Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Status Di KTP
Bab 6
Status Di KTP
Waktu yang biasanya di tempuh selama 7 jam perjalanan, hanya dalam waktu 6 jam di lalui Dika demi cepat sampai dan bertemu sang pujaan hatinya.
"Mas..." Panggil Lyra dengan hangat begitu membuka pintu.
Dika berdiri dengan senyum bahagianya. Tangannya terbentang lebar, bersiap menyambut Lyra masuk ke dalam dekapannya.
"Kamu baik-baik saja kan? Nggak ada masalah selama aku tinggalkan kan?"
"Iya Mas. Aku baik-baik saja, nggak ada apa-apa yang terjadi. Sini tas kerjanya."
Lyra mengambil tas kerja Dika. Hanya tas itu yang selalu di bawa Dika setiap kali pulang dan datang lagi ke rumah dinasnya. Ia tidak perlu membawa pakaian karena mau di rumah atau di rumah dinas, semua sudah di urus dengan baik oleh Novia dan Lyra.
Ya, Dika berselingkuh dari istrinya. Baik Novia maupun Lyra, tidak ada yang tahu karena Dika pandai menutupinya.
Meski telah menempuh perjalanan jauh, tenaga Dika tidak ada habisnya jika sudah bertemu Lyra. Kekasih gelapnya itu benar-benar candu baginya sehingga Dika bisa melakukan dua ronde berturut-turut padahal besok ia sudah harus berkerja.
-
-
-
"Sarapan dulu Mas. Ini kopinya, sama roti kukusnya."
Lyra menyiapkan sarapan untuk Dika sebelum lelaki itu berangkat bekerja.
"Uang buat belanja masih cukup?" Tanya Dika.
"Masih sih Mas."
"Kok ada 'sih' nya. Nggak apa-apa sayang kalau kamu minta lagi. Toh buat aku makan juga." Ucap Dika sambil mencari dompetnya di semua saku celananya. "Tolong ambilkan dompet Mas, sepertinya tadi di atas meja di dalam kamar."
"Iya Mas."
Lyra masuk beranjak dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar mencari dompet Dika. Dompet itu benar-benar terletak di atas meja sehingga Lyra pun segera mengambilnya.
"Loh, malah jatuh!"
Tanpa sengaja Lyra menjatuhkan dompet Dika sehingga beberapa kartu di dompet itu keluar dari tempatnya. Juga KTP Dika yang sebelumnya terselip disana.
Lyra perlahan memasukan kembali satu persatu kartu-kartu itu. Lalu saat ingin memasukan kembali KTP Dika, ia iseng ingin membaca data identitas kekasihnya itu.
Lyra tersenyum saat mengetahui tanggal kelahiran Dika. Namun senyumnya itu segera memudar setelah ia melihat kolom status di KTP Dika yang tertera 'Kawin' disana.
Deg, jantung Lyra seakan berhenti berdetak sejenak. Tak hanya jantungnya, langkahnya pun seolah ikut membeku
"Sayang...! Kok lama? Buruan, Mas mau berangkat kerja nih." Suara Dika setengah berteriak terdengar di luar kamar.
Lyra tersadar, dan dengan tergesa-gesa segera masukan KTP Dika di dalam dompet. Lalu bergegas menemui Dika dan memberikannya kepada lelaki itu.
"Ini Mas."
"Kok lama?"
"Aku ke kamar mandi dulu tadi." Bohong Lyra.
Baru kali ini ia berbohong kepada Dika untuk menutupi apa yang ia lihat barusan.
"Ini, pakai buat tambahan belanja. Nanti kalau sudah gajian, aku beri lagi."
Dika memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Lyra. Lyra pun menerimanya dengan mencoba tersenyum seperti biasanya.
Lyra ingin sekali menanyakan status Dika yang tertera di KTP. Namun niatnya itu ia urungkan mengingat Dika sudah mau berangkat bekerja.
Sebaiknya, aku tanyakan nanti saja. Batin Lyra yang mulai merasa tidak nyaman.
Lyra tidak sebodoh itu tidak mengetahui arti tulisan status kawin di sebuah KTP. Karena ia sendiri sudah pernah memiliki status seperti itu di KTP nya waktu dulu.
"Mas berangkat dulu."
"Iya Mas, hati-hati."
Dika mencium pucuk kepala Lyra di depan pintu. Adegan itu tak luput dari pandangan tetangganya yang tidak berada jauh dan kebetulan sedang menjemur baju.
Lyra sudah hampir di bilang kebal dengan cemoohan tetangga baik itu dulu maupun sekarang. Lyra yang sedang menikmati masa kebahagiaannya bersama Dika menutup telinga rapat-rapat dari mulut tetangga yang sering berbicara buruk tentangnya.
"Cih! Suami orang kok bangga!" Celetuk si tetangga yang sedang menjemur baju tapi tidak dapat di dengar oleh Lyra.
Lyra masuk ke dalam dan menutup pintu rapat-rapat. Lyra jarang ke luar rumah untuk menghindari omongan para tetangga. Bahkan berbelanja pun ia lakukan bersama Dika dan itu pun ke toko yang sedikit jauh dari lingkungan tempat tinggalnya.
Lyra tahu tetangganya pasti membicarakannya yang tinggal serumah dengan Dika. Apalagi para tetangga sudah tahu dengan statusnya yang seorang janda.
Sebenarnya Lyra sendiri pun malu dengan hubungannya bersama Dika yang terlalu bebas. Karena itu Lyra meminta Dika untuk segera menikahinya dan Dika pun berjanji akan menikahinya tahun ini. Tahun ini tinggal 4 bulan lagi berakhir. Tak ada pembahasan lebih lanjut dari Dika untuk hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius dalam ikatan sakral.
Lyra duduk di kursi meja makan. Memandangi gelas kopi Dika yang isinya hampir habis, juga sisa potongan roti yang tidak habis di makan. Lyra teringat status di KTP Dika, kembali pikirannya menjadi gelisah dan tidak tenang.
"Apa selama ini aku sudah di bohongi? Apakah Mas Dika sebenarnya sudah menikah?" Gumam Lyra pada angin.
Dika yang melarang Lyra menghubunginya lebih dulu ketika dirinya pulang ke kota menjadi tanda tanya Lyra dalam mengaitkan hubungan antara larangan Dika dengan status di KTP lelaki itu. Apalagi Dika sering diam-diam keluar mengangkat telepon seseorang, seperti menutupi sesuatu darinya.
Lyra mencoba berpikir dengan keras, sikap apa saja yang ganjil selama ini yang selalu dia abaikan karena percaya sepenuhnya kepada Dika.
Semakin dipikirkan kepala Lyra semakin pusing. Hatinya seakan-akan menolak untuk menerima isi pikirannya yang mengaitkan beberapa prilaku Dika yang mengarah ke sebuah argumen 'kalau lelaki itu sudah mempunyai istri'.
Lyra beranjak bangun. Lalu membereskan gelas kopi juga sisa roti di atas meja. Bahkan gelas kopinya pun ia buang isinya ke wastafel, dan meletakkan gelas kotor begitu saja di sana.
Lyra kehilangan semangatnya, dan memutuskan merebahkan diri di kamarnya.
-
-
-
Dika mengerutkan dahinya karena Lyra tidak bisa di hubungi. Beberapa kali ia melakukan panggilan, panggilan itu hanya berdering tapi tidak diangkat oleh Lyra.
Dika menjadi khawatir, karena tidak biasanya Lyra seperti ini. Pikiran buruk melintas di kepala Dika, berpikir telah terjadi sesuatu kepada Lyra.
Dika yang sangat mencintai Lyra itu pun gelisah dan tidak tenang dalam bekerja. Ia pun memutuskan untuk ijin pulang lebih cepat dari biasanya.
"Ada apa ya? Lyra, ayolah... Angkat teleponnya sayang..."
Dika mencoba menelpon Lyra sambil mengendarai mobilnya dengan sangat laju. Ia tak peduli beberapa orang mengumpat dirinya karena membawa mobil secara ugal-ugalan.
Tiba di halaman rumah pintu masih terkunci. Biasanya Lyra akan segera membuka pintu rumah begitu mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah.
Dika segera turun. Ia mencoba membuka pintu tapi pintu itu terkunci dari dalam.
"Tok... Tok... Tok...!"
"Lyra...! Lyra...! Buka pintunya."
"Tok... Tok... Tok...!"
"Lyra...!
Ketukan Dika yang cukup keras mengundang rasa ingin tahu tetangga yang mendengar dari dalam rumah mereka. Beberapa tetangga mengintip, tapi Dika tidak peduli sampai Lyra membukakan pintu untuknya.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra