NovelToon NovelToon
Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Penyelamat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:965
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.

​Daftar Karakter Utama:

​Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.

​Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).

​Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).

​Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teratai darah dari Utara part 2

Di sebuah benteng tersembunyi yang tertanam di tebing curam pesisir utara, suasana mencekam menyelimuti aula utama. Aroma dupa merah yang menyengat bercampur dengan bau amis laut. Di atas singgasana yang terbuat dari logam hitam, duduk sesosok pria raksasa dengan satu lengan kiri yang sepenuhnya terbuat dari besi dingin berkilau.

​Ia adalah Gao Zhan, yang lebih dikenal di dunia persilatan sebagai Si Tangan Besi.

​Tiga anggota Teratai Darah yang menyerang kedai teh tadi bersujud gemetar di lantai batu. Salah satu dari mereka, yang lengannya tampak lunglai akibat hantaman gelombang kejut Satya, memberanikan diri melapor dengan suara terbata-bata.

​"Ampun, Tuan Gao... kami... kami gagal. Li Wei ikut campur. Pengkhianat itu membantu pemuda pemilik Toya Emas tersebut."

​BRAAAK!

​Gao Zhan menghantamkan tangan besinya ke sandaran kursi hingga hancur berkeping-keping. Suara dentumannya bergema ke seluruh penjuru benteng, membuat para pengawal di luar pintu berjengit ketakutan.

​"Li Wei lagi... tikus kecil dari daratan tengah itu selalu saja mengusik urusanku!" geram Gao Zhan. Suaranya berat, seperti gesekan batu gerinda. "Lalu bagaimana dengan pemuda itu? Apakah benar dia hanya seorang anak muda ingusan dari pedalaman Jawa?"

​"Bukan pemuda biasa, Tuan," jawab anak buahnya dengan dahi yang masih menempel di lantai. "Gerakannya... sangat aneh. Ia lincah seperti kera, namun serangannya memiliki bobot yang mampu meremukkan tulang. Tekniknya mengingatkan kami pada legenda kuno tentang Raja Kera, Sun Wukong. Sekali hantam, lantai kedai itu hancur seolah dijatuhi meteor."

​Gao Zhan menyipitkan matanya yang merah. Ia berdiri, membiarkan jubah merahnya menyapu lantai.

​"Sun Wukong? Di tanah Jawa ini?" Gao Zhan tertawa dingin, sebuah tawa yang kering tanpa rasa humor. "Berarti rumor itu benar. Logam meteorid yang tertanam di dalam Toya Emas Angin Langit itu bukan sekadar besi biasa. Itu adalah serpihan Xuan Tie yang jatuh dari langit berabad-abad lalu, logam yang sama yang dicari-cari oleh leluhur kita di Utara untuk menempa senjata Dewa Perang."

​Gao Zhan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke laut lepas. Ia menatap ke arah Gunung Lawu yang menjulang di kejauhan dengan tatapan penuh nafsu rakus.

​"Li Wei mungkin ahli pedang yang jenius, tapi dia tidak tahu apa yang sedang ia hadapi. Jika bocah itu benar-benar memiliki 'Jiwa Kera Sakti' dalam jurusnya, maka darahnya akan membuat pedang iblis yang sedang kutempa ini menjadi sempurna."

​Gao Zhan berbalik, lalu memberi perintah kepada bayangan-bayangan yang bersembunyi di balik pilar-pilar gelap.

​"Kirimkan 'Tiga Algojo Teratai Hitam'. Jangan serang mereka secara terang-terangan. Biarkan mereka mendaki Lawu. Tunggu sampai mereka tiba di Curug Parang Ijo. Saat bocah itu lengah karena kenangan masa lalunya, itulah saat kita mematahkan tongkatnya dan mencabut nyawanya."

​Gao Zhan mengangkat tangan besinya, lalu mengepal kuat hingga udara di sekitarnya seolah berderit. "Siapapun yang menghalangi jalan Teratai Darah, entah itu pendekar Tiongkok ataupun monyet Jawa, akan hancur di bawah kepalanku!"

Di bagian terdalam benteng pesisir itu, sebuah pintu baja berat terbuka, mengeluarkan uap panas yang berbau belerang dan besi terbakar. Dari dalam kegelapan, muncul tiga sosok yang bahkan membuat anggota Teratai Darah biasa merasa ngeri. Mereka adalah Tiga Algojo Teratai Hitam, unit pembunuh elit yang hanya dikerahkan Gao Zhan untuk target tingkat tinggi.

​Gao Zhan berdiri di depan sebuah meja besar yang memajang peta wilayah lereng Gunung Lawu. "Kalian berangkat malam ini. Targetnya adalah pemuda bernama Satya dan pengkhianat Li Wei. Ingat, aku butuh Toya Emas itu utuh. Jangan sampai logam meteorid di dalamnya rusak."

​Ketiga algojo itu maju ke depan cahaya obor, menunjukkan jati diri dan senjata eksotis mereka:

​1. Si Buta Feng: Sang Pemusik Maut

​Sosok pertama adalah pria kurus dengan kain hitam menutupi kedua matanya. Di punggungnya terikat sebuah instrumen musik petik kuno, Pipa (kecapi Tiongkok), yang terbuat dari kayu hitam yang sangat keras.

​Senjata & Kemampuan: Ia tidak menyerang dengan fisik, melainkan dengan gelombang suara. Senar Pipa-nya terbuat dari kawat baja tipis yang jika dipetik dengan tenaga dalam tertentu, dapat menciptakan pisau udara yang mampu memotong batu. Di dalam hutan Lawu yang rimbun, denting musiknya akan menjadi jebakan psikologis yang mematikan.

​2. Mei Lian: Sang Teratai Beracun

​Satu-satunya wanita di kelompok itu, berpakaian sutra merah darah yang ketat. Wajahnya cantik namun sedingin es. Di tangannya, ia memegang sepasang Kipas Baja (Tie Shan) yang tepiannya setajam silet.

​Senjata & Kemampuan: Kipasnya bukan hanya untuk menebas. Setiap kali ia mengayunkan kipas, serbuk spora beracun yang diambil dari rawa-rawa Utara akan menyebar. Ia bertugas melemahkan pernapasan Satya, membuat kelincahan "Gaya Kera" sang pemuda melambat karena sesak napas.

​3. Iron Khan: Sang Penghancur Tulang

​Raksasa setinggi dua meter yang kepalanya plontos dan penuh dengan bekas luka. Berbeda dengan dua rekannya, ia membawa senjata berat yang mengerikan: Meteor Hammer (Bola Besi Berantai) ganda.

​Senjata & Kemampuan: Dua bola besi berduri yang dihubungkan oleh rantai sepanjang lima meter. Iron Khan adalah lawan tanding yang disiapkan khusus untuk beradu tenaga dengan Toya Emas Satya. Ia mampu menghancurkan pohon-pohon besar hanya dengan satu ayunan, memastikan Satya tidak punya tempat untuk bersembunyi atau melompat.

​"Gunakan teknik Formasi Pengunci Langit," perintah Gao Zhan dengan nada rendah. "Mei Lian akan menyebarkan racun untuk membatasi ruang geraknya. Feng akan mengacaukan pendengaran dan instingnya dengan suara Pipa. Dan kau, Khan... hantam dia saat dia tidak bisa melihat arah serangan."

​Mei Lian tersenyum tipis, melipat kipas bajanya dengan bunyi klik yang tajam. "Seorang pemuda yang mengira dirinya Sun Wukong? Aku ingin lihat bagaimana monyet itu menjerit saat paru-parunya dipenuhi spora kematian."

​"Jangan remehkan dia," potong Feng sambil menyentuh senar instrumennya, menciptakan nada tinggi yang menyakitkan telinga. "Li Wei ada bersamanya. Li Wei tahu cara kerja serangan kita."

​"Kalau begitu, Li Wei akan mati sebagai penonton pertama konser kematianmu, Feng," sahut Iron Khan sambil menghantamkan kedua bola besinya ke lantai, menciptakan getaran yang meretakkan ubin batu.

​Tanpa suara tambahan, ketiga algojo itu melesat keluar dari benteng. Mereka bergerak seperti bayangan merah yang terbang di atas pepohonan, menuju hutan berkabut di lereng Lawu. Mereka tidak berniat untuk sekadar bertarung; mereka sedang menyiapkan sebuah labirin maut di jalur menuju Curug Parang Ijo, tempat di mana Satya tidak akan bisa melarikan diri ke atas pohon sekalipun.

Sementara itu Udara di lereng Gunung Lawu mendadak berubah. Jika sebelumnya kicauan burung kutilang dan derik tonggeret saling bersahutan, kini hutan itu seolah-olah menahan napas. Kesunyiannya tidak alami; itu adalah kesunyian yang menekan telinga, seolah-olah alam sedang menyembunyikan sesuatu yang mengerikan.

​Satya menghentikan langkahnya tepat di sebuah jembatan bambu kecil yang melintasi aliran sungai berbatu. Ia mengendus udara, hidungnya kembang kempis.

​"Li Wei, kau merasa ada yang aneh tidak?" bisik Satya. Ia tidak lagi cengengesan. "Hutan ini mendadak jadi budek. Bahkan nyamuk pun tidak berani lewat sini."

​Li Wei tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meletakkan telapak tangannya pada batang pohon pinus di sampingnya, memejamkan mata sejenak untuk merasakan getaran alam. "Hawa membunuh (Sha Qi) yang sangat pekat," gumamnya pelan. Tangannya mulai bergeser ke hulu pedang gioknya. "Satya, ini bukan sekadar Teratai Darah biasa. Hawa ini... dingin dan teratur. Ini adalah hawa dari mereka yang sudah menjadikan kematian sebagai seni."

​Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar sebuah denting.

​Tring...

​Suara itu sangat lembut, seperti suara kecapi yang dimainkan di tengah kabut. Namun, bagi Satya yang memiliki pendengaran tajam, suara itu terasa seperti sembilu yang mengiris gendang telinganya.

​"Waduh, ada yang main musik di tengah hutan? Seleranya boleh juga, tapi telingaku kok jadi panas ya?" Satya mencoba bercanda, meski ia segera mencabut Toya Emasnya dari punggung.

​"Jangan dengarkan nadanya, Satya! Itu Pipa milik Si Buta Feng!" seru Li Wei waspada. "Tutup aliran napasmu dan fokus pada titik tengah kepalamu!"

​Belum sempat Li Wei menyelesaikan kalimatnya, kabut ungu tipis mulai merayap dari balik semak-semak. Baunya manis, namun memuakkan—seperti bunga bangkai yang dicampur dengan wangi melati.

​"Kabutnya warna janda, Li Wei! Sepertinya ada yang mau hajatan," ujar Satya sambil menutup hidungnya dengan ujung baju. Namun, ia menyadari gerakannya mulai sedikit melambat. Sendi-sendinya terasa berat, seolah-olah darahnya berubah menjadi lumpur.

​Sreeet! Sreeet!

​Dua bilah angin tak kasat mata meluncur dari arah kabut, membelah batang bambu di samping Satya hingga hancur berkeping-keping. Satya berguling di tanah dengan gerakan yang masih lincah, meski sedikit terhuyung.

​"Kera sakti tidak suka musik yang merusak telinga!" teriak Satya. Ia menghantamkan Toya Emasnya ke tanah, menggunakan getaran senjatanya untuk memecah konsentrasi suara yang menyerangnya.

​Namun, dari balik kabut ungu, sebuah tawa feminin yang dingin terdengar. "Sayang sekali, Monyet Kecil. Di panggung ini, kau tidak akan bisa menari lebih lama lagi."

​Sesosok wanita berbaju merah—Mei Lian—muncul perlahan dari balik kabut, mengayunkan kipas bajanya dengan gemulai. Di belakangnya, samar-samar terlihat bayangan raksasa Iron Khan yang sedang memutar-mutar bola besi besarnya, menciptakan suara angin yang menderu seperti badai yang akan datang.

​Satya menyeringai, meski peluh dingin mulai bercucuran di pelipisnya akibat racun spora yang mulai bekerja. "Li Wei, sepertinya bapao tadi memang harus dibayar mahal. Kau urus si pemusik buta itu, biar si cantik dan si raksasa ini aku ajak main petak umpet."

1
anggita
wah ada anggota Wali Songo juga😊.
anggita
oke lah👌👍
anggita
ikut dukung like👍iklan👆👆, buat author novel fantasi timur lokal. semoga lancar sukses novelnya.
anggita
nama teknik jurusnya unik😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!