Bagaimana perasaanmu saat pulang dari perantauan karena dikabari kalau Papa meninggal, dan saat sampai mendapati kalau Sang Papa memiliki istri muda tanpa sepengetahuanmu?
Yang lebih mencengangkan, Si Istri Muda, adalah wanita dari masa lalumu. Saat itu, di sebuah club, dalam keadaan frustasi, dan dalam kondisi 'panas'.
Apakah kondisi keluarga seperti ini sehat? Saat akan tinggal serumah dengan si Ibu Tiri yang usianya 5 tahun lebih muda, seksi, dan dirimu tahu bagaimana wujudnya di balik pakaiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Di Hidup Alan
Plakk!!
“Sejak kapan kamu berhubungan sama j4lang itu?!” seru Victoria
Alan hanya diam sambil menerima tamparan bertubi-tubi dari Victoria. Ia memang terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Victoria.
Kalau wanita itu marah, Victoria akan menampar, memukul, bahkan mengancam Alan dengan pisau.
Tapi Alan selalu diam saja saat semua itu terjadi.
Antara pria itu merasa kalau sebaiknya dia diam untuk mencegah Victoria lebih marah, atau diam karena dia takut. Seperti yang diketahui, Alan berhutang budi pada Victoria. Dalam segala hal.
Victoria mengangkat derajatnya, membiayai keluarganya, dan semua itu dilakukan tanpa sepengetahuan Papa Victoria.
Hubungan mereka juga dilakukan diam-diam selama 5 tahun ini, hampir 6 tahun bahkan.
Dan selama itu Alan mencintainya. Apa adanya Victoria.
Namun ciuman dari Ruby mengalahkan semuanya.
Victoria saat dalam kondisi normal, manis dan menyenangkan. Wanita yang selalu manja ke Alan dan mencintai pria itu sepenuh hati. Rela melakukan apa saja, kecuali...
Menikahi Alan secara resmi.
Victoria belum siap untuk menerima amukan Papanya. Apalagi meninggalkan gaya hidupnya menjadi pas-pasan dan bergantung dari gaji Alan yang menurutnya tidak seberapa. Padahal gaji Alan di perusahaan Randy lumayan besar.
Dan bisa jadi, berkat posisi Randy yang menggantikan Pak Raymond, Alan tidak akan dipecat seandainya ketahuan. Randy diketahui memutuskan hubungan dengan Pak Raymond, Sang Papa. Secara otomatis ia juga tidak ingin mengenal Pak Joseph, Papa Victoria.
Randy memang tidak memberitahukan alasan ia memutuskan hubungan dengan Victoria kala itu kepada Pak Raymond. Dan seperti yang kita sudah ketahui juga, Victoria membela diri supaya nama baiknya tetap terjaga dengan memfitnah Randy. Mengatakan ke Pak Raymond dan Pak Joseph kalau Randy kabur ke Belanda karena telah berselingkuh.
Memang saat itu menjadi pukulan telak bagi Pak Raymond. Tapi mungkin itulah yang terbaik.
Itu sebabnya hubungan Victoria dengan Alan tidak pernah terungkap.
Namun,
Menjelang usianya yang ke 25 tahun, Victoria mulai dijodohkan dengan laki-laki selain Randy.
Dan itu banyak jumlahnya.
Pengusaha-pengusaha muda bermunculan. Dan karena masa pandemi banyak karyawan yang dirumahkan, mereka mulai berbisnis, akhirnya banyak yang merambah ke dunia internet. Mendapatkan uang melalui teknologi jauh lebih mudah dibandingkan membuka lapak secara offline.
Orang-orang kaya baru bermunculan, dan usia mereka masih relatif muda, seusia dengan Victoria.
Jelas, untuk menutupi permainan kotor terhadap Bisnisnya, Pak Joseph pun ingin Victoria menikah dengan sesama bussinessman.
Agar apabila kejahatannya terendus, paling tidak, ada pihak yang bersedia membayar ganti rugi.
Dan jelas, Alan tidak masuk kriteria itu.
Namun bagaimana perasaan seorang pria yang sudah lelah dengan keadaan? Berulang kali ia melihat Victoria memposting foto dengan lelaki lain di social medianya. Pria-pria pilihan Papanya, dan memasang tampang bahagia supaya keadaan tampak normal.
Tidak ada foto Alan di social media atau pun ponsel Victoria.
Ponsel Alan pun selalu diperiksa Victoria dan juga tidak ada foto Victoria di ponsel Alan. Mereka juga selalu menghapus percakapan via pesan singkat atau pun panggilan telepon.
Tapi... Foto mereka berdua ada di dokumen Randy.
Yang sampai saat ini disimpan Randy sebagai kartu AS.
Juga banyak cctv yang kalau diperiksa menangkap Alan dan Victoria berjalan bersama, bergandengan tangan di tempat umum.
Juga pastinya kamera pengaman di kantor.
Alan ingin memiliki Victoria secara resmi. Kalau perlu ia akan berjuang mendapatkannya.
Namun Victoria menolak.
Hal itu membuat Alan bertanya-tanya dalam hati, mengenai seberapa penting ia di dalam kehidupan Victoria.
Sementara Ruby mengklaimnya terang-terangan, di depan semua orang.
Ruby adalah wanita independent, tidak tergantung siapa pun dan tidak takut apa pun.
Hal itu membuat Alan merasa penting dan diakui. Hal yang tidak ia dapatkan dari Victoria.
"Alan, Jawab!!" Seru Victoria marah sambil sekali lagi menampar Alan. "Cowok brengsek tidak tahu terimakasih! Aku bisa ya membuat keluarga kamu miskin saat ini juga! Camkan itu!"
Alan menghela napas.
Harta lagi, harta lagi.
Apa kehidupan Victoria hanya seputar itu?
Padahal harta yang diakuinya juga milik Pak Joseph, dan saham yang dimiliki Victoria adalah milik Mama Randy.
"Lakukan saja kalau itu membuatmu puas," gumam Alan.
Kalimat itu membuat Victoria ternganga kaget.
Saat ini, Alan merasa dalam posisi yang menguntungkan.
Saat Randy memimpin, ditambah dengan keberadaan Ruby, posisi mereka sangat kuat dan berpengaruh.
Membuat Alan yang jabatannya berada di bawah Randy merasa ia bisa mandiri tanpa terancam oleh Victoria atau pun Pak Joseph.
Karena terbukti Randy dan Ruby tidak takut kalau Victoria dan Pak Joseph menarik sahamnya.
Toh, mereka sudah memiliki hubungan Baik dengan Amethys, walau pun mungkin di awal-awal bulan keadaan akan sedikit kacau karena kasus korupsi akan cepat terkuak apabila perusahaan go public seperti Amethys masuk ke ranah manajemen.
Dan prediksi Alan, petinggi Amethys sudah tahu permainan kotor Pak Raymond dan Pak Joseph. Karena itu selama ini 12 Naga tidak bisa masuk ke C-Corp.
"Victoria," desis Alan, "Sepenting apa aku di matamu?"
Mata Victoria semakin terbelalak mendengarnya.
"Kalau memang kamu benar-benar mencintaiku, kamu rela kunikahi dan rela diusir dari Keluarga,"
"Lalu kita makan apa hah?! Hidup melarat?! Kamu pikir papaku akan melepasku semudah itu?! Yang ada dia akan memburu kamu dan keluarga kamu untuk dihabisi! Itu sebabnya keberadaan kamu selama ini kusembunyikan!"
"Kalau begitu, seperti kamu memilih Papa kamu. Aku juga akan memilih keluargaku. Demi keselamatan mereka, walau pun hidup miskin, kita harus putus,"
"Aku mengeluarkan banyak uang untuk kamu!!"
"Aku tidak memintanya, kamu sendiri yang memberikannya. Bahkan tanpa persetujuanku kamu naikkan haji bapak ibuku, ya tapi aku memang berterima kasih untuk itu,"
"Pada saat ini kamu bilang begitu? Ha! Dasar cowok brengsek!!"
"Berapa uang yang kamu keluarkan untuk keluargaku? Aku akan menggantinya dengan mencicil," tanya Alan.
Alan tahu, semua itu dilakukan Victoria hanya untuk mengekangnya, menjadikannya budak setia, membuatnya merasa berhutang budi yang tak perlu.
Dengan gemetar menahan amarah, Victoria menghujani Alan dengan pukulan bertubi-tubi. "Kamu milikku!!" Jeritnya histeris. "Akan kubunuh semua yang merebutmu! Kamu hanya milikku!!"
Alan tidak melawan, menangkis pun tidak. Sampai saat terakhir Victoria mengambil lampu kristal di atas nakas, dan memukul kepala Alan dengan itu.
Darah mengalir dari kepalanya membasahi kemejanya.
Tapi Alan tetap diam.
Sampai saat itu dia merasa kalau Victoria ingin membunuhnya dan dia mati, mungkin itu jalan terbaik.
Di dalam apartemen Alan, Victoria memukuli pria itu habis-habisan. Walau pun sekali tangkis, Victoria yang bertubuh mungil dan kurus bisa disingkirkan, tapi pria itu tidak berbuat apa pun.
Dalam hatinya, mungkin inilah hukuman untuknya karena sudah mengecewakan Victoria, karena sudah membiarkan hubungan tanpa harapan menjadi berakar. Dan hukuman karena Alan memiliki kemauan untuk lepas.
Victoria membuka pakaian Alan dengan kasar. Kuku palsunya tampak patah, sayatan cakarannya di dada dan pipi Alan mulai mengeluarkan darah.
"Kamu hanya milikku! Milikku! Milikku!" serunya berulang-ulang dengan histeris. Hantaman keras sepatu berhak lancipnya di dahi Alan, lalu beberapa benda lainnya yang Alan tidak bisa lihat
"Victoria," keluh Alan mulai kesakitan. Tiba-tiba pandangannya mulai buram. Bisa jadi lukanya tambah parah dan ia mulai kehabisan darah.
Yang ia lihat terakhir, wajah Victoria di atasnya, histeris dengan air mata dan tatapan mata mengiba namun tak waras.
Dan Alan dengan sisa tenaganya mengangkat jemarinya ke atas, untuk menghapus air mata di pipi Victoria.
Lalu ia pun tak sadarkan diri.
**
Randy,
Tolong Alan.
Tolong dia dari aku.
**
Randy mondar-mandir dengan gusar di depan ruang ICU. Di sebelahnya tampak Ruby duduk dengan tegang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa kita sudah keterlaluan?" desis wanita itu dengan kening berkerut.
"Iya, gue pikir juga begitu. Ini sudah di luar prediksi kita," ujar Randy sambil menggigit-gigit kukunya. Kebiasaannya sejak kecil kalau sedang marah atau kuatir.
Malam itu, saat mereka bersiap makan malam, Randy mendapatkan pesan singkat dari nomor tak dikenal. Isinya shareloc (pintasan link yang menunjukan lokasi dan alamat dari si pengirim), dan pesan singkat bertuliskan diatas.
Randy,
Tolong Alan.
Tolong dia dari aku.
Tadinya mereka tak mengerti, apa maksud si pengirim. Namun entah bagaimana feeling mereka berdua merasakan ada yang yang penting sedang terjadi. Apalagi ada nama Alan di sana. Nama Randy terang-terangan disebutkan.
Dan saat sampai di lokasi, dengan bantuan beberapa sekuriti dan pengelola apartemen, mereka mendobrak masuk ke dalam unit yang ditunjukan, dan menemukan Alan terbaring pingsan berdarah-darah di tengah ruangan. Di sampingnya ada Victoria yang hanya bisa menangis histeris.
Ruby sempat memfoto TKP, sebelum akhirnya Papa Victoria datang dan membawa Victoria entah kemana.
Sementara mereka berdua bergegas membawa Alan ke rumah sakit.
Perkiraan mereka, yang melakukan hal tragis seperti itu ke Alan adalah Victoria.
Sama sekali diluar perkiraan mereka kalau Victoria akan bertindak sebrutal itu. Dan yang lebih mengagetkan, dilihat dari kondisi benda-benda di sekitaran, sepertinya Alan bahkan tidak membalas.
Suatu kisah cinta yang menurut mereka berdua tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin Victoria tega menganiaya kekasihnya sendiri? Kalau pun dia sangat marah ke Alan, masa jadi separah ini kondisinya?!
"Tapi semua harus berjalan sesuai rencana. Victoria sedang goyah, Pak Joseph akhirnya tahu hubungannya dengan Alan, dan Amethys akan menaruh saham lumayan besar.
"David Yudha nelpon gue. Dia juga akan menaruh investasi dari beberapa proyeknya di Jawa Timur," gumam Ruby.
"Kenapa dia nelpon lo dan bukannya gue?"
"Ya mungkin dia tau nomer gue dari bininya. Kenapa Boss? Cemburu?!"
"Ya iya lah kan gue Bossnya!"
"Ya gue istri owner, gimana dong?"
Randy memicingkan matanya, "Bener juga sih, sudahlah," hal tak penting yang tak perlu diperdebatkan di saat situasi genting sekarang ini.
"Apa mereka tahu kondisi kita sekarang?" tanya Randy lagi.
"Gue cerita semuanya ke Bu Susan," tukas Ruby.
"Dan?"
"Perlahan-lahan Boss... Semua akan dijual ke mereka, sesuai rencana kita. Dari mulai pura-pura tanam proyek, lalu beli saham kita, lalu jadi investor primer, dan Bomm!! Likuidasi..." jelas Ruby dengan mata berbinar.
Randy mengangguk, "Pak Joseph kehilangan kendali,"
"Victoria akan jadi tidak penting," tambah Ruby.
"Rumah kita selamat,"
"Semua manajemen akan diganti,"
"Hidup kita nyaman," dan mereka berdua toss.
"Gue sih tadinya mau mulai dari yang agak kecil kayak Nona Diaz dulu, atau Danar Sanjaya. Gue nggak nyangka lo langsung dapet biangnya, si Susan. Gile emak gue..." Kekeh Randy.
"Kebetulan gue ngeliat orang yang gue kenal di Amethys,"
"Siapa?"
"Mantan Sugar Daddy," Ruby terkekeh.
"Yaelah..." gerutu Randy.
Yang membuatnya tidak bisa menang dari wanita.
Pesona mereka yang berbahaya.
ckckck emang berat godaan ikan peda bermerk Romeo
Romeo lebih suhu ternyata 🤣🤣🤣