Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitas dan Sebuah Rencana
[Pagi masih merayap, ketika alarm di ponsel Ning Abigail berdering nyaring. Setelah menunaikan shalat Subuh, ia sempat terlelap kembali, namun alarm itu memaksanya bangun tepat pukul enam pagi. Dengan gerakan malas, ia bangkit, menuju kamar mandi, dan bersiap-siap.]
[Ia mengenakan sarung batik kebanggaan bertuliskan "Mbak Santri", dipadukan dengan kaos pendek dan almamater pondok yang kebesaran. Hijab instan berwarna silver melengkapi penampilannya. Setelah itu, ia menjemur pakaian yang dicucinya semalam di bawah terik matahari pagi.]
[Perutnya terasa kosong, namun ia tak punya waktu untuk sarapan. Bahan masakan di ndalem sudah menipis. Ia harus segera bergegas ke ndalem tengah untuk menjalankan tugas sebagai mbak ndalem.]
[Sesampainya di ndalem tengah, ia bergabung dengan para mbak ndalem lainnya. Mereka membersihkan ndalem dan memasak di dapur umum yang terletak di bagian belakang ndalem. Ada delapan orang yang bertugas memasak untuk para santri dan keluarga ndalem.]
[Setelah selesai memasak, mereka membagi tugas. Ada yang menyapu ruang tamu, ruang keluarga, taman depan ndalem, dan taman belakang ndalem. Ning Abigail kebagian membersihkan kamar.]
[Saat ia sedang membersihkan kamar, Umi Nida memanggilnya untuk sarapan.]
Umi Nida: "Bijel, sini sarapan dulu, Nak."
Ning Abigail: (dengan nada datar tanpa menoleh) "Nggak lapar, Umi."
[Keluarga ndalem sarapan bersama di ruang makan. Abi Rasya membuka percakapan.]
Abi Rasya: "Setelah ini kamu mau kemana, Dek?"
Ning Abigail: (singkat) "Al-Fattah."
Abi Rasya: "Ngapain ke sana?"
Ning Abigail: "Sambangin Zahira."
Kyai Hamdan: (menimpali) "Sendirian saja, Nduk?"
Ning Abigail: "nggih, Abah."
Kyai Hamdan: "Titip salam untuk Kyai Hamid, ya."
Ning Abigail: (mengangguk singkat) "Hm."
[Setelah menyelesaikan tugas pengabdian di ndalem, Ning Abigail bersiap berangkat ke pesantren Al-Fattah. Ia mengambil kunci mobil di pos keamanan ndalem tengah.]
Kang Resya (Kang Keamanan): "Mau kemana, Ning? Sudah izin sama siapa?"
Ning Abigail: (dengan nada dingin dan tatapan tajam) "Bukan urusanmu."
[Kang Resya hanya bisa menghela napas melihat sikap dingin dan ketus Ning Abigail. Ia sudah terbiasa dengan sikap Ning Abigail yang seperti itu.]
[Ning Abigail melakukan perjalanan ke pesantren Al-Fattah pukul 08.30. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam setengah. Ia tiba di pesantren Al-Fattah pukul 10.30.]
[Sesampainya di sana, ia langsung menuju ke tempat sambangan dan menemui Zahira, sahabatnya.]
Zahira: "Ya ampun, Bijel! Akhirnya kamu datang juga! Aku kangen banget sama kamu!" (memeluk Ning Abigail erat)
Ning Abigail: (dengan ekspresi datar dan sedikit risih) "Hm."
Zahira: "Kamu kok makin dingin aja sih? Nggak ada perubahan sama sekali."
Ning Abigail: (mengangkat bahu acuh) "Emang."
[Setelah puas mengobrol dengan Zahira, Ning Abigail beranjak menuju ndalem Kyai Hamid untuk menyampaikan salam dari Abahnya, Kyai Hamdan.]
[Dengan langkah sopan, ia mengucapkan salam saat memasuki ndalem.]
Ning Abigail: "Assalamualaikum, Yai, Nyai."
[Beruntung, Kyai Hamid dan Nyai Eka berada di ndalem dan langsung menyambutnya dengan hangat.]
Kyai Hamid: "Waalaikumsalam, Nduk. Silakan masuk."
[Ning Abigail masuk dan berjalan setengah duduk, menunjukkan sikap tawadhu' seorang santri kepada pengasuh pondoknya.]
Ning Abigail: (dengan sopan) "Saya Abigail, Yai, cucu dari Kyai Hamdan, anak terakhir dari Gus Rasya dan Ning Nida."
Kyai Hamid: (terkejut) "Masya Allah, saya baru tahu kalau Kyai Hamdan punya cucu perempuan. Selama ini saya kira cucunya laki-laki semua. Salam dari Abah, ya, Nduk."
Ning Abigail: "Nggih, Yai. Ini saya juga mau menyampaikan salam dari Abah untuk Kyai Hamid."
Nyai Eka: "Waalaikumsalam. Kyai Hamdan juga menitipkan salam kembali untuk Kyai Hamid, Nduk."
[Setelah sowan dan menyampaikan salam, Ning Abigail berpamitan untuk pulang karena hari sudah menjelang sore.]
Ning Abigail: "Saya pamit dulu, Yai, Nyai. Sudah sore."
Kyai Hamid: "Pulang sama siapa, Nduk?"
Ning Abigail: "Sendiri, Yai."
Kyai Hamid: (tersenyum) "Saya sudah tahu karakter dan watak kamu sama seperti Kyai Hamdan dan Gus Rasya. Dingin dan tegas."
Nyai Eka: "Iya, Yai. Cucunya Kyai Hamdan yang laki-laki juga sama semua. Cuma Abigail yang belum pernah kita ketemu."
[Tiba-tiba, Kyai Hamid memiliki sebuah ide di benaknya.]
Kyai Hamid: (dalam hati) "Apakah cucu pertamaku bisa dijodohkan dengan cucu Kyai Hamdan ini?"
[Sore harinya, Ning Abigail melakukan perjalanan pulang menuju pesantren Al-Falah pukul 14.45. Ia tiba di pesantren Al-Falah pukul 16.55.]
[Ia langsung memarkirkan mobilnya di parkiran mobil yang terletak di dekat ndalem tengah. Setelah mematikan mesin, ia mencabut kunci dan menyerahkannya kepada kang keamanan ndalem.]
Ning Abigail: (dengan singkat) "Ini kuncinya."
Kang Resya (Kang Keamanan): "Nggih, Ning. Hati-hati."
[Ning Abigail tidak menjawab dan langsung bergegas menuju ndalem barat. Hari sudah hampir pukul lima sore.]
[Sesampainya di ndalem barat, ia membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Setelah itu, ia menuju ke ndalem tengah untuk membantu memasak makanan sore untuk para santri.]
[Selesai memasak, ia bertugas menjaga antrian para santri yang mengambil makanan. Sore ini, ia bertugas bersama Gus Arzan.]
Gus Arzan: (berdiri di samping Ning Abigail) "Kamu nggak capek, Dek? Dari tadi mondar-mandir terus."
Ning Abigail: (tanpa menoleh) "Bukan urusanmu, Gus."
[Ning Abigail menjaga antrian santri putri yang mengambil makanan, sedangkan Gus Arzan menjaga antrian santri putra.]
[Setelah selesai bertugas, ia kembali ke ndalem barat. Setelah shalat Isya, tiba-tiba ada tamu yang mencari Ning Abigail. Tidak ada yang tahu siapa tamu tersebut.]
[Tamu itu adalah seorang cowok dan saat ini ia sedang berada di ndalem tengah, sementara Ning Abigail berada di ndalem barat. Para kang keamanan ndalem tengah menanyai cowok itu tentang maksud dan tujuannya mencari Ning Abigail.]
Kang Resya (Kang Keamanan): "Maaf, Mas, mau cari siapa ya?"
Cowok: "Saya mau cari Abigail."
Kang Resya (Kang Keamanan): "Ada perlu apa, Mas?"
Cowok: "Ini urusan pribadi."
Kang Resya (Kang Keamanan): "Maaf, Mas, kami tidak bisa memperbolehkan Mas bertemu dengan Ning Abigail. Mohon maaf sebelumnya."
Cowok: (dengan nada memaksa) "Tapi saya harus bertemu dengannya! Ini penting!"
[Para kang keamanan tetap bersikeras tidak memperbolehkan cowok tersebut menemui Ning Abigail. Perdebatan sengit pun terjadi, hingga akhirnya memicu keributan kecil.]
[Mendengar keributan tersebut, Gus Arka dan Gus Ivan menghampiri mereka dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.]
Gus Arka: "Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?"
Kang Resya (Kang Keamanan): "Ini, Gus, ada cowok memaksa ingin bertemu dengan Ning Abigail. Tapi dia tidak mau menjelaskan tujuannya apa."
Gus Ivan: (dengan nada dingin dan tegas) "Tidak bisa. Adik kami tidak menerima tamu laki-laki yang tidak jelas tujuannya. Sebaiknya Mas pergi dari sini sekarang juga."
Cowok: (tetap bersikeras) "Tapi saya hanya ingin bicara sebentar saja dengannya!"
Gus Arka: (menghalangi cowok tersebut) "Tidak ada yang perlu dibicarakan. Silakan pergi."