"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Naina mulai merasakan perubahan pada Ryan. Ia merasa bahwa jerih payahnya membuahkan hasil. Tak sia-sia Naina mengabdikan dirinya pada Ryan. Buktinya suaminya kini lebih perhatian dan perlahan mereka menjadi satu kembali meski terasa ada jurang pemisah yang sangat jelas.
Tak mengapa, bagi Naina asal Ryan tak membuangnya dan ia masih di butuhkan oleh suaminya. Tak mengapa jika masih ada sedikit kecanggungan.
"Mau mandi pakai air hangat atau makan dulu, Pak?" Ucap Naina menyambut kepulangan Ryan.
"Aku lapar, siapkan makanan."
Naina buru-buru memanaskan makanan yang ia masak tadi. Ryan menunggu dengan sabar. Ia sedikit melonggarkan dasinya dan menatap kagum pada Naina. Hati Ryan sejatinya mulai terkikis. Pertahanannya sedikit retak. Cintanya untuk Maeta memang bertahan, tapi mungkin saja hilang dengan kegigihan Naina.
Naina dengan telaten menyiapkan kebutuhan Ryan. Mulai dari mengambil nasi serta melayani segala hal remeh untuk suaminya. Ryan benar-benar di perlakukan layaknya Raja oleh Naina.
"Ada hal lain, Pak?" Tanya Naina yang sedari tadi duduk menemani Ryan.
"Cukup,"
Ryan melihat gerak-gerik Naina yang resah, seperti ada sesuatu yang ingin ia ucapkan namun bingung untuk mengungkapnya.
"Ada apa? Coba katakan, siapa tahu aku bisa bantu." Tanya Ryan santai masih menikmati suapan demi suapan.
"Kelihatan banget, ya?"
"Ehmm..."
"Pak, aku boleh beli ponsel gak? Soalnya aku bingung kalo mau ㅡ"
"Nanti aku carikan satu untuk mu." Ryan langsung memotong ucapan Naina tanpa menatap wajah Naina.
"Terimakasih, Pak."
Selesai makan Ryan pergi ke ruang kerjanya. Ia mencari sesuatu dalam lemari kecil meja kerjanya. Disana ada beberapa bangkai ponsel yang tak terpakai. Ryan selalu mengoleksi handphone setiap keluaran terbaru dan menyimpannya bila sudah tak terpakai.
Ryan memilih ponsel yang menurutnya aman. Sebuah smartphone model terbaru pada 3 tahun yang lalu. Ryan merasa ponsel inilah satu-satunya ponsel yang tak ada foto kenangan bersama Maeta.
"Ini ponsel untuk mu. Ini bekas pemakaian ku." Ryan meletakan ponsel itu di meja.
Naina berlari menuju sofa. Ia melihat ponsel itu penuh bangga, Naina tersenyum dan dengan refleks memeluk Ryan.
"Makasih banyak Pak."
"Sama-sama." Tanpa di sadari Ryan mengelus rambut panjang Naina.
Rasanya nyaman dan hangat. Hal yang belum pernah Ryan rasakan bila bersama lawan jenis mana pun. Apa mungkin Ryan sudah mulai jatuh hati pada Naina?
"Aku mau mandi dulu." Ryan buru-buru melepaskan pelukan Naina.
"Ah, iya. Makasih ya Pak." Sekali lagi Naina mengucapkan rasa terimakasihnya pada Ryan.
Naina mulai mengoperasikan ponsel yang Ryan berikan. Sedikit kaku karena baru kali ini Naina menggunakan ponsel mewah. Biasanya Naina menggunakan Smartphone murahan yang gampang di akses.
"Aku harus belajar lagi." Naina mulai meraba-raba ponsel pintar itu.
"Besok aku beli kartu buat pasang aplikasi lainnya." Ungkap Naina dan ia pun tertidur nyenyak.
...****************...
Terhitung waktu sudah hampir dua tahun Naina bersama Ryan. Sejauh ini tidak ada hal aneh yang membuat hati Naina sakit. Selama ini Ryan menjalankan kewajibannya layaknya suami yang bertanggung jawab.
Meski Ryan sering tidur di luar dengan alasan lembur atau ada kerjaan di luar kota. Namun ia selalu memberi kabar meski hanya beberapa menit melalui panggilan video. Ryan hanya ingin melepas rindu pada si kecil Nayla.
Kini Nayla menginjak usia 3 tahun lebih 4 bulan. Dari segi artikulasi Nayla sudah lancar berbicara meski ia kesulitan mengucapkan beberapa huruf. Tapi untuk keseluruhan ucapan Nayla dapat di mengerti.
Ryan selalu tersenyum bila telah bertukar kabar dengan anaknya. Seolah dunianya kembali berwarna. Nayla sanggup memberikan kebahagiaan yang belum pernah Ryan dapatkan dari manusia manapun. Mungkinkah ini yang dinamakan cinta ayah pada anaknya.
"Dadah Ayah, cepat pulang, ya." Seru Nayla dalam panggilan video.
"Iya, sayang. Lusa ayah pulang."
Panggilan pun berakhir. Ryan tersenyum seraya membaringkan tubuhnya. Hatinya lega. Namun entah kenapa di lain sisi, di sudut hati yang paling jauh, ada rasa ngilu yang tak bisa ia jelaskan.
Matanya menatap langit-langit hotel, dimana ia tinggal sekarang. Ryan tengah melakukan perjalanan bisnis keluar kota.
Saat Ryan bertanya-tanya tenang rasa yang mengganjal, ponselnya kembali berdering, sebuah nama yang telah lama tak memberi kabar.
"Maeta?" Gumam Ryan dan mengangkat panggilan internasional tersebut.
"Yan, bagaimana kabarmu?" Tanya Maeta basa basi.
"Baik, kamu bagaimana?"
"Baik."
Lama mereka saling berdiam dan hanya menikmati wajah masing-masing. Sampai akhirnya Maeta memberikan kabar yang begitu mengejutkan membuat Ryan kebingungan.
"Bulan depan aku ada cuti 3 bulan. Aku akan pulang ke tanah air."
Bukan wajah senang yang Ryan tunjukan tapi wajah kecewa seperti orang tertangkap basah dengan berselingkuh.
"Yan, Ryan? Are you okay?" Tanya Maeta memastikan.
"Oh,,, iya. Gimana?"
"Kamu kenapa sih?"
"Tadi aku gak fokus karena Dani datang ngasih kabar buruk tentang perusahaan. Gimana?" Ryan mencoba ngeles sebisanya.
"Masa sih? Atau jangan-jangan kamu berselingkuh?"
Pertanyaan Maeta sukses membuat Ryan tersedak tanpa memakan apapun.
"Gak masalah, aku pulang nanti kamu akhiri hubungan mu itu."
Maeta mematikan ponselnya membuat Ryan semakin kalang kabut. Mengakhiri hubungan? Itu artinya Ryan harus merelakan Nayla yang menjadi penyemangat hidupnya. Jika pun Nayla tinggal bersama dirinya apakah Nayla bisa hidup tenang di keluarga yang mungkin tak bisa menerima kehadirannya.
Namun jika di biarkan bersama Naina, apakah Ryan bisa bertemu dengan Nayla sesekali untuk mengobati rindunya. Apakah Nayla tidak akan membencinya? Ryan kini di hadapi pilihan yang begitu berat.
Ryan buru-buru meminta bantuan temannya terkait perceraian yang menguntungkan antara dirinya dengan Nayla.
Panggilan pun tak terhubung, temannya tak mengangkat panggilan Ryan. Ryan semakin geram dan tak karuan. Maeta mengetahui dirinya berselingkuh. Tapi kenapa respon Maeta seolah biasa saja.
Apa Maeta diam-diam mencari tahu gerak geriknya? Apa Maeta juga tahu tenang Nayla? Ryan semakin gusar karena nyawa Nayla bisa jadi ancaman. Karena jelas keluarga Swandari tidak akan bisa menerima anak yang bukan keturunannya.
Pikiran Ryan semakin kacau. Bagaimana pun ia kejam pada Naina, tapi ia tidak akan tega melukai Nayla. Apalagi Sampai orang lain yang menyakiti Nayla.
"Yan, ini berkas ㅡ" Dani masuk ke dalam kamar Ryan.
"Lu kenapa lagi?" Tanya Dani begitu ia menyadari temannya tengah gundah gulana.
"Maeta mau pulang."
"Bagus dong."
Ryan menatap Dani kesal.
"Oke, jadi apa masalahnya?"
Ryan terdiam, ia mengacak-acak wajahnya gusar. Seolah percuma saja berkata pada Dani, tak akan bisa menyelesaikan masalahnya.
"Gini saja, Yan. Saran dari gue. Lu harus memilih satu dari semua pilihan. Karena hidup hanya bisa memilih satu dari sekian banyak pilihan untuk lu bisa hidup damai."
Ryan menatap Dani tak mengerti.
"Gini singkatnya. Lu milih Maeta, berarti lu harus siap kehilangan Naina dan juga Nayla. Tapi jika lu milih Nayla, lu tidak akan kehilangan apapun, kecuali Maeta. Keluarga lu mungkin akan kecewa atas keputusan lu, tapi itu hanya sesaat."
Dani menghentikan ucapannya, ia menepuk pundak Ryan seolah memberikan semangat.
"Saran gue, lepasin Maeta. Lu bisa tetap hidup bahagia bersama anak dan istri lu."
"Saran lu gila." Bentak Ryan tak bisa berpikir jernih.
"Gue sudah hampir 10 tahun menunggu Maeta masa hanya karena orang ketiga gue harus melepaskan itu semua."
"Lu pikir baik-baik, saat ini yang jadi orang ketiga siapa? Maeta atau Naina?" Tanya Dani menyadarkan Ryan.
"Jika Naina lu anggap pihak ketiga, lu salah besar. Naina tak tahu apapun. Lu yang narik dia untuk masuk ke kehidupan lu yang aneh. Lu bangun rumah tangga bersama Naina dan melahirkan buah hati. Tapi lu mendewikan wanita yang gak jelas mencintai lu atau tidak. Jadi siapa pihak ketiganya? Atau jangan-jangan lu yang jadi pihak penghambat mereka semua."
Dani berlalu pergi meninggalkan sahabatnya yang tengah dilanda dilema. Sahabatnya yang tergila-gila akan cinta pertamanya. Cinta yang mematahkan logika, cinta yang bisa menghancurkan semuanya.