Winda membenci yang namanya mantan, seperti Ardi mantan pertama dan terakhir. Penghianatan dulu membuatnya enggan menjalin hubungan sspesial dengan lawan jenis. Beberapa tahun berlalu, keluarganya ternyata mengatur perjodohan dengan Ardi tanpa ia ketahui.
(ON REVISI) Perbaikan akan dilanjutkan bab selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anindyafatika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Lokasi
"Kami berhasil melacak posisi orang tadi, tuan!" ujar seseorang dari sambungan telepon. Ardi tersenyum miring, akhirnya ia bisa segera menuntaskan apa yang menjadi kegelisahannya sedari tadi.
"Bagus! Lacak terus, dan pastikan lapor polisi untuk mengantiaipasi hal yang tak diinginkan", jedanya seraya memandangi foto Winda.
"Pastikan jika Winda baik-baik saja! Oke, terima kasih"
Sambungan diputus sepihak, ia akan meminta lokasi keberadaan penculik tadi. Sebenarnya apa motif dari penculikan ini jika uang saja ditolak mentah-mentah.
Kalau sekadar bermain-main, mengapa harus istrinya yang menjadi korbannya bahkan calon anaknya juga.
"Semoga saja kamu baik-baik saja" lamat-lamat menatap foto Winda, kemudian Ardi kembali menyimpan foto itu kedalam dompetnya.
Ia segera menuju lokasi yang dikirim oleh anak buahnya. Bersyukur tekhnologi semakin canggih, kecepatan mencari informasi pun akan semakin mudah ia dapatkan.
"Sayangnya aku tak akan mengampuni siapa pun yang terlibat dalam penculikan Winda," geramnya.
🍃🍃🍃
Keluarga Prakostama telah mendengar kabar jika menantu keluarga itu diculik. Mereka tengah menghubungi pihak-pihak yang bisa dihubungi agar Winda segera diketemukan dengan selamat.
"Aku nggak nyangka kalau mbak Winda yang diculik. Aku pikir pas bang Ardi bilang itu hanya gurauan untuk pesta kejutan," celoteh Raka. Mereka semua yang ada di dalam rumah mengangguk setuju, awalnya mereka pikir ini hanya prank.
"Kamu hubungi Ardi, dan tanyakan apakah sudah ada titik terangnya?" itu suara Papa Ardi. Raut wajahnya seolah datar tanpa rasa, namun hatinya sangat cemas akan keadaan Winda juga calon cicitnya itu.
Raka mengangguk dan segera menelpon Ardi, sudah ke dua kali ia menelpon Ardi namun gagal.
"Belum bisa," ujar Raka
"Coba sekali lagi," usul Mama Ardi.
Kembali Raka mendial nomor kakak sulungnya itu, berharap jika panggilan ini akan tersambung.
"Iya halo? ada apa Ka,"
"Udah ada petunjuk bang? Kita sekeluarga udah ngehubungin pihak berwajib".
"Alhamdulillah, anak buahku sudah berhasil menemukan lokasi penculiknya. Aku sedang menyetir nanti akan aku kabari segera!"
"Oke, Assalamualaikum"
Terdengar jawaban salam dari Ardi, hingga panggilan itu terputus.
"Gimana?"
Raka mulai berbincang mengenai penculiknya, Raka berspekulasi kecil yaitu motif dari penculikan ini adalah masalah bisnis.
"Udah dapat lokasinya, aku akan ke sana nyusul bang Ardi," dengan cekatan Raka berdiri menuju kamarnya dan mengambil kunci mobil dan jaket.
Yang berada di ruang keluarga bernapas lega, setidaknya ada petunjuk untuk menemukan Winda.
Raka tengah mengeluarkan mobilnya dari garasi, pikirannya masih kalut juga tentang Sisil yang menolak bentuk pertanggungjawabannya.
Dalam perjalanan menuju lokasi yang Ardi kirim melalui chat, Raka masih memikirkan bagaimana cara untuk membuat Sisil dan anaknya-
-anaknya, menyebut anaknya jantung Raka berdegup kencang. Berapa kira umurnya dan bagaimana kehidupan mereka dulu. Apa Sisil mengalami ngidam dan morning sick betapa berdosanya ia jika Sisil menghadapi kesulitan yang banyak.
🍁🍁🍁
Jemari Winda bergerak mengikuti dzikir yang ia panjatkan segala takbir, tasbih, dan tahmid. Matanya memejam sesekali buliran air mata itu leleh melalui pipinya.
Kleek!
Pintu ruangan pengap itu terbuka, jemari dan mulut Winda seolah terhenti. Jantungnya berpacu sembari merapalkan doa dalam hati agar ia bisa selamat dari sini.
"Ada apa!", tanya seseorang mengenakan pakaian serba hitam.
Winda membuka matanya perlahan, membuang muka ke sembarang arah agar ia tak menatap seseorang itu.
"Ck, ternyata Ardi menikahi seorang yang bisu, cuih!" dari suaranya itu adalah seorang wanita. Atau jangan-jangan wanita siang tadi?
Wanita berpakaian hitam itu maju perlahan dan mendatangi Winda yang terikat.
"Sebentar lagi, nyawamu akan aku habisi dan mayatmu akan aku persembahkan pada suamimu yang bodoh itu!"
Plak!
Tiba-tiba tangan wanita itu lancang menampar pipi Winda, rasa kebas di pipinya sangat terasa.
"Jangan bergerak! Anda kami tangkap!"
bukan dibawa kepelaminan.
kwkwkwkwkkwkw