"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.23 -Masa Lalu Arvano
Aylin langsung keluar dan membanting pintu dengan keras. Arvano hanya menatap pintu yang tertutup itu dengan senyum puas. Ia tahu peluru yang ia lepaskan tepat sasaran. Berita kembalinya Emilia Luna Grace sudah meledak di jagat maya, dan Arvano hanya perlu memicu sedikit api untuk membakar ketenangan Aylin.
"Huh! Walaupun aku menyukai Aksara tapi dia tidak, setidaknya semua fasilitas yang ia berikan masih bisa ku nikmati," kekeh Arvano sinis sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran.
Sesaat, ruangan yang harum itu terasa senyap. Ingatan Arvano mendadak terseret kembali ke masa puluhan tahun lalu. Saat ia masih menjadi bocah berusia sepuluh tahun yang ringkih, berdiri di tengah hujan air mata karena ditinggalkan oleh sang ibu.
Sofia, ibunya, sudah tidak tahan hidup melarat bersama ayahnya yang tak berguna.
"Mama, jangan tinggalkan aku! Ma!" isak Arvano kecil saat itu, memohon sambil memegangi ujung baju ibunya.
Namun, Sofia justru menepis tangan kecil itu dengan kasar. Wajahnya penuh kebencian.
"Tidak! Aku benci kamu! Aku benci ayahmu! Gara-gara melahirkanmu, hidupku jadi sial dan miskin!" pekik Sofia sebelum masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam.
Arvano kecil hanya bisa mematung, menatap asap knalpot mobil itu menjauh. Ia mencatat plat nomor mobil itu di otaknya. Sebuah janji tertanam di hatinya: jika suatu saat mereka bertemu di jalan, ia akan menunjukkan bahwa bocah "sial" ini bisa lebih berkuasa darinya.
Sejak hari itu, dunia Arvano menjadi neraka. Tinggal bersama ayahnya yang malas, pemabuk, dan pecandu judi online membuatnya harus bekerja keras demi sesuap nasi. Namun, penderitaan sebenarnya baru dimulai saat ia menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama.
Dunia yang jahat benar-benar merubah orientasinya. Saat ospek, Arvano yang polos menjadi incaran empuk kakak kelas yang memiliki penyimpangan. Ia dipaksa melayani nafsu bejat mereka di tempat-tempat tersembunyi.
"Jangan, Kak... aku mohon. Sakit, Kak..." isaknya ketakutan di pojok ruangan yang pengap.
"Halah! Anak miskin kayak kamu nggak mungkin merasa sakit. Kamu itu kebal, orang hidupnya saja di daerah kumuh!" ejek salah satu kakak kelas, yang disambut gelak tawa puas dari yang lain—baik laki-laki maupun perempuan.
Setiap pulang sekolah, Arvano selalu menjadi korban perundungan. Diancam, dipukuli, dan dilecehkan berkali-kali sampai pada satu titik, sarafnya seolah mati rasa. Air matanya kering. Ia tidak lagi merasakan sakit saat mereka "memakainya". Hatinya telah membatu.
Tahun demi tahun berlalu, Arvano tumbuh menjadi pria dewasa yang kenyang akan pahitnya kehidupan. Ayahnya tetap tidak peduli, dan ibunya—orang yang paling ia benci di dunia—tak pernah menampakkan batang hidungnya.
Untuk bertahan hidup, Arvano bekerja di klub malam. Selain menjadi pelayan, ia sesekali menemani tamu-tamu kaya demi uang tambahan.
Namun, Arvano punya cara cerdik untuk melindungi dirinya; ia selalu memasukkan obat tidur ke minuman para tamu sebelum hal-hal yang lebih jauh terjadi. Ia licik, karena dunia telah mengajarinya bahwa kejujuran hanya milik orang kaya yang bahagia.
Sampai kegelapan itu berakhir, setelah dia ketemu Aksara yang sedang patah hati oleh Emilia. Tidak ada rahasia yang di sembunyikan oleh Aksara pada Arvano, membuat Aksara nyaman bersama Arvano.
*
*
Kembali pada Aylin. Setelah keluar dari ruangan Arvano dengan sisa-sisa ketegaran, ia langsung menuju kamar mandi. Ia mengunci pintu, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya kini terlihat lebih cerah dan terawat, tidak ada lagi jejak Aylin yang kusam seperti dulu. Namun, di balik binar wajah itu, matanya menyiratkan luka yang baru saja tergores.
"Dia kembali..." lirihnya pelan.
Hatinya berdenyut nyeri. Entah sejak kapan rasa ini tumbuh, namun kenyataan bahwa ada nama wanita lain yang begitu dipuja Aksara membuat dunianya seolah goyah. Apakah ia benar-benar sudah jatuh cinta pada suaminya sendiri? Suami yang ia dapatkan lewat sebuah kesepakatan?
Merasa tidak sanggup melanjutkan pekerjaan, Aylin memutuskan untuk izin pulang setengah hari dengan alasan tidak enak badan. Beruntung, Renata yang baik hati langsung mengizinkannya.
Aylin berjalan menyusuri trotoar di bawah terik matahari Jakarta. Ia tidak ingin segera sampai ke apartemen; ia hanya ingin sendiri. Matanya menatap kosong pada kendaraan yang berlalu-lalang, sembari mengembuskan napas panjang untuk melepaskan sesak.
"Jatuh cinta itu... benar-benar merepotkan," omel Aylin pada dirinya sendiri, namun bersamaan dengan itu, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Namun, dengan cepat dia menghapusnya secara kasar.
Tanpa Aylin sadari, dari kejauhan seseorang sedang memantaunya dengan saksama. Pria misterius itu memegang ponsel, melaporkan setiap gerak-gerik Aylin langsung kepada Kakek Harsa.
"Pastikan dia aman sampai di rumah," ucap Kakek Harsa dari balik telepon dengan nada otoriter.
"Baik, Tuan."
Setelah menutup telepon, Kakek Harsa terdiam di ruang kerjanya. Ia menatap foto mendiang istrinya dalam waktu yang lama. Ada rasa rindu yang mendalam di matanya, namun juga ada tekad yang kuat.
"Aku akan memastikan mereka tetap bersama, Sayang. Tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka," lirih Kakek Harsa, seolah berjanji pada foto mendiang istrinya.
Sementara itu, kabar kepulangan Emilia ternyata sudah sampai ke telinga Kirana. Di ruang tengah kediaman Danendra, Kirana meremas buku yang sedang dibacanya hingga kertasnya lecek.
"Kamu yakin itu dia?" tanya Kirana pada Sari, asisten rumah tangganya yang sangat aktif di media sosial.
"Saya yakin seratus persen, Nyonya!" balas Sari antusias.
Sari segera menunjukkan layar ponselnya kepada Kirana. Di sana terpampang foto-foto Emilia Luna Grace yang baru saja mendarat di bandara, dikelilingi oleh teman-temannya dengan gaya sosialita yang glamor.
"Emilia..." gumam Kirana. Matanya berbinar. Sejak dulu, ia memang sangat mendambakan Emilia menjadi menantunya, bukan gadis antah-berantah seperti Aylin.
"Terima kasih, Sari. Jangan lupa, laporkan terus perkembangan Emilia kepadaku," titah Kirana dengan nada penuh rencana.
"Siap, Nyonya!" balas Sari mantap.
Selain menjadi pekerja di rumah Danendra, Sari memang dikenal sebagai ratu gosip. Ia tahu hampir semua rahasia di rumah itu. Namun anehnya, tentang hubungan Aksara, Arvano, dan rahasia pernikahan Aylin, seolah ada portal gaib yang menutupi informasinya. Hanya orang-orang tertentu yang dipilih Kakek Harsa yang bisa mengetahui kebenarannya.
Bersambung ...
Gimana perasaan kalian setelah tahu masa lalu Arvano? Nyesek banget, ya... Kalau kalian tim yang pengen peluk Aylin biar nggak sedih lagi, yuk tunjukkan dukungan kalian dengan klik Like dan Vote! Satu jempol dari kalian berarti banget buat semangatku lanjutin bab selanjutnya. Terima kasih! 🤗
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣