Lila tak pernah benar-benar mencintai Ryan, ia hanya mendekati Ryan karena alasan membalas dendam terhadap mantan kekasih yang sudah berkhianat padanya. Semua itu berubah ketika Ryan justru mulai menunjukkan ketertarikannya pada Lila.
Ryan hanyalah cowok dingin tampan yang selalu menjadi topik hangat di kampus, tapi tak ada satu gadis pun yang berhasil menarik perhatiannya kecuali Lila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jamilah Prita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Ada yang berbeda dari akhir pekan kali ini, Lila tak hanya berdiam di kamar apartemennya sembari mengerjakan pekerjaannya. Ia justru sedang ada di dalam mobil bersama Ryan. Setelah malam itu, Lila dan Ryan menjadi cukup dekat, dan kali ini Ryan mengajak Lila ke suatu tempat untuk menghabiskan penghujung minggu ini.
Komunikasi mereka belum terlalu banyak, mereka lebih suka mewakilkan semua itu dengan tindakan, karena keduanya bukan tipe orang yang banyak berbicara. Jadilah mereka seperti itu, tapi itu sudah lebih baik daripada mereka tak melakukan apapun. Ini bukan seperti Ryan yang sudah mengungkapkan cintanya, sepertinya pria itu belum mengatakan apapun kepada Lila.
Mereka hanya melakukan segalanya secara normal. Ungkapan cinta terdengar sangat klise untuk umur mereka yang hampir kepala tiga itu. Mereka hanya melakukan apa yang seharusnya memang mereka lakukan. Lila
memberikan Ryan kesempatan untuk masuk kembali dalam hidupnya, dan Ryan sangat kegirangan karena hal itu.
“Kita mau kemana?” tanya Lila. Ini masih pukul delapan dan mereka sudah berkendara kurang lebih sekitar satu jam tapi tempat tujuan mereka belum jelas.
“Untuk menepati janjiku dulu, kamu pasti bakal suka sama tempat ini,” jawab Ryan. Matanya terfokus pada jalanan di hadapannya, tapi sesekali ia mencuri pandang pada Lila. Ia tak pernah bosan jika harus memandangi wajah cantik itu untuk seumur hidupnya. Ia rela melakukan apapun hanya untuk melihat wajah itu.
Keheningan kembali menghiasi mereka berdua. Mungkin pasangan normal lain akan saling menggoda satu sama lain dan melemparkan candaan-candaan, tapi Ryan dan Lila sangat berbeda, dalam semua segi. Dan yang lebih anehnya lagi, mereka berdua menikmati suasana itu, seolah keheningan juga bagian dari komunikasi mereka.
“Ini…,” Lila tak mampu melanjutkan kalimatnya ketika mobil perlahan mendekati kawasan pantai. Walaupun sudah sangat lama, tapi Lila sangat mengingat ini dengan jelas. Pantai pertama yang Lila datangi seumur hidupnya, dan sekarang menjadi yang kedua kalinya.
“Kamu suka?” tanya Ryan.
Tanpa di jawab pun, Ryan sudah mengetahui jawaban Lila dari raut wajah gadis itu. Takjub di tambah binar di mata Lila tak bisa berbohong. Tanpa menunggu Ryan, Lila segera keluar dari mobil dan merasakan dinginnya angina pantai yang membelai kulit telanjangnya yang tak terlapisi baju panjang.
Ryan tak memberitahukan tujuan mereka ketika menjemput Lila, jadi ia hanya mengenakan kaos lengan pendek beserta celana jins. Tapi, angin dingin itu bahkan terasa hangat untuk Lila. Karena bahagia yang baru saja ia rasakan, biburnya tak bisa berhenti melengkungkan senyuman.
“Kamu masih ingat janji itu?” tanya Lila.
Ryan berdiri di sampingnya dengan tangan yang ia masukkan ke saku. Lila sangat mengingat janji itu walaupun ia sudah menyerah untuk mengharapkan itu, dan memutuskan untuk datang kemari seorang diri ketika ia punya waktu nanti. Tapi, pria dengan sejuta kejutan di sampingnya ini membuat harapannya menjadi nyata, dan menakuti Lila di saat yang bersamaan juga. Bagaimana jika ini tak bertahan lama? Bagaimana jika kebahagiaan ini akan sirna seiring berjalannya waktu? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu dengan seenaknya menghampiri pikirannya.
“Aku gak akan lupa, aku yang menjanjikan hal itu.” Ryan tersenyum pada Lila. Hatinya menghangat hanya dengan melihat senyuman yang tumbuh di wajah cantik itu.
Ryan seperti sudah mendapatkan bonus berlipat ganda. Kesempatan yang di berikan Lila, senyum Lila, bahkan ia bisa dengan bebas mengobrol dengan Lila tapa mendengar nada ketus dari wanita itu. Ryan sangat menyukai perubahan itu, dan Ryan akan mempertahankan hal itu. Terlalu berharga untuk menghancurkan apa yang sudah susah payah ia jaga selama ini.
Ia hanya butuh Lila untuk melewati masalah-masalah pelik dan juga ketakutannya selama ini. Ryan pastikan kalau selanjutnya ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa mimpi buruk yang menghantuinya.
**
Lila dan Ryan benar-benar menghabiskan harinya di pantai. Pantai itu ternyata sudah sangat berkembang dari segi fasilitas dan sudah di jadikan sebagai tempat rekreasi. Tujuh tahun yang lalu, pantai ini masih cenderung sepi, saat ini pantai itu sudah di padati oleh banyak pengunjung. Apalagi karena ini hari sabtu, pengunjung hampir memadati seluruh bagian pantai.
Setelah aktivitas yang sangat menguras tenaga selama lima hari, maka hal terbaik yang bisa di lakukan di akhir pekan adalah menghabiskan waktu di pantai seperti ini. Sekarang sudah hampir pukul lima, dan sebentar lagi matahari terbenam. Lila dengan sabar menanti fenomena langka itu dengan memandangi langit sejak tadi.
“Kamu belum pernah liat matahari terbenam?” tanya Ryan. Wanita di sampingnya ini sangat bersikeras untuk melihat matahari terbenam sama seperti tujuh tahun yang lalu.
Lila terlihat berpikir sejenak. Apa ia pernah melihat hal langka tersebut? Sepanjang ingatannya, ia tak pernah melihat fenomena alami dari alam itu. Ia bahkan tak ingat pernah mengunjungi pantai, kecuali ketika bersama Ryan dulu.
“Mungkin ini pertama kalinya,” ucap Lila tanpa menolehkan wajahnya pada Ryan.
Harusnya Ryan merasa tersanjung karena ini pertama kalinya Lila melihat matahari terbenam, dan itu bersamanya. Tetapi, hatinya seolah nyeri oleh luka yang tak kasat mata. Apa selama ini Lila tak pernah mengunjungi pantai? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya.
“Harusnya aku bawa kamera tadi, jadi aku bisa abadiin momen pertama kalinya kamu sama aku.”
Lila tertawa kecil, tapi pandangannya tetap mengarah pada langit yang mulai terlihat semburat oranye. Untuk pertama kalinya, Lila akan melihat matahari terbenam. Lila pasti tak akan melupakan momen ini, dan itu juga bersama Ryan. Apa memang Tuhan sudah mengatur semua ini?
Jika nanti Lila sudah tak bersama Ryan lagi, setiap saat ia pergi ke pantai, yang akan Lila ingat adalah Ryan. “Kamu harus ingat hari ini, jadi misalnya nanti kita gak sama-sama lagi, setidaknya kita punya kenangan indah.”
“Aku gak akan biarin hal itu kejadian. Kamu susah banget di dapetin, dan aku gak akan lepasin kamu segampang itu.”
Kali ini tatapan Lila bertemu dengan Ryan. Hatinya belum sepenuhnya ia percayakan pada Ryan, ia juga harus waspada jika suatu saat semua ucapan Ryan justru di ingkari. Tak ada yang tahu, kan? Manusia adalah makhluk
yang selalu bergerak, pemikirannya selalu bisa berganti tergantung dengan keadaan. Ada yang bisa konsisten dengan semua hal, tapi ada juga yang masih ragu. Semua hal itu sangat tak bisa di tebak dan Lila hanya berusaha untuk mengantisipasi.
“Aku gak bermaksud buat nyinggung kamu, tapi semua ucapan kamu itu suatu saat nanti bisa aja gak kayak gini. Aku gak butuh semua janji kamu.”
Lila dan seluruh pertahanannya yang sangat kuat. Entah Ryan harus senang atau khawatir, tapi gadis itu sangat tak mudah untuk di tembus dan juga tak tertebak. Bahkan ketika kini Lila memberinya kesempatan, ternyata tak berarti hati Lila akan terbuka sepenuhnya untuk Ryan. Tapi ini sudah cukup, Ryan akan mempertahankan hubungan ini dan tak akan mengacaukan seperti terakhir kali.
“Apa kita harus menetapkan batas masing-masing supaya kamu nyaman dengan hubungan ini?”
“Kenapa gak kamu lakuin kayak perjanjian yang kamu buat tujuh tahun lalu? Buktinya waktu itu aku bisa setuju,” ucap Lila dengan senyum yang sangat samar. Jika Ryan tak memperhatikan dengan cermat, ia takkan menyadari kalau Lila tengah tersenyum.
“Atau kita bisa lanjutin perjanjian itu, aku gak keberatan, atau aku bisa langsung ngelamar kamu?” Ryan menaik turunkan alisnya bermaksud untuk menggoda Lila.
Lila seketika langsung mengalihkan pandangannya. “Jangan ganggu aku, aku mau nikmatin sunset.” Wajahnya sudah memerah hanya karena kalimat kecil yang di ungkapkan Ryan.
Bertepatan dengan itu, matahari perlahan mulai turun di ujung cakrawala dengan warna oranye yang sangat indah. Lila terkesima dengan hal luar biasa yang baru pertama kali ia lihat itu. Ternyata matahari terbenam sangatlah indah. Mungkin ini yang akan ia dapatkan ketika ia berusaha mengambil resiko akan hatinya.
**
Rasanya tujuh tahun yang lalu dan saat ini sangat berbeda jauh. Jika tujuh tahun yang lalu, Lila dan Ryan akan bertengkar di jalan pulang untuk memastikan Lila pulang tepat waktu tanpa perlu membuat Ibunya khawatir. Sedangkan saat ini, hanya ada keheningan yang menyelimuti Lila dan Ryan sembari menikmati perjalanan menuju restoran terdekat untuk makan malam.
Jika untuk orang lain keheningan sangat menyiksa, maka akan sangat berbeda untuk Lila dan juga Ryan. Mereka hanya sangat menikmati suasana yang penuh kedamaian itu, walaupun tak ada satupun pembicaraan tapi mereka tahu apa yang sedang berada di pikiran mereka masing-masing.
“Kamu gak keberatan makan di restoran langgananku?” tanya Ryan.
“Gak masalah, terserah kamu aja.”
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di sebuah restoran di sebuah restoran yang terlihat sangat mewah. Mungkin ini bintang empat atau bintang lima karena dari luar saja sudah terlihat betapa menakjubkannya restoran itu.
“Kamu langganan di restoran ini?” tanya Lila tak percaya. Walaupun ia memiliki uang lebih, ia akan tetapa memilih makan di warung pinggir jalan di banding makan di restoran super mewah ini.
“Langganan untuk acara spesial aja.” Ryan tersenyum penuh arti menatap Lila.
“Aku pikir gaji penyiar gak sebesar itu,” ucap Lila. Ia melangkah lebih dulu meninggalkan Ryan.
Sudah berapa kali pernah Lila katakan kalau ia sangat tidak imun dengan semua tindakan Ryan. Hal sekecil apapun yang pria itu katakan atau lakukan akan sangat berefek besar untuk hati dan tubuh Lila. Itulah kenapa ia tak pernah merespon ketika Ryan menggodanya, bagaimana ia bisa merespon jika kondisi hatinya tak baik-baik saja?
Lila menghentikan langkahnya ketika sampai di pintu masuk restoran. Ia tahu bahwa hal baik dan juga hal buruk akan selalu berdampingan agar hidup lebih seimbang dan tak monoton. Tapi, dari sekian banyak restoran di Jakarta, kenapa ia harus bertemu dengan orang yang paling tak ingin ia temui.
Kikan dan juga Joshua.
Jadi ternyata mereka masih bersama. Lila tak peduli dengan hal itu, sudah cukup permasalahan mereka sampai di bangku kuliah. Ia harap tujuh tahun setelah semua itu berlalu, tak akan ada hal buruk yang menghampirinya menyangkut pasangan yang kini juga menatapnya dengan kaget.
Apalagi setelah Ibunya berhasil cerai dari Ayah Kikan. Lila sudah tak ingin menyebut kalau itu juga Ayahnya. Hubungan mereka berakhir ketika sang Ibu bercerai dengan pria itu. Tak peduli jika ada yang mengatainya durhaka ataupun sebagainya, ia punya alasan yang kuat untuk itu.
Belum habis rasa kagetnya, Lila kembali di kagetkan dengan sebuah lengan yang tiba-tiba memeluk pinggangnya. Ketika Lila mendongak, ia menemukan Ryan sudah berdiri di sampingnya dengan pelukan yang mengerat di pinggang Lila. Sepertinya pertemuan ini memang sudah di atur sedemikian oleh-Nya.
Bahkan Lila baru merasakan kebahagiaannya yang singkat, lalu setelah itu ia kebali di hadapkan dengan masalah masa lalu seperti ini.
“Oh, Kikan, kan? Kamu di sini juga?” tanya Ryan dengan santai. Seolah tak terganggu dengan atmosfir canggung yang tercipta di antara mereka.
Kikan tersenyum dengan percaya diri, seperti biasa. Lila sudah tak memiliki kebencian terhadap Kikan. Dendam yang ia miliki di masa lalu sudah hilang tak berbekas, tapi ketika bertemu secara tiba-tiba seperti ini, Lila tak tahu harus mengkategorikan dirinya seperti apa. Ia tak membenci, tapi ia juga tak ingin menyapa, akan lebih baik jika tak saling mengenal saja.
“Ya, kalian mau makan malam juga? Mungkin kalian mau gabung bareng kami?”
Joshua seketika menatap Kikan yang mengatakan kalimat itu dengan gamblang. Bagaimana bisa Kikan mengatakan hal itu tanpa beban seolah sedang bertanya dengan lama. Mereka berempat tak sedekat itu untuk
makan malam dalam satu meja.
“Kamu mau?” tanya Ryan. Ia menatap Lila meminta persetujuan.
Lila menatap Ryan penuh arti. Tatapan yang sama yang juga pernah Lila berikan pada Ryan ketika ia meminta pertolongan yang sama tujuh tahun lalu. Tatapan mata Lila itu menciptakan gerakan impulsif dari Ryan yang langsung mencium kening Lila. Entahlah, itu benar-benar tak terkendali ketika melihat tatapan meminta perlindungan dari Lila. Ia akan menghadapi kemarahan Lila nanti, saat ini ia hanya ingin melindungi Lila.
“Kalian yang pilih mejanya kalo gitu,” ucap Ryan.
**
Mereka berempat sudah memilih meja yang terletak di samping jendela besar yang memperlihatkan pemandangan malam kota Jakarta di lantai dua. Lila duduk sangat dekat dengan kursi Ryan, takut jika ia menyisakan jarak yang jauh, orang lain akan menyakitinya. Ia tak peduli jika Kikan dan Joshua akan melihatnya dengan menjijikkan, Lila hanya akan seperti ini untuk malam ini saja.
Sangat berbeda dengan Kikan dan juga Joshua yang terlihat santai danseperti tak peduli satu sama lain. Entah mereka masih berpacaran atau sudah menikah, atau bahkan sudah putus, mereka terlihat seperti tak memiliki hubungan apapun.
“Jadi kalian pacaran?” tanya Kikan.
Ryan tahu Lila tak ingin menjawab pertanyaan itu, karena fokus wanita itu sejak tadi adalah dirinya dan juga ponsel miliknya. Lila sama sekali tak menatap Ryan ataupun Kikan. Jadi bagaimana Ryan harus menjawab ini? Ia takut akan salah mengeluarkan kalimat, lalu Lila akan membencinya lagi. Tapi, Lila juga tak memberinya pilihan juga.
“Aku ngerasa gak pantes kalo nyebut kita pacaran di umur yang udah segini. Mungkin bisa jadi besok kami udah ngirim undangan ke kalian.”
Joshua tersedak dengan minumannya sendiri ketika mendengar kalimat Ryan, Kikan menatap Ryan dengan takjub karena keberaniannya mengatakan kalimat itu. Lila, ia hanya menatap Ryan dengan tak percaya dan rona merah di pipinya sudah muncul. Entah apa yang sedang di rencanakan oleh Ryan.
**
Satu lagi, di chapter sblmnya tuh..
Yg bicara dg Haryo di ruang makan itu Kikan, bukan Lila..😉👌
trus pergi ninggalin Lara dan nikah (siri) sama ibunya Kikan
intinya Haryo ini mau manfaatin Lara tp gak bisa 😂😂
tp sayang Lara masih blom bisa nebak kemungkinan ini 😣
tolong Laura dan Bobby balas sampai hancur si Haryo 😁😁
maaf klo salah nebak 😊