NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Enemy to Lovers / Psikopat itu cintaku / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Karena Mati Lampu

...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...

Aku duduk di balkon, menatap lampu-lampu kota. Aku cuma pakai celana pendek sama kaus, dan udara mulai dingin.

Sambil mengusap lengan, pikiran aku memutar peristiwa lima hari terakhir.

Pelan-pelan aku mulai terbiasa sama rutinitas baru ini. Aku memasak tiga kali sehari, bahkan saat Braun enggak ada di rumah.

Kalau sendirian, aku menonton siaran cctv, memanfaatkan setiap kesempatan buat melihat Papaku.

Dia enggak baik-baik saja. Dia belum bercukur, dan kebanyakan waktu cuma mengurung diri di kamar, menatap lantai.

Hatiku hancur melihat dia kayak begitu. Tapi di sisi lain, ada amarah dalam diriku, karena dia beli ginjal itu di pasar gelap, dan sekarang aku harus jadi tawanan bos mafia yang enggak waras.

Aku mengerti kenapa Papa melakukannya. Tapi tetap saja, aku merasa pilihan itu seharusnya jadi pilihanku, bukan dia.

Sulit menerima kenyataan kalau ada seorang pria mati gara-gara aku.

Kalau aku bisa balik ke masa lalu, aku bakal milih mati daripada operasi. Karena siksaan yang aku alami di penthouse ini, sama sekali bukan kehidupan. Ini bahkan lebih berat dibanding pertama kali aku harus melepas semuanya.

Bulu kudukku langsung berdiri, dan tubuhku menegang.

Sejak aku ada di sini, Braun belum pernah sekalipun masuk ke kamar aku. Tapi sekarang, aku merasa tatapannya ke arah aku. Jantungku berdebar kencang, dan aku menelan ludah. Rasa takut langsung mencekik tenggorokanku.

Sejak dua malam lalu dia tiba-tiba enggak bicara sepatah kata pun. Aku cuma melihat dia saat makan malam.

Setetes air hujan jatuh ke lututku. Aku menengadah ke langit. Kilat menyambar di kejauhan, disusul tetesan hujan lain yang jatuh tepat di dahiku.

Karena tahu aku enggak boleh sakit, dengan berat hati aku bangkit dan kembali ke kamar. Saat menutup pintu, aku masih bisa merasakan tatapan Braun menempel di punggungku.

Aku tarik napas dalam-dalam, lalu berbalik.

Dia bersandar di kusen pintu. Tangannya menyilang di dada.

Aku enggak berniat jadi orang pertama yang buka suara. Aku menirukan posisinya, bersandar ke dinding, tangan menyilang.

Keheningan itu bertahan beberapa menit sampai akhirnya dia bergumam, “Aku heran kok kamu enggak coba kabur?”

Aku angkat bahu. “Aku enggak mau ngambil risiko nyawa Papaku. Kamu udah jelasin dengan sangat jelas kamu bakal bunuh dia kalau aku macem-macem.”

“Jadi kamu cuma bakal tiduran dan nerima semuanya gitu aja?” tanyanya. “Aku kira—”

Nada suaranya kasih kesan seolah aku ini petarung, bukan orang yang gampang menyerah.

Ucapan itu membuat amarahku meledak. Aku dorong diriku dari dinding dan jalan ke arah kamar mandi, ingin menjauh sebelum dia bicara sesuatu yang bisa bikin Papa dan aku mati.

Belum sempat aku menyebrangi ranjang, Braun tarik lenganku dan menyeretku lebih dekat sampai bahuku menempel ke dadanya yang keras.

Nada suaranya rendah saat dia bertanya, “Kamu pikir kamu enggak bersalah atas kematian adikku?”

Aku memejam. Rasa bersalah menggumpal di dadaku.

Tanpa menengok ke dia, aku jawab, “Itu bukan pilihan aku.”

“Terus apa yang bakal kamu pilih?”

Aku tarik napas dalam-dalam. Hari-hari menjelang operasi berputar lagi di kepala aku.

Suara aku pelan. “Aku udah berdamai sama kematian. Aku enggak akan pernah nyetujuin operasi itu kalau aku tahu mereka bakal membunuh seseorang demi ginjal.”

Aku menoleh. Mataku bertemu matanya. Aku enggak tahu dari mana datangnya keberanian itu saat aku bilang, “Cuma ada satu pembunuh di ruangan ini. Dan itu bukan aku!”

Bibirnya melengkung jadi senyum berbahaya. Tawa kecil itu keluar dari mulutnya.

Dia lepaskan lenganku, lalu tangannya naik ke wajahku. Saat dia coba menyentuh daguku, aku langsung memalingkan kepala.

Alisnya naik. “Tiba-tiba kamu jadi berani, tikus kecilku.”

Kilat menyambar di luar jendela, menyorot ruangan selama beberapa detik. Aku lihat tatapan dingin dan kejam di mata Braun, dan aku teringat apa saja yang bisa dia lakukan.

Dia membunuh Dr. Nolan tanpa emosi sedikit pun.

“Mungkin … kamu enggak bersalah,” gumam Braun.

Sesaat aku ragu apa aku salah dengar. Lalu dia lanjut, “Aku sempat mikir buat bunuh kamu dan mengakhiri … situasi ini.”

Jantungku langsung berdebar kencang. Mataku naik lagi ke wajahnya.

“Tapi beberapa temanku dukung kamu buat tetap hidup.”

Farris?

Dia bilang beberapa teman, berarti lebih dari satu.

Benar, kan?

Kali ini, saat dia mengulurkan tangan ke wajahku lagi, tubuhku membeku.

Jari-jarinya menyentuh daguku, lalu meluncur ke sisi leher. Aku benci bagaimana sentuhannya membuatku merinding. Aku memaksa diri untuk mengabaikan sensasi aneh ini.

“Kamu udah enggak segitu takutnya lagi,” katanya.

"Emang kenapa?"

“Itu artinya kamu mulai terbiasa tinggal di sini. Sebentar lagi mungkin enggak bakal ngerasa kayak siksaan.”

"Tempat ini enggak bakal pernah jadi rumah aku!" ketusku.

Dia bilang, “Aku harus mikirin cara kreatif dapatin … sepotong daging.”

Keningku berkerut.

Aku sama sekali enggak mengerti maksudnya.

Tiba-tiba Braun melangkah pergi. Sedetik kemudian, dia menyalakan lampu. Berdiri di dekat pintu, matanya menyapu tubuhku, lalu dia tersenyum.

“Ya … aku mulai mikir Tully ada di jalur yang benar.”

Apa?

Tanpa menjelaskan apa pun, dia meninggalkan kamar, meninggalkan aku dalam keadaan bingung setengah mati.

Aku geleng-geleng kepala, mengingat lagi percakapan barusan sambil jalan ke lemari dan mengambil sweter.

Ini pertama kalinya Braun repot-repot menanyakan keadaan aku.

Dan aku merasakan itu.

Aneh banget.

Siapa Tully, dan apa sih yang menurut dia 'benar'?

Sambil jalan ke pintu, gigiku menggigit bibir. Enggak ada alasan buat aku keluar kamar. Kami udah makan malam.

Tapi Braun kelihatan lebih tenang. Lebih mau mengobrol. Mungkin aku bisa membujuk dia.

Saat keluar kamar, aku sempat melirik pintu, sebelum akhirnya melangkah ke tangga. Baru setengah jalan, suara petir pun menggelegar keras, dan seketika rumah menjadi gelap gulita.

Suara kecil keluar dari mulutku saat tubuhku gemetar ketakutan.

Sialan.

Enggak ada suara lain selain hujan.

Aku berhenti sebentar, menunggu mataku terbiasa sama kegelapan. Ada sensasi aneh merambat di tulang punggungku, membuatku refleks menengok ke belakang.

Begitu lihat siluet Braun, aku langsung bilang, “Aku di sini. Kali aja kamu enggak lihat aku.”

Suara dia rendah, membuat bulu kudukku berdiri. "Aku lihat kamu baik-baik aja, Tikus Kecil!"

Saat Braun mendekat, aku mundur selangkah dan hampir kehilangan keseimbangan karena enggak bisa lihat apa-apa. Lengannya langsung melingkari pinggangku, menahan aku di tempat. Sementara dia berdiri tepat di depanku.

Braun benar.

Aku mulai terbiasa sama hidup aku yang sekarang. Jantungku enggak lagi berdebar liar karena takut. Napasku memang jadi lebih cepat, tapi enggak sampai sesak napas.

Sebaliknya, aku justru sadar penuh sama kehadiran dia. Aroma parfum kayunya memenuhi udara yang aku hirup.

Aku mulai berpikir cowok ini pasti punya penglihatan malam seperti vampir, karena dengan mudah dia memegang daguku dan memiringkan kepalaku ke belakang.

Ada kilatan di matanya yang membuat dia kelihatan makin buas.

Dia mendekat, wajahnya tinggal beberapa senti dari wajahku, lalu bilang, "Aku enggak mau leher kamu patah di tangga."

Begitu kata-kata itu keluar, udara di sekitar kami terasa berubah.

Tegang.

Kepalanya mulai turun.

Aku tersentak.

Apa yang mau dia lakukan?

Enggak mungkin … dia enggak akan melakukan itu, kan?

Hembusan napasnya yang hangat menyentuh bibirku. Seluruh tubuhku merinding. Perutku terasa pusing, otakku mual, bingung mencari tahu reaksi apa yang seharusnya aku beri.

Lengannya yang melingkari aku makin mengencang. Tubuhnya makin menempel ke tubuhku.

Astaga.

Tiba-tiba lampu menyala.

Dan begitu aku lihat seberapa dekat wajah Braun dengan wajahku, jantungku langsung balapan.

Belum sampai sedetik, Braun langsung melepasku, turun dari tangga, dan jalan ke ruang tamu.

Aku masih berdiri di tengah tangga, terjebak di pikiranku sendiri. Tanganku refleks memegang perut yang masih pusing, dan aku tarik napas dalam-dalam.

Apa itu baru saja terjadi?

Apa dia hampir cium aku?

Tapi … kenapa?

Seharusnya aku takut kalau itu benaran terjadi.

Aku menengok ke arah ruang tamu dan lihat Braun sedang menuang wiski ke dalam gelasnya.

Mungkin Farris berhasil menasehati dia, dan dia jadi bersikap baik ke aku?

Jantungku mulai berdebar kencang, tapi kali ini karena alasan yang sama sekali berbeda.

Kalau aku bisa bikin Braun peduli sama aku, mungkin dia bakal menyelamatkan nyawa Papa.

Mungkin … dia bakal kasih aku kebebasan.

Dadaku naik turun, dan motivasi itu mulai tumbuh di kepalaku.

Aku menatap bos mafia itu, terlalu tampan untuk ukuran pria seberbahaya dirinya ... Apalagi waktu meneguk whisky sambil memandangi lampu-lampu kota di luar jendela.

1
safaana
ceritanya bagus,mudah di pahami,ringan dan ada tawanya yang pasti ada kebaikannya,,,,sukses selalu
DityaR 🌾: maaciii kak 🙏
total 1 replies
Rainn Ziella
✨ Terimakasih kak, karyanya bagus banget 🥹 rasanya campur aduk, kadang sedih, tegang, senang, lucu, romantis, kadang ngabisin tisu pas part sedihnya 😭

Disini, aku dapat banyak pelajaran hidup tentang kehilangan seseorang 💔 karena kesabaran dan keikhlasannya akhirnya mereka bahagia✨

Bakalan kangen banget sma Braun dan quin, semoga kedepannya masih bisa ketemu mereka thor 🫶🏼😭💙✨✨
DityaR 🌾: Maaci, kak🙏
total 1 replies
Rainn Ziella
Di undang ga yaa
Rainn Ziella
Geli nyaa 😭🗿
Rainn Ziella
Braun : aku suka nya kamu
Adellia❤
awalnya sih sedih ya karna tokoh utama hampir meninggal lalu di tengah" menegangkan karna tokoh utama pria yg seorang mavia beraksi tapi di ahir maniiss bangett karna cinta melimpah di mana"😍😍
DityaR 🌾: Maaci ,kak🙏
total 1 replies
Adellia❤
keluarga cemara😂😂
Adellia❤
sekali lagi selamat quinn🥰🥰
Adellia❤
yeeyyy akhirnya... selamat quinn🥰
Adellia❤
q cewek tapi lebih suka manggil Ra in kayak nama di drakor..
Adellia❤
definisi musibah membawa berkah😂😂
Adellia❤
serius ini gak di mutilasi??? itu biangnya loh😂😂
Rainn Ziella: Udah capek kak bang Braun pngn cepet balik 😭
total 1 replies
Adellia❤
ini pertama x nya pisah pasti berat mana lagi anget" nya lagi😂😂
Adellia❤
whaaattt ke 7 ???? gila sepagi ini😂😂😂
Adellia❤
Quin bener dy gak punya banyak pilihan jadi ya terima dengan ihlas enak kok🤣🤣
Rainn Ziella
Wkwkwk lucu bgt sii
Adellia❤: huum gak sabar nich..
total 5 replies
Rainn Ziella
Gasss quin 😭
Adellia❤
lagi dunk🙈🙈🙈
Rainn Ziella
Kebalik ihh 😭😹
Rainn Ziella
Astagaaaa tenangin diri kalian guys 🥵🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!