NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Uncle Noah

Terjerat Cinta Uncle Noah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Si Mujur / Tamat
Popularitas:587
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Sarah

Tonny menghentikan langkahnya begitu melihat sosok itu berdiri di dekat jendela di sebuah restoran.

“Sarah?”

Perempuan itu menoleh. Wajahnya pucat, senyum yang terukir di bibirnya tampak dipaksakan.

“Oh… Tonny. Raya.”

Raya langsung mendekat, nada suaranya hangat namun penuh kehati-hatian.

“Kamu apa kabar? Sudah lama nggak kelihatan.”

Sarah terkekeh pelan. Tawa yang terdengar lebih seperti desahan lelah.

“Kalau boleh jujur? Buruk.”

Tonny dan Raya saling berpandangan sejenak, membaca kegelisahan yang sama.

“Kenapa?” tanya Tonny akhirnya, suaranya diturunkan.

Sarah menarik napas panjang, seolah harus mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur.

“Hubunganku sama Noah… sudah selesai.”

Raya tersentak.

“Putus?”

“Iya.” Sarah mengangguk singkat. “Kandas.”

Alis Tonny berkerut.

“Ada masalah apa?”

Pandangan Sarah beralih ke luar jendela. Matanya berkabut, suaranya melembut namun tajam di ujungnya.

“Ada orang ketiga.”

Raya menegang.

“Noah punya pacar lagi?”

Sarah tersenyum miring.

“Iya masih Sangat muda.”

Sunyi jatuh di antara mereka. Terasa berat.

Tonny berdehem, berusaha terdengar rasional.

“Noah bukan tipe yang begitu.”

“Dulu aku juga berpikir begitu,” potong Sarah pelan.

 “Sampai aku lihat sendiri bagaimana dia berubah.”

“Berubah bagaimana?” tanya Raya.

“Protektif. Defensif.” Sarah menoleh kembali pada mereka. “Seolah-olah dunia harus mengerti kalau gadis itu istimewa.”

Nada suaranya mengeras.

“Padahal,”

“Padahal apa?” sela Tonny.

“Padahal jelas-jelas memanfaatkannya.”

Sarah mengangkat bahu kecil, nyaris acuh.

“Gadis seperti itu tahu betul cara menjual kepolosan.”

Raya menelan ludah.

“Maksudmu…?”

“Murahan,” ucap Sarah tanpa ragu.

“Mengincar harta Noah. Berlaku seolah-olah dia gadis yang lugu,”

Tonny membeku.

“Itu tuduhan berat, Sarah.”

Sarah menatapnya tajam.

“Aku tidak menuduh,” katanya tenang. “Aku menyimpulkan.”

Raya mencoba tersenyum, namun senyum itu runtuh sebelum terbentuk.

“Kamu yakin itu bukan cuma salah paham?”

Sarah tertawa pendek.

“Aku bukan perempuan bodoh, Raya. Aku tahu bedanya cinta dan manipulasi.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

“Seorang gadis muda…?”

Ulang Tonny perlahan, seperti sedang merangkai potongan yang tak ingin ia susun.

“Iya,” jawab Sarah. “Sangat muda. Datang tiba-tiba. Langsung ada di sisinya.”

Raya menggenggam tasnya lebih erat.

“Dan Noah membelanya?”

“Selalu.” Sarah mengangguk.

“Itu yang paling menyakitkan.”

Tonny dan Raya kembali saling berpandangan. Tak satu pun berbicara, tapi pikiran mereka bergerak ke arah yang sama arah yang sama-sama ingin mereka hindari.

Akhirnya, Raya bertanya pelan, suaranya tegang.

“Kamu tahu siapa gadis itu?”

Sarah menatap mereka.

“Aku tidak perlu menyebut namanya,.”

Senyum tipis muncul di bibirnya, dingin dan getir.

“Gadis seperti itu biasanya cepat pergi… setelah mendapatkan apa yang dia mau.”

Nada terakhirnya menusuk.

Tonny menegakkan bahu.

“Aku harap kamu salah.”

Sarah menatap mereka berdua lama, seolah menimbang harapan itu.

“Aku juga.”

lalu Sarah berpamitan dan melangkah pergi, meninggalkan Tonny dan Raya dalam keheningan yang berat.

Raya menarik napas tajam.

“Ton…”

“Iya,” sahut Tonny cepat

Kalimat itu menggantung. Tak ada yang berani melanjutkan.

 

Sore Itu Raya masih memikirkan ucapan Sarah namun dia mememilih untuk membuang jauh jauh pikirannya.

Ninda baru saja mengenakan tas selempangnya ketika Raya keluar dari dapur sambil membawa sebuah kotak kue.

“Ninda.”

“Iya, Ma?”

Raya mengulurkan kotak itu.

“Sebelum kamu ke Apartemen titip ini buat kOpah Jhonatan.”

"Oh,"

Ninda menerima kotak tersebut, mengendus aromanya, lalu tersenyum kecil.

“Bolu pandan?”

“Kesukaan Opah,” jawab Raya. “Masih hangat.”

Ninda mengangguk.

“Opah pasti senang.”

Raya lalu menatap Ninda lebih lama, seolah memastikan anaknya benar-benar mendengarkan.

“Nanti kalau sudah sampai, bilang sama Opah…”

“Mama sama Tonny nanti sore bakal datang,” ucap Raya pelan namun tegas.

“Oh… Papa juga ikut?”

Raya mengangguk.

“Kebetulan kerabat yang lain juga mau datang. Sekalian kumpul.”

Ninda merapikan pegangan kotak kue di tangannya.

“Ramai dong.”

“Iya.” Raya tersenyum tipis.

“Oh ya, Auty Merry juga akan datang.”

Langkah Ninda sempat terhenti.

“Auty Merry?”

“Iya.” Raya tampak santai. “Sudah lama nggak ketemu, kan?”

Ninda menarik napas kecil.

“Baik, Ma. Aku sampaikan semua ke Opah.”

Raya menepuk bahu Ninda lembut.

“Jangan lupa pulangnya minta di antar Uncle mu,"

Ninda mengangguk, lalu melangkah menuju pintu.

“Ninda pergi ya mah,.”

“Hati-hati di jalan.”

Pintu tertutup perlahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!