NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Batas Ketahanan

​Malam setelah Arvino hampir menciumku, aku tidak bisa tidur. Bukan karena nyctophobia atau pusing, tetapi karena kelelahan mental yang akut. Aku menghabiskan waktu hingga subuh untuk menganalisis pernikahanku, seperti menganalisis kasus medis yang gagal.

​Kesimpulannya tunggal: prognosisnya buruk.

​Aku selamat dari serangan fisik, tapi serangan mental Arvino jauh lebih mematikan. Dia tidak bisa menceraikanku karena takut kehilangan Lili. Tetapi dia tidak bisa membiarkanku hidup nyaman karena kesetiaannya pada Sarah. Aku terjebak di antara dua bayangan: Lili yang hidup dan Sarah yang mati.

​Aku menyentuh lenganku, tempat Arvino mencengkeramku dalam amarahnya. Tidak ada bekas lebam yang terlihat, tapi sentuhan itu meninggalkan memori rasa sakit yang membuatku sadar: aku tidak bisa lagi menoleransi lingkungan yang beracun ini.

​Keesokan harinya, aku mengambil langkah yang paling sulit dalam hidupku.

​Di rumah sakit, saat jam istirahat, aku menelepon Ardo.

​"Do, aku butuh bantuanmu," kataku, suaraku stabil namun dingin.

​"Bantuan apa, Lun? Kak Vino membuat masalah lagi?" tanya Ardo.

​"Aku butuh rekomendasi pengacara perceraian yang andal. Yang bisa menjamin kerahasiaan absolut," jelasku.

​Hening di ujung telepon. Ardo terkejut. "Perceraian? Kau serius, Lun? Bagaimana dengan Lili?"

​"Itu risiko yang harus kuambil. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, Do. Aku mencintai Lili, tapi aku tidak bisa membiarkan diriku mati perlahan-lahan di dalam rumah itu," aku menarik napas dalam. "Aku ingin cerai. Aku akan mengakhiri kontrak ini."

​Ardo adalah satu-satunya yang melihat penderitaanku tanpa filter. Dia akhirnya mengangguk di ujung telepon. "Aku akan membantumu. Aku kenal pengacara yang sangat baik. Tapi kau tahu, jika kau yang mengajukan gugatan, hak asuh Lili akan sangat sulit kau dapatkan, apalagi karena kau adalah ibu tirinya—"

​"Aku tahu. Aku akan berjuang. Tapi jika aku harus memilih antara diriku yang hancur dan harapan kecil untuk bahagia, aku harus memilih diriku sendiri, Do. Aku harus meninggalkan neraka ini."

​Setelah mendapat kontak pengacara dari Ardo, aku menghabiskan dua hari berikutnya dengan mengumpulkan semua dokumen: surat nikah, akta kelahiran Lili, dan laporan medis dari Papa mengenai penyakit migrain dan kecemasanku (sebagai bukti tekanan mental).

​Aku mencetak draf surat gugatan cerai itu di kantor RS Merdeka, di mana aku yakin tidak ada mata-mata Arvino.

​Pada malam ketiga, saat Arvino pulang larut dan langsung tertidur di sofa ruang kerjanya karena kelelahan, aku kembali ke kamar Lili.

​Lili tidur pulas di boks bayinya. Wajahnya malaikat, tangannya memegang selimut kecil yang kuberikan. Aku berlutut di sampingnya, air mata mengalir deras.

​"Maafkan Mama, Sayang," bisikku, mengusap lembut rambutnya. "Mama tidak bisa menjadi wanita kuat jika Mama terus di sini. Mama harus pergi, Nak. Tapi Mama janji, Mama akan berjuang untuk membawamu. Aku tidak akan pernah melupakanmu, Lili."

​Aku menghabiskan satu jam di sana, mencium keningnya, mencium tangannya. Itu adalah salam perpisahan yang harus kusiapkan.

​Sekitar pukul sebelas malam, aku kembali ke kamar utama.

​Aku mengeluarkan surat gugatan cerai itu. Meja rias kayu yang dulunya milik Sarah, kini menjadi tempatku menandatangani kebebasanku.

​Aku mengambil pulpen. Tanganku gemetar. Bukan karena takut pada Arvino, tapi karena risiko kehilangan Lili.

​Tapi kemudian aku memejamkan mata, mengingat saat aku terguling di lantai karena migrain, saat Arvino memanggilku pembunuh, saat aku harus tidur di kegelapan karena ancamannya.

​Aku adalah Dokter Aluna Hardinata. Aku tidak layak diperlakukan seperti ini.

​Dengan tekad yang membara, aku membubuhkan tanda tanganku di atas kertas gugatan cerai. Tanda tangan itu terasa berat, seperti melepaskan separuh jiwaku.

​Aku melipat dokumen itu dengan rapi.

​Aku tahu aku tidak bisa memberikannya saat Arvino mabuk atau marah. Aku harus memberikannya saat dia sadar dan tenang.

​Aku meletakkan amplop itu di atas bantalnya di ranjang. Ini adalah ultimatum. Pilihan terakhirku.

​Aku berbaring di sofa (kini aku yang memilih sofa) dan menunggu pagi tiba. Aku akan menghadapinya besok pagi, sebelum ia sempat pergi ke kantor. Aku akan mengakhiri pernikahan yang menyakitkan ini, terlepas dari konsekuensinya.

...----------------...

​Pagi hari datang dengan cepat.

​Aku sudah bersiap-siap. Mengenakan pakaian kerja dan blazer terfavoritku. Aku harus tampil kuat.

​Arvino masuk ke kamar utama setelah selesai mandi di kamar mandi ruang kerjanya. Dia tampak segar, tetapi matanya menunjukkan kurang tidur. Dia berjalan ke ranjang, hendak mengambil kunci mobil.

​Matanya langsung tertuju pada amplop yang tergeletak di bantalnya.

​Arvino mengerutkan kening, mengambil amplop itu, dan membukanya.

​Aku berdiri di dekat jendela, menatapnya, membiarkan keheningan yang panjang merayap di antara kami.

​Arvino membaca judul dokumen itu: Surat Gugatan Perceraian.

​Wajahnya yang tadi tenang seketika berubah. Pucat. Matanya melebar, dipenuhi rasa terkejut, marah, dan ketidakpercayaan.

​Dia mengangkat matanya, menatapku.

​"Apa-apaan ini, Aluna?" desisnya, suaranya rendah dan berbahaya. Dia meremas kertas itu di tangannya.

​"Itu adalah kebebasanku, Kak. Dan kebebasanmu," jawabku tenang. "Aku sudah menandatanganinya. Aku ingin kita berpisah."

​"Kau gila!" raung Arvino. Dia melempar dokumen itu ke lantai. "Kau tidak bisa menceraikanku!"

​"Aku bisa, dan aku akan melakukannya. Aku sudah bicara dengan pengacara," balasku. "Aku tidak bisa lagi menjadi penjara bagi Kakak. Aku juga tidak mau lagi menjadi samsak emosional Kakak. Kontrak ini sudah selesai."

​"Dan Lili? Bagaimana dengan Lili?!" tantang Arvino, suaranya pecah. Dia tahu itu satu-satunya titik lemahku.

​"Aku akan berjuang untuk hak asuh penuh. Tapi jika Pengadilan memutuskan Kakak yang menang, aku akan menerimanya. Aku akan kembali ke Inggris, dan aku akan melanjutkan hidupku," kataku, air mataku mulai menggenang, tapi aku menahannya agar tidak jatuh. "Aku sudah membuat perpisahan dengan Lili. Aku sudah siap."

​Arvino hanya berdiri di sana, menatapku, tercengang. Dia menyadari, ancaman terbesar kini bukan datang dari Papa, melainkan dari wanita yang selama ini ia siksa. Wanita yang kini memilih untuk memprioritaskan dirinya sendiri di atas segalanya.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
shabiru Al
aluna yang malang tpi hebat mau bangkit dan ttp maju kedepan💪
shabiru Al
bodoh kalau aluna ttp bertahan demi lili
shabiru Al
ya kirain bakalan berubah fikiran aluna nya,, good aluna setidaknya tdk terlalu tercekik berada dlm atap yang sama
shabiru Al
aku kira aluna tdk akan berani memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri kebebasan nya sendiri,, good job aluna... 👍
Yulianti Yulianti
ini udah tamat sampai sini bukan kak
tanty rahayu: belum ka 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!