NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Waktu seakan berhenti. Udara di ruangan CEO Paramitha Corp terasa membeku, mencekik, menyesakkan. Anindita berdiri kaku di ambang pintu, matanya terpaku pada sosok yang duduk santai di sofa ruangannya—sosok yang sudah dua belas tahun tidak dia lihat, sosok yang mengkhianatinya dengan cara paling keji.

Savitha Paramitha.

Gadis itu—bukan, sekarang sudah wanita—bangkit dari sofa dengan gerakan anggun, terlalu anggun untuk seseorang yang seharusnya merasa bersalah. Senyumnya lebar, matanya berbinar seolah mereka adalah saudara yang baru saja bertemu setelah liburan panjang yang menyenangkan.

"Kak Dita!" Savitha melangkah cepat, tangannya terbuka lebar.

Sebelum Anindita sempat bereaksi, Savitha sudah memeluknya—pelukan yang terlalu erat, terlalu familiar, terlalu... berpura-pura.

"Astaga, Kak... kamu benar-benar jadi wanita yang sangat hebat ya..." Suara Savitha terdengar kagum, tapi ada nada lain di sana—nada yang membuat bulu kuduk Anindita berdiri. "Lihat semua ini... perusahaan Papa berkembang pesat di tanganmu. Aku sangat bangga, Kak."

Anindita tersadar dari shocknya. Tangannya terangkat, mendorong Savitha dengan kuat—tidak kasar, tapi tegas. Pelukan itu terlepas, dan jarak tercipta di antara mereka.

"Untuk apa kau kemari, Savitha?" Suara Anindita keluar dingin, sedingin es di puncak Himalaya. Setiap kata diucapkan dengan kontrol penuh, meski hatinya berteriak dalam kemarahan.

Savitha tidak terlihat tersinggung. Malah, senyumnya melebar. Dia kembali ke sofa, duduk dengan santai—terlalu santai—seolah ini adalah rumahnya sendiri. Tangannya meraih buah apel dari mangkuk kristal di meja, memutarnya dengan jemari lentik sebelum menggigitnya. Bunyi 'kriuk' terdengar keras di tengah keheningan ruangan.

"Rileks, Kak," katanya sambil mengunyah, tatapannya main-main. "Aku kesini untuk mengundangmu."

Anindita tidak bergerak dari posisinya di dekat pintu. Lengannya terlipat di depan dada, postur tubuhnya defensif. "Mengundang? Untuk apa?"

Savitha menelan gigitan apelnya, menjilat bibirnya perlahan—gerakan yang entah kenapa membuat Anindita semakin waspada.

"Aku akan menikah, Kak." Savitha mengumumkannya seperti sedang membicarakan cuaca. "Dan aku harap kamu datang. Karena..." Dia berhenti sejenak, matanya menatap Anindita dengan kilatan yang aneh—campuran kemenangan dan... kebencian? "Karena itu merupakan kejutan yang telah kusiapkan khusus untukmu."

Jantung Anindita berdetak tidak beraturan. Ada yang tidak beres. Sangat tidak beres.

"Dan kalau kau tidak datang..." Savitha berdiri, melangkah santai menuju meja Anindita, meletakkan sebuah amplop berwarna krem dengan pita sutra emas. "Kau akan menjadi orang paling bodoh selamanya."

Tawa Savitha bergema di ruangan—tawa yang terdengar merdu tapi menusuk seperti pecahan kaca. Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan berjalan keluar, langkahnya ringan seolah baru saja menyelesaikan tugas yang sangat menyenangkan.

Pintu tertutup dengan bunyi 'klik' lembut.

Anindita berdiri sendirian, menatap amplop di mejanya seperti itu adalah bom yang siap meledak. Tangannya gemetar saat meraihnya. Kertas undangan itu terasa berat—jauh lebih berat dari seharusnya.

Dengan nafas tertahan, dia membuka amplop tersebut.

Undangan pernikahan. Desainnya elegan—kertas premium dengan embossed emas, bunga-bunga mawar merah yang dilukis dengan detail sempurna. Tapi yang membuat darah Anindita membeku adalah tulisan di dalamnya:

Dengan memohon rahmat dan ridho Tuhan Yang Maha Esa, Kami mengundang Anda untuk menghadiri pernikahan kami:

HK & SP

Sabtu, 15 Januari.

Pukul 18.00 WIB

The Azure Bay Resort, Pulau Seribu

HK. Inisial itu berputar-putar di kepala Anindita. HK. HK. HK.

"Tidak... tidak..." Anindita menggeleng, tangannya meremas undangan itu. "HK itu banyak nama. Bukan... bukan Hardana Kusuma. Banyak orang dengan inisial HK. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin..."

Tapi kenapa tangannya gemetar begini? Kenapa dadanya sesak begini? Kenapa ada suara kecil di belakang kepalanya yang berbisik, "Kau tahu ini bukan kebetulan"?

"Ini pasti efek hamil," gumam Anindita, meletakkan undangan itu dengan kasar di atas meja. "Hormon membuatku berpikir yang tidak-tidak. Ya, pasti itu. Hardana tidak mungkin..."

Tapi kalimat itu tidak selesai. Karena deep down, di sudut paling gelap hatinya, keraguan sudah mulai tumbuh seperti gulma beracun.

...****************...

Anindita memaksakan dirinya fokus pada pekerjaan. Dokumen demi dokumen dia tanda tangani, email demi email dia balas, meeting demi meeting dia hadiri. Tapi pikirannya terus melayang ke undangan berwarna krem itu yang tergeletak di pojok mejanya—menggoda, mengejek, menghantui.

"Nyonya?"

Anindita tersentak. Kirana berdiri di hadapannya dengan tumpukan dokumen di tangan, wajahnya khawatir.

"Ya, Kirana? Ada apa?"

"Ini merupakan perjanjian kerja sama dengan Perusahaan Kusuma." Kirana meletakkan sebuah folder tebal di meja.

Anindita mengangkat kepala dengan cepat. "Perusahaan Kusuma? Sejak kapan ada perjanjian kerja sama dengan mereka? Aku tidak pernah menyetujui ini."

Kirana terlihat panik, wajahnya memerah. "Maaf, Nyonya! Saya salah baca." Dia membuka folder dengan tergesa, jarinya gemetar. "Bukan Kusuma, tapi... ehm... Kusari Corp. Ya, Kusari. Maaf, hurufnya kecil jadi saya salah baca."

Anindita menatapnya tajam. Ada yang aneh. Kirana tidak pernah salah membaca dokumen. Dia adalah asisten terbaik yang pernah Anindita miliki—detail, teliti, tidak pernah ceroboh.

"Kirana," panggil Anindita pelan, tapi ada nada peringatan di sana.

"Ya, Nyonya?"

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

Kirana menelan ludah, matanya menghindar. "Tidak, Nyonya. Saya benar-benar salah baca. Maafkan saya."

Anindita ingin mendesak lebih jauh, tapi rasa lelah tiba-tiba menghantamnya seperti ombak. Dia menghela nafas panjang, mengusap wajahnya.

"Baiklah. Apa ada hal lain yang harus kuberes?"

Kirana terlihat lega—terlalu lega. Dia mulai menjelaskan jadwal Anindita untuk sisa hari itu dan besok. Meeting dengan klien, presentasi untuk board of directors, makan malam dengan kakek...

Anindita mencoba mendengarkan, tapi kata-kata Kirana menjadi noise di telinganya. Tangannya tanpa sadar melayang ke perutnya yang masih rata, mengusapnya lembut.

Anakku, Mama benar-benar tidak bisa memberitahu Papa tentangmu ya? Papa pergi jauh... dan Mama di sini sendirian...

...****************...

Malam itu, Anindita bekerja sampai semua orang pulang. Lantai 45 Gedung Paramitha Corp menjadi sepi, hanya terdengar bunyi ketikan keyboard dan sesekali rintik hujan yang memukul jendela besar.

Anindita tenggelam dalam angka-angka, laporan keuangan, proyeksi bisnis. Dia selalu seperti ini—mengubur dirinya dalam pekerjaan untuk menghindari pikiran yang menyakitkan. Strategi coping yang tidak sehat, kata psikolog yang pernah kakeknya suruh datang. Tapi efektif.

Ketika dia akhirnya melihat jam, sudah pukul 02.30 dini hari.

"Astaga," gumamnya, mengusap matanya yang perih. Kepalanya pusing, punggungnya pegal. Tapi masih ada tiga dokumen lagi yang harus dia review.

Tidak apa-apa. Sebentar lagi selesai.

Dia terus bekerja. Dan bekerja. Dan bekerja.

Sampai matanya tidak kuat lagi terbuka. Kepalanya perlahan jatuh ke atas meja, di atas tumpukan dokumen yang belum selesai.

...****************...

Anindita terbangun dengan leher yang kaku dan cahaya matahari yang menyilaukan matanya. Dia merintih pelan, mengangkat kepala dari meja. Laptopnya masih menyala, menunjukkan dokumen Excel yang belum tersimpan.

Matanya melirik ke jam dinding—07.00 pagi.

"Sial," umpatnya pelan—sesuatu yang jarang dia lakukan. Dia bangkit tergesa, tubuhnya pegal di mana-mana. Ini sudah kesekian kalinya dia ketiduran di kantor minggu ini.

Beruntung, di ruang CEO ada kamar pribadi lengkap dengan kamar mandi dan walk-in closet berisi beberapa stel pakaian cadangan. Fasilitas yang kakeknya rancang khusus—kakek tahu cucunya adalah workaholic yang sering lupa waktu.

Anindita mandi cepat, air hangat sedikit meredakan pegal-pegal di tubuhnya. Dia mengenakan dress biru navy yang simpel tapi elegan, menyisir rambutnya yang basah, dan merias wajahnya tipis untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya.

Ketika dia keluar dari kamar, aroma kopi dan roti panggang menyambutnya.

Di meja meeting, sudah tersedia sarapan lengkap—nasi uduk dengan ayam goreng, jus jeruk segar, kopi susu hangat, dan sepiring buah potong. Semuanya ditata rapi di atas tray kayu dengan serbet linen putih.

Anindita berhenti, menatap sarapan itu dengan perasaan campur aduk. Ini selalu terjadi. Setiap kali dia ketiduran di kantor, pagi harinya selalu ada sarapan yang sudah disiapkan. Hangat, segar, seolah baru saja dimasak.

Tapi siapa yang menyiapkannya? Bagaimana mereka tahu dia tidur di kantor? Security? Cleaning service? Atau...

Anindita menggeleng. Tidak penting. Yang penting sekarang, perutnya berbunyi keroncongan—untuk pertama kalinya sejak tahu dia hamil, dia merasa lapar.

Dia duduk dan mulai makan. Nasi uduknya enak, bumbunya pas, tidak terlalu pedas—persis seperti yang dia suka. Kopi susunya manis dengan kadar yang tepat. Bahkan buahnya dipotong dengan ukuran yang dia sukai.

Aneh, pikir Anindita. Terlalu... personal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!