Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Pertengkaran
"Sean, lepas!!"
"Sean!"
Alissa terus memberontak kala suaminya mencengkram lengannya begitu erat. Menyeret Alissa menuju kamar miliknya, sampai akhirnya tubuh istri antagonis itu terhuyung ke ranjang saat Sean menghempaskannya begitu saja.
Alissa menatap Sean tidak terima. "Apa-apaan kau ini!" pekiknya lantang. Ia berdiri. Sedikit mendongakkan kepala untuk menatap tubuh jakung suaminya.
Sean balas tatapan Alissa sama tajamnya. "Apa yang kau lakukan di rumah itu?" tanyanya penuh penekanan.
"Bukan urusanmu!" balas Alissa dengan nada yang sama.
"Jelas itu urusanku. Kau istriku, Alissa!" teriak Sean murka. Kenapa istrinya ini menjadi sangat keras kepala dan suka memberontak.
"Istri?" Alissa terkekeh miris. "Istri apa yang kau maksud, Sean? Sejak kapan kau mengakuiku sebagai istri?"
"Jangan mulai." desis suami dari Alissa itu tak suka.
"Aku tidak pernah melakukan apa-apa, karena kaulah yang mulai!" jerit Alissa mendorong tubuh tegap milik suaminya.
"Kau telah menghancurkan hidupku! Kau sumber masalah dalam hidupku. Aku membencimu, Sean!" teriak perempuan itu seolah sedang melampiaskan emosinya yang selama ini terpendam.
Sean hanya diam kala Alissa memukul dadanya berulang sembari melontarkan kata-kata menyakitkan itu. Sejujurnya, Sean tidak pernah merasa tersinggung dengan ucapan orang lain.
Namun kini--, saat Alissa mengatakan jika dirinya adalah sumber masalah perempuan itu, entah kenapa sudut kecil hatinya merasa nyeri. Sean tidak bisa menjabarkannya. Tapi--, perasaan ini sungguh sangat tidak nyaman.
"Bebaskan aku, Sean. Bebaskan aku..." kalimat itu terus Alissa ucapkan. Terselip nada putus asa di dalamnya.
Alissa--, perempuan itu bisa apa. Karena kenyataan menamparnya begitu keras. Tentang perjanjian itu. Tentang hidupnya yang seakan telah dikerangkeng.
Sekarang dia paham, kenapa Alissa asli tidak pernah meminta berpisah. Alasan Alissa asli tidak pernah melawan. Itu karena perjanjian sia-lan itu. Perjanjian yang telah mengikat hidup Alissa asli.
Dan sekarang, dirinyalah yang terjebak. Surat itu kini mengikat erat dirinya. Kata bebas yang selama ini Alissa idam-idamkan hanya akan menjadi harapan selamanya.
Apakah, aku akan tetap mati di tangan suamiku sendiri?!
"Bebaskan aku. Kumohon, Sean."
"Sebegitunya kau ingin pergi dari hidupku, Alissa? Sebenci itukah?" tanya Sean tanpa arti.
Aku pergi darimu karena ingin menyelamatkan nyawaku.
"Bukankah kau juga menentang pernikahan ini? Jika kau tidak mecintaiku, kenapa dulu kau menerima pernikahan ini! Sehingga diriku harus terjerat padamu dan perjanjian sia-lan itu!"
Benar. Jika Sean mecintai Stella. Sangat amat mecintai adiknya itu, kenapa laki-laki itu mau menikahi Alissa. Kenapa Sean tidak menolak.
Sean punya kekuasan. Dan itu sangat lebih dari cukup untuk menghentikan pernikahan sia-lan ini.
"Kenapa kalian menyelamatkanku! Kenapa tidak biarkan saja aku mati kelaparan dijalanan!!" seru Alissa dengan nada yang tinggi.
"Alissa!"
Sean sangat tidak suka dengan ucapan yang terlontar dari bibir istrinya. Ia tarik pinggang Alissa hingga menempel pada tubuh depannya. Mengapit dagu perempuan itu dan memaksanya untuk menatap mata tajamnya.
"Jaga bicaramu, Alissa." ujar Sean penuh peringatan. Intonasi rendah penuh ancaman khas laki-laki itu keluar begitu saja.
"Kenapa?" tantang Alissa yang pipinya sudah basah karena air mata.
Sean diam. Jempolnya mencoba menghapus air mata di pipi Alissa. Lembut dan penuh perasaan. Membuat Alissa merasa muak.
Dengan tenaganya yang tersisa, ia dorong tubuh suaminya agar ia terbebas dari rengkuhan laki-laki itu.
Namun Sean tetaplah Sean. Tenaganya terlalu kuat. Sekuat apapun Alissa mencoba lepas, jika laki-laki itu tidak ingin melepaskannya, maka usaha Alissa hanya akan berakhir sia-sia.
"Jangan bersikap seakan-akan kau sangat menginginkanku, jika kenyataannya adalah sebaliknya!" seru Alissa menatap suaminya muak.
"Apakah sikapku akhir-akhir ini kurang untuk membuktikan? Jika aku ingin memperbaiki pernikahan kita."
"Bulshit!" ujar Alissa. Dia tidak akan pernah termakan oleh kata-kata antagonis ini. Tidak akan pernah.
"Di mana letak bulshit-nya? Di bagian mana kau tidak mempercayaiku?" Sean me mencoba berbicara halus.
Halus dan lembut bukanlah gaya orang angkuh penuh arogansi seperti Sean Balrick. Namun demi Alissa, dia akan mencobanya. Dia akan merubah tutur katanya jika itu memang diperlukan.
Alissa tak gentar. Ia sunggingkan senyum remeh kala menatap Sean. "Kau pikir aku tidak tahu? Semua tindakanmu itu hanyalah tindakan implusif atas perubahanku."
"Kau merasa tidak terima ketika aku sudah tidak menginginkanmu lagi. Saat aku bersikap acuh padamu. Kau merasa ini semua tidak benar. Maka dari itu, kau melakukan ini semua."
"Cinta dan ingin memperbaiki pernikahan hanyalah rasa tak terimamu atas perubahan diriku!"
"Jangan sok tahu!" ujar Sean membantah. Justru tuduhan yang Alissa layangkan yang menurutnya hanyalah bualan kosong tidak ada artinya.
"Lalu kenapa kau bertemu dengan Stella di hotel? Apa saja yang kalian lakukan di sana?" Alissa tembakkan pertanyaan yang membuat sang suami diam membatu.
Melihatnya, membuat Alissa tersenyum sinis. Sudah dia duga. Sean tidak akan bisa menjawabnya.
"Kenapa kau bisa tahu?"
"Aku tahu darimana itu tidak penting. Jawab saja pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di hotel bersama Stella!" tuntut Alissa meminta jawaban.
"Itu bukan urusanmu."
Jawaban Sean membuat Alissa tertawa bahkan sampai terbahak-bahak. Lihatlah, laki-laki lucu di hadapannya ini. Dia selalu bekoar-koar jika Alissa adalah istrinya, maka segala urusan Alissa juga adalah urusan Sean.
Tapi kini lihatlah apa yang baru saja laki-laki sia-lan ini katakan. Bukan urusanmu katanya? Cih, egois sekali.
"Ah, biar kutebak. Pasti kalian suatu kegiatan yang menggairahkan bukan? Bagaimana rasanya bermain dengan adikmu sendiri?"
"Hal Kotor apa yang baru saja kau katakan Alissa." geram Sean mencengkram bahu istrinya begitu kuat hingga perempuan itu meringis kesakitan.
"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?" meski begitu, Alissa tetap ingin memancing kemarahan suaminya.
"Kau tidak tahu apa-apa!"
"Aku memang tidak tahu apa-apa." Alissa menyunggingkan senyum miring. "Memangnya aku siapa? Anak jalanan yang keluargamu pungut."
"Lalu untuk membalas budi, aku harus menikah denganmu untuk menutupi skandal antara kau dan adikmu."
Baiklah. Alissa merasa lelah sekarang. Tenaganya sudah terkuras habis. Baik fisik dan mentalnya membutuhkan istirahat.
Perempuan itu menghela nafas panjang. "Tidak ada gunanya berdebat."
"Baiklah, Sean. Kabari budak pela-curmu ini jika kau sudah bosan, oke? Saat itu terjadi dengan senang hati aku akan pergi sejauh-jauhnya dari hidupmu."
"Kau...tidak perlu membunuhku untuk mengusir diriku dari kehidupanmu."
Alissa bergerak ingin pergi dari kamar Sean yang seperti neraka baginya. Namun baru satu langkah ia berjalan, perempuan itu merasakan cekalan pada pergelangan tangannya.
Alissa menoleh ke belakang. Kembali menatap sang suami dengan tatapan malasnya.
"Aku benar-benar lelah, Sean. Setidaknya, ijinkan aku beristirahat." ujar perempuan itu datar.
"Tidurlah di sini. Bersamaku."
Mendengar permintaan Sean, Alissa hanya mendengus geli. "Kenapa tidak kau suruh saja Stella yang tidur di sini. Menemanimu."
"Kenapa kau selalu melibatkan Stella dalam masalah kita?" jengah Sean yang muak mendengar nama Stella.
"Karena memang dia masalahnya!" balas Alissa tak kalah malas.
Kemudian perempuan itu tersenyum penuh arti. "Jika kau ingin aku berhenti membicarakan Stella, maka bunuh dia."
"Bunuh dia untukku, Sean."
Lagi-lagi Alissa meminta hal yang mungkin tidak dapat Sean kabulkan.