"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pintu kamar berderit pelan. Laura melangkah keluar dengan raut bimbang, menghampiri Mona yang masih berdiri dengan napas memburu di ruang tengah.
"Mah... pagi-pagi sekali sudah di sini?" tanya Laura lirih.
Mona mendengus, matanya berkilat menatap arah kamar Karin. "Mama ke sini demi kamu, Laura. Tapi perempuan itu benar-benar keras kepala. Dia tetap bersikeras mengusir kamu dari rumah ini!"
Bahu Laura merosot. "Jadi... Mama gagal membujuknya?"
"Sudahlah, kepalaku mau pecah. Cepat ke dapur, masak sesuatu. Mama lapar," titah Mona sembari mengibaskan tangan, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Di dapur, aroma bawang yang ditumis mulai memenuhi ruangan. Saat Laura sedang menata piring, sebuah suara dingin menusuk dari arah belakang.
"Wah, matahari terbit dari barat ya? Tiba-tiba rajin di dapur, biasanya kan cuma tahu makan," sindir Karin yang bersandar di pintu dapur dengan tangan terlipat di dada.
Laura tersentak, hampir menjatuhkan sendok yang dipegangnya. "Apa maksudmu, Karin? Jangan buat masalah ada Mama Mona di depan."
Karin terkekeh sinis, matanya menatap tajam apron yang dikenakan Laura. "Oh, aku tahu. Lagi cari muka, ya? Silakan dilanjutkan aktingnya."
Laura hanya menarik napas panjang dan membuang muka. "Terserah kamu saja."
Meja makan pagi itu terasa sangat menyesakkan. Suara denting sendok dan piring yang beradu terdengar lebih keras dari biasanya.
"Laura, masakanmu memang tidak pernah mengecewakan. Pagi-pagi sudah siap semua," puji Mona sengaja mengeraskan suaranya, matanya melirik sinis ke arah Karin. "Tidak seperti orang yang baru bangun siang tapi merasa paling berkuasa di rumah ini."
Karin meletakkan sendoknya dengan perlahan, lalu menatap Mona lurus-lurus. "Maksud Anda apa?"
"Gak ada maksud apa-apa. Saya hanya bicara fakta," jawab Mona santai sembari mengunyah. Namun, detik berikutnya, ia menaruh garpunya dan menatap Dirga dengan serius.
"Dirga, Laura sudah hamil darah dagingmu. Jadi, kapan kau akan meresmikan hubungan ini?"
Uhuk! Dirga tersedak, wajahnya memerah seketika. Ia buru-buru meraih gelas air putih. "E-eh... itu, bisa kita bicarakan nanti, Mah."
"Nanti kapan?" suara Mona meninggi. "Mama tidak mau tahu, hari ini kamu harus nikahi Laura. Mama sudah hubungi penghulu, mereka akan datang sebentar lagi."
Dirga ternganga, ia menatap Karin dengan tatapan penuh kepanikan. "Tapi... aku butuh persetujuan Karin, Mah."
Karin mengusap sudut bibirnya dengan tisu, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Mas, kalau mau nikah, ya nikah saja. Aku sama sekali tidak keberatan. Justru itu bagus, akan mempercepat proses perceraian kita nanti."
Gelas yang dipegang Dirga hampir terlepas. "Tapi Rin, aku tidak mau cerai!"
"Cukup, Dirga!" Mona menggebrak meja. "Karin sudah memberi izin. Jadi, tunggu apalagi kamu itu harus jadi laki-laki yang punya tanggung jawab!"
"Benar, Mas," timpal Laura sambil mengusap perutnya yang masih rata, matanya berkaca-kaca. "Kamu tidak bisa lari dari tanggung jawab. Apa kata orang kalau aku melahirkan tanpa suami di sampingku?"
Karin hanya memijat pelipisnya yang berdenyut. Drama picisan ini terjadi tepat di hadapannya, di meja makannya sendiri, dan membuat nafsu makan Karin tidak berselera.
"Sudah cukup kalian berdebat," suara Karin memotong udara,. "Lebih baik selesaikan sarapan kalian, lalu pergilah ke penghulu. Resmikan hubungan itu, supaya rumahku tidak kalian jadikan tempat zina lagi."
Tanpa menoleh lagi, Karin bangkit. Langkah kakinya yang tegas bergema di lorong rumah, meninggalkan tiga orang yang terpaku dalam keheningan yang menyesakkan.
Setelah suasana sedikit mencair, Laura menyentuh lengan Dirga. "Ayo, Mas. Pak Penghulu sudah menunggu. Ini demi anak kita."
Dirga menghela napas panjang, bahunya merosot seolah beban dunia menimpa dirinya. "Baiklah. Ayo."
Di sebuah ruangan yang telah disiapkan Mona, suasana tampak kaku. Beberapa tetangga yang dibayar Mona duduk sebagai saksi dengan wajah datar. Pak Penghulu memperbaiki letak kacamatanya, menatap Dirga yang tampak pucat.
"Saudara Dirga, apakah sudah siap?"
"Siap, Pak," jawab Dirga, meski suaranya sedikit tercekat di tenggorokan.
"Bismillahirrahmannirahim..." Kalimat sakral itu meluncur. "Saya nikahkan dan saya kawinkan saudari Laura binti Bagas dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Laura binti Bagas dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" Dirga mengucapkannya dalam satu napas lantang, seolah ingin segera mengakhiri kegelisahannya.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah..."
Namun, doa syukur itu belum sempat menguap di udara ketika raungan sirine polisi memecah kesunyian. Beberapa petugas berseragam masuk dengan langkah tegap, membuat suasana yang baru saja tenang berubah menjadi kepanikan.
"Selamat siang. Maaf mengganggu waktu nya sebentar," ucap seorang polisi.
Dirga berdiri dengan wajah bingung. "Ada apa ini, Pak? Kenapa polisi datang ke acara pernikahan kami?"
"Kami mencari Saudari Mona. Apakah beliau ada di sini?"
Mona melangkah maju dengan dagu terangkat, meski matanya menyiratkan kecemasan. "Saya Mona. Ada apa pak polisi mencari saya? Saya tidak melakukan kesalahan apa pun!"
"Ibu Mona," polisi itu membuka map di tangannya, "Anda diduga melakukan pembunuhan berencana dua puluh lima tahun yang lalu terhadap Saudari Sinta.
Mohon ikut kami sekarang juga."
Wajah Mona seketika pucat pasi, seperti mayat. "Apa?! Itu fitnah! Siapa yang berani mengarang cerita palsu seperti itu?!"
"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi. Borgol dia," perintah sang komandan.
"Tunggu! Siapa yang sudah melaporkan saya?!" teriak Mona histeris saat tangannya dipaksa masuk ke dalam logam dingin yang mengunci.
"Aku yang melaporkannya, Mona."
Suara itu datang dari ambang pintu. Karin melangkah masuk, didampingi oleh Pak Sanjaya. Wajah Pak Sanjaya tampak mengeras, menyimpan kemarahan yang tertahan selama puluhan tahun.
"Karin? Kamu... kamu tega memfitnahku " Mona mencoba meratap, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Pah, tolong aku! Karin sudah gila, dia memfitnah ku!"
Pak Sanjaya menepis tangan Mona dengan jijik. "Cukup, Mona! Aku sudah melihat semua bukti yang disimpan Karin. Selama dua puluh lima tahun aku tidur dengan seorang pembunuh. Sekarang, bayarlah nyawa Sinta dengan sisa hidupmu di penjara."
"Bawa dia sekarang," ujar Karin dingin, matanya tak berkedip melihat Mona diseret paksa keluar ruangan.
Laura bersimpuh di kaki Karin, air matanya tumpah. "Karin, aku mohon... lepaskan Mama Mona. Jangan seperti ini!"
Karin menarik kakinya, menatap Laura seolah melihat debu. "Sudah terlambat. Oh, hampir lupa... selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga langgeng, dan semoga kalian dijauhkan dari pelakor. walaupun itu terdengar mustahil bagimu."
Dirga menatap Karin dengan tatapan kosong. "Rin... kamu benar-benar tidak cemburu aku menikahi Laura?"
Karin tertawa jijik,tawa yang terdengar sangat puas. "Cemburu? Tentu saja tidak. Dan satu hal lagi, Mas... setelah ini, silakan angkat kaki dari rumahku. Semua barangmu sudah dikemas rapi di depan gerbang. Jangan tinggalkan satu helai benang pun."
"Kamu tega mengusir kami dalam keadaan seperti ini?" suara Dirga bergetar.
"Kamu tega mengkhianati ku, Mas. Aku hanya membalasnya dengan sedikit lebih 'tega'. Selamat menikmati hidup baru kalian... di jalanan."
Karin berbalik, melangkah pergi dengan kepala tegak. Ia menghirup udara siang itu dengan lega. Dendam lamanya tuntas, dan sampah-sampah dalam hidupnya baru saja dibersihkan.
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak