NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Sudah ada satu minggu Ryan berada di gubuk itu, tanpa listrik dan juga kamar mandi yang layak. Ryan selalu meminta antar pada Naina jika ingin buang air. Karena kamar mandi yang menyatu dengan alam. Ryan selalu membayangkan bila mana ada hantu yang mengintipnya.

Kini Naina terpaksa memberi pakaian bekas mendiang ayahnya pada Ryan. Karena ukurannya yang terbilang pas untuk badan Ryan.

Namun nyatanya, Ryan sudah tak kuat lagi tinggal di sini, mulai dari tempat tinggal yang tidak nyaman, serta makanan yang aneh, dan baru merasakannya. Meski masakan Naina cocok dengan lidahnya, tak jarang mereka sering cekcok hanya karena berbeda selera.

Terlebih di tempat ini tidak ada sinyal, Ryan benar-benar putus asa. Ia memikirkan pekerjaannya. Sebuah usaha yang ia bangun sendiri bersama kawan-kawannya, tanpa sedikitpun bantuan dari keluarga Varatanu. Semuanya harus pupus karena kebodohannya sendiri.

Luka Ryan sudah berangsur membaik. Terlebih luka yang ada di betis kirinya. Dengan telaten Naina mengobati luka itu, dan mengurut lengan Ryan yang cedera. Kini Ryan sudah dapat berjalan sendiri. Namun Naina melarang Ryan untuk keluar gubuknya. Ia tak ingin warga sekitar tahu keberadaan Ryan. Naina tak ingin ada fitnah yang bakal merugikan orang lain.

"Tunggulah sebentar lagi. Aku akan membawamu ke luar dari desa ini, dan mengantarmu sampai terminal." Ucap Naina.

Tiba dimana Naina mulai lelah dan kesal. Uangnya habis karena terpaksa membeli makanan kesukaan Ryan. Naina rela hanya makan ala kadarnya hasil memetik di kebun, sedangkan Ryan makan daging dan ikan tiap hari.

Naina menatap sebuah gelang cantik pemberian dari Neneknya. "Apakah harus aku jual? Apa manfaatnya aku membantu dan menuruti keinginannya?" Desis Naina sedikit kesal.

"Hari ini kita makan apa?" Tanya Ryan seperti tidak tahu malu.

Naina tarik nafas dalam, kesal rasanya. "Anda punya uang? Uang ku habis. Kalau tidak ada kita makan ala kadarnya saja."

"Aku punya uang, tapi semuanya ada di ponselku. Dan kau liat ponselku mati. Lagian di sini gak ada sinyal."

Naina menatap mata Ryan kesal. Namun pada akhirnya Naina selalu kalah. Dia tak bisa berbuat banyak, dia terlalu lemah sedari dulu. Dia tak bisa melawan siapapun yang berdebat dengannya. Naina tak suka dengan dirinya yang lemah dan gampang mengalah.

"Aku ganti uangmu itu, jika aku sembuh nanti. Sekarang bantu aku untuk membetulkan ponselku dulu."

"Bagaimana caranya? Sedangkan jika anda keluar akan menjadi fitnah yang tidak-tidak." Bentak Naina kesal.

Ryan melotot, karena baru kali ini ia melihat Naina nampak kesal dan marah. Ryan menghela nafas ikut kesal juga. Ia tak bisa membantu lebih, ia pun tak bisa menurut jika harus makan sayuran yang ia anggap seperti rumput dan lebih ke makanan kambing.

"Aku akan jual gelang ku satu-satunya ini, aku harap kau bisa menggantikan gelangku ini secepatnya." Pungkas Naina.

"Kau sekarang banyak itung-itungan. Kau tak ikhlas membantu rupanya." Keluh Ryan ikut kesal.

"Iya, aku tak ikhlas, puas!"

Naina pergi meninggalkan Ryan, ia pergi ke pasar untuk menjual gelas emasnya. Berharap bisa menyambung hidupnya satu bulan ke depan. Minimalnya.

Setelah selesai berbelanja, Naina terkejut karena banyak warga mengepung gubuknya. Secepat mungkin Naina berlari menghampiri mereka.

"Ada apa ini?" Tanya Naina panik.

"Nah, ini si pendosanya." Teriak seseorang.

"Bawa dia keliling kampung. Dasar pezina!" Teriak yang lainnya memperkeruh suasana.

Warga mencoba menerobos masuk untuk menyeret Ryan keluar. Namun Naina dengan susah payah berteriak tidak dan mencegah mereka masuk. Bagaimana pun Naina menghalangi, warga itu banyak dan bertenaga cukup besar. Naina tak sanggup menahannya.

"Aku tidak melakukan dosa seperti apa yang kalian ungkapkan. Aku hanya menolongnya. Jika kalian ingin menghukumnya, hukumlah aku. Dia tak bersalah. Jangan libatkan dia. Dia sedang terluka parah." Teriak Naina tersengal-sengal.

"Alah, alesan saja."

Ryan tertatih-tatih keluar dari gubuk itu. Dengan tegas dan tatapan tajam Ryan membungkam warga disana. Belum juga Ryan berkata beberapa warga sudah ciut nyalinya.

"Saya calon suami Naina. Saya datang ke sini untuk mempersuntingnya. Namun saya malah kecelakaan." Tegas Ryan dengan tatapan tajamnya.

"Bo-bohong sekali." Teriak salah satu warga dengan terbata-bata.

"Demi Tuhan, kami bukan pezina seperti yang kalian lontarkan. Jika kalian tak percaya, di depan kalian semua aku akan memperistri Naina. Panggilkan penghulu ke sini." Ucapan Ryan membuat Naina terdiam.

Hatinya berdebar tak karuan. Apa yang ia dengar tadi? Dan apa yang Ryan ucapakan tadi? Pernikahan bukanlah suatu lelucon. Bagaimana Naina menghidupi Ryan nantinya? Siapa sebenarnya pria di sampingnya ini. Naina tak bisa berkata apa-apa lagi.

"Kalau memang benar kau ingin memperistri Naina, mari kita datang ke rumah penghulunya saja." Pungkas seseorang.

"Betul, bagaimana pun juga, dia butuh wali. Pamannya harus tahu bahwa Naina, keponakannya menikah."

"Baik, antar kami kesana." Tegas Ryan.

Ryan menggenggam tangan Naina yang kebingungan. Naina tak bisa berkata-kata, ia hanya diam dan kalut dengan pikirannya sendiri.

Sesampainya di rumah penghulu, ternyata Pamannya telah berada di sana. Naina meraba-raba, apakah ini ulah pamannya juga? Apa maksud dari semua ini?

"Naina, keponakanku. Akhirnya kau telah dewasa dan dipersunting, maka dari itu, ikutlah kamu bersama suamimu. Pergi meninggalkan desa ini." Seru Pamannya dan memperkecil suaranya di kalimat terakhir.

"Apa maksud paman?" Naina menatap kesal pada pamannya.

"Baik, kita mulai saja pernikahan ini. Mari kemari wahai anak muda." Paman Naina memanggil Ryan untuk mendekat padanya.

Semua duduk dan menyaksikan proses sakral itu dengan penampilan seadanya. Dengan tegas pula Ryan menjawab panggilan penghulu untuk menjadikan Naina istrinya.

Naina terkulai lemas, namun sebisa mungkin ia tetap harus menopang badannya agar tak tersungkur. Bukan seperti ini proses pernikahan yang Naina impikan. Meski sederhana, tapi bukan begini.

Naina masih memimpikan menggunakan gaun pernikahan, berjalan tersenyum sambil mendekati pasangannya. Disaksikan oleh semua orang dengan penuh tawa bahagia. Bukan begini, sungguh bukan seperti ini.

Air mata Naina jatuh di kedua pipinya. Ia tak sanggup dengan semua ini. Meski Naina menyimpan rasa walau hanya sedikit untuk Ryan, tapi Naina tak bisa bersama dengannya. Hidup sudah susah, ditambah Ryan selamanya dengan dirinya.

"Ini buku nikah kalian. Jadi kapan kalian akan menggelar pesta pernikahan." Tanya penghulu basa-basi.

"Tunggu aku membaik. Keluarga ku pun harus hadir di acara ku nanti." Ucap Ryan.

Paman Naina tersenyum seolah mengejek, "kita lihat saja nanti."

Pamannya itu seolah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Apa lagi sebenarnya rencana dia. Apa lagi yang ingin di bawa Pamannya dari Naina? Tidak cukupkah rumah dan sawah yang dia ambil secara paksa. Apakah ia juga ingin rebut paksa gubuk yang tak seberapa dan kebun yang sepetak?

Sungguh tamak dan tak berperasaan. Mengapa ada orang seperti itu di dunia ini. Mengapa hanya Naina saja yang menderita. Mengapa Tuhan tidak adil?

Selepas kejadian tadi, Naina hanya terdiam, ia menatap buku nikah itu dengan tak percaya. Air matanya terus menetes. Membuat Ryan merasa bersalah.

"Maafkan aku, jika kau tak menginginkannya maka kita bercerai saja." Lirih Ryan.

"Kau anggap pernikahan ini hanya mainan? Dengan mudahnya kau mengikat janji suci, lalu sekarang dengan mudahnya kau mengajak bercerai?" Teriak Naina kesal.

"Lalu apa mau mu? Apa dengan menangis semuanya akan beres? Aku minta maaf. Aku salah. Sekarang aku serahkan semuanya padamu. Apa mau mu sekarang."

Naina hanya terdiam, ia berdiri dan meninggalkan Ryan. Ia baringkan badannya di dipan usang dekat dengan dapur. Tempat biasanya dia tertidur selama Ryan tinggal dengannya.

"Kemarilah, kita tidur bersama." Kali ini suara Ryan sedikit lembut.

"Tak perlu."

"Bagaimana pun kita sudah menjadi suami istri. Kita sudah sah melakukan apa pun."

"Melakukan apa? Apa yang kau pikirkan Pak Ryan!" Teriak Naina salah tingkah.

"Apa yang kau pikirkan Naina? Aku hanya mengajakmu tidur. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Atau kau menginginkan malam ini terjadi hal ...." Buru-buru Naina menutup mulut Ryan.

Ryan melepaskan tangan mungil yang sedikit kasar itu, "semuanya akan baik-baik saja. Percayalah, aku akan melindungi mu." Bisik Ryan.

Naina hanya terdiam, ia tak percaya dengan ucapan Ryan. Mengapa ia dapat bersikap lembut dengan waktu sekejap. Padahal beberapa hari ini mereka sering adu mulut hanya masalah sepele saja.

"Aku minta maaf atas sikapku tempo hari. Kita sekarang sudah menjadi pasangan. Percaya dan tidaknya, buku ini adalah bukti, kau milikku, dan aku milikmu. Ke depannya biar aku yang tanggung." Kenapa Naina merasa Ryan sedang membual.

Malam ini mereka habiskan malah dengan bercengkrama. Naina mulai membiasakan diri dengan perubahan yang ganjil ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!