Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Air dan Bayang-Bayang San Marco
Venesia menyambut mereka dengan aroma air asin yang membusuk dan kabut tebal yang menyelimuti laguna. Bagi dunia, Venesia adalah kota romantis, namun bagi Elena Moretti, kota ini adalah labirin maut yang penuh dengan mata-mata di setiap sudut jembatannya.
Mobil SUV yang mereka tumpangi telah ditinggalkan di sebuah gudang tua di Mestre. Kini, Elena, Luca, dan Matteo yang masih dalam kondisi payah, berada di atas sebuah motorboat kayu tua yang melaju pelan menyusuri kanal-kanal sempit di distrik Cannaregio.
"Matteo, tetaplah sadar," Elena berbisik, menyandarkan kepala Matteo di bahunya. Pria itu terus menggumamkan kode-kode yang tidak jelas, efek dari demam tinggi akibat infeksi luka tembaknya.
"Elena... cari L'Orologio di Pietra... Jam Batu," gumam Matteo dengan mata setengah tertutup. "Di sana... ayahmu menyembunyikan 'Gema' yang sebenarnya."
Luca, yang mengemudikan perahu, menoleh dengan cemas. "Signorina, kita diikuti. Ada dua speedboat hitam tanpa lampu di belakang kita sejak kita melewati Jembatan Liberty. Mereka bergerak sangat halus, ini bukan gaya preman jalanan. Ini gaya militer."
Elena berdiri, meraih teropong malam. Di balik kabut, ia melihat siluet perahu-perahu ramping yang melaju tanpa suara mesin yang bising—mesin elektrik. "Mereka dari Roma. Mereka tahu kita akan ke sini."
"Kita tidak bisa membawa Matteo ke rumah sakit umum," kata Luca tegas. "Jika kita masuk ke sana, sistem pengenal wajah akan langsung mengirim sinyal ke markas mereka."
"Bawa kita ke gereja San Pietro di Castello," perintah Elena. "Ada seorang pendeta tua di sana, mantan dokter lapangan keluarga Moretti. Dia satu-satunya orang yang tidak akan menjual kita."
Perahu itu melesat, membelah air kanal yang tenang, menciptakan riak yang menabrak dinding-dinding bangunan tua yang berlumut. Di belakang mereka, suara mesin elektrik mulai menderu keras—para pengejar telah membuang penyamaran mereka.
Tatatatata!
Rentetan tembakan dari senjata berperedam menghujani bagian belakang perahu kayu mereka. Serpihan kayu terbang ke udara. Elena segera membalas tembakan, mencoba membidik tangki bahan bakar perahu lawan, namun kegelapan dan kabut membuat segalanya menjadi mustahil.
"Luca, masuk ke kanal yang lebih sempit! Mereka tidak akan bisa bermanuver di sana!" teriak Elena.
Luca membanting kemudi, membawa perahu mereka masuk ke sebuah celah kanal yang lebarnya nyaris sama dengan badan perahu. Dinding batu yang lembap bergesekan dengan kayu perahu, menciptakan suara decitan yang memilukan. Para pengejar terpaksa melambat, namun mereka tidak menyerah.
Saat mereka sampai di dermaga belakang gereja tua yang sunyi, Elena dan Luca dengan cepat menggotong Matteo turun. Luca memberikan beberapa tembakan perlindungan ke arah mulut kanal untuk menahan lawan.
"Masuk, Signorina! Cepat!"
Di dalam gereja yang gelap dan berbau kemenyan, seorang pria tua dengan jubah hitam muncul dari balik bayang-bayang. Itu adalah Pastor Donato. Matanya yang tajam segera mengenali Elena.
"Putri Moretti..." bisiknya kaget. "Darah... kenapa ada begitu banyak darah?"
"Bantu dia, Donato. Tolong," Elena memohon.
Saat Donato mulai menangani Matteo di ruang bawah tanah gereja, Elena berdiri di dekat jendela kecil yang menghadap ke kanal. Ia mengeluarkan micro-SD yang diberikan Matteo tadi. Ia memasukkannya ke dalam sebuah perangkat pembaca portabel yang ia bawa dari tas Luca.
Layar kecil itu menyala, menampilkan deretan file yang terenkripsi. Elena memasukkan kode yang diberikan Matteo: tanggal pertemuan pertama mereka di Venesia sepuluh tahun lalu.
Klik.
File itu terbuka. Bukannya daftar nama koruptor seperti yang ia duga, folder itu berisi sebuah rekaman video hitam putih yang diambil dari kamera tersembunyi di kantor ayahnya. Di video itu, ayahnya sedang berbicara dengan seorang pria yang wajahnya sengaja dikaburkan.
"Kau tidak bisa menghentikan ini, Moretti," suara pria di video itu terdengar berat dan berwibawa. "Dewan Tujuh sudah memutuskan. Venesia akan menjadi pintu gerbang baru, dan Verona harus dibersihkan untuk memuluskan jalannya. Bergabunglah dengan kami, atau kau akan melihat seluruh keluargamu terbakar."
Ayah Elena berdiri, suaranya lantang. "Aku lebih baik mati bersama kotaku daripada hidup sebagai budak dari bayang-bayang Roma."
Video berakhir saat pria misterius itu berdiri dan memperlihatkan sebuah cincin di jari manisnya—sebuah cincin emas dengan simbol elang yang memegang timbangan.
Elena menutup mulutnya dengan tangan. Ia mengenali cincin itu. Itu adalah cincin yang sama yang sering ia lihat di berita televisi, dipakai oleh Menteri Kehakiman Italia yang baru saja dilantik.
"Musuh kita bukan hanya mafia, Luca," Elena berbisik pada Luca yang baru saja masuk untuk memeriksa keadaan. "Musuh kita adalah hukum itu sendiri."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari aula gereja di atas. Suara kokangan senjata menggema di ruangan yang suci itu. Para pengejar telah masuk.
Elena menatap Matteo yang masih belum sadar di atas meja bedah darurat, lalu menatap Donato yang ketakutan. Ia menyimpan micro-SD itu di dalam liontin kuncinya, mengunci senjata di tangannya, dan berdiri di depan pintu.
"Luca, jaga pintu belakang. Aku akan mengurus para tamu ini," ucap Elena, matanya kini berkilat dengan kegelapan yang sama dengan air kanal Venesia.
Babak baru telah dimulai. Bukan lagi tentang membalas dendam pada seorang paman yang serakah, tapi tentang meruntuhkan pilar-pilar korup yang menyangga sebuah negara.