Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan
Cahaya matahari pagi baru saja menyelinap lewat celah gorden saat Adrian terbangun. Refleks pertama yang ia lakukan adalah meraba sisi kirinya, namun yang ia temukan hanyalah seprai yang sudah rapi dan dingin. Kosong.
Ia menghela napas berat, duduk di tepi ranjang sambil memijat keningnya yang agak pening. Pikirannya langsung melayang ke mana-mana, menduga Arini pergi lagi tanpa kabar, atau mungkin sengaja menghindarinya. Hubungan mereka memang sedang terasa seperti berjalan di atas lapisan es tipis belakangan ini.
Setelah berdiam diri beberapa saat, Adrian memutuskan untuk mandi. Biarlah air dingin yang mengurus sisa-sisa kantuk dan kegelisahannya.
Begitu ia menuruni anak tangga setelah rapi dengan pakaian santai, sebuah aroma familiar menyambut indra penciumannya. Wangi kaldu ayam, bawang putih goreng, dan sedikit aroma lada yang tajam namun menenangkan. Arini tidak pergi. Dia ada di dapur.
Adrian berdiri sejenak di ambang pintu dapur, memperhatikan punggung istrinya. Arini tampak sibuk, rambutnya diikat asal ke atas, menampakkan leher jenjangnya yang putih.
Ada rasa lega yang besar di dada Adrian, sekaligus sedikit rasa hangat yang muncul kembali. Ia melangkah mendekat, lalu dengan gerakan lembut, ia merangkul pinggang Arini dari belakang, menumpukan dagunya sebentar di bahu wanita itu.
"Masak apa, Rin? Harum banget sampai ke atas," gumam Adrian.
Arini tidak menoleh, ia tetap fokus pada kegiatannya. "Eh, Mas. Udah bangun? Ini, lagi mau bikin sop ayam. Tadi pas ke pasar lihat sayurannya seger banget, jadi kepikiran pengen yang anget-anget," jawabnya.
Tak, tak, tak.
Bunyi pisau yang beradu dengan talenan kayu mengisi kekosongan di antara mereka. Arini sedang memotong buncis dengan gerakan yang sangat rapi. Adrian masih betah di sana, memperhatikan tangan istrinya yang lihai.
Namun, ketenangan itu terusik oleh suara televisi dari ruang tengah yang volumenya ternyata cukup besar. Seorang presenter dalam acara televisi yang sedang berlangsung pagi itu sedang membacakan berita dengan nada yang sedikit berlebihan.
"...dunia hiburan tanah air kembali diguncang kabar tragis. Aktor laga berinisial B-R ditemukan tidak bernyawa di rumahnya sendiri. Motifnya diduga kuat karena cemburu buta, sang istri menemukan bukti perselingkuhan suaminya dan gelap mata hingga mengakhirinya dengan sebilah pisau saat sang suami baru saja pulang..."
Seketika, gerakan tangan Arini berhenti tepat setelah ia membelah seledri. Adrian yang mendengar berita itu merasa seperti baru saja disiram air es. Tubuhnya kaku.
Pandangannya terpaku pada pisau dapur yang berkilat di tangan Arini. Di tengah keheningan imajinasinya berjalan terlalu jauh. Ia mulai membayangkan bagaimana jika pisau itu tidak lagi memotong buncis, melainkan...
Arini perlahan menoleh, menatap Adrian yang masih mematung di belakangnya. Ada senyum tipis di bibirnya, jenis senyum yang sulit diartikan.
"Kenapa, Mas? Kok tiba-tiba diem?" Arini bertanya pelan, matanya melirik ke arah televisi sebentar lalu kembali ke wajah Adrian.
"Kamu takut ya? Takut kalau suatu saat aku bakal ngelakuin hal yang sama kalau kamu selingkuh di belakangku?"
Tawa kecil keluar dari mulut Arini, terdengar sangat ringan tapi entah kenapa terasa dingin di telinga Adrian.
"Hah? Ya nggak lah, Rin. Ada-ada saja kamu," Adrian melepas rangkulannya, dan tertawa kecil.
Ia berusaha tersenyum, meski otot wajahnya terasa kaku. "Berita di TV itu kan cuma drama. Ya udah, Mas tunggu di meja makan ya, jangan lama-lama masaknya."
Adrian bergegas berjalan menuju meja makan, menarik kursi, dan duduk dengan perasaan yang berantakan. Ia mencoba mengatur napasnya yang mendadak pendek. Rasanya seperti ada beban berat yang menekan pundaknya.
Sambil menatap kosong ke arah gelas kosong di depannya, sebuah pertanyaan menghantui pikirannya.
"Apa jangan-jangan Arini tahu kalau aku selingkuh?" batinnya.
Arini mematikan kompor. Suara gemericik kuah yang mendidih perlahan mereda. Ia memindahkan sop ayam jahe itu ke mangkuk besar, uapnya membumbung tinggi, membawa aroma lada dan seledri yang segar.
"Ayo, Mas. Nanti dingin," ajak Arini pelan. Ia membawa mangkuk itu ke meja makan dan menaruhnya tepat di tengah.
Adrian menarik kursi disampingnya, kayu yang bergesek dengan lantai menimbulkan bunyi decit pendek yang membuatnya sedikit jengkal karena suaranya terasa terlalu nyaring di pagi yang sunyi itu. Arini duduk disana, lalu memberikan piring dan sendok kepada Adrian.
Tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Adrian yang dingin, membuatnya sedikit tersentak, namun ia buru-buru menyembunyikannya dengan pura-pura sibuk membetulkan letak sendok.
Hanya ada suara denting sendok yang beradu pelan dengan piring porselen. Ting. Ting. Suaranya ritmis, seperti detak jantung Adrian yang tak beraturan. Arini makan dengan tenang, ia menyuap potongan wortel dan daging ayam dengan gerakan yang terjaga, seolah-olah pikirannya benar-benar hanya tertuju pada rasa masakan di depannya.
Tidak ada gurat kemarahan, tidak ada tanda-tanda wanita itu terlihat marah. Ia terlihat biasa saja.
Di seberang meja, Adrian mencoba menyesuaikan diri. Ia menyuap nasi, mengunyahnya, tapi lidahnya seolah kehilangan fungsi.
Ia berkali-kali melirik dari balik tundukannya, berharap Arini akan mendongak, menatapnya, dan mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi menghantui kepalanya.
Kamu pulang jam berapa tadi malam, Mas?
Kenapa kamu selalu telat pulang?
Kenapa kemejamu ada bau parfum yang bukan punyaku?
Adrian sudah menyiapkan sederet jawaban bohong yang telah ia susun rapi di benaknya. Ia menunggu Arini membuka pintu interogasi itu agar ia bisa segera menutupnya dengan alasan-alasan klise. Namun, pintu itu tetap tertutup rapat. Arini tidak bertanya. Ia bahkan tidak melihat ke arah Adrian.
Sesekali, Adrian berdeham sengaja, atau memutar gelas air putihnya agar menimbulkan sedikit kegaduhan kecil. Ia berharap Arini akan berkata sesuatu, apa saja, bahkan jika itu sindiran pedas soal berita perselingkuhan di televisi tadi.
Tapi istrinya tetap diam, fokus menghabiskan kuah di piringnya sampai suapan terakhir.
Keheningan ini justru jauh lebih menyiksa daripada omelan. Bagi Adrian, diamnya Arini terasa seperti sebuah ruang tunggu yang gelap, ia tahu ada sesuatu di sana, tapi ia tidak tahu kapan sesuatu itu akan menerjangnya.
Akhirnya, piring Arini bersih. Ia meletakkan sendok dan garpunya sejajar diatas piring yang sudah kosong itu. Ia menyesap air putihnya dengan perlahan, lalu menyeka bibirnya menggunakan tisu dengan gerakan satu arah.
Adrian yang menyadari piring istrinya sudah kosong, buru-buru menghabiskan sisa makanannya yang sebenarnya masih separuh. Ia memaksakan suapan terakhir yang terasa mengganjal di tenggorokan, lalu meletakkan sendoknya dengan suara yang sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan.
Makanan habis. Meja itu bersih. Namun suasana di antara mereka justru semakin terasa canggung.
Arini berdiri, mengumpulkan piring-piring kotor itu menjadi satu tumpukan. Sebelum berbalik menuju wastafel, ia sempat berhenti sebentar di samping kursi Adrian. Ia tidak menatap suaminya, melainkan menatap ke arah televisi yang kini sudah berganti segmen iklan.
"Sopnya pas ya, Mas? Nggak terlalu asin," ucapnya pendek, hampir seperti gumaman tanpa memerlukan jawaban.
Adrian hanya bisa mengangguk kaku. "Pas, Rin. Enak."
Arini kemudian berlalu, membawa piring-piring itu ke belakang. Suara air yang mengalir dari keran mulai terdengar, mengisi kekosongan yang ditinggalkan Arini di meja makan. Adrian masih duduk mematung, menatap butiran air yang tersisa di permukaan gelasnya.
Ia merasa menang karena berhasil melewati sarapan tanpa keributan, tapi di saat yang sama, ia merasa kalah telak.
Ia tidak bisa menebak apa yang ada di balik ketenangan itu. Apakah Arini hanya sedang malas bicara, ataukah diamnya itu ada alasan lain?