NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Suasana di kediaman Kyai Mansyur terasa begitu mencekam. Laila, yang biasanya dikenal sebagai gadis yang tenang dan anggun, kini tampak kehilangan akal sehatnya.

Ia bersimpuh di kaki ayahnya dengan air mata yang membasahi lantai.

"Abi, Laila tidak bisa hidup tanpa Mas Yudiz. Hanya dia yang ada di doa Laila selama ini," isak Laila dengan bahu yang berguncang hebat.

Kyai Mansyur menghela napas berat, "Tapi dia sudah punya istri, Nak. Itu melukai harga diri kita jika kamu memaksa masuk ke rumah tangga orang."

"Kalau Abi tidak mau merayu Kyai Abdullah, aku mati saja! Aku tidak sanggup melihat dia bersama wanita sirkuit itu!" teriak Laila nekat.

Melihat putrinya yang sudah seperti orang kehilangan arah, hati Kyai Mansyur akhirnya luluh. Sebagai seorang ayah, ia tidak sanggup melihat putrinya menderita. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk berangkat menuju kediaman Kyai Abdullah, membawa Laila di sampingnya.

Kyai Abdullah terkejut dengan kedatangan sahabat lamanya dalam kondisi yang tidak biasa. Setelah mendengar maksud kedatangan Kyai Mansyur yang intinya meminta agar pernikahan Yudiz dan Laila dipertimbangkan demi nyawa putrinya Kyai Abdullah merasa terjepit.

Beliau tidak bisa memutuskan sepihak. Dengan tangan gemetar, beliau mengambil ponsel dan menghubungi Yudiz.

Yudiz baru saja selesai membantu Rani mengenakan pakaian yang nyaman setelah mandi pagi yang penuh canda. Tiba-tiba ponselnya bergetar.

"Assalamualaikum, Abi?"

"Waalaikumsalam, Yudiz. Segeralah ke pondok sekarang. Bawa Rani bersamamu. Ada Kyai Mansyur dan Laila di sini. Ada hal penting yang harus kita bicarakan bersama," suara Kyai Abdullah terdengar sangat serius.

Yudiz melirik Rani yang sedang duduk di tepi ranjang sambil berusaha merapikan rambutnya dengan tangan kiri. Ada firasat tidak enak yang menyelinap di hati Yudiz.

"Ada apa, Abi? Kenapa suaranya tegang begitu?" tanya Rani penasaran.

Yudiz menghela napas panjang, ia mendekati Rani dan mencium keningnya.

"Abi minta kita ke pondok sekarang. Laila dan ayahnya ada di sana. Sepertinya mereka belum menyerah, Sayang."

Rani yang tadinya tampak manja, seketika tatapan matanya berubah tajam. Ingatan tentang penghinaan Nyai Salmah kemarin kembali melintas.

"Oh, jadi mereka mau main keroyokan?" gumam Rani sambil berdiri dengan tegak.

"Ayo, Abi. Kita temui mereka. Aku ingin mereka tahu kalau 'pencari sumbangan' ini sudah punya pemilik tetap."

Yudiz tersenyum bangga melihat keberanian istrinya. Meskipun fisik Rani belum pulih benar, semangat "Ratu Sirkuit"-nya tidak biss dipadamkan.

Yudiz dan Rani melangkah masuk ke ruang tamu utama.

Suasana seketika mencekam saat tatapan semua orang tertuju pada mereka, terutama pada Rani yang lengannya masih terbalut gips.

Kyai Abdullah berdeham, wajahnya tampak sangat tertekan.

"Mansyur, anakku sudah ada di sini. Silakan tanyakan langsung pada Yudiz agar semuanya jelas."

Kyai Mansyur menghela nafas panjang sebelum bertanya kepada Yudiz.

"Yudiz, apakah kamu mau menikah dengan putriku Laila?"

Yudiz menggenggam tangan Rani dengan erat, memberikan kekuatan.

Ia menarik napas panjang, suaranya terdengar berat namun tegas.

"Maafkan aku, Kyai Mansyur. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada jenengan dan keluarga, saya tidak bisa memenuhi permintaan itu. Saya tidak mau menikah dengan Laila. Hati saya sudah milik Rani, dan selamanya akan begitu."

Mendengar penolakan mentah-mentah itu, Laila seolah kehilangan akal sehatnya.

Dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia meraih pisau buah yang ada di atas meja dan mengarahkannya ke lehernya sendiri.

"Laila! Jangan!" teriak Kyai Mansyur histeris.

"Laila, taruh pisau itu! Jangan bodoh!" Rani berteriak, mencoba melangkah maju meski tubuhnya masih lemah.

Mata Laila tampak kosong dan basah. "Jika aku tidak bisa memilikimu, Mas, lebih baik aku mati di sini! Biar semua orang tahu kalau aku mati karena penolakanmu!"

Ujung pisau itu menekan kulit leher Laila hingga setetes darah segar mulai mengalir turun. Semua orang di ruangan itu menahan napas. Nyai Salmah hampir pingsan, sementara Kyai Abdullah mematung.

Rani menatap darah itu dengan gemetar. Pikirannya berkecamuk.

Ia mencintai Yudiz, sangat mencintainya, tapi ia juga tidak sanggup jika harus melihat nyawa melayang atau melihat martabat pondok pesantren mertuanya hancur karena skandal bunuh diri seorang putri Kyai.

Rani menoleh, menatap wajah Yudiz yang tampak tegang dan penuh amarah.

"Abi..." panggil Rani lirih. Suaranya bergetar, namun ada ketegasan yang menyakitkan di sana.

"Menikahlah dengan Laila."

Yudiz tersentak, ia menoleh cepat ke arah istrinya.

"Rani! Apa yang kamu katakan?!"

"Aku tidak mau nama pondok ini tercemar, Abi. Aku tidak mau Abi dan Kyai Abdullah menanggung malu seumur hidup kalau terjadi apa-apa di sini," ucap Rani dengan air mata yang mulai menggenang. "Lakukan, Abi. Demi kebaikan semuanya."

"Tapi Rani—"

Rani menatap dalam-dalam ke mata suaminya, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatannya ke sana.

"Aku ikhlas, asal Abi tetap adil."

Laila menurunkan sedikit pisaunya, matanya berbinar penuh kemenangan di balik air mata, sementara Yudiz merasa dunianya baru saja runtuh mendengar kerelaan istrinya.

"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Rani. Memang sudah seharusnya kamu tahu diri dan memikirkan nama baik keluarga ini," ucap Nyai Salmah dengan nada lega yang terdengar sangat kontras dengan situasi yang baru saja terjadi.

Ia segera merangkul Laila yang masih gemetar, lalu membimbingnya masuk ke dalam kamar untuk menenangkan diri.

Kyai Abdullah menghela napas panjang, pundaknya yang biasanya tegak kini tampak layu karena beban situasi.

Beliau memandang Yudiz dengan tatapan penuh rasa bersalah namun tak berdaya.

"Baiklah, karena Rani sudah memberi izin, kita tidak bisa membiarkan nyawa melayang sia-sia. Sekarang juga, kamu dan Laila akan menikah di rumah ini. Sederhana saja, yang penting sah secara agama," putus Kyai Abdullah dengan suara rendah.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Yudiz. Ia masih menggenggam tangan Rani, namun ia merasa genggaman itu perlahan melonggar.

Rani memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya sesak, jauh lebih sesak daripada saat ia baru siuman dari koma.

Baru saja mereka berbagi kehangatan, baru tadi pagi mereka merencanakan masa depan, namun kini realita menghantamnya tanpa ampun.

Ia tidak bisa melihat pria yang baru saja memberikan seluruh cintanya, kini harus mengucapkan ijab Qabul untuk wanita lain.

"Abi..." Rani memanggil dengan suara serak, hampir tidak terdengar.

Yudiz menoleh, matanya merah menahan amarah dan duka.

"Rani, jangan minta aku melakukan ini..."

"Aku ke kamar dulu, Abi. Aku tidak bisa di sini," bisik Rani tanpa membuka matanya.

Ia takut jika ia melihat wajah Yudiz, ia akan berubah pikiran dan berteriak membatalkan semuanya.

Dengan langkah gontai dan tangan yang masih terbalut gips, Rani membalikkan badan.

Ia berjalan perlahan menjauhi ruang tamu, meninggalkan Yudiz yang mematung di tengah ruangan sementara para saksi mulai bersiap untuk prosesi pernikahan itu.

Setiap langkah Rani terasa seperti duri yang menusuk jantungnya.

Di balik pintu kamar yang tertutup, ia akhirnya luruh di balik pintu, mendekap dirinya sendiri dan menangis tanpa suara agar isakannya tidak mengganggu suara akad nikah yang akan segera menggema di rumah itu.

Penghulu sudah duduk di depan Yudiz. Kyai Mansyur bertindak langsung sebagai wali hakim dengan wajah yang kini tampak lebih tenang, sementara Laila duduk di belakang mereka dengan senyum tipis yang sulit diartikan sebuah kemenangan yang ia beli dengan ancaman nyawa.

Yudiz duduk dengan punggung kaku. Pandangannya kosong, pikirannya masih tertinggal di balik pintu kamar tempat Rani bersembunyi.

Tangannya yang dingin menjabat tangan Kyai Mansyur.

"Saudara Yudiz bin Abdullah, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Laila Mansyur, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas sepuluh gram dibayar tunai," ucap Kyai Mansyur dengan nada mantap.

Yudiz sempat terdiam beberapa detik. Tenggorokannya terasa tersumbat, namun saat ia melirik ke arah ayahnya, Kyai Abdullah, yang menatapnya dengan penuh permohonan, Yudiz akhirnya bersuara.

"Saya terima nikah dan kawinnya Laila Mansyur binti Mansyur dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Sah?"

"Sah!" jawab para saksi serempak.

Suara "Alhamdulillah" menggema di ruang tamu itu. Laila langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang berseri-seri. Namun bagi Yudiz, kata "Sah" itu terdengar seperti vonis yang membelah hatinya menjadi dua.

Di dalam kamar, Rani yang menyandarkan kepalanya di balik pintu mendengar dengan jelas kalimat ijab qobul itu.

Ia meremas kain gamisnya kuat-kuat dengan tangan kirinya.

Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi gips di tangan kanannya yang masih terasa nyeri.

"Selamat, Abi..." bisik Rani lirih di sela isakannya yang tertahan.

"Sekarang kamu bukan cuma milikku lagi."

Sesaat kemudian, pintu kamar diketuk pelan. Itu bukan suara Yudiz, melainkan suara Nyai Salmah yang terdengar mendesak.

"Rani, keluar dulu. Sebagai istri pertama, kamu harus memberikan selamat dan mencium tangan madumu sebagai tanda kerukunan di keluarga ini."

1
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!