memiliki keterbatasan manusia biasa. Untuk mengejar ketertinggalan dari para jenius sejati yang memiliki "Tubuh Dewa" atau "Garis Darah Kuno", Zhaofeng harus menggunakan metode Pemaksaan.
Jika pintu kultivasi tertutup, dia akan mendobraknya dengan uang.
Zhaofeng mengambil segenggam Batu Roh. Dia tidak menyerapnya pelan-pelan.
Dia meremasnya.
KRAK!
Batu-batu itu hancur menjadi debu di tangannya. Kabut Qi murni yang sangat padat meledak keluar.
Zhaofeng membuka mulutnya dan menarik napas panjang. Teknik Pernapasan Riak Air diaktifkan ke tingkat maksimal. Dia menghirup kabut Qi itu seperti naga menghisap air.
Wushhh!
Qi murni itu membanjiri paru-parunya, lalu dipompa ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Rasanya panas, menyesakkan, dan menyakitkan. Pembuluh darahnya menonjol seperti cacing tanah di bawah kulit.
"Lagi!"
Zhaofeng menghancurkan segenggam lagi. Dan lagi.
Lantai gua mulai tertutup debu sisa batu roh.
Satu jam berlalu. Seribu batu roh telah habis.
Tubuh Zhaofeng memerah seperti udang rebus. Keringatnya menguap menjadi kabut putih.
DUM!
Suara detak jantungnya menggema di seluruh gua.
Penempaan Tubuh Tahap 6.
Di tahap ini, sumsum tulang mulai memproduksi darah yang lebih kaya energi. Regenerasi tubuh meningkat pesat.
Tapi Zhaofeng tidak berhenti. Dia masih punya 49.000 batu roh.
"Pedang Hitam," panggilnya.
Pedang itu melayang di sampingnya. Zhaofeng menaburkan debu batu roh ke atas pedang itu juga. Dia membiarkan pedang itu ikut "makan". Sebagai gantinya, dia meminta pedang itu untuk menekan tubuhnya dengan Medan Gravitasi.
"Tekan aku. Dua kali lipat gravitasi!" perintah Zhaofeng.
WUUUNG!
Pedang Hitam bersinar. Tekanan tak terlihat jatuh ke bahu Zhaofeng. Rasanya seperti memikul batu besar.
Lantai gua retak di bawah lutut Zhaofeng.
"Bagus," Zhaofeng menyeringai, darah menetes dari hidungnya. "Di bawah tekanan, berlian terbentuk."
Dia melanjutkan kultivasinya di bawah tekanan gravitasi ganda. Setiap sel di tubuhnya dipaksa bekerja lebih keras untuk bertahan hidup. Qi dari batu roh dipaksa masuk lebih dalam ke serat otot dan tulang untuk melawan gravitasi.
Hari berganti hari.
Zhaofeng lupa makan, lupa tidur. Dia hanya tahu menyerap dan menahan.
Hari ke-7.
Gundukan batu roh tinggal separuh.
Gravitasi di dalam gua sudah ditingkatkan menjadi Lima Kali Lipat. Jika manusia biasa masuk ke sini, organ dalam mereka akan hancur seketika.
Tubuh Zhaofeng telah berubah. Dia tidak lagi kurus. Otot-ototnya padat dan terdefinisi sempurna, seperti dipahat dari granit. Kulitnya memancarkan cahaya tembaga yang redup.
KRAK!
Suara ledakan kecil terdengar dari tulang belakangnya.
Sebuah gelombang kejut menyapu gua, menerbangkan debu batu roh.
Zhaofeng membuka matanya.
Di balik kain penutup matanya, ada kilatan cahaya emas sesaat.
Penempaan Tubuh Tahap 8.
Dia melompati Tahap 7 dan langsung masuk ke Tahap 8. Darahnya kini mengalir deras seperti sungai merkuri, berat dan penuh tenaga.
"Tahap 8..." Zhaofeng mengepalkan tangannya. Dia merasakan kekuatan fisik murni yang mengerikan. Tanpa Qi, dia bisa menghancurkan batu granit menjadi tepung hanya dengan remasan tangan.
"Sisa 20.000 batu roh," Zhaofeng melihat sisa tumpukan. "Tidak cukup untuk menembus Tahap 9. Tubuhku sudah jenuh."
Dia butuh pertarungan untuk memadatkan kekuatan barunya sebelum bisa naik lagi.
Zhaofeng berdiri. Dia mematikan medan gravitasi.
Seketika, tubuhnya terasa seringan bulu. Dia melompat kecil, dan kepalanya nyaris membentur langit-langit gua setinggi lima meter.
"Kontrol tenaga... aku butuh penyesuaian," gumamnya.
Dia mengambil Pedang Hitam-nya. Pedang itu juga berubah. Bilahnya kini lebih panjang dua inci, dan warna hitamnya semakin pekat, seolah menyerap cahaya di sekitarnya.
Zhaofeng berjalan keluar gua.
Sinar matahari pagi menyambutnya. Dia menghirup udara segar yang terasa manis.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Telinganya menangkap suara keributan dari arah Alun-alun Sekte Luar.
Suara teriakan kesakitan. Suara cambuk. Dan suara tawa yang familiar.
"Li Dong?"
Zhaofeng mengerutkan kening. Li Dong seharusnya sudah hancur mentalnya. Kenapa dia terdengar... berkuasa lagi?
Dan suara yang disiksa itu...
"Huo Lie?"
Zhaofeng tidak berpikir dua kali. Dia melesat turun dari Puncak Inti. Bukan dengan jalan kaki, tapi dengan melompat dari tebing ke tebing seperti seekor garuda.
Alun-alun Sekte Luar.
Huo Lie terikat di tiang hukuman. Tubuhnya penuh luka cambuk. Di sekelilingnya, murid-murid Sekte Luar menunduk ketakutan.
Li Dong berdiri di depan Huo Lie, memegang cambuk berduri. Tapi ada yang berbeda dengan Li Dong. Matanya merah, urat-urat hitam menjalar di lehernya. Auranya tidak stabil dan berbau amis.
"Katakan!" bentak Li Dong sambil mencambuk. "Siapa yang membunuh Tuan Muda Xue Sha? Apa benar si buta itu curang menggunakan racun?"
"Cuih!" Huo Lie meludah ke wajah Li Dong. "Kakak Ren membunuhnya dengan adil! Kau cuma iri karena kau pecundang!"
"Dasar keras kepala!"
Li Dong mengangkat cambuknya tinggi-tinggi, dialiri Qi merah yang korosif. "Kalau begitu mati saja kau!"
Cambuk itu meluncur turun.
Namun, sebelum cambuk itu menyentuh kulit Huo Lie, sebuah bayangan hitam jatuh dari langit.
BOOM!
Lantai alun-alun retak. Debu berterbangan.
Tangan Li Dong berhenti di udara. Cambuknya tertahan.
Bukan ditahan oleh tangan. Tapi ditahan oleh Tekanan Udara yang begitu berat hingga cambuk itu tidak bisa bergerak turun.
Zhaofeng berdiri di depan Huo Lie. Dia tidak menyentuh Li Dong. Dia hanya berdiri di sana, memancarkan sisa aura gravitasi dari latihannya.
"Li Dong," suara Zhaofeng tenang tapi membuat bulu kuduk semua orang berdiri. "Siapa yang memberimu izin menyentuh temanku?"
Li Dong gemetar. Dia merasakan tekanan yang mencekik. "Zha-Zhaofeng? Kau... aura apa ini? Tahap 8?!"
Zhaofeng tidak menjawab. Dia menjentikkan jarinya.
Ting.
Pedang Hitam di punggungnya berdengung. Gelombang suara tak terlihat meluncur, memotong tali yang mengikat Huo Lie.
Huo Lie jatuh, ditangkap oleh Zhaofeng.
"Maaf aku terlambat," kata Zhaofeng pelan. "Istirahatlah."
Dia menyerahkan Huo Lie ke murid lain, lalu berbalik menghadap Li Dong.
"Mata merah. Aura amis. Emosi tidak stabil," Zhaofeng menganalisis suara tubuh Li Dong. "Kau meminum Darah Iblis, bukan?"
Wajah Li Dong pucat. Rahasianya terbongkar. Dia memang putus asa setelah kalah dan menerima tawaran dari orang misterius (Ular Hitam) untuk meminum ramuan penguat.
"Peduli setan!" teriak Li Dong gila. "Dengan darah ini, aku sudah mencapai Tahap 6! Aku akan membunuhmu!"
Li Dong menerjang.
Zhaofeng hanya menghela napas. "Tahap 6 palsu."
Dia tidak menghunus pedang. Dia hanya mengangkat tangan kanannya, telapak tangan terbuka.
Saat Li Dong mendekat, Zhaofeng menampar.
Bukan tamparan biasa. Ini adalah tamparan dengan berat Lima Kali Gravitasi.
PLAK!
Suaranya seperti ledakan meriam.
Kepala Li Dong berputar 180 derajat. Tubuhnya terpelanting, berputar di udara tiga kali, lalu menghantam tanah dengan suara tulang hancur yang mengerikan.
Hening.
Li Dong tidak bangun lagi.
Zhaofeng menurunkan tangannya. Dia menatap ke arah kerumunan penonton, atau lebih tepatnya, ke arah Menara Pengawas di kejauhan tempat Tetua Disiplin biasa memantau.
"Sampaikan pada tuanmu," kata Zhaofeng lantang, suaranya diperkuat Qi hingga terdengar ke seluruh sekte. "Ular yang bersembunyi di balik bayangan... mulai hari ini, aku yang akan memburunya."
Tantangan terbuka. Perang saudara di Sekte Awan Hijau telah dimulai.
💪