Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Yang Menyebar
Beberapa hari setelah acara perkenalan coklat kuno keluarga Mendoza di pusat budaya Meksiko City yang sukses besar, kabar tentang perjuangan mereka untuk menyelamatkan tradisi lima generasi mulai menyebar lebih jauh dari yang mereka duga. Awalnya hanya artikel kecil di koran lokal dan postingan di media sosial yang dibuat oleh Rian, Rama, dan Siti—namun dalam seminggu saja, cerita tersebut telah muncul di platform berita nasional Meksiko dan bahkan beberapa publikasi kuliner internasional.
Namun dengan perhatian yang datang juga masalah baru yang tak terduga.
“Saya sudah menerima delapan telepon dari perusahaan besar makanan dalam sehari terakhir,” kata Carlos dengan wajah pucat saat berkumpul di ruang kerja keluarga. “Mereka ingin membeli hak cipta resep coklat kuno kita, atau menawarkan kerja sama di mana mereka akan memasarkan produk kita dengan nama merek mereka sendiri. Salah satu dari mereka bahkan menawarkan uang tunai yang cukup untuk membeli seluruh kebun kita di Chiapas.”
Don Alejandro menjepit bibirnya sambil menggosok biji kakao yang sedang dikeringkan di atas alas kayu tradisional. “Mereka tidak mengerti—resep ini bukan milik kita saja, melainkan milik komunitas dan leluhur kita. Jika kita menjualnya, maka kita akan menjual bagian dari identitas kita yang paling dalam.”
Namun masalah tidak hanya datang dari perusahaan besar. Beberapa pedagang kecil di sekitar daerah Coyoacán mulai menjual produk yang mereka klaim sebagai “Coklat Kuno Mendoza Asli”, padahal dibuat dengan bahan-bahan murah dan proses yang sama sekali berbeda. Pasar lokal yang dulunya menjadi tempat mereka menjual produk dengan harga adil kini dipenuhi dengan tiruan yang mengaburkan nama baik keluarga Mendoza.
“Kita harus melakukan sesuatu sebelum semuanya hancur,” ujar Elena dengan suara tegas. Ia telah menghabiskan beberapa hari untuk mengumpulkan bukti tentang produk tiruan tersebut, berbicara dengan pelanggan yang merasa tertipu dan mencatat alamat pedagang yang tidak bertanggung jawab. “Tetapi bagaimana kita bisa bersaing dengan mereka? Mereka menjual produk dengan harga setengah dari kita, dan banyak orang tidak bisa membedakan yang asli dengan yang palsu.”
Masalah ini juga mulai menyebar ke kebun kakao di Chiapas. Beberapa pemilik kebun kecil di sekitar kawasan, yang dulunya bekerja sama dengan keluarga Mendoza dalam memelihara metode budidaya tradisional, kini mulai menerima tawaran dari perusahaan perkebunan besar yang menawarkan harga lebih tinggi untuk buah kakao mereka. Mereka menjelaskan bahwa dengan kondisi ekonomi yang sulit dan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, mereka tidak punya pilihan lain selain mengambil keuntungan yang lebih besar saat ini.
“Pak Alejandro, saya sangat menyesal,” ujar Pedro, pemilik kebun kakao kecil yang telah bekerja sama dengan keluarga selama tiga dekade. “Anak saya sedang sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang mahal. Perusahaan itu menawarkan uang tunai langsung, dan saya tidak bisa menolaknya.”
Rian, Rama, dan Siti menyaksikan bagaimana masalah yang awalnya hanya mengenai keluarga kecil Mendoza kini berkembang menjadi masalah yang menyebar ke seluruh komunitas kakao di wilayah tersebut. Mereka mulai menyadari bahwa tantangan yang dihadapi bukan hanya tentang memilih antara tradisi dan kemajuan, melainkan tentang bagaimana melindungi sebuah ekosistem budaya dan ekonomi yang saling terhubung.
“Saya berpikir kita perlu melihat lebih jauh dari sekadar usaha keluarga kita,” kata Carlos setelah menghabiskan beberapa hari untuk berbicara dengan pemilik kebun lain di Chiapas. “Masalah kita bukan hanya masalah Mendoza—ini adalah masalah bagi semua orang yang masih mengolah kakao dengan cara tradisional di seluruh Meksiko. Jika kita tidak bisa bekerja sama, maka kita semua akan terkikis oleh pasar yang tidak peduli dengan nilai budaya kita.”
Ide untuk membentuk sebuah kooperatif mulai muncul. Rian menghubungi penerbit lokal dan beberapa organisasi pelestari budaya untuk mencari dukungan, sementara Rama mulai merekam dokumenter tentang perjuangan komunitas kakao, dengan harapan bisa menarik perhatian publik dan mendapatkan dukungan dari pihak yang berkepentingan. Siti bekerja dengan Elena dan beberapa ahli hukum untuk membuat sertifikasi khusus bagi coklat yang diolah dengan metode tradisional, agar pelanggan bisa dengan mudah membedakan yang asli dengan yang palsu.
Namun tidak semua orang mendukung ide tersebut. Beberapa pemilik kebun yang sudah bekerja sama dengan perusahaan besar merasa bahwa kooperatif akan menjadi saingan bagi mereka, dan mulai menyebarkan kabar buruk tentang keluarga Mendoza. Ada juga tantangan dari pemerintah daerah yang membutuhkan waktu lama untuk menyetujui proses sertifikasi, dengan alasan peraturan yang kompleks dan kurangnya tenaga kerja yang bisa menangani permohonan tersebut.
“Saya mulai berpikir apakah semua usaha kita akan ada artinya,” ujar Don Alejandro pada malam hari saat mereka berkumpul di halaman rumahnya, melihat pohon kakao yang telah menjadi saksi bisu bagi lima generasi keluarga nya. “Masalahnya semakin menyebar, dan sepertinya setiap langkah yang kita ambil hanya membawa tantangan baru.”
Tapi saat itu, suara anak-anak dari komunitas lokal yang sedang belajar membuat coklat tradisional terdengar dari bagian belakang rumah. Mereka tertawa dan berbagi cerita sambil mencoba mengolah biji kakao dengan tangan mereka sendiri, di bawah bimbingan beberapa pekerja kebun yang telah menjadi ahli dalam bidangnya. Di antara anak-anak tersebut adalah putra Pedro, yang datang untuk belajar setelah ayahnya menyadari bahwa uang dari perusahaan besar tidak akan pernah bisa menggantikan nilai dari pengetahuan yang diteruskan dari generasi ke generasi.
“Mereka adalah harapan kita,” kata Elena sambil melihat arah suara anak-anak itu. “Masalah mungkin menyebar ke mana-mana, tapi begitu juga semangat untuk melestarikan apa yang berharga. Kita tidak bisa menghentikan perubahan, tapi kita bisa mengajar orang-orang bagaimana menjaga akar mereka sambil tetap melihat ke masa depan.”
Beberapa minggu kemudian, setelah melalui proses yang panjang dan penuh tantangan, sertifikasi “Coklat Tradisional Meksiko” akhirnya disetujui. Kooperatif yang terdiri dari dua puluh lima pemilik kebun mulai beroperasi, dengan sistem pembagian keuntungan yang adil dan program pelatihan untuk generasi muda. Perusahaan besar yang dulunya ingin membeli resep mereka kini malah datang dengan tawaran kerja sama, dengan syarat produk mereka menggunakan sertifikasi yang telah dibuat dan tetap mempertahankan standar kualitas tradisional.
“Saya tidak pernah berpikir bahwa masalah yang hampir menghancurkan kita bisa menjadi jalan untuk membawa kita semua bersama-sama,” kata Carlos saat berdiri di atas panggung acara peluncuran kooperatif, dengan Don Alejandro berdiri di sebelahnya. “Masalah memang menyebar, tapi begitu juga solusi kita—karena ketika kita bekerja sama, kita bisa menciptakan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.”
Rian menutup buku catatannya dengan senyum, sementara Rama mengambil foto dari momen tersebut—foto yang akan menjadi sampul untuk buku baru mereka tentang bagaimana makanan bisa menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Siti sedang mengetik pesan kepada penerbit: “Masalahnya mungkin menyebar luas, tapi jawabannya selalu terletak pada kebersamaan dan rasa hormat terhadap apa yang membuat kita menjadi diri kita sendiri.”