"Kan ku kejar, akan ku cari kemanapun, dimanapun, di sudut Dunia sekalipun, akan ku dapatkan kamu, lagi. Tidak ada alasan lain, selain karna aku ingin hidup dengan mu, selamanya. " ~Riyan Adijaya
Berkisah tentang Riyan dan Vania, kisah cinta manis berujung pahit. Dimana, setelah satu tahun berkuliah di Jerman, Riyan mengalami kecelakaan mengakibatkan Amnesia Retrograde pada dirinya. Dan melupakan, Vania.
Setelah dua tahun kemudian, Riyan malah di paksa untuk menjadi guru pengganti di SMA MERAH PUTIH. SMA di mana Vania berada.
Akankah, kisah asam manis keduanya masih berlanjut? akankah mereka benar -benar bersanding di pelaminan, nanti? Ataukah, itu memang hanya masa lalu belaka?
yuk simak~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Diam
***
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian itu. Study Wisata yang harusnya terjadi hari ini harus tertunda karena Riyan yang kecelakaan waktu itu.
Pagi ini, pagi yang cerah. Namun, tidak dengan wajah Vania. Masih pagi maupun sudah siang, wajah Vania tetap saja masih sama, datar.
Ada yang berbeda pada pagi ini, biasanya Vania sarapan sendiri. Kali ini sudah ada seseorang yang mendahuluinya duduk di meja makan.
Vania yang baru saja turun dari tangga, menyipitkan matanya ke arah punggung ber jas itu. Seolah Vania kenal dan akrab pada punggung itu.
Shit! Aku bener-bener gak mau ketemu dia lagi.
Vania mengumpat seketika waktu dia sadar, bahwa orang itu adalah Riyan. Tanpa menghiraukan siapapun Vania berjalan keluar.
Lupa ingatan bukan hal yang salah, tapi mempermainkan perasaan seseorang itu sangatlah salah.
Riyan melirik Vania yang melenggang begitu saja dengan ekor matanya. Riyan sedikit berdecak, namun Riyan membiarkannya begitu saja.
Vania yang sadar ataupun tidak sedang di awasi, dia tetap melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
***
Vania hampir sampai di sekolah, dia berjalan sendiri di jalanan sepi. Entah iseng atau bawaan sedari lahir, saat melihat jalanan sepi dan ada kaleng cola merah yang sudah kosong. Vania menendang kaleng itu pelan, tapi lurus.
Entah kenapa jalan sembari menendang memberikan kepuasan sendiri pada Vania. Itu mampu membuat moodnya lebih baik.
Tapi, mendadak kaki Vania berhenti menendang saat dia menyadari ada motor yang berhenti di sebelahnya. Vania menoleh ke arah motor dan penggunanya itu.
"Butuh tumpangan Van? " ujar pria itu. Dia membuka helm merahnya. Vania kenal orang itu, dialah Arcana Arka. Orang yang beberapa hari lalu di temuinya di rumah sakit sedang menanyakam lama umurnya.
Nyessssss
Saat mengingat itu, ada bagian hati kecil Vania yang turut sedih. Namun, Vania tidak boleh menunjukkannya kan? Dia harus berpura-pura tidak tau.
"Buat apa tumpangan Ka? Tuh liat, gerbang sekolah aja udah keliatan. Bentar lagi nyampe juga, " sahut Vania enteng, mengatur nada suaranya agar terlihat baik-baik saja.
"Oo iya, tapi seriusan nih. Gak mau bareng gue? " tawar ulang Arka, hanya sekedar memastikan.
"Enggak deh Ka, lagian aku juga masih pengen nendang-nendang kaleng. Mumpung jalanan sepi juga kan? "
"Nendang tuh bola Van, lo nendang kaleng. Awas luka tuh kaki. Ya udah, gue jalan duluan yah. "
"Yeee biarin. Oke, dah~" Vania melambaikan tangannya ramah.
Arka sendiri masih terus melaju dengan motornya.
***
Dua langkah setelah masuk dari gerbang, sudah ada dia Rayden si cool ketos yang menghentikan jalannya gadis mungil itu. Rayden berdiri dengan sengaja tepat di depan Vania, guna menghalangi langkahnya.
Vania mendongak agak ke atas, menatap mata orang itu, untuk mengulik alasannya.
"Kenapa? Ada apa? " tanya Vania dengan suara datar.
"Ikut gue. " Rayden hanya mengungkapkan dua kata, dan dia langsung menarik tangan Vania.
"Aku gak mau ikut kamu. Kita gak kenal, aku ga bakal sudi ngikutin jalannya orang asing. " tolak Vania berusaha menarik tangannya yang di pegang erat oleh Rayden.
"Tapi ini penting, " paksa Rayden. Dia menarik paksa tangan mungil itu.
"Kalau dia gak mau, jangan di paksa. Pecundang sekali kamu, memaksa yang lebih lemah. " tiba-tiba suara itu bergema dari sebelah Vania, di ikuti dengan tangan orang itu yang mencengkam erat pergelangan Rayden, memaksa sang ketos untuk melepaskan cengkramannya pada Vania.
Vania menoleh ke kiri, asal suara. Di sebelahnya itu, Vania bisa melihat sosok tampan yang jangkung dengan stelan formalnya.
"Pak Riyan? " kaget Vania, saat dia sadar siapa orang itu.
"Iyaa saya, kamu merasa tertolong? Saya pahlawan, di mata kamu kan? " sahut Riyan enteng, dengan segala kepercayaan dirinya.
Pahlawan? Tcih! Kau adalah penyebab utama segala kesedihan ku.
"Tolong, sadar diri itu penting. " sahut Vania. Dia tidak perduli lagi bahwa Riyan itu sekarang adalah gurunya.
Kecewa tetaplah kecewa, bukan benci hanya saja Vania sudah tak ingin melihat Riyan.
Rayden menaikkan alisnya sebelah, dia tau anak kelas XII IPA lima tidak ada yang beres. Tapi, meski begitu Vania sendiri tidak akan mungkin mengatakan hal seperti itu pada gurunya, apalagi wali kelasnya.
"Siapa yang harus sadar diri, bukan kah kamu yang harusnya lebih sadar? Ataukah harus saya terangkan defenisi dari sadar diri? " Riyan menatap Vania penuh makna, dia juga agak smirk
Deg
Vania langsung mengerti akan perkataan Riyan. Soal Rumah kan? Sadar bahwa itu rumah Riyan?
"...." Vania diam, dia memilih meninggalkan kedua pria berwajah menjijikan itu di sana
"tcih!" Riyan berdecak kesal, sembari melanjutkan jalannya. Tapi, satu langkah kemudian Riyan berhenti.
"Kau, Ketua OSIS kan? Jangan ulangi perbuatan mu itu. Jangan ganggu bocah rese itu lagi, atau akan ku pastikan kau tidak akan pernah di terima di Universitas manapun. " Ancam Riyan, sebelum dia benar-benar meninggalKan Rayden di sana.
Rayden mulai mencium bau-bau hubungan yang tidak wajar antara keduanya.
Hubungan guru dan murid tidak akan seperti itu kan? Ada apa dengan keduanya? Hmm gue harus cari tau. Kali aja, si Vania lagi di ancam sama om pedo itu.
Batin Rayden, dia juga segera berbalik ke kelasnya. Dengan pikiran dan teori-teori yang mulai di susunnya.
***
Brakkk!!
Riyan melempar kasar tempat pensil yang ada di mejanya. Riyan sangat ingat, sejak kejadian di rumah sakit kala itu. Vania tidak pernah mengatkan sepatah kata pun pada Riyan. Bahkan, saat Vania bertemu dengan Riyan. Vania berusaha keras menghindarinya.
Bahkan, tak jarang Riyan memanggilnya, saat di rumah sakit, dan Vania pura-pura tidak mendengarnya. Membuat emosi sang presdir itu naik.
Bisa di bilang, tadi pagi adalah pertama kalinya Vania berbicara dengan Riyan setelah tragedi itu.
Sialan!! Beraninya perempuan congkak itu sombong pada ku! Dia bahkan berani mengatakan hal seperti itu di depan ketua osis itu! Tcih! Gadis sombong itu harus di beri pelajaran.
Riyane mengambil ponselnya, lalu mengetikkan pesan yang di tujukan untuk Vania.
"Menurut lah pada ku, karna rumah ku adalah tempat satu-satunya kamu tinggal. "
Bukan kah secara tidak langsung Riyan menghina materi yang di miliki Vania?
Tring! Tring!
Di koridor yang sepi itu, suara telpon Vania bergema. Dia membuka notif yang masuk di hpnya. Sebuah pesan, dan yang di kirim oleh,
Riyan? Ngirim apa dia?
Vania membaca pesan singkat itu dengan seksama.
Secara enggak langsung, bukankah ini namanya pak Riyan ngancem, bahwa kalo aku gak nurutin kata-katanya, dia bakal usir aku gitu? Apa dia ga tau? Aku masih punya rumah lain?
Oh iya, dia kan lupa ingatan. Mana dia ingat aku anak pemilik perusahaan kelas menengah dulu. Terserah lah, kalo mau ngusir.
***
Dan aku masih kepo apa maksud Rayden tadi soal kecelakaan ortunya Vania?? 🤔🤔