NovelToon NovelToon
Cinta Posesif Arlan

Cinta Posesif Arlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Posesif
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Voyager

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.

Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga Terbuang

“Dok, tolong jangan cerita sama dia, ya.”

Mika berbisik pada Dokter Reza saat mereka sampai di apartemen. Dokter Reza tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.

Namun, pada saat itu juga, Arlan muncul dari arah ruang tamu. Tatapannya langsung tertuju pada Mika, lalu pada kantong merah muda yang ia bawa.

“Apa itu?” tanya Arlan datar.

Mika sedikit panik. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tetapi ia segera menenangkan diri.

“Pengen tau aja!” katanya singkat.

Mika langsung mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam.

Arlan menoleh pada Reza dengan sedikit anggukan, seolah meminta penjelasan. Dokter Reza sebenarnya ingin menjelaskan. Tapi dari kejauhan Mika menatapnya dengan tatapan memohon.

Dokter Reza hanya tersenyum kecil lalu, menunduk sebentar.

“Tuan, aku pamit dulu. Sampai jumpa di hari spesial,” ujar Dokter Reza.

Arlan menatapnya sejenak, lalu mengangguk singkat. Sementara itu Mika sudah berada di dalam kamarnya. Ia langsung menutup pintu dan bergegas memeriksa keadaan kucing kesayangannya.

“Arlan ... push ... di mana kamu?”

Mika menundukkan kepala dan melihat ke bawah ranjang. Tapi tidak terlihat sedikitpun bulu halusnya. Ia berdiri lagi dan melihat ke sudut ruangan, tetap tidak ada.

“Ke mana lagi kucing ini?” gumamnya cemas. “Apa jangan-jangan dia bosan di kamar terus pergi? Atau ... jangan-jangan udah ketahuan sama Tuan Arlan?”

Berbagai kemungkinan buruk langsung memenuhi pikirannya. Mika mulai mencari ke seluruh kamar. Ia membuka lemari, menggeser kursi, Bahkan memeriksa sampai ke luar balkon.

“Arlan ... push ... Arlan!”

Namun, yang muncul justru Arlan yang asli. “Heh, ngapain nyariin aku?”

Mika langsung terlonjak kaget. Arlan berdiri tepat di belakangnya.

“Kangen?” lanjut Arlan dengan nada mengejek. “Ingat ya, aku nggak selera sama anak SMA.”

Padahal ia tidak tahu bahwa Arlan yang dipanggil Mika bukanlah dirinya. Mika menutup mulutnya cepat-cepat, menahan tawa yang hampir keluar.

“PD banget orang ini,” batinnya.

“Ganti pakaianmu,” kata Arlan. “Aku nggak mau penyakit dari rumah sakit kebawa sampai sini.”

Arlan berbalik hendak pergi. Tetapi langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu di atas meja rias. Buket bunga itu. Bunga yang diberikan Tristan di rumah sakit.

Arlan menatapnya beberapa detik. Wajahnya langsung berubah dingin. “Masih disimpan itu bunga?” tanyanya ketus.

Mika langsung menoleh.

“Aku perintahkan sekarang buang bunga itu,” lanjut Arlan tegas. “Kali ini jangan bantah.”

Mika mengerutkan kening. Ia tidak ingin bunga itu dibuang. Bunga itu, satu-satunya benda yang mengingatkannya pada ibunya.

“Please, Tuan Arlan ... jangan paksa aku buat buang ini,” ucap Mika pelan.

Arlan menatapnya tajam. “Buang sekarang. Atau mau aku yang buang?” Nada suaranya keras. Tidak memberi ruang untuk penolakan.

Mika menunduk. Dadanya terasa sesak. Akhirnya ia mengangguk kecil. Dengan langkah berat, Mika mengambil buket bunga itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah.

Beberapa saat kemudian—pintu apartemen terbuka.

“Halo, Mika!” Kamalia masuk dengan wajah sedikit kesal. “Ada Arlan?”

“Ada di dalam. Masuk aja,” jawab Mika singkat.

Ia bahkan tidak menatap Kamalia. Bukan karena tidak suka. Melainkan, karena matanya masih tertuju pada buket bunga yang baru saja ia buang.

Kletok!

Kletok!

Kletok!

Suara sepatu high heels Kamalia bergema di dalam ruangan. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari Arlan.

“Arlan!” panggilnya manja.

Tak lama kemudian Arlan muncul dari tangga.

“Halo, sayang,” katanya santai. Kamalia langsung memeluknya. Namun, Arlan segera melepaskan pelukan itu dan berjalan ke sofa. Ia duduk dengan santai.

“Kenapa ke sini?”

Kamalia tertegun. “Ih, kok gitu, sih? Hari ini kamu janji temani aku ke butik, ‘kan?”

Arlan menjawab tanpa ekspresi. “Nggak.”

Kamalia tersentak. Arlan benar-benar tidak peduli pada perasaannya. 

Saat Mika melintas di ruang tamu menuju dapur, Kamalia kembali mencoba bersikap manja. Ia duduk tepat di samping Arlan dan menempelkan tubuhnya dengan agak agresif.

“Arlan, ayolah. Kali ini aja temani aku ke butik.”

“Lepaskan pelukanmu!” Bentakan Arlan terdengar dingin dan tajam. “Aku lagi sibuk. Jangan ganggu.”

Kamalia langsung berdiri. Wajahnya memerah karena marah. “Kamu ini apa-apaan sih!” bentaknya. “Sebentar lagi kita tunangan dan menikah! Apa sikap begini yang kamu tunjukkan sama calon istrimu?!” Suara Kamalia menggema di ruangan.

Di dapur, Mika yang sedang minum susu langsung tersedak. “Uhuk!” Susu yang ia minum tersembur keluar. “Kenapa sih, tiap ketemu selalu begitu?!” batin Mika.

Sementara itu Arlan tetap duduk santai di sofa. Ia menghisap rokoknya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Kamalia menggigit bibirnya kesal.

“Hm, lihat aja nanti,” batinnya. “Aku bakal bikin kamu nggak bisa jauh dari aku.”

Setelah meluapkan amarahnya, Kamalia akhirnya pergi. Tetapi sebelum keluar dari apartemen, ia menoleh sekali lagi ke arah Mika. Tatapannya tajam. Penuh kebencian.

“Kamu juga bakal rasakan pembalasanku,” batin Kamalia dingin.

Padahal Mika baru saja mengenalnya. Itu pun karena Arlan. Mika yang mendapat tatapan sinis itu hanya bisa bingung. Ia memalingkan wajahnya dan kembali meminum susunya perlahan.

Ketika Kamalia benar-benar sudah pergi, Mika akhirnya bisa menghela napas panjang. Seolah-olah beban berat di dadanya ikut terlepas bersama kepergian wanita itu.

Ia bersandar sebentar di meja dapur sambil memegang gelas susunya. Namun, di sela kebingungannya.  Salah satu pengawal tiba-tiba masuk dengan langkah cepat menuju Arlan. Wajahnya terlihat tegang.

“Bos, ada laporan penting. Perusahaan Kilen membajak kepemilikan Grup Gavriel!” ucapnya dengan suara agak nyaring. 

Arlan langsung menoleh tajam. Matanya sekilas melirik ke arah dapur. Ia menyadari Mika masih berada di sana. Dengan cepat Arlan memberi isyarat agar pengawal itu menurunkan suaranya.

“Pelanin suara,” bisiknya dingin.

Pengawal itu segera mendekat. Mereka berbicara dengan suara yang jauh lebih pelan, hampir seperti bisikan rahasia.

Mika hanya bisa melihat dari kejauhan. Dari gerak bibir mereka yang cepat dan ekspresi wajah yang tegang, jelas pembicaraan itu bukan hal kecil.

Beberapa detik kemudian, Arlan berdiri. Ia merapikan jasnya dengan cepat. Wajahnya kembali dingin dan serius. Tanpa banyak bicara, ia langsung berjalan menuju pintu apartemen. Para pengawal segera mengikutinya dengan langkah tergesa.

Pintu pun tertutup. Suasana apartemen kembali sunyi. Mika masih berdiri di dapur sambil memandangi arah pintu yang baru saja ditutup. Kepanikan dan ketergesa-gesaan mereka tadi membuatnya bingung.

“Hm, kayaknya lagi ada masalah,” gumam Mika pelan.

Sampai detik ini Mika sebenarnya tidak tahu pekerjaan apa yang Arlan lakukan. Yang ia tahu hanya satu—Arlan adalah orang terkaya nomor satu di Kota Glazy.

Kekuasaan dan pengaruhnya begitu besar hingga banyak orang tidak berani melawannya. Namun, Mika sendiri tidak pernah benar-benar memahami. Arlan sebenarnya bergerak di bidang apa dan perusahaan seperti apa yang ia pimpin. Yang Mika tahu, dunia Arlan terasa begitu jauh dan penuh rahasia.

"Entahlah, aku nggak peduli urusannya!" ujarnya hampir seperti berbisik. Mika pun menaiki anak tangga dan masuk ke kamar untuk beristirahat.

1
Moon
ak jdi mika langsung ku tonjok itu
Voyager: sabar bro jangan emosi ah, nggak jelas kali kau. ayo serbu yang di sebelah
total 1 replies
Moon
model!????
Moon
entah kenapa Arlan ini aku bingung sama sifatnya. lanjut Thor. apa nanti si Mika ketemu lagi dg Arlan ? soalnya Arlan itu kn sangat berkuasa! eh iya Thor sepertinya belum di Spil perlkerjaab Arlan pngen tau
Moon
hm, knp ya orang kyak Mika gini selalu digituin dlm novel cba Thor karakter Mika jadi tangguh aj gtu biar nggk di tindas orang. sih Kamalia juga cewek lenje 😤😤😤
Moon: haha GG bxa sbr ak. tau NDRI kesabaranku setipis tisu
total 2 replies
cleo lara91
lanjut lg dong kak , seruu😍
Moon
Rekomendasi banget ini cerita. tokoh pria bikin mengubah emosi pembaca, greget, sifatnya bener" bikin geleng kepala. tokoh wanita pun bikin kita iba, apalagi ketika penyakitnya kambuh. oh ya keluarga tokoh wanita ih bikin emosi parah apalagi dengan saudara tiri yang mokondo
Moon
up 5 bab sehari thor
Voyager: busett haha nanti ya. ayo nulis juga
total 1 replies
Voyager
Arlan gila. anak SMA dibuat nggak berkutik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!