NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 2: MALAIKAT DI PERPUSTAKAAN

Istirahat pertama. Semua anak keluar kelas berebut ke kantin. Suara berisik, ketawa-ketawa, becanda jorok, ada yang teriak-teriak nggak jelas.

Dyon? Dia nggak kemana-mana. Diem di bangku. Dengkul masih perih. Pipi kanan masih panas—bekas tamparan Arman kayak masih nempel di kulit. Dia ngeraba pelan. Bengkak dikit kayaknya.

Perut keroncongan lagi. Tapi ya mau gimana—uang udah diambil. Nggak ada sepeser pun. Rencana beli nasi bungkus batal. Hari ini puasa. Puasa dipaksa. Bukan karena ibadah, tapi karena... ya karena hidup emang kejam.

Dia lihat ke luar jendela. Langit cerah. Matahari terik. Anak-anak pada jajan di kantin—beli bakso, es teh manis, gorengan anget. Baunya sampe ke kelas. Nusuk perut.

Allah... kenapa hidup gue kayak gini terus?

Dia pernah nanya gitu ke diri sendiri. Berkali-kali. Tiap sholat Subuh di gubuk—kalau sempet sholat. Kadang ketiduran abis kerja. Kadang kepagian sampe nggak denger adzan. Tapi kalau sempet, dia sholat. Di sajadah tipis warisan ibu yang udah kusam, ada lubang kecil di pojok.

Pernah nanya: kenapa gue? Kenapa orang tua gue diambil? Kenapa gue yang harus hidup kayak gini?

Nggak pernah ada jawaban.

Atau mungkin jawabannya emang... ini. Ujian. Kata ustadz di masjid dulu waktu pengajian. "Ujian buat orang-orang yang kuat. Allah sayang sama kalian."

Tapi... kalau Allah sayang, kenapa rasanya sakit terus?

Dyon geleng kepala. Jangan mikir gitu. Dosa. Nanti makin susah.

Dia bangun. Kaki pegel. Jalan pelan keluar kelas. Koridor sepi—semua orang di kantin atau lapangan. Cuma dia yang jalan sendirian, suara sandal jepit nyaring nyenggol lantai keramik.

Perpustakaan.

Tempat paling aman. Arman jarang ke sana—preman macam dia mana doyan baca. Edward juga nggak. Mereka maunya di lapangan basket, pamer skill, pamer sepatu mahal, pamer segalanya.

Perpustakaan sepi. Dingin. AC nyala—meski Dyon nggak pernah ngerasain AC di rumah, tapi di sini dia bisa numpang sejuk sebentar. Rak buku tinggi-tinggi, bau kertas lama campur kayu. Ada meja panjang di tengah, kursi-kursi kayu yang bunyi kalau diduduki.

Penjaga perpustakaan—Pak Ridwan—lagi baca koran di meja depan. Nggak peduli siapa yang masuk. Dyon suka gitu. Nggak diganggu.

Dia jalan ke pojok paling belakang, tempat favorit. Ada jendela kecil yang ngadep ke taman belakang sekolah. Sinar matahari masuk tipis-tipis, bikin lantai keliatan berbintik-bintik cahaya. Dia duduk di kursi kayu—bunyi kriyet pelan—terus nunduk, jidat nempel di meja.

Dingin mejanya.

Napasnya pelan. Mata merem.

Sebentar aja. Sebentar aja istirahat.

Bunyi langkah kaki. Pelan. Lembut. Kayak orang lagi hati-hati jalan.

Dyon buka mata dikit. Samar-samar. Ada siluet. Jilbab putih. Rok seragam rapi.

Ismi.

Jantung Dyon langsung... deg.

Dia cepet-cepet angkat kepala, duduk bener. Ngelap muka pakai tangan—takut ada bekas air liur atau apalah.

Ismi berdiri di ujung rak buku, pegang satu buku tebal. Matanya... lagi liatin Dyon.

"Eh, maaf," kata Ismi pelan. Suaranya halus. Kayak angin sepoi-sepoi—kata-kata ibu dulu kalau ngaji Yasin, suaranya kayak gitu. "Aku... aku ganggu nggak?"

Dyon ngeh dia harus jawab. "Nggak, nggak kok. Aku cuma... cuma istirahat doang."

Ismi senyum tipis. Terus dia jalan mendekat—pelan, kayak takut Dyon kabur. Dia duduk di kursi sebelah. Jarak dua kursi. Buku diletakin di meja.

Wangi.

Wangi... apa ya? Kayak bunga. Tapi nggak menor. Lembut. Bikin Dyon sadar kalau dia... bau keringetan, bau sabun cuci motor, bau tanah.

Dia geser dikit. Takut wangi dia ganggu Ismi.

"Kamu... tadi pagi, itu..." Ismi mulai ngomong, tapi berhenti. Kayak cari kata yang tepat. Jari-jarinya main-main sama ujung jilbab. "Kamu... nggak apa-apa?"

Nggak apa-apa?

Pertanyaan paling susah dijawab sejagat raya.

"Iya, aku nggak apa-apa," jawab Dyon cepet. Bohong. Tapi ya emang harus bohong kan? Masa iya bilang "nggak, aku sakit, pipi gue perih, dengkul gue lecet, perut gue laper, hidup gue hancur"?

Ismi diem sebentar. Tatapannya... dalam. Kayak dia tau Dyon bohong.

"Aku... aku lihat tadi. Di gerbang," kata Ismi pelan. Matanya nunduk. "Mereka... mereka jahat banget."

Dyon kaget. Dia lihat? Berarti dia tau. Tau Dyon disujudin kayak binatang. Tau Dyon dihina. Tau semuanya.

Malu.

Malu banget.

"Udah biasa sih," Dyon nyoba ketawa—tapi keluar cuma napas kecil. "Aku udah terbiasa."

"Terbiasa?" Ismi nengok cepet. Matanya... marah? Sedih? Bingung? Campuran kayaknya. "Gimana bisa terbiasa sama hal kayak gitu? Itu... itu nggak manusiawi!"

Dyon nggak tau harus jawab apa. Dia cuma liatin bukunya Ismi. Judul: "Fisika untuk SMA Kelas XI". Tebal banget. Kayak nggak ada habisnya.

"Kenapa kamu nggak lapor ke guru? Atau... atau ke kepala sekolah?" tanya Ismi lagi.

Dyon senyum pahit. "Lapor? Terus? Mereka bakal bilang 'aduh masa iya Arman gitu? Dia kan anak baik-baik, bapaknya donatur sekolah, nggak mungkin'. Terus gue yang disalahin. Atau... atau mereka pura-pura peduli, panggil Arman, kasih peringatan. Abis itu? Arman makin marah. Gue makin dihajar."

Ismi terdiam. Tangannya ngepal di atas meja. Kuku-kukunya pendek, bersih. Ada cincin kecil di jari manis—perak, ada ukiran kaligrafi kecil.

"Itu... itu nggak adil," bisiknya.

"Hidup emang nggak adil," jawab Dyon. Dia nggak tau kenapa jadi jujur gini. Mungkin karena Ismi... beda. Dia nggak ketawa. Dia nggak pergi. Dia di sini. Dengerin.

Hening sebentar. Cuma suara AC yang mendengung pelan, sama Pak Ridwan yang batuk-batuk kecil di depan.

Ismi tiba-tiba berdiri. Dyon kaget—dikira dia mau pergi. Tapi bukan. Ismi jalan ke rak buku, ambil satu buku lagi—tipis, sampul cokelat. Balik ke kursi.

"Ini," kata Ismi, nyodorin buku ke Dyon. "Pinjam. Aku rasa... kamu bakal suka."

Dyon terima. Buku judulnya: "Kumpulan Kisah Sahabat Nabi".

Dia lihat Ismi. Ismi senyum kecil.

"Di dalamnya ada kisah... Bilal bin Rabah. Kamu tau dia?"

Dyon angguk pelan. "Muadzin pertama. Budak yang... yang disiksa."

"Iya," Ismi angguk. Matanya berbinar. "Dia disiksa habis-habisan. Ditindih batu besar di tengah padang pasir yang panas. Disuruh murtad. Tapi dia... dia tetep bilang 'Ahad, Ahad'. Satu. Allah itu Satu. Dia nggak nyerah."

Dyon megang buku itu erat. Tangannya gemetar dikit.

"Aku... aku nggak sekuat dia."

"Siapa bilang?" Ismi nunduk dikit, biar matanya sejajar sama Dyon. "Kamu masih di sini. Masih sekolah. Masih bertahan. Itu... itu kuat banget."

Air mata mau keluar. Dyon gigit bibir bawah—keras. Jangan nangis. Jangan nangis di depan dia.

"Kenapa kamu... kenapa kamu baik sama aku?" tanya Dyon, suaranya serak. "Orang lain... mereka semua liat aku kayak sampah. Kenapa kamu nggak?"

Ismi diem sebentar. Napasnya pelan. Terus dia senyum—senyum paling tulus yang pernah Dyon liat dalam hidup dia.

"Karena Rasulullah bilang... yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal," kata Ismi lembut. "Dan aku lihat kamu... kamu baik, Dyon. Meskipun dunia jahat sama kamu, kamu masih... masih bertahan dengan cara yang benar."

Dyon nggak bisa nahan. Air mata jatuh. Satu. Dua. Dia cepet-cepet lap pakai punggung tangan.

"Maaf... maaf aku nangis."

"Nggak apa-apa," Ismi bisik. "Nangis itu... wajar. Kamu manusia."

Bel berbunyi. Istirahat selesai.

Ismi berdiri. Ambil buku Fisikanya. "Aku harus balik ke kelas. Kamu... kamu juga ya."

Dyon angguk. Ikutan berdiri.

"Eh, Ismi," panggil Dyon sebelum Ismi pergi.

Ismi nengok.

"Makasih."

Ismi senyum lagi. "Sama-sama, Dyon."

Dia pergi. Jalan pelan. Wangi parfumnya masih tertinggal—lembut, kayak bunga mawar abis hujan.

Dyon berdiri sendirian di perpustakaan. Pegang buku cokelat itu erat-erat.

Jantungnya... berdegup kencang. Nggak kayak biasa. Bukan karena takut. Bukan karena sakit.

Tapi karena...

Hangat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dyon merasakan kehangatan. Bukan dari matahari. Bukan dari selimut. Tapi dari... seseorang.

Dari Ismi.

Dia nggak tau ini perasaan apa. Tapi rasanya... enak. Kayak ada yang ngasih semangat di dada. Kayak ada yang bilang "kamu nggak sendirian".

Dia keluar perpustakaan. Jalan balik ke kelas. Koridor ramai lagi—anak-anak pada balik dari kantin. Tapi Dyon nggak peduli.

Dia pegang buku itu. Terus senyum sendiri—kecil, tapi nyata.

*Aku tidak tahu kalau malaikat itu nyata.*

Dia masuk kelas. Duduk di bangku paling belakang yang udah dicoret-coret.

*Sampai aku bertemu dengannya di tempat paling sepi di sekolah ini.*

Buku cokelat itu dibuka. Halaman pertama. Tulisan tangan Ismi di pojok—kecil, rapi: "Milik Ismi Nur Anisah. Kelas XI-2."

Dyon usap tulisan itu pelan.

Jantungnya masih berdegup.

Hangat.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Tapi malaikat punya sayap untuk terbang kembali ke langit. Dan aku? Aku cuma punya kaki telanjang di tanah yang keras. Bisakah aku meraihnya—atau ini cuma mimpi yang akan menghancurkan aku lebih dalam lagi?*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!