"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Pekerjaan
"Boleh aku pikir dulu?" lirih Devi dengan suara pelan membuat Ferdi tertawa pelan.
Dia mengelus rambut Devi membuat wanita itu tersentak kaget, ada perasaan aneh saat Ferdi mengelus rambutnya. Bukan perasaan suka atau perasaan cinta tetapi perasaan yang membuat Devi rasanya ingin menangis.
Jadi begini rasanya punya abang?
"Kalo ada apa-apa bilang aja sama abang. Sekarang kita adalah keluarga jadi jangan sungkan-sungkan lagi," ucap Ferdi yang dibalas anggukan oleh Devi, setelah mengucap terima kasih, Devi menatap keluar berupaya menyembunyikan air mata yang ingin mengalir.
Perasaan ini yang selalu dia inginkan, perasaan disayang oleh sesosok abang.
"Ayo!" ajak Ferdi setelah mereka sampai di depan.
Devi melangkah mengikuti Ferdi, kebetulan Lastri dan Tomi tengah berada di ruang keluarga bersama dengan Yogi, anak itu langsung berlari ke arah Devi berniat memamerkan mainan barunya membuat Devi tersenyum.
"Enggak kerja?" basa-basi Lastri kepada Devi.
"Baru dipecat," balas Devi sambil duduk, dia melirik Tomi dan Ferdi yang masih asik berbincang lalu melangkah pergi dari sana.
Sekarang hanya tinggal Devi dan Lastri berserta Yogi yang masih asik bermain, wanita itu menatap wajah Lastri, pertanyaan yang selalu dia pikirkan akhir-akhir ini menghantui Devi.
"Bu, bagaimana keadaan ibu? Di sini enggak ada masalah 'kan?" tanya Devi dengan wajah khawatir.
Lastri tertawa pelan, "sudah berapa kali kamu tanya hal itu? Setiap ke sini kamu selalu bertanya hal itu. Semuanya baik aja, Yogi juga bahagia. Cuma ... Deri ...."
Devi mengangkat alisnya di mana Deri kebetulan baru pulang, pria itu menyandang tas lalu berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Devi atau Lastri, hal itu membuat Devi menatap pria itu.
"Lo kenapa?" Devi membuka pintu kamar Deri, pria itu tengah berbaring di atas kasur dengan ponsel di tangan.
Deri melirik Devi lalu kembali fokus dengan ponselnya, terdengar helaan napas. Kaki Devi melangkah mendekat, dia penasaran apa yang terjadi dengan pria itu.
"Entahlah, gue takut terbawa arus. Pergaulan di sini enggak sesuai sama gue, semua memandang uang sedangkan kita ...."
"Ya, kakak tau sendiri ibaratnya kita hanya menumpang. Capek banget," keluh Deri menyampaikan apa yang ada di pikiran dan hatinya.
Devi memahami apa yang dirasakan oleh Deri karena itu dia memilih untuk kost daripada pindah ke sini, mereka berada di posisi serba salah.
"Gue enggak ada solusi, tapi mending Lo belajar aja yang rajin. Sekarang Lo punya uang untuk belajar yang rajin. Terserah Lo mau kayak apa yang jelas manfaatkan kesempatan yang ada," ujar Devi.
Deri menatap Devi dengan perasaan tidak menentu, apa yang dikatakan oleh Devi benar. Walau dirasa itu merupakan sesuatu yang tidak patut tetapi hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Udah ya, gue keluar dulu!" ujar Devi melangkah keluar dari kamar Deri.
Saat keluar tubuhnya menegang melihat seorang pria yang juga baru saja keluar dari kamar, Agnan. Pria itu di rumah
"Mau pergi?" ajak Agnan tiba-tiba.
"Ke mana?"
Agnan mengangkat bahu membuat wanita itu sejenak diam, apa dia ikut saja? Tetapi ....
"Nanti aku nyusul," ucap Devi.
Agnan mengangguk dengan Devi yang kembali turun ke bawah, saat melewati ruangan Tomi tiba-tiba saja Ferdi memanggil dirinya membuat Devi terpaksa masuk ke dalam walau sebenarnya enggan.
"Ada apa?" tanya Devi.
"Perusahaan kekurangan manager, kamu mau menempatinya? Papa udah setuju," ujar Ferdi.
Kembali, Devi diam mendengar tawaran Ferdi itu, dia tidak memiliki keinginan untuk bekerja di perusahaan Tomi, tadi dia ditawar sekarang ditawarkan lagi. Bagaimana cara menolaknya?
"Bang, yah, maaf tapi Devi tidak ada keinginan untuk bekerja di perusahaan ayah. Devi ingin bekerja dengan usaha sendiri, ditambah Devi juga masih ingin istirahat mungkin beberapa hari jalan-jalan," jelas Devi menyampaikan alasannya.
"Benar juga, kamu seharusnya sejenak beristirahat. Jika kamu sudah memutuskan bilang saja ke ayah," ujar Tomi yang diangguki oleh Devi.
Devi berpamitan keluar dari ruangan tersebut karena dirasa dia tidak mempunyai kepentingan apa-apa lagi di sana. Devi melangkah mendekati Lastri, wanita itu berpamitan mengatakan ingin pergi menemui teman.
"Hati-hati!"
Devi mengangguk, saat sampai di depan seorang supir menawarkan diri untuk mengantar Devi tetapi wanita itu menolak.
"Teman udah di depan pak, terima kasih."
Devi melangkah ke depan, tidak jauh di sana mobil Agnan terparkir, Devi langsung masuk ke dalam. Tanpa mengatakan apapun mobil bergerak dengan Agnan yang terus fokus.
"Lo dipecat? Karena apa?"
"Enggak tau, katanya gue bikin perusahaan rugi. Tapi gue yakin karena masalah gosip gue sama pak Herry," balas Devi.
Agnan mengangguk, pria itu terlihat semakin kurus dengan pipi yang semakin cekung, kantong mata pria itu semakin menghitam bahkan dia lesu tidak ada semangat hidup.
"Gosipnya masih menyebar?"
"Makin panas," tawa Devi mengingat semua yang telah dia lakukan bersama Herry bahkan setelah Herry pacaran dengan Yaya, sering kali Devi pergi bersama Herry layaknya Devi yang pacaran dengan Herry.
"Bagaimana kalo Lo kerja sama gue?" ajak Agnan sambil memarkirkan mobil, pria itu menatap Devi yang sedikit terkejut mendengar tawaran Agnan.
Bekerja dengan Agnan? Bukankah itu akan membuatnya semakin sulit untuk move on?
...****...