Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Musim semi belum pergi, tapi angin yang datang pagi itu terasa berbeda.
Lebih kering. Lebih dingin.
Song An berdiri di balkon paviliun timur, memandangi halaman latihan yang mulai ramai oleh prajurit muda. Di tangannya ada secarik laporan tipis, tapi ia sudah membaca isinya tiga kali.
Tetap saja tidak terasa ringan.
Mei berdiri di belakangnya dengan wajah cemas.
“Yang Mulia… kabar dari utara itu… serius?”
Song An melipat laporan perlahan.
“Belum darurat. Tapi juga bukan hal kecil.”
Pergerakan kelompok bersenjata itu?”
“Iya. Mereka tidak menyerang desa,” jawab Song An. “Mereka hanya… berkumpul.”
Mei mengerutkan dahi. “Itu lebih menakutkan.”
Song An tersenyum tipis. “Kau belajar cepat.”
Di ruang sidang dalam, para pejabat militer berdiri menghadap peta besar.
Kaisar Shen memegang tongkat penunjuk, menunjuk wilayah pegunungan utara.
“Kelompok ini bukan pasukan resmi negara mana pun,” katanya tenang. “Tapi perlengkapan mereka bukan milik bandit biasa.”
Seorang jenderal tua mengangguk. “Ada yang membiayai.”
Song An duduk di sisi meja, dagunya bertumpu di tangan.
“Orang yang sama yang dulu bermain di balik kekacauan dalam negeri kemungkinan belum menyerah.”
“Tujuan mereka?” tanya pejabat lain.
Song An menjawab ringan, “Menguji kita.”
Semua menoleh padanya.
“Mereka ingin tahu,” lanjutnya, “apakah setelah istana tenang, negeri ini benar-benar kuat… atau hanya terlihat rapi dari luar.”
Kaisar meliriknya, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Dan menurutmu?”
Song An mengangkat bahu. “Mari kita jawab pertanyaan mereka dengan cara yang membosankan.”
“Membosankan?” ulang jenderal itu.
“Kirim pasukan secukupnya. Perkuat desa. Amankan jalur logistik. Jangan terpancing menyerang dulu,” jelas Song An. “Kalau tidak ada kekacauan, rencana mereka gagal dengan sendirinya.”
Ruang itu hening beberapa detik.
Lalu jenderal tua itu tertawa pelan. “Strategi Permaisuri selalu terdengar sederhana… tapi sulit dibantah.”
Kaisar mengangguk. “Lakukan.”
Siang harinya, surat lain datang.
Tulisan tangan Selir Zhang selalu lebih miring dan penuh coretan.
Song An membacanya sambil duduk di tangga batu taman.
Song An!
Kau tidak akan percaya, aku sekarang mengajar anak-anak desa menyanyi lagu istana. Mereka mengira aku dulu penyanyi keliling, bukan penghuni harem.
Kadang aku tertawa sendiri memikirkan hidup kita dulu. Ternyata dunia luar jauh lebih luas dari tembok istana.
Kalau kau terlalu serius terus, nanti wajahmu kaku seperti patung leluhur.
Zhang
Song An mendengus kecil. “Dia masih cerewet.”
Kaisar yang baru datang duduk di sebelahnya. “Kabar baik?”
“Mereka bahagia,” jawab Song An.
“Itu membuatmu tenang?”
“Lebih dari yang kusangka.”
Kaisar memandang kolam teratai di depan mereka. “Kau tidak menyesal tinggal di sini?”
Song An menoleh cepat. “Pertanyaan itu datang dari mana?”
“Hanya ingin memastikan… kau di sini karena memilih, bukan karena merasa harus.”
Song An menatap air yang beriak pelan.
“Dulu aku bertahan karena tidak punya tempat lain,” katanya pelan. “Sekarang aku tinggal karena ini juga rumahku.”
Ia menoleh, tersenyum kecil.
“Lagipula, kalau aku pergi, siapa yang akan mengomeli Yang Mulia soal makan tepat waktu?”
Kaisar tertawa pelan. “Jadi aku ditahan oleh ancaman nutrisi.”
“Benar.”
-----
Sore menjelang malam, penjaga gerbang dalam datang tergesa.
“Yang Mulia! Ada rombongan dari desa utara memohon audiensi!”
Kaisar dan Song An saling pandang.
“Bawa ke aula kecil,” kata Kaisar.
Rombongan itu terdiri dari tiga orang, seorang tetua desa, seorang wanita paruh baya, dan anak lelaki sekitar sepuluh tahun.
Mereka membungkuk dalam-dalam.
Tetua desa maju dengan tangan gemetar, menyerahkan sebuah kantong kain kecil.
“Kami hanya rakyat biasa… tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan selain ini,” katanya.
Song An membuka kantong itu.
Di dalamnya ada segenggam gandum kering.
“Kami mendengar istana mengirim bantuan benih dan tabib,” lanjut wanita itu dengan mata berkaca-kaca. “Desa kami selamat dari musim dingin terburuk. Ini panen pertama kami setelah bertahun-tahun gagal.”
Ruangan itu sunyi.
Anak kecil itu menatap Kaisar dengan mata bulat. “Ibu bilang Kaisar itu jauh sekali. Tapi ternyata… dekat.”
Kaisar berlutut agar sejajar dengan tinggi anak itu. “Kaisar memang seharusnya tidak jauh.”
Song An menutup kantong gandum itu pelan.
“Ini bukan persembahan kecil,” katanya lembut. “Ini bukti kerja keras kalian.”
Tetua desa itu terisak pelan. “Kami hanya ingin mengatakan… kami tidak takut lagi.”
Kata-kata itu terasa lebih berat dari laporan perang mana pun.
-----
Malamnya, setelah semua kembali sepi, Song An duduk sendirian di paviliun.
Di tangannya masih ada beberapa butir gandum dari kantong tadi.
Kaisar datang tanpa suara.
“Kau memikirkannya terus?” tanyanya.
Song An mengangguk. “Dulu rakyat takut pada istana. Sekarang mereka datang membawa hasil panen.”
“Itu karena kerja kerasmu juga.”
Song An menggeleng. “Bukan. Itu karena kita berhenti melihat mereka sebagai angka pajak.”
Ia menatap butiran gandum di telapak tangannya.
“Hal kecil seperti ini… justru yang paling sulit dijaga.”
“Kenapa?”
“Karena tidak ada suara dramatis,” jawabnya. “Tidak ada perang besar, tidak ada pengkhianatan mencolok. Hanya… kehidupan biasa yang harus terus berjalan.”
Kaisar berdiri di sampingnya. “Dan itu lebih menakutkan dari musuh bersenjata?”
“Kadang,” Song An tersenyum tipis. “Karena kita tidak boleh lengah.”
Angin malam berembus pelan, membawa aroma bunga plum yang hampir gugur.
Kaisar akhirnya berkata pelan,
“Apa pun yang datang… kita hadapi pelan-pelan seperti ini saja.”
Song An menatapnya. “Tanpa drama?”
“Tanpa drama besar,” koreksinya. “Kecuali kalau kau tiba-tiba ingin memanjat atap lagi.”
“Itu satu kali, dan aku terpeleset karena gentengnya licin,” protes Song An.
“Dan seluruh penjaga istana hampir pingsan.”
Mereka tertawa pelan.
Di kejauhan, lentera-lentera bergoyang ditiup angin malam.
Negeri itu belum sepenuhnya bebas dari bayangan.
Tapi sekarang, bayangan itu tidak lagi berdiri di dalam istana.
Ia datang dari luar, bersama angin.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama
istana tidak berdiri sendirian menghadapinya.
Bersambung
kalau begini kapan babby launching nya.....