NovelToon NovelToon
Tunangan Yang Tak Di Anggap

Tunangan Yang Tak Di Anggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.

Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan para petinggi

"Alea, Papa masuk," suara berat Arkan terdengar dari balik pintu sebelum ia melangkah masuk.

Arkan berdiri di tengah ruangan, memperhatikan putrinya yang terlihat masih enggan untuk bersiap-siap. "Alea, segera bersiap. Malam ini ada pertemuan penting dengan para petinggi perusahaan dan kolega bisnis di hotel. Ini acara besar, dan Papa ingin kamu hadir di samping Papa."

Alea menghela napas panjang, ia memutar kursi riasnya menghadap sang ayah. "Harus banget ya, Pa? Alea benar-benar sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa, apalagi kolega bisnis Papa."

"Ini tentang reputasi, Alea. Keluarga Danuar juga akan hadir di sana, termasuk Dafin. Kamu tahu sendiri bagaimana situasi saat ini, kita harus menunjukkan bahwa hubungan antar keluarga tetap solid di mata publik," Arkan menatap putrinya dengan tatapan yang tidak menerima bantahan. "Gunakan gaun terbaikmu. Papa ingin kamu terlihat sempurna malam ini."

Alea hanya bisa terdiam. Ia tahu jika ayahnya sudah bicara soal reputasi, tidak akan ada ruang untuk negosiasi. "Baiklah, Pa. Alea akan bersiap-siap."

"Bagus. Kita berangkat jam tujuh malam. Papa tunggu di bawah," ucap Arkan singkat sebelum berbalik meninggalkan kamar.

Alea kembali menatap ke arah taman. Kenan sudah tidak ada di kursi taman itu. Kenan yang sedang duduk di kursi taman mendongak dan menatapnya dalam diam Alea segera menarik diri dari jendela. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ada sesuatu dalam tatapan Kenan yang memberinya rasa aman sekaligus kegelisahan yang aneh.

Alea tidak ingin membuang waktu. Ia segera melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di bawah kucuran air hangat, ia memejamkan matanya menikmati setiap tetesan air.

Setelah mandi, Alea mulai memoles wajahnya. Ia memilih riasan yang lebih tajam dari biasanya smokey eyes tipis dengan lipstik berwarna merah gelap yang memberikan kesan kuat.

Ia kemudian mengenakan gaun panjang hitam yang telah disiapkannya. Potongan off-shoulder mengekspos bahu putihnya yang mulus, sementara belahan tinggi di bagian paha memberikan kesan berani setiap kali ia melangkah. Ia mengunci penampilannya dengan high heels runcing yang membuatnya berdiri lebih tegak dan penuh percaya diri.

Alea keluar dari kamarnya dengan langkah riang. Gaun hitam off-shoulder itu tampak melambai indah saat ia berjalan. Sesampainya di depan Kenan yang sudah menunggu di lantai bawah, Alea tidak bisa menahan kegembiraannya.

"Kenan, lihat!" seru Alea. Ia kemudian memutar tubuhnya dengan lincah seperti anak kecil yang sedang memamerkan baju baru, membuat belahan tinggi pada gaunnya tersingkap sejenak, memperlihatkan kaki jenjangnya yang dibalut high heels.

"Bagaimana? Apakah aku sudah cantik?" tanya Alea dengan mata berbinar, menatap Kenan dengan penuh harap.

Kenan terpaku. Pemandangan di depannya perpaduan antara keanggunan wanita dewasa dan keceriaan polos Alea membuat pertahanannya goyah. Kenan berusaha keras menyembunyikan senyumnya, namun sudut bibirnya sedikit terangkat melihat tingkah majikannya itu.

"Sudah, Nona. Anda terlihat... sangat sempurna," jawab Kenan dengan suara rendah, berusaha tetap profesional meski jantungnya berdegup tidak keruan.

Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Arkan muncul dari ruang tengah dengan setelan jas formal yang sangat rapi. Ia menatap Alea dengan bangga, lalu melirik arloji di tangannya.

"Alea, ayo berangkat. Kamu pergi satu mobil dengan Papa," ucap Arkan tegas sambil memberi isyarat agar Alea mengikutinya menuju mobil utama.

"Yahh, kok gitu Pah? Alea mau sama Kenan saja satu mobilnya!" protesnya sambil menghentakkan kaki kecil, membuat Arkan mengernyitkan dahi.

Arkan menggelengkan kepala melihat tingkah manja putrinya. "Kenan harus memimpin tim pengawal di mobil depan, Alea. Ada protokol keamanan. Sudahlah, jangan membantah. Kita harus sampai tepat waktu."

Alea melirik ke arah Kenan dengan tatapan memohon, berharap pria itu membelanya. Namun, Kenan hanya bisa memberikan anggukan kecil isyarat agar Alea patuh pada ayahnya.

"Ayo," ajak Arkan lagi, kali ini sambil merangkul pundak Alea menuju pintu keluar.

Alea pun berjalan dengan terpaksa, namun sesekali ia menoleh ke arah Kenan yang berjalan di belakang mereka. Kenan menatapnya dengan pandangan yang seolah berkata, 'Bersabarlah, rencana kita tetap berjalan.'

Begitu iring-iringan mobil mewah itu berhenti di depan lobi hotel berbintang, puluhan kamera wartawan dan tatapan para tamu penting langsung tertuju pada keluarga Maheswari. Arkan turun lebih dulu, diikuti oleh Shinta, ibu Alea yang tampil sangat anggun dengan kebaya modern yang senada dengan kemewahan acara malam itu.

Alea turun dengan bantuan Kenan yang membukakan pintu. Begitu kakinya yang jenjang melangkah keluar, keanggunan Alea langsung menjadi pusat perhatian.

Di dalam aula besar yang megah, Arkan mulai berkeliling. Dengan bangga, ia memperkenalkan Alea dan Shinta kepada para petinggi perusahaan, kolega bisnis dari luar negeri, dan pejabat pemerintahan yang hadir.

"Ini putri saya, Alea. Dia yang akan meneruskan Maheswari Group suatu saat nanti," ujar Arkan dengan nada penuh wibawa..

Sementara itu, Kenan berdiri cukup jauh di sudut ruangan. Posisinya strategis, matanya terus menyapu seluruh area meski ia tampak seperti bayangan di tengah keramaian. Ia memperhatikan bagaimana Alea tersenyum sopan meski matanya sesekali mencuri pandang ke arahnya.

Dafin datang dengan langkah angkuh, mengenakan tuksedo mahal yang tidak bisa menutupi kegelisahan di wajahnya. Saat hendak menuju ke arah Arkan dan Alea, jalur jalannya harus melewati titik di mana Kenan berdiri.

Dafin memperlambat langkahnya tepat di samping Kenan. Ia menoleh perlahan, memberikan tatapan sinis yang penuh kebencian dan penghinaan.

"Nikmati waktumu malam ini, pengawal," bisik Dafin dengan nada rendah yang bergetar karena amarah terpendam. "Karena setelah acara ini selesai, aku akan memastikan Arkan membuangmu ke jalanan seperti sampah."

Kenan tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Dafin. "Hati-hati dengan langkah Anda, Tuan Danuar," jawab Kenan pelan tanpa emosi. "Lantai ini sangat licin untuk orang yang membawa beban dosa terlalu berat."

Dafin mendengus kasar, wajahnya merah padam. Ia segera berlalu menuju Alea dan langsung berusaha merangkul pinggang Alea di depan para tamu untuk menunjukkan kepemilikannya. Alea tampak kaku dan tidak nyaman, matanya kembali mencari sosok Kenan di kejauhan.

Dafin terus berusaha menempel pada Alea. Ia meletakkan tangannya di punggung terbuka Alea, berusaha menunjukkan kedekatan di depan kamera wartawan dan kolega bisnis ayahnya.

Alea merasa kulitnya meremang karena risih. Aroma parfum Dafin yang menyengat dan tatapan posesif pria itu membuatnya merasa tercekik. Ia melirik ke arah Kenan yang tetap berdiri diam di sudut ruangan, namun mata Kenan tampak sangat tajam mengawasi tangan Dafin.

Alea akhirnya tidak tahan lagi. Saat Arkan sedang sibuk berbicara dengan seorang menteri, Alea sengaja melangkah menjauh, membuat tangan Dafin terlepas dari punggungnya.

"Alea, mau ke mana? Kita harus menyapa rekan kerja ayahku di sana," ucap Dafin sambil mencoba meraih lengan Alea kembali.

Alea berbalik, menepis tangan Dafin dengan gerakan halus namun tegas. Mata indahnya menatap Dafin dengan dingin.

"Menjauhlah sedikit dariku, Dafin. Apa kamu tidak melihat kalau aku tidak nyaman?" desis Alea dengan suara rendah namun penuh penekanan agar tidak menarik perhatian tamu lain.

Dafin tertegun, wajahnya memerah karena malu. "Aku ini calon suamimu, Alea. Wajar kalau aku berada di dekatmu."

"Calon suami atau bukan, aku butuh ruang untuk bernapas. Berhenti bersikap seolah-olah kamu memilikiku," balas Alea ketus.

Alea tidak tahan lagi dengan tatapan posesif Dafin dan suasana pesta yang terasa menyesakkan. Dengan langkah anggun yang tetap menunjukkan wibawanya, Alea berjalan menghampiri Arkan dan Shinta yang tengah berbincang dengan salah satu komisaris bank.

"Papa, Mama..." sela Alea pelan, wajahnya sengaja dibuat sedikit pucat.

Shinta langsung menoleh dan menyentuh dahi putrinya. "Ada apa, Sayang? Kamu kelihatan tidak sehat."

"Alea merasa tidak enak badan, Ma. Tiba-tiba kepala Alea pusing sekali dan perut Alea mual. Mungkin karena tadi belum sempat makan sebelum dandan," ucap Alea dengan nada yang sangat meyakinkan.

Shinta langsung tampak khawatir. "Oh ya ampun, Arkan, lihat putri kita. Wajahnya pucat sekali. Mungkin dia kelelahan.

Arkan mengerutkan kening, menatap Alea dengan saksama. "Kamu yakin tidak bisa bertahan sebentar lagi? Acara inti baru akan dimulai."

"Maaf, Pa. Alea benar-benar tidak kuat. Alea takut nanti malah pingsan di tengah pidato Papa dan mempermalukan keluarga," balas Alea, memberikan alasan yang tahu betul akan menyentuh titik lemah ayahnya: reputasi.

Arkan menghela napas, akhirnya luluh. "Baiklah. Kalau begitu kamu pulang duluan."

Tepat saat itu, Dafin datang mendekat. "Ada apa ini? Alea mau pulang? Mari, biar aku yang mengantarmu, Sayang."

Alea mau mual di panggil seperti itu.

Alea segera menggeleng cepat. Ia menatap ayahnya dengan tatapan memohon. "Biar aku pulang bersama Kenan saja, Pa. Dafin kan harus ada di sini menemani Papa dan ayahnya untuk penandatanganan kerja sama nanti. Tidak enak kalau calon menantu Papa malah menghilang di saat penting."

Arkan tampak menimbang-nimbang, lalu mengangguk setuju. "Benar juga. Dafin, kamu tetap di sini. Biar Kenan yang bertanggung jawab membawa Alea pulang dengan selamat."

Dafin tampak sangat tidak puas, wajahnya mengeras melihat Alea lebih memilih pengawalnya. Namun, ia tidak bisa membantah perintah Arkan di depan umum.

Kenan, yang sejak tadi mengamati dari kejauhan, segera mendekat begitu melihat kode dari Arkan. Ia membungkuk hormat. "Saya akan pastikan Nona Alea sampai di rumah dengan aman, Tuan."

1
Erna Riyanto
gadis SMA yg bunuh diri karena Davin...apakah adik kenan...makin penasaran
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ceritanya gampang di pahami dan alurnya menarik, ayahnya Alea memaksa Alea menikah dengan Dafin apakah Alea dan Dafin bisa saling mencintai
Erna Riyanto
semoga nnti Kenan bersatu sm alea...wlpun dgn jln yg sulit...suka bgt sm karakter Kenan...
Erna Riyanto
waahhh tambah lagi karya on going mu thorrr.....semoga konsisten dgn berbagai cerita yg dibuat...sukses...nungguin lanjutan si tuan Damian loh q
ig: denaa_127: makasihh udah support 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!