NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Uang Hilang

Tiga bulan kemudian.

Tiga bulan Lestari ngumpulin uang dengan susah payah. Ngirit belanja, nyimpen setiap sisa receh, bahkan kadang nggak makan siang biar bisa nyimpen lima ribu.

Sekarang—kaleng bekas susu yang ditanam di bawah kardus paling bawah di kamar gudang—isi nya tiga juta lima ratus ribu rupiah.

Tiga juta lima ratus ribu.

Uang yang dikumpulin selama tiga bulan. Seribu rupiah demi seribu rupiah. Dua ribu demi dua ribu. Kadang cuma lima ratus perak doang yang bisa disimpen sehari.

Tapi akhirnya terkumpul.

Cukup.

Cukup buat ongkos ke Jakarta—seratus ribu buat dua orang. Cukup buat sewa kamar Tante Sari bulan pertama—dua ratus ribu. Cukup buat bekal makan sampe dia dapet kerjaan—tiga juta lebih.

Lestari udah ngitung mateng-mateng. Udah nanya ke Bu Ratih. Udah siapin rencana.

Minggu depan—hari Rabu pagi—dia bakal kabur. Subuh-subuh, sebelum Dyon bangun, sebelum Wulandari bangun. Dia bakal bawa Antoni, bawa tas kecil isi baju seadanya, sama uang di kaleng itu.

Terus langsung jalan ke terminal. Naik bus jam enam pagi tujuan Jakarta.

Rencana udah mateng.

Tinggal menunggu hari Rabu.

---

Selasa siang. Sehari sebelum hari pelarian.

Lestari ke pasar—belanja sayur buat makan malem. Dyon kasih uang dua puluh ribu kayak biasa. Lestari belanja cuma tujuh belas ribu—sisanya tiga ribu mau disimpen lagi.

Di pasar—dia ketemu Mak Ijah yang lagi jualan sayur.

"Eh, Lestari. Tumben belanja siang gini? Biasanya pagi," sapa Mak Ijah ramah.

"Iya, Mak. Tadi pagi ada yang harus diurus di rumah." Lestari senyum tipis—senyum yang dipaksain.

"Oh gitu. Eh, lo tau nggak—kemarin Seruni lewat depan warung gue. Rambutnya diwarnain lagi. Sekarang pirang. Menor banget." Mak Ijah geleng-geleng kepala. "Tapi ya... cantik sih. Pantesan Dyon suka."

Lestari diem. Nggak tau harus jawab apa.

"Eh, maaf ya Lestari. Ibu nggak bermaksud menyinggung... Ibu cuma..."

"Nggak papa, Mak. Aku udah biasa kok." Lestari senyum lagi—senyum pahit.

Selesai belanja, Lestari pulang. Jalan kaki—nggak naik angkot biar hemat ongkos.

Sampe rumah—sekitar jam dua siang—dia masuk lewat pintu belakang kayak biasa.

Tapi begitu masuk—

Ada yang aneh.

Pintu kamar gudang nya terbuka. Padahal dia inget bener—tadi pagi dia nutup pintu rapat-rapat.

Jantung Lestari langsung dag-dig-dug.

Dia jalan cepet ke kamar—masuk—

Ya Allah.

Kamar nya berantakan.

Tikar dilipat ke samping. Kardus-kardus dibongkar—isi nya tumpah kemana-mana. Kain-kain lusuh berserakan. Kaleng-kaleng bekas dibuka semua.

Lestari langsung berlutut—cari kaleng susu bekas yang biasa dipake nyimpen uang.

Nemu kaleng nya—di pojokan—terbuka.

Kosong.

Kosong total.

Nggak ada uang sepeser pun.

"Nggak... nggak nggak nggak..." Lestari menggeleng-geleng cepet. Tangannya mengobok-obok kardus—mungkin uangnya jatuh, mungkin ada yang tertinggal—

Nggak ada.

"UANG KU! UANG KU HILANG!" Lestari teriak—teriak keras.

Langkah kaki cepet dari ruang tamu. Wulandari masuk—muka nya datar kayak biasa.

"Ribut apa sih? Gue lagi tidur lo ganggu!"

"MAMAH! UANG KU HILANG! UANG KU YANG DI KALENG INI HILANG!" Lestari berdiri—pegang kaleng kosong—tunjukin ke Wulandari.

Wulandari ngeliat kaleng itu—terus ngeliat Lestari dengan muka... muka bingung yang dibuat-buat.

"Uang apa? Emang lo punya uang?"

"UANG KU! UANG YANG AKU KUMPULIN SELAMA TIGA BULAN! TIGA JUTA LIMA RATUS RIBU! ADA DI KALENG INI! SEKARANG HILANG!"

"Lo yakin lo punya uang sebanyak itu? Atau lo ngigau?"

"AKU NGGAK NGIGAU! AKU PUNYA! AKU SIMPEN DI SINI! SEKARANG HILANG!" Lestari nangis—nangis keras—tubuh nya getar.

"Kalau lo yakin punya, terus sekarang hilang, ya berarti lo yang salah simpen. Atau lo lupa. Atau—" Wulandari menyeringai—"mungkin itu cuma mimpi lo. Lo nggak pernah punya uang sebanyak itu."

"AKU PUNYA! AKU BERSUMPAH AKU PUNYA!" Lestari jatuh berlutut—tangan nya menyumpal ke lantai—"MAMAH... MAMAH AMBIL YA? KUMOHON BALIKIN... AKU BUTUH UANG ITU... AKU BUTUH BANGET..."

"Gue nggak ambil apa-apa. Gue nggak tau lo nyimpen uang. Lagian—" Wulandari melipat tangan di dada—"kalau lo punya uang, harusnya lo setor ke gue. Kan lo tinggal di rumah gue. Makan di rumah gue. Lo pikir gratis?"

Lestari natap Wulandari—natap dengan mata berkaca-kaca, merah, penuh air mata.

"Mamah... kumohon... balikin uang aku... aku... aku butuh banget... kumohon..."

"Gue. Nggak. Ambil." Wulandari ngomong pelan tapi tegas. "Dan gue nggak suka dituduh. Sekarang lo beresin kamar lo. Jangan bikin berantakan."

Wulandari keluar. Pintu ditutup—nggak keras, tapi bunyi nya terdengar... final.

Lestari masih berlutut di lantai. Tangan nya gemetar parah. Napas nya sesengukan.

"Uang ku... uang ku hilang... semua usaha ku... tiga bulan... sia-sia..."

Dia jatuh—jatuh sampe dahi nya nyentuh lantai—posisi kayak sujud tapi bukan sujud. Cuma... roboh.

Nangis meraung-raung. Nangis yang keluar dari dasar hati. Nangis yang penuh keputusasaan.

"Ya Allah... Ya Allah kenapa... kenapa Engkau ambil harapan terakhir ku... kenapa..."

---

Setengah jam kemudian—Bu Ratih datang. Dia denger Lestari nangis dari rumah sebelah—langsung lompat pagar, masuk lewat pintu belakang.

"Neng! Neng kenapa?!" Bu Ratih masuk kamar gudang—liat Lestari yang masih tergeletak di lantai, nangis.

"Bu... uang ku... uang ku hilang... semua hilang..." Lestari bisik—suara nya serak abis nangis.

Bu Ratih jongkok di samping Lestari—elus punggung Lestari pelan. "Uang yang buat kabur?"

Lestari ngangguk—masih nunduk ke lantai.

"Ya Allah... siapa yang ambil?"

"Aku... aku nggak tau... tapi pasti... pasti Mamah... atau Dyon... aku nggak tau..." Lestari ngangkat kepala—muka nya basah air mata, mata nya sembab parah. "Bu... gimana sekarang? Aku... aku udah ngumpulin tiga bulan... sekarang hilang semua... aku... aku harus mulai dari nol lagi?"

Bu Ratih nggak bisa jawab. Dia cuma peluk Lestari—peluk erat.

"Sabar, Nak... kita... kita kumpulin lagi... pelan-pelan..."

"Tapi Bu... aku udah lelah... aku udah nggak kuat lagi... aku..." Lestari nangis lagi di pelukan Bu Ratih.

Mereka peluk lama. Bu Ratih nggak tau harus bilang apa. Dia cuma bisa peluk. Cuma bisa ada di sana.

"Ibu bantu lagi. Ibu kasih uang lagi—"

"Nggak, Bu. Ibu udah banyak bantu. Aku... aku nggak bisa terus minta bantuan Ibu... aku... aku harus bisa mandiri..." Lestari ngelap air mata nya pake punggung tangan.

"Tapi Neng—"

"Aku bakal kumpulin lagi, Bu. Aku janji. Aku nggak akan nyerah. Aku... aku harus kabur. Demi Antoni."

Bu Ratih natap Lestari—natap dengan tatapan prihatin campur... bangga. Bangga karena Lestari nggak nyerah meskipun baru aja kehilangan semua usaha nya.

"Ibu doain kamu, Nak. Ibu doain kamu kuat."

---

Malem itu—sekitar jam sembilan—Lestari duduk di kamar gudang. Antoni udah tidur di samping nya.

Dari ruang tamu—kedengeran suara tawa. Tawa Dyon. Tawa Seruni.

Lestari bisa denger percakapan mereka—suara nya keras, kayak sengaja keras biar dia denger.

"Sayang... ini buat kamu." Suara Dyon.

"Wah! Uang banyak banget! Ini dari mana, Sayang?" Suara Seruni—suara girang.

"Ada rejeki nomplok. Lumayan kan? Tiga juta lebih. Buat kamu belanja. Beli baju, sepatu, apa aja yang kamu mau."

Lestari berhenti napas.

Tiga juta lebih.

Rejeki nomplok.

"Mas Dyon baik banget! Aku sayang banget sama Mas!" Seruni teriak girang.

Mereka ketawa. Ketawa keras. Ketawa yang... yang bikin dada Lestari sesak.

Itu uang nya.

Uang yang dia kumpulin tiga bulan.

Uang hasil keringat dia. Uang hasil dia nggak makan siang berhari-hari. Uang hasil dia jalan kaki kemana-mana biar bisa ngirit ongkos.

Sekarang dikasih ke Seruni.

Buat belanja.

Buat beli baju. Sepatu. Hal-hal yang nggak penting.

Lestari mengepal tangan—kepal erat sampe kuku nya menancap di telapak tangan. Tapi dia nggak ngerasa sakit.

Yang dia rasain cuma... marah.

Marah yang nggak pernah dia rasain seumur hidup.

Marah yang kayak api. Api yang panas. Api yang mau membakar semuanya.

"Mereka semua... mereka semua akan dapat balasan nya."

Bisik nya pelan—bisik yang cuma dia yang denger.

"Aku nggak tau kapan. Aku nggak tau gimana. Tapi mereka akan dapat balasan. Aku janji. Aku sumpah."

Dari ruang tamu—tawa mereka masih kedengeran. Tawa yang penuh kemenangan. Tawa yang penuh kebahagian palsu.

Tapi di kamar gudang—

Ada perempuan yang duduk dalam gelap.

Perempuan yang baru aja kehilangan harapan terakhir nya.

Tapi di mata nya—

Ada sesuatu yang baru muncul.

Bukan air mata.

Bukan kesedihan.

Tapi api.

Api kemarahan.

Api yang... yang suatu hari nanti bakal membakar semua orang yang pernah nyakitin dia.

---

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!