SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Runtuhnya Langit Klan Yan
Suara gemericik darah yang mendidih di dalam kolam ritual paviliun belakang menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan yang mencekam, seolah-olah waktu itu sendiri telah berhenti berputar. Cahaya merah yang berpendar dari kelopak Teratai Darah menyinari wajah Yan Feng, memberikan bayangan yang panjang dan mengerikan, mengubah penampilannya menjadi sosok iblis yang baru saja merangkak keluar dari kedalaman neraka. Di hadapannya, Lin Xiao berdiri dengan ketenangan yang tidak manusiawi. Setiap embusan napasnya membawa aura dingin yang sanggup memadamkan api ritual yang berkobar di sekeliling ruangan, menciptakan kontras antara panasnya ambisi Yan Feng dan dinginnya dendam Lin Xiao.
"Lin Xiao, kau benar-benar berpikir bahwa kau adalah keajaiban dunia?" Yan Feng tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang pecah dan kering. Suaranya bergema di dinding-dinding paviliun yang megah, membawa tekanan spiritual dari Tahap Pembentukan Inti yang begitu berat hingga membuat balok-balok kayu di atap bangunan itu berderit dan retak. "Aku telah mengorbankan ribuan koin emas, menyuap puluhan pejabat, dan menghisap ratusan nyawa budak demi memurnikan teratai ini. Dan hari ini, takdir rupanya mengirimkanmu sebagai tumbal terakhir yang paling sempurna untuk menyempurnakan kekuatanku!"
Yan Feng tidak menunggu jawaban. Dengan kemarahan yang meluap, ia menghentakkan tangannya yang dialiri energi biru ke lantai marmer. Seketika, air darah di dalam kolam ritual melonjak ke atas, mematuhi perintahnya. Cairan kental itu membeku di udara, membentuk belasan tombak cair yang tajam dan berkilauan merah.
Dengan satu lambaian tangan yang penuh kebencian, tombak-tombak itu melesat ke arah Lin Xiao dengan kecepatan yang mampu membelah suara, meninggalkan jejak bau besi yang menyengat di udara.
Lin Xiao bahkan tidak berkedip saat melihat maut menuju ke arahnya. Ia mencabut pedang pendek Nightshade dari sarungnya dengan gerakan yang begitu halus hingga hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. 'Teknik Nirwana: Tabir Bayangan!' gumamnya rendah. Bilah pedang hitamnya segera memancarkan kabut hitam pekat yang dingin, yang langsung menyelimuti tubuhnya seperti perisai kegelapan. Tombak-tombak darah itu menghantam kabut tersebut dengan dentuman keras, namun alih-alih menembusnya atau pecah, mereka justru terserap dan lenyap seketika, seolah-olah ditelan oleh lubang hitam yang tak berdasar.
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" Yan Feng terbelalak, matanya yang merah menunjukkan rasa tidak percaya yang amat sangat. Ia segera berdiri dari posisi meditasinya, aura birunya meledak keluar dengan kekuatan penuh, menghancurkan lantai di bawah kakinya. "Jangan sombong, bocah! Rasakan ini! Seni Rahasia Yan: Telapak Air Biru Penghancur!"
Yan Feng melesat maju seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Telapak tangannya memancarkan cahaya biru yang sangat terang dan menyilaukan, membawa beban tekanan yang seolah-olah seperti seluruh air di samudra sedang jatuh menimpa satu titik. Serangan ini adalah teknik terlarang Klan Yan yang telah digunakan untuk menghapus banyak klan saingan di masa lalu.
Lin Xiao tidak menghindar. Ia justru mengambil satu langkah maju, menyambut serangan itu dengan tangan kirinya yang terkepal erat. Ia memusatkan seluruh Energi Nirwana Hitam, mencampurkannya dengan ingatan tentang pengkhianatan Long Tian yang membara di jiwanya. Saat kedua telapak tangan mereka berbenturan di tengah udara, sebuah gelombang kejut yang dahsyat meledak keluar.
BOOOOOMM!
Ledakan itu begitu kuat hingga menghancurkan seluruh pilar penyangga paviliun. Atap bangunan yang megah itu runtuh seketika, mengirimkan puing-puing batu dan kayu yang terbakar ke segala arah. Debu tebal menyelimuti area pertarungan, namun di tengah kekacauan itu, dua sosok masih berdiri tegak.
Yan Feng terdorong mundur hingga sepuluh langkah jauhnya, kakinya meninggalkan seretan dalam di tanah. Tangannya gemetar hebat, dan ia terkejut melihat kulit telapak tangannya mulai menghitam dan melepuh akibat korosi dari energi hitam Lin Xiao yang mencoba merambat masuk ke dalam nadinya. Di sisi lain, Lin Xiao hanya mundur tiga langkah kecil untuk menyeimbangkan posisinya. Wajahnya tetap datar, seolah-olah serangan terkuat Yan Feng hanyalah hembusan angin sepoi-sepoi baginya.
"Mustahil... Kau hanya berada di puncak Tahap Pembersihan Sumsum! Secara logika, kau seharusnya hancur menjadi debu!" Yan Feng berteriak frustrasi, suaranya mulai serak. Ia bisa merasakan energi asing itu mulai menyerang Inti Jiwanya, mencoba menghancurkan fondasi kultivasinya dari dalam. "Siapa kau sebenarnya?! Energi macam apa yang kau gunakan?!"
"Tingkat kultivasi hanyalah angka bagi mereka yang tidak memahami hakikat penderitaan," ucap Lin Xiao dengan suara yang begitu tenang namun mengandung otoritas yang mutlak. "Kau menggunakan darah orang lain untuk memperkuat dirimu secara curang, sementara aku menempa kekuatanku di dalam api neraka penderitaan yang tidak akan pernah bisa kau pahami seumur hidupmu. Hari ini, aku bukan hanya datang untuk bungamu, tapi untuk mengakhiri garis keturunanmu yang busuk."
Lin Xiao perlahan mengangkat pedang Nightshade ke arah langit malam. Langit di atas kediaman Yan yang tadinya bertabur bintang, tiba-tiba tertutup oleh pusaran awan hitam yang berputar kencang. Petir berwarna ungu gelap sesekali menyambar di antara awan tersebut, menciptakan pemandangan yang apokaliptik.
'Teknik Pamungkas Mawar Hitam: Pemakaman Seribu Kelopak!'
Lin Xiao tiba-tiba menghilang dari pandangan Yan Feng, meninggalkan jejak bayangan hitam yang pudar. Di sekeliling Yan Feng, udara mulai bergetar. Ribuan kelopak mawar hitam yang terbuat dari energi murni yang sangat tajam mulai bermunculan entah dari mana, berputar-putar seperti badai tornado yang mengurung pria itu di tengahnya. Setiap kelopak mawar itu bukan sekadar ilusi; mereka adalah belati energi yang mampu memotong baja sekalipun dengan satu sentuhan ringan.
"TIDAAAK! HENTIKAN! AKU AKAN MEMBERIMU APA PUN!"
Yan Feng menjerit dalam ketakutan yang murni. Ia mencoba menciptakan perisai air setebal mungkin di sekelilingnya, namun kelopak mawar hitam itu bergerak dengan kecerdasan sendiri, mengiris dan menembus pertahanannya seolah-olah air itu tidak ada harganya.
Sret! Sret! Sret!
Suara sayatan daging yang mengerikan terdengar berkali-kali di tengah badai energi tersebut. Yan Feng menjerit histeris saat tubuhnya dicincang secara sistematis dan perlahan. Lin Xiao ingin dia merasakan setiap inci rasa sakit yang pernah dirasakan oleh tubuh asli Lin Xiao di bawah penindasan orang-orang seperti dia. Dalam beberapa detik yang terasa seperti selamanya, badai itu mereda, menyisakan puing-puing yang sunyi.
Yan Feng kini berlutut dengan tubuh yang hampir hancur, darah mengalir dari ratusan luka sayatan di tubuhnya. Ia menatap Lin Xiao dengan mata yang kini tidak lagi memiliki kemarahan, hanya ada penyesalan dan ketakutan yang mendalam.
Lin Xiao mendarat dengan anggun tepat di depan Teratai Darah yang masih berdiri kokoh di tengah reruntuhan. Ia mengulurkan tangannya yang putih pucat dan memetik bunga tersebut dengan gerakan lembut. Ajaibnya, saat bunga itu menyentuh telapak tangan Lin Xiao, cahayanya yang merah darah perlahan berubah menjadi ungu pekat yang agung, seolah-olah bunga itu telah mengenali penguasa aslinya yang telah lama dinanti.
"Terima kasih atas dedikasimu selama bertahun-tahun untuk memurnikan bunga ini untukku, Yan Feng," ucap Lin Xiao sambil menatap pria yang kini sedang menarik napas terakhirnya.
"Darahmu adalah pupuk terakhir yang cukup baik untuk mawar ini."
"Kau... kau akan diburu oleh Kekaisaran..." rintih Yan Feng dengan suara yang hampir tak terdengar, sebelum akhirnya kepalanya terkulai dan ia tewas dalam posisi berlutut yang memalukan.
Melihat pemimpin mereka yang dianggap tak terkalahkan telah tewas dengan cara yang mengenaskan, para pengawal Klan Yan yang tersisa di luar paviliun segera membuang senjata mereka. Mereka lari tunggang langgang ke segala arah, tidak lagi peduli pada kehormatan klan.
Mereka tahu bahwa mulai malam ini, sejarah panjang Klan Yan di Kota Cahaya Bulan telah dihapus selamanya oleh seorang gadis misterius dengan mawar hitam di wajahnya.
Lin Xiao menatap ke arah ufuk timur di mana langit mulai memerah akibat fajar yang akan segera menyingsing. Di kejauhan, dengan indranya yang tajam, ia bisa merasakan beberapa aura yang sangat kuat sedang bergerak cepat menuju kota—kemungkinan besar mereka adalah utusan dari sekte-sekte besar atau mata-mata kekaisaran yang tertarik oleh ledakan energi luar biasa malam ini.
Ia tidak boleh berlama-lama di tempat ini. Dengan Teratai Darah di tangannya, ia kini memiliki kunci untuk melakukan transformasi fisik dan spiritual yang sesungguhnya. Ia akan menghapus cacat di wajahnya dan membuka pintu menuju Tahap Pembentukan Inti yang sejati.
Lin Xiao melangkah pergi melewati tumpukan mayat dan puing-puing kediaman Yan tanpa menoleh kembali satu kali pun. Di gerbang kota yang sunyi, ia menemukan Kepala Paviliun Gu dan Yun'er yang sudah menunggunya dengan kecemasan yang terpancar jelas di wajah mereka.
"Kakak!" Yun'er berteriak kegirangan dan langsung berlari memeluk kaki Lin Xiao. Ia melihat bahwa kakaknya tidak terluka sedikit pun, dan matanya berbinar melihat bunga ungu yang begitu indah dan bercahaya di tangan kakaknya.
"Kita harus segera pergi dari sini," ucap Lin Xiao pada Gu dengan nada yang serius. "Keributan ini akan menarik perhatian anjing-anjing kekaisaran. Kita akan menuju Pegunungan Utara yang tertutup salju abadi. Di sana, di dalam gua-gua kuno, aku akan menggunakan teratai ini untuk membangun kembali fondasiku."
Kepala Paviliun Gu mengangguk mantap, matanya penuh dengan rasa hormat yang mendalam. "Ke mana pun Anda melangkah, Nona muda, saya dan sisa-sisa Paviliun Obat akan selalu menjadi bayangan yang mendukung langkah Anda."
Saat matahari pagi terbit sepenuhnya, menyinari Kota Cahaya Bulan yang kini berduka, Lin Xiao dan pengikutnya telah menghilang ke dalam hutan lebat. Di belakang mereka, sebuah klan besar telah runtuh, dan sebuah legenda baru tentang "Dewi Mawar Hitam" lahir, menyebar melalui bisikan-bisikan ketakutan hingga ke telinga para pengkhianat di Ibu Kota Kekaisaran.
Dendam ini baru saja dimulai, dan kali ini, dunia tidak akan siap menghadapinya.