Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Batas Ketahanan
Malam setelah Arvino hampir menciumku, aku tidak bisa tidur. Bukan karena nyctophobia atau pusing, tetapi karena kelelahan mental yang akut. Aku menghabiskan waktu hingga subuh untuk menganalisis pernikahanku, seperti menganalisis kasus medis yang gagal.
Kesimpulannya tunggal: prognosisnya buruk.
Aku selamat dari serangan fisik, tapi serangan mental Arvino jauh lebih mematikan. Dia tidak bisa menceraikanku karena takut kehilangan Lili. Tetapi dia tidak bisa membiarkanku hidup nyaman karena kesetiaannya pada Sarah. Aku terjebak di antara dua bayangan: Lili yang hidup dan Sarah yang mati.
Aku menyentuh lenganku, tempat Arvino mencengkeramku dalam amarahnya. Tidak ada bekas lebam yang terlihat, tapi sentuhan itu meninggalkan memori rasa sakit yang membuatku sadar: aku tidak bisa lagi menoleransi lingkungan yang beracun ini.
Keesokan harinya, aku mengambil langkah yang paling sulit dalam hidupku.
Di rumah sakit, saat jam istirahat, aku menelepon Ardo.
"Do, aku butuh bantuanmu," kataku, suaraku stabil namun dingin.
"Bantuan apa, Lun? Kak Vino membuat masalah lagi?" tanya Ardo.
"Aku butuh rekomendasi pengacara perceraian yang andal. Yang bisa menjamin kerahasiaan absolut," jelasku.
Hening di ujung telepon. Ardo terkejut. "Perceraian? Kau serius, Lun? Bagaimana dengan Lili?"
"Itu risiko yang harus kuambil. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, Do. Aku mencintai Lili, tapi aku tidak bisa membiarkan diriku mati perlahan-lahan di dalam rumah itu," aku menarik napas dalam. "Aku ingin cerai. Aku akan mengakhiri kontrak ini."
Ardo adalah satu-satunya yang melihat penderitaanku tanpa filter. Dia akhirnya mengangguk di ujung telepon. "Aku akan membantumu. Aku kenal pengacara yang sangat baik. Tapi kau tahu, jika kau yang mengajukan gugatan, hak asuh Lili akan sangat sulit kau dapatkan, apalagi karena kau adalah ibu tirinya—"
"Aku tahu. Aku akan berjuang. Tapi jika aku harus memilih antara diriku yang hancur dan harapan kecil untuk bahagia, aku harus memilih diriku sendiri, Do. Aku harus meninggalkan neraka ini."
Setelah mendapat kontak pengacara dari Ardo, aku menghabiskan dua hari berikutnya dengan mengumpulkan semua dokumen: surat nikah, akta kelahiran Lili, dan laporan medis dari Papa mengenai penyakit migrain dan kecemasanku (sebagai bukti tekanan mental).
Aku mencetak draf surat gugatan cerai itu di kantor RS Merdeka, di mana aku yakin tidak ada mata-mata Arvino.
Pada malam ketiga, saat Arvino pulang larut dan langsung tertidur di sofa ruang kerjanya karena kelelahan, aku kembali ke kamar Lili.
Lili tidur pulas di boks bayinya. Wajahnya malaikat, tangannya memegang selimut kecil yang kuberikan. Aku berlutut di sampingnya, air mata mengalir deras.
"Maafkan Mama, Sayang," bisikku, mengusap lembut rambutnya. "Mama tidak bisa menjadi wanita kuat jika Mama terus di sini. Mama harus pergi, Nak. Tapi Mama janji, Mama akan berjuang untuk membawamu. Aku tidak akan pernah melupakanmu, Lili."
Aku menghabiskan satu jam di sana, mencium keningnya, mencium tangannya. Itu adalah salam perpisahan yang harus kusiapkan.
Sekitar pukul sebelas malam, aku kembali ke kamar utama.
Aku mengeluarkan surat gugatan cerai itu. Meja rias kayu yang dulunya milik Sarah, kini menjadi tempatku menandatangani kebebasanku.
Aku mengambil pulpen. Tanganku gemetar. Bukan karena takut pada Arvino, tapi karena risiko kehilangan Lili.
Tapi kemudian aku memejamkan mata, mengingat saat aku terguling di lantai karena migrain, saat Arvino memanggilku pembunuh, saat aku harus tidur di kegelapan karena ancamannya.
Aku adalah Dokter Aluna Hardinata. Aku tidak layak diperlakukan seperti ini.
Dengan tekad yang membara, aku membubuhkan tanda tanganku di atas kertas gugatan cerai. Tanda tangan itu terasa berat, seperti melepaskan separuh jiwaku.
Aku melipat dokumen itu dengan rapi.
Aku tahu aku tidak bisa memberikannya saat Arvino mabuk atau marah. Aku harus memberikannya saat dia sadar dan tenang.
Aku meletakkan amplop itu di atas bantalnya di ranjang. Ini adalah ultimatum. Pilihan terakhirku.
Aku berbaring di sofa (kini aku yang memilih sofa) dan menunggu pagi tiba. Aku akan menghadapinya besok pagi, sebelum ia sempat pergi ke kantor. Aku akan mengakhiri pernikahan yang menyakitkan ini, terlepas dari konsekuensinya.
...----------------...
Pagi hari datang dengan cepat.
Aku sudah bersiap-siap. Mengenakan pakaian kerja dan blazer terfavoritku. Aku harus tampil kuat.
Arvino masuk ke kamar utama setelah selesai mandi di kamar mandi ruang kerjanya. Dia tampak segar, tetapi matanya menunjukkan kurang tidur. Dia berjalan ke ranjang, hendak mengambil kunci mobil.
Matanya langsung tertuju pada amplop yang tergeletak di bantalnya.
Arvino mengerutkan kening, mengambil amplop itu, dan membukanya.
Aku berdiri di dekat jendela, menatapnya, membiarkan keheningan yang panjang merayap di antara kami.
Arvino membaca judul dokumen itu: Surat Gugatan Perceraian.
Wajahnya yang tadi tenang seketika berubah. Pucat. Matanya melebar, dipenuhi rasa terkejut, marah, dan ketidakpercayaan.
Dia mengangkat matanya, menatapku.
"Apa-apaan ini, Aluna?" desisnya, suaranya rendah dan berbahaya. Dia meremas kertas itu di tangannya.
"Itu adalah kebebasanku, Kak. Dan kebebasanmu," jawabku tenang. "Aku sudah menandatanganinya. Aku ingin kita berpisah."
"Kau gila!" raung Arvino. Dia melempar dokumen itu ke lantai. "Kau tidak bisa menceraikanku!"
"Aku bisa, dan aku akan melakukannya. Aku sudah bicara dengan pengacara," balasku. "Aku tidak bisa lagi menjadi penjara bagi Kakak. Aku juga tidak mau lagi menjadi samsak emosional Kakak. Kontrak ini sudah selesai."
"Dan Lili? Bagaimana dengan Lili?!" tantang Arvino, suaranya pecah. Dia tahu itu satu-satunya titik lemahku.
"Aku akan berjuang untuk hak asuh penuh. Tapi jika Pengadilan memutuskan Kakak yang menang, aku akan menerimanya. Aku akan kembali ke Inggris, dan aku akan melanjutkan hidupku," kataku, air mataku mulai menggenang, tapi aku menahannya agar tidak jatuh. "Aku sudah membuat perpisahan dengan Lili. Aku sudah siap."
Arvino hanya berdiri di sana, menatapku, tercengang. Dia menyadari, ancaman terbesar kini bukan datang dari Papa, melainkan dari wanita yang selama ini ia siksa. Wanita yang kini memilih untuk memprioritaskan dirinya sendiri di atas segalanya.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️