Aku tak pernah menginginkan terlahir dan hidup dilingkungan keluarga yang tidak mampu, namun aku tetap bersyukur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niluh Ayuinten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
' MEMBUKA LEMBARAN BARU".
"hari ini Mas Randi agak berbeda, dia berperilaku dan bersikap manis di depanku, semoga selalu dalam keadaan seperti ini pula di hatinya". Batinku.
" Oh iya RAN bagaimana kalau kamu ikut mas juga ke kota?" kata mas Randi sembari memeluk pinggangku dengan mesra
" Kamu serius Mas mau ngajak aku ke kota?"
Tanyaku meyakinkan.
" Maafkan aku RAN jika selama ini jadi suami yang membuatmu tidak nyaman selama ini". kata mas Randi sambil mengecup keningku dengan mesra.
" Tidak apa Mas, yang lalu biarlah berlalu. sekarang mari kita menatap ke masa depan". Jawabku setenang mungkin walaupun dada ini masih terasa sesak jika mengingat apa yang sudah mas Randi lakukan untuk ku.
semoga ini adalah pertanda hal yang baik untuk aku dalam menjalani kehidupan rumah tangga kami selanjutnya.
" Kita akan membuka lembaran baru di sana RAN, setiap aku bangun aku lihat kamu, aku lapar ada kamu yang masakin buat aku pokoknya aku ingin kamu selalu ada buat aku baik susah maupun senang". Kata mas Randi panjang lebar. hingga tak terasa ada buliran bening yang jatuh ke pipiku dan lolos begitu saja. aku sangat terharu sekaligus bahagia mendengar kata kata mas Randi barusan.
***
Di Rumah ibu mertua nampak terjadi keributan antara ibu dan bapak mertuaku.
" Aku tidak suka pak kalau si Rani bodoh itu ngatur ngatur Randi anak kita semaunya. Pokoknya Randi harus nurut sama kita pak". kata ibu sambil menghentak hentakkan kakinya dilantai seperti anak kecil yang tidak diberikan uang jajan saat berangkat ke sekolah.
" Bu.... ".
" Sebagai orang tua kita tidak boleh egois, ingat Randi sudah menikah, sudah menjadi bapak, biarkan dia mandiri hidup bahagia dengan keluarga kecilnya tanpa campur tangan kita". kata bapak yang selalu bijaksana dalam hal mengambil sikap dan mengambil keputusan.
" Itu kan bapak selalu memberi peluang untuk perempuan itu. yang ada dia tambah besar kepala pak ". kata ibu tidak terima bapak mertuaku membelaku.
" Bukan begitu maksud bapak Bu, bapak hanya tidak ingin kita terlalu mencampuri urusan rumah tangga mereka, dan Ingat setiap orang tua menginginkan dan mendoakan anaknya yang terbaik. namun kita mau apa Bu, anak kita sudah menikah jadi kamu seharusnya belajar untuk bisa menerima menantu kita apa adanya".kata bapak panjang lebar sambil berlalu pergi meninggalkan ibu mertuaku begitu saja karena tidak mau berdebat lagi.
" Pak......".
" Pak... Pak.... Pak.... tunggu aku ".
teriak ibu sambil berlari kecil mehampiri langkah bapak yang mulai menjauh.
" Awas saja kau Rani sudah berhasil menghasut anak dan Suamiku". batin ibu sambil mencibirkan mulutnya yang penuh emosi.
dengan langkah tergopoh gopoh ibu masuk kedalam rumah. belum jauh masuk kedalam rumah tiba tiba terdengar suara mobil mendekat.
Seketika ceria di wajahnya berubah cemberut ketika melihat siapa yang turun dari mobil selain Randi.
" ini dia perempuan si* lan itu". batinnya.
Randi berjalan menghampiri ibunya sambil bergandengan tangan menambah emosi ibunya semakin memuncak. dilain sisi beberapa tetangga berbisik melihat kemesraan mereka
" wah Rani hebat ya akhirnya bisa menaklukan suaminya dari pelakor". kata Bu Wisma salah satu ibu ibu dan bertetangga Dengan ibu. terdengar jelas di telinga ibu, dan membuat ibu tambah geram saja.
Dengan geram ibu menghampiri ibu ibu yang lewat di depan rumah
" Apa yang kalian lihat? ayo sana pergi ....". kata ibu kesannya mengusir mereka.
Emang lagi butuh support
Iin sudah kuberi like dan subscribe
mampir juga ditempat aku dan kita tetap saling mengikuti agar tambah semangat dalam menulis.
mampir juga di karya aku yah...
Julid banget asli. Udah tua juga 😠