NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sentuhan Arjuna..

Napas Indira tersengal, dadanya naik-turun seiring dengan detak jantungnya yang berpacu hebat. Di bawah kungkungan Arjuna, pertahanan mental yang ia bangun berhari-hari runtuh total.

Ia membenci dirinya sendiri karena pada akhirnya, tubuhnya justru mengkhianati akal sehatnya dengan memberikan respons atas sentuhan pria itu.

​Arjuna menyeringai puas melihat mata Indira yang mulai sayu dan bibirnya yang sedikit terbuka. Ia mengecup kening Indira yang lembap oleh keringat.

​"Lihat? Tubuhmu tidak bisa berbohong, Indira. Kau diciptakan memang untuk menjadi milikku," bisik Arjuna dengan suara serak yang penuh dominasi.

​Indira memalingkan wajahnya ke samping, air mata kembali luruh membasahi bantal. "Tuan sudah mendapatkan apa yang Tuan mau. Bisakah Tuan pergi sekarang? Saya ingin tidur."

​Arjuna tidak marah kali ini. Kepuasan dari "pertempuran" barusan membuatnya dalam suasana hati yang sangat baik. Ia bangkit perlahan, merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, lalu menatap Indira yang masih terbaring lemah dengan selimut yang ditarik hingga ke dada.

​"Mulai besok, aku tidak ingin melihat wajah murung itu lagi," ucap Arjuna sembari mengenakan kembali jam tangan mewahnya. "Jika kau murung lagi, aku akan menganggapnya sebagai undangan untuk datang dan 'menghiburmu' dengan cara yang lebih lama dari malam ini."

​Arjuna melangkah keluar dan mengunci pintu dari luar, meninggalkan Indira dalam kehancuran batin yang semakin dalam.

"Dasar majikan gila,,tapi aku suka,," gumamnya bingung sendiri.

​Indira terpaksa berangkat sekolah dengan langkah yang masih sedikit kaku dan rasa nyeri yang sesekali berdenyut di bawah sana.

Ia mengenakan seragam Yayasan Pratama yang sangat eksklusif. Di sekolah itu, semua orang tahu bahwa siapa pun yang berada di bawah naungan Yayasan Pratama adalah orang-orang pilihan atau mereka yang punya hubungan khusus dengan keluarga penguasa tersebut.

​Saat jam istirahat, sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang. Clarissa turun dengan kacamata hitam dan gaya sosialita yang mencolok. Ia sengaja datang untuk memastikan sesuatu.

​Clarissa mendapati Indira sedang duduk sendirian di bangku taman sekolah, memegang buku pelajaran namun tatapannya kosong menerawang.

​"Jadi ini gadis yang dibanggakan pelayan di rumah itu?" suara melengking Clarissa menginterupsi lamunan Indira.

​Indira tersentak, ia segera berdiri dan menunduk dalam saat mengenali siapa yang ada di depannya. "N-nona Clarissa? Ada apa Nona kemari?"

​Clarissa berjalan memutari Indira, menatap gadis itu dengan pandangan menghina. "Sekolah ini mahal, Indira. Sangat mahal untuk ukuran anak seorang pelayan. Aku harap kamu tahu diri."

Indira tidak menanggapi ejekan dan hinaan wanita itu,karena dia tahu wanita itu adalah kekasih pria yang telah merenggut kesuciannya.

​Tiba-tiba, mata tajam Clarissa menangkap kilauan dari balik kerah baju Indira yang sedikit terbuka. Dengan gerakan cepat, Clarissa menarik kerah baju itu hingga kalung berlian yang melingkar di leher Indira terlihat jelas.

​"Kalung ini..." Clarissa membelalak, tangannya gemetar menahan amarah. "Ini berlian asli. Harganya bisa membeli rumah! Dari mana pelayan rendahan sepertimu mendapatkan benda ini?! Apa kamu mencurinya dari kamar Arjuna?" tuduhnya dengan tatapan curiga.

​Indira meskipun gemetar, mencoba mengingat pesan Arjuna bahwa ia harus kuat. Ia menarik napas panjang dan menepis tangan Clarissa dengan sopan namun tegas.

​"Saya tidak mencuri, Nona, meskipun saya hanya anak dari seorang pelayan,saya tidak diajarkan untuk mencuri,," ucap Indira dengan suara yang diusahakan stabil.

"Lalu darimana kamu mendapatkan benda semahal ini hah? ohhh atau jangan jangan kamu simpanan om om kaya ya?" lagi lagi Clarissa menuduh yang tidak masuk akal.

"Tuan Pratama yang memberikan kalung ini kepada saya sebagai penghargaan atas prestasi akademik saya di Yayasan. Beliau bilang, saya adalah aset masa depan perusahaan. Jika Nona keberatan, silakan tanyakan langsung pada Tuan Pratama."

​Mendengar nama Pratama—ayah Arjuna yang sangat ia takuti dan hormati—disebut, Clarissa seketika mematung. Nyalinya menciut drastis. Ia tahu betul posisi Tuan Pratama di keluarga itu; siapa pun yang berani mempertanyakan keputusannya sama saja dengan menggali liang lahat sendiri.

​"T-tuan Pratama?" gumam Clarissa gagap. Ia melepaskan kerah baju Indira dengan kasar. "Cih, kau pintar sekali mengambil hati orang tua itu. Tapi ingat, Indira, statusmu tetaplah tanah di bawah kakiku. Jangan bermimpi terlalu tinggi."

"status ku adalah pelajar di sini,,bukan pelayan mu,,sekalipun nona sudah menikah dengan tuan Arjuna,saya bukan tanah pijakan mu,seperti yang nona ucapkan tadi,ibu saya memang pelayan dirumah itu,tapi bukan berarti nona punya hak merendahkan saya."

"Wahhh,berani sekali kamu bicara begitu! mau dipecat dari rumah itu hah?" kedua mata Clarissa membola marah.

"Silahkan nona,,atau kalau perlu saat nona bertamu kerumah tuan,,saya akan bantu nona mengatakan itu pada tuan Pratama,bagaimana?" tantang Indira yang mulai bosan di rundung terus.

​Clarissa bungkam,tidak berani menerima tantangan itu,,dia berbalik dan pergi dengan langkah terburu-buru, menyembunyikan rasa malunya karena baru saja dibungkam oleh nama calon mertuanya sendiri.

Indira menyunggingkan senyum kemenangan.

"Orang kaya memang tidak pernah menjaga perasaan orang miskin,,selalu saja bersikap semena mana,belum resmi jadi nyonya dirumah tuan Pratama saja,tingkahnya sudah begitu,," gumamnya lalu pergi.

​Malam harinya, Arjuna kembali ke paviliun. Kali ini ia tidak membawa amarah, melainkan rasa haus yang luar biasa setelah seharian bekerja. Saat ia masuk ke kamar, ia mendapati Indira sedang duduk di tepi ranjang, menatap kalung berlian itu dengan benci.

​"Aku dengar kau berhasil mengusir Clarissa dengan menyebut nama ayahku," ujar Arjuna sembari melepas dasinya.

​Indira mendongak, matanya yang sembab menatap Arjuna. "Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan agar tidak mati di tangan tunangan Tuan."

​Arjuna terkekeh, ia mendekat dan menarik Indira ke dalam pelukannya. "Pintar. Kau mulai belajar bagaimana menjadi milik seorang Pratama."

​Arjuna mulai menciumi leher Indira, tempat di mana kalung itu melingkar. Indira yang awalnya diam, mulai merasakan panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Ingatan tentang nikmatnya sentuhan Arjuna semalam mulai mengaburkan kewarasannya.

​"Tuan... ahh..." Indira mulai mendesah saat tangan Arjuna merayap masuk ke balik bajunya.

​Malam itu, tidak ada lagi kemurungan. Yang ada hanyalah suara desahan hebat dari bibir Indira yang membuat Arjuna semakin menggila. Indira mulai menikmati peran barunya, entah karena ia sudah kehilangan akal atau karena ia mulai menyadari bahwa hanya dalam pelukan monster inilah ia merasa memiliki "kekuatan".

​Malam itu, paviliun seolah terisolasi dari dunia luar. Suara jangkrik di luar tenggelam oleh deru napas Arjuna yang semakin memburu. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Arjuna benar-benar melepaskan topeng kaku dan dinginnya sebagai seorang pengusaha kelas atas.

​Ia merebahkan Indira di tengah ranjang, mengabaikan segala protokol dan batasan yang selama ini ia jaga.

Arjuna mulai menjelajahi setiap inci kulit mulus Indira dengan bibir dan jemarinya, seolah sedang memetakan wilayah kekuasaan barunya. Setiap sentuhan Arjuna meninggalkan jejak panas yang membuat bulu kuduk Indira meremang.

​Indira hanya bisa mencengkeram sprei putih di bawahnya, matanya terpejam rapat sementara kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Rasa takut yang semula menghimpit perlahan melebur menjadi sensasi aneh yang menuntut lebih.

​"Tuan... ahh... cukup..." rintih Indira parau, namun gerak tubuhnya justru semakin mendekat pada pria itu.

​Arjuna tidak menghiraukan protes lemah itu. Ia turun lebih rendah, menjelajahi lekuk tubuh Indira dengan penuh nafsu. Puncaknya, Arjuna mulai memanjakan bagian paling sensitif milik Indira dengan lidahnya.

Ia menjilati milik Indira dengan penuh gairah, menyesap setiap tetes reaksi yang diberikan tubuh gadis itu.

​Indira tersentak hebat. Tubuhnya melengkung, dan desahan yang selama ini ia tahan kini pecah menjadi lenguhan panjang yang memenuhi kamar. "T-tuan Arjuna! Ohh... hmph..."

​Arjuna mendongak sejenak, menatap wajah Indira yang sudah basah oleh keringat dan gairah. "Katakan padaku, Indira... apa kau masih merasa murung jika aku memperlakukanmu seperti ini?" bisiknya dengan suara serak, sebelum kembali tenggelam dalam aksinya.

​Gadis itu tidak bisa lagi menjawab. Kesadarannya seolah melayang di awan. Ia yang semula merasa sebagai korban, kini terjebak dalam pusaran kenikmatan yang diciptakan oleh pria yang ia sebut monster.

 Arjuna benar-benar menguasainya—bukan hanya dengan uang atau ancaman, tapi dengan cara yang paling primitif: lewat sentuhan yang tak bisa ditolak oleh tubuh Indira.

​bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!