IG @suliani_cucu
Karena kesalahan satu malam yang dilakukan oleh Aruna, hal itu membuat dia harus menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Awalnya pernikahan itu terasa baik-baik saja, hingga 5 tahun kemudian Aruna melihat sang suami pergi bersama dengan wanita lain.
Hal itu membuat Aruna selalu membuntuti suaminya, hatinya begitu sakit ketika mengetahui kenyataan bahwa suaminya telah berselingkuh. Bahkan, suaminya sudah memiliki putri dari wanita itu. Melihat akan hal itu, Aruna bertekad untuk membalas dendam kepada sang suami.
"Jangan pernah kamu kira aku akan diam saja, Sam. Aku akan membalaskan semua rasa sakit hatiku kepada kamu!" tekad Aruna.
Cara apa yang akan Aruna lakukan untuk membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Cukup lama Aruna melamun di Kafe tersebut, hingga tidak lama kemudian dia mendengar ponselnya berdenting. Ternyata ada pesan masuk ke dalam ponsel milik Sam, dengan cepat Aruna membaca pesan yang ternyata dari Angel tersebut.
"Aku sudah siap, ayo kita jalan-jalan. Aya juga sudah cantik, jangan biarkan aku menunggu lama."
"Iya, Sayang. Sebentar lagi aku sampai," balas Sam.
Aruna merasa sangat panas membaca pesan dari Angel, dengan cepat dia pergi dari Kafe tersebut. Dia ingin segera pulang dan mencegah suaminya untuk pergi, setidaknya Sam tidak boleh pergi dengan Angel selama masih menjadi suaminya.
Saat tiba di kediaman Rahardi, dia melihat jika mobil Sam ternyata ada di garasi. Dia tersenyum dan dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Sayangnya, saat dia sampai di dalam kamarnya ternyata Sam tidak ada di sana. Kamar itu terlihat kosong, Aruna dengan cepat keluar dari dalam kamarnya dan segera pergi menuju kamar mertuanya.
"Mom! Sam mana?" tanya Aruna seraya mengetuk pintu kamar mertuanya.
Cukup lama Aruna menunggu di depan pintu kamar mertuanya tersebut, hingga tidak lama kemudian dia melihat pintu kamar tersebut terbuka. Nampaklah Amara dengan penampilannya yang sudah terlihat begitu rapi.
"Sam pergi, katanya ada urusan," jawab Amara seraya memakai jam tangan mewahnya.
"Kok mobilnya masih ada? Trus Mom mau pergi ke mana?" tanya Aruna dengan gelisah.
"Dia tidak memakai mobilnya, kalau Mom mau arisan, Sayang. Mau ikut?" tanya Amara.
Sedih sekali rasanya mendengar jawaban dari Amara, karena itu artinya dia sudah telat untuk mencegah kepergian suaminya.
"No! Lalu, Ay mana?" tanya Aruna.
"Lagi renang ditemani encus, katanya hawanya panas banget. Mom pergi dulu, kalau ada apa-apa cepet telpon Mom," pesan Amara.
"Yes, Mom!" jawab Aruna.
Amara terlihat mengecup kening Aruna, lalu dia pergi dari kediaman Rahardi. Karena dia sudah hampir telat, berbeda dengan Aruna yang langsung melangkahkan kakinya menuju kolam renang.
"Ay!" teriak Aruna ketika melihat putrinya sedang berenang ditemani babysitternya.
"Buna!" pekik Ayana dengan senang.
Ayana langsung naik dan memeluk Aruna, Aruna tidak marah sama sekali walaupun bajunya kini basah karena ulah putrinya. Aruna melerai pelukannya, lalu dia mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan putrinya.
"Sudah berapa lama renangnya? Kenapa badan kamu sangat dingin?" tanya Aruna.
Babysitter yang bertugas untuk mengurusi Ayana langsung menghampiri Aruna, dia menundukkan kepalanya lalu berkata.
"Sudah 2 jam, Nyonya." Encus menjawab pertanyaan Aruna dengan wajah ketakutan.
"2 jam? Itu sangat lama encus, bagaimana kalau Ay masuk angin?" tanya Aruna dengan kesal karena babysitter-nya Ay seakan tidak memedulikan kesehatan dari Ayana
"Anu, Nya. Tadi Nyonya pergi sangat lama, terus Ay marah. Berhenti marah karena dituruti renang," jelas Encus.
"Ya udah ngga apa-apa, saya minta maaf karena sudah merepotkan kamu terlalu lama," ucap Aruna pada akhirnya.
''Iya, Nyonya. Saya juga minta maaf," jawab Encus.
"Oiya, apa tadi Sam berpamitan dulu kepada Ay?" tanya Aruna.
"Tidak, Nyonya. Saya malah tidak tahu kalau tuan pergi," jawab Encus.
"Oh, ya udah ngga apa-apa. Saya duluan," ucap Aruna.
Aruna dengan cepat menggendong tubuh mungil Ayana, lalu dia membawa Ayana ke dalam kamar putri cantiknya. Aruna langsung memandikan Ayana dengan air hangat, setelah itu dia memborehkan minyak telon pada tubuh Ayana dan segera memakaikan baju hangat kepada putrinya.
"Dengarkan, Buna, Sayang. Kamu tidak boleh main air terlalu lama, nanti kalau sakit bagaimana?" tanya Aruna dengan sedih karena merasa tidak bisa menjaga putrinya.
Ayana memang terlahir normal, tetapi saat itu Aruna melahirkan Ayana karena terjatuh setelah membersihkan kamar mandi. Beruntung Ayana bisa lahir dengan normal, hanya saja pisik Ayana memang kurang kuat.
Bahkan, tanpa Aruna tahu Sam pernah memberikan obat penggugur kandungan di dalam makanan yang Aruna makan. Beruntung baby yang dikandung Aruna sangatlah kuat, tetapi setelah lahir Ayana tidak boleh bermain air terlalu lama. Karena itu tidak akan baik untuk tubuhnya.
"Maaf, Buna. Ay menyesal," jawab Ayana dengan raut penuh penyesalan.
Ayana menundukkan kepalanya seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, karena dia terlihat menguap dengan lebar.
"Buna maafkan, lain kali jangan lakukan lagi. Kamu ngantuk?" tanya Aruna.
"Sangat ngantuk," jawab Ayana seraya menguap.
"Tapi ini sudah sore, Sayang. Jangan bobo, ya?" pinta Aruna ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Tapi kepala Ay sangat sakit, Ay mau bobo. Sebentar saja, Buna," pinta Ayana memelas.
"Baiklah, kamu tidur dulu. Nanti Buna bangunin," ujar Aruna pada akhirnya.
Aruna membantu merebahkan tubuh mungil putri kecilnya, lalu dia mengusap-usap punggung putri cantiknya sampai tertidur dengan pulas. Dia tatap wajah putrinya seraya tersenyum kecut, lalu Aruna berkata.
"Buna tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tetapi Buna harap kamu akan paham dengan keputusan yang akan Buna ambil," ucap Aruna.
Aruna menundukkan kepalanya, lalu dia mengecup kening putrinya dengan penuh kasih. Hatinya benar-benar terasa kacau saat ini, entah harus melakukan apa, Aruna tidak tahu.
"Lebih baik aku mengecek akun sosial media Sam saja," ucap Aruna.
Setelah mengatakan hal itu, Aruna dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Dia mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Lalu, dia mencoba untuk masuk ke dalam akun sosial media milik suaminya.
Tentu saja hal itu lakukan setelah diajarkan oleh Arin, karena selama ini dia memang tidak pernah bermain sosial media. Namun, dia sangat tahu jika suaminya itu aktif bermain sosial media.
Dia pernah mencoba untuk melihat akun sosial media milik Sam, tetapi akun media sosial tersebut dikunci. Dia tidak bisa melihat apa yang di posting oleh suaminya tersebut, tetapi dia juga merasa gengsi jika harus membuat akun sosial media dan memfollow akun suaminya tersebut.
"Yes! Berhasil!" pekik Aruna ketika dia bisa masuk ke dalam akun sosial media milik suaminya.
Aruna terlihat tersenyum dengan begitu senang, tetapi tidak lama kemudian senyum itu menghilang. Air matanya langsung turun membasahi kedua pipinya, bahkan Aruna kini mulai terisak karena dia melihat foto-foto kemesraan antara Sam dan juga Angel.
Ada foto Sam dan juga Angel yang sedang berada di atas tempat tidur, Angel berada di atas tubuh Sam dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Selimut yang mereka pakai hanya menutupi tubuh Angel sampai sebatas pinggangnya saja.
Tidak ada satu pun foto Aruna dan juga foto Ayana, hanya banyak foto Sam bersama dengan Angel dan juga Ayaka.
"Ya Tuhan! Apakah Sam begitu mencintai wanita itu? Apakah aku dan Ay tidak ada artinya di mata Sam?" tanya Aruna dengan sedih.