Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janda Glowing
Yitno melihat-lihat warungnya yang sudah jadi, mencoba menilai apakah ada yang kurang atau tidak. Ia mengamati sembari merokok.
"Kok belum datang pintunya, Yit?" Tanya ibunya yang ikut nimbrung menemaninya mengamati warung.
"Besok paling Mak, oh iya mak. Besok aku mau belanja, kalau tukang foldingnya dateng Mamak ladenin orang-orang itu ya, buatin kopi sama beliin gorengan di tempat bude Sri.
"Iya, di kasih makan gak yang pasang pintu besok?"
"Gak usah Mak. Memangnya tukang apa, kasih kopi sama gorengan aja."
Keesokan paginya, Yitno berjalan kaki menuju ke pasar yang berjarak lumayan agak jauh sekitar 1km dari rumahnya. Ia hendak berbelanja memenuhi kebutuhan warungnya. Yitno berkeliling mencari toko grosir sembako yang murah yang bisa ia jadikan langganan.
Setelah bertanya-tanya kepada beberapa tukang becak, akhirnya ia menemukan toko grosir sembako tujuannya. Toko yang lumayan besar dan lengkap. Tampak bos toko tersebut berkulit oriental. Yitno segera menemui pemilik toko, yang tampak lagi sibuk menghitung nota dengan kacamata menuru hampir lepas
"Ko, mau belanja.." ucap Yitno
"Oiya mas, nyari apa?" Tanya pemilik toko
Yitno segera menyerahkan secarik kertas berisi list barang belanjaan yang sudah sedari lama ia catat. Tampak pemilik toko membaca sesaat, kemudian ia memanggil salah satu karyawannya dan memberikan catatan itu kepada karyawannya.
"Di tunggu sebentar ya mas, buka warung ya?"
"I..iya ko, baru buka.."
"Owhh iya iya.. belanja disini aja mas, kita kasih harga cocok buat di jual lagi. Tenang aja, harga di jamin bersahabat nggak cakar-cakaran hehe"
"Iya ko, makasih."
Sementara Yitno menunggu barang belanjaannya di siapkan, ia tolah-toleh melihat banyak sekali cctv di toko itu. Ia juga tak lepas memperhatikan anak gadis pemilik toko tersebut yang tampak sangat cantik, kulitnya putih bersih, rambutnya lurus sedikit di pirang dan berkulit oriental yang membuat fikirannya melayang jauh kemana-mana.
Siang hari ia sudah kembali pulang ke rumahnya, ia tampak sangat lelah.
"Yit, itu pintunya udah di pasang. Gak boleh di buka dulu katanya, kuncinya masih di bawa mereka. Besok mau ngecet katanya. Tadi gak bawa alat catnya." Ucap ibunya
"Oh iya Mak."
***
Sementara itu di meja kerja ruang polres, seorang polisi penyidik tampak menggaruk-garuk alisnya menatap foto-foto kasus Lastri dan Mbah Suro, polisi itu bernama Yusril. Ia berusaha mengaitkan kedua kasus tersebut.
"Kesimpulan yang bisa ku ambil, pelaku laki-laki dari telapak sandal kisaran lelaki dewasa. Pasti pelaku ini adalah pelaku yang sama dengan yang mencuri kafan milik anak pak Tarman itu.
Dari keterangan Tarman dan istrinya, mereka menyerahkan celana dalam dan foto Lastri pada Mbah Suro. Tetapi di rumah Mbah Suro tak di temukan celana dalam wanita dan foto Lastri tersebut. Apa pelaku itu mengambil dan membuangnya?"
Tiga kasus yang berbeda, dari tiga kampung yang berbeda pula. Kasus hilangnya uang milik juragan beras itu, lalu kasus hilangnya kain kafan, kemudian tragedi pembunuhan ini? Apakah ini saling berhubungan?" Batin Yusril sembari memijat-mijat pelipis pinggir keningnya.
Pelaku ini begitu rapi dan cerdik, tetapi suatu saat ia pasti akan terkena apesnya. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti ia akan jatuh juga. Sampai mana kau pandai menyembunyikan bangkai busuk semua kebejatanmu?"
2 hari kemudian Yitno dan ibunya pagi-pagi sudah sibuk menyusun barang dagangan di warungnya yang sudah jadi. Yitno menyusun bungkus-bungkus rokok di dalam etalase kecil, ia menulis harga rokok di kertas kecil yang ia isolasi dan di tempel di dekat etalase tersebut.
Sedangkan ibunya membuka kardus-kardus mie instan yang di susun di rak kayu yang di buat oleh Yitno.
Kehidupan Yitno berjalan aman, lancar dan mulus. Saat ini ia sudah membuka usaha berupa warung rumahan berukuran 3x4 meter. Warung sederhana yang terlihat rapih untuk ukuran warung yang berada di kampung.
Kesehariannya saat ini hanya berada di warung, setiap pagi setelah ia memberi makan ikan-ikannya ia membuka warung. Warungnya tutup pukul 9 malam. Tidak hanya sembako dan kebutuhan sehari-hari yang ia jual, ia juga menjual pulsa, token listrik, bensin dll.
Walaupun tidak seberapa ramai, setidaknya ia mampu mendapatkan uang sekitar 300-500 ribu per harinya, tentu itu pendapatan kotor. Setidaknya ia tidak merugi dan warga tak ada yang mencurigainya jika suatu saat ia menjadi orang kaya.
Usaha tersebut hanya ia jadikan kesibukan dan gimik semata, sekedar untuk mengelabui para warga. Agar ia tak jadi sorotan yang dapat menimbulkan kecurigaan warga terhadapnya.
"Mak jagain warung bentar, aku mau mandi sekalian ngasih makan ikan."
"Iya, jangan lama-lama mamak belum selesai masaknya, Yit."
"Iya.."
Setelah memberi makan ikan dan mandi, Yitno kembali menjaga warungnya. Ia bersantai memainkan ponselnya sembari menikmati segelas kopi dan merokok di dalam warungnya itu
"Mas, beli..." Seorang wanita menyapanya dari balik etalase.
Ya, wanita dengan kulit putih bersih berusia sekitar 30 tahunan, body goal dengan rambut hitam lurus berkilau seperti dokter kecantikan. Tampaknya wanita itu pintar merawat diri.
Yitno sedikit mengerutkan keningnya, wajar ia sedikit bingung. Karna wanita itu tidaklah ia kenal. Seperti yang di ketahui bahwa warungnya berada di dalam kampung, itu bukanlah jalan raya atau jalan provinsi. Hanya warga sekitar situ-situ saja yang berbelanja di warungnya. Tak ada orang dari desa lain yang pernah belanja. Kalau pun ada mungkin hanya membeli bensin atau rokok.
"Iya mbak, beli apa..?"
"Anu mas, Sunsilk sachet sama sikat gigi." Yitno segera memberikan barang yang di inginkan wanita itu.
"Berapa mas?"
"Delapan ribu mbak, emm...mbak dari mana ya? Kok saya gak liat motor?" Tanya Yitno
"Oh saya lagi liburan mas, maen aja ke tempat sodara."
"Siapa mbak, saudara mbak?"
"Mbak Sri mas. Yang jualan pecel itu.."
"Ohh bude Sri, apa jangan-jangan mbak saudara suaminya yang buka salon itu ya?"
"Eeeehhh..?? Emm..mas tau dari siapa? Mbak Sri yang cerita ya?"
"Iya mbak, bude Sri pernah cerita dulu, udah lama. Dia cerita katanya mbaknya pernah jadi biduan ya?"
"Udah pensiun, pandangan orang jelek ke aku mas kalau kerja jadi biduan. Mereka fikirannya selalu negatif. Karna pulang malem kadang subuh. Ya mau gimana lagi gak ada pilihan. Yang gak modal waktu itu ya cuma jadi biduan.
Alhamdulillah setelah dapat modal aku buka salon ala-ala mas, tapi ya itu.. agak sepi. Makanya aku maen kesini liat-liat daerah sini, siapa tau prospek gitu kalau buka salon di sini. Soalnya kata mbak Sri di sini belum ada yang buka salon."
"Ohh iya mbak emang belum ada, tapi kalau buka di kampung ya sepi lah mbak. Seenggaknya di jalan lintas. Tapi sewa kiosnya lumayan mahal. Tapi lumayan rame kalau di sana."
"Iya sih mas, emm mas namanya mas Yitno ya?"
"Ehh..? Kok tau? Hmm, pasti bude Sri yang ngasih tau, iya kan?"
"Iya mas, mas masih bujang ya?...hehehe maaf mas.. Monggo mas" senyum wanita itu kepada Yitno
"Iya mbak..."
Krik..Krik..kriik
mereka berdua saling menatap, tampak Yitno bingung karna wanita itu tetap berdiri di situ dan tak kunjung pergi, ia terus menatapnya sembari tersenyum..
"Emm...ada yang mau di beli lagi mbak?"
"Ng..nggak mas, anu duitku 10 ribu, belum di kasih kembaliannya mas..." Ucap wanita itu
"Ya ampun!!...ma..maaf mbak, ini mbak 2 ribu, maaf mbak..hilang fokusku...maaf ya mbak"
Wanita lalu tersenyum lalu pergi...
"Bew! jadi itu janda yang di ceritain bude Sri? Masok..!! Tapi apa mau dia sama aku ya? Dia glowing sementara aku dekil gini? Besok ah ke tempat bude Sri, tanya-tanya siapa tau jodoh." Batin Yitno